MEXICO CITY – Sebuah tim ilmuwan Meksiko
telah menemukan reruntuhan dari sebuah istana suku Maya berusia dua ribu
tahun, di wilayah Chiapas.
"Penemuan ini merupakan bukti dari
pendudukan awal kota-kota suku Maya kuno di wilayah Upper Usumacinta,
hutan Lacandona, Chiapas" ujar pihak National Institute of Anthropology
and History dalam sebuah pernyataannya.
Seperti yang dikutip dari
Fox News,
Minggu (4/9/2011), Luis Alberto Martos, pimpinan dari proyek tersebut
mengatakan bahwa penemuan tersebut merupakan bukti pendudukan di wilayah
tersebut pada 50 tahun sebelum masehi sampai 50 tahun sesudah masehi.
Martos
menambahkan bahwa bukti awal pendudukan wilayah tersebut oleh suku Maya
sebelumnya tercatat hanya pada waktu 250 tahun sesudah masehi.
Dikatakan
oleh Martos bahwa istana tersebut terdiri dari ruangan-ruangan dengan
tembok selebar satu meter, yang bagian ujungnya melingkar.
"Karakteristik awal dari arsitektur suku Maya," jelasnya.
Selain
itu ditambahkan pula oleh Martos bahwa suku Maya kemudian membongkar
bangunan asli istana tersebut dan menambahkan tingkatnya. "Hal itulah
yang menjelaskan mengapa bangunan aslinya tetatp berada di bagian bawah
dan terkubur," ungkapnya.
Konstruksi-kontruksi tambahan tersebut
dibangun antara periode 250-800 tahun sesudah masehi, dan menjelaskan
periode Klasik dalam sejarah suku Maya.
"Penelitian ini akan
menyediakan pemahaman mendalam menenai interaksi sosial dan politik di
wilayah tersebut, di mana juga terjadi beberapa konflik dan
pertempuran," ujar Martos.
Para ilmuwan yang menyelidiki situs
tersebut sepakat bahwa penemuan tersebut mampu menjelaskan sejarah
wilayah tersebut, dimulai dari era Biasa sampai ke 1.000 tahun sesudah
masehi. "Periode 10 abad bisa dijelaskan dalam arsitektur istana ini,"
pungkas Martos.
(ATA)
Lagi, penemuan seputar suku maya yang mempunyai misteri tentang peradaban mereka di masa lalu.
Tim
peneliti dari Amerika Serikat baru saja menemukan kanal atau saluran
air karya suku Maya di Kota Palenque, Meksiko, yang merupakan contoh
pertama rekayasa tekanan air di dunia.
Tim peneliti dari
Universitas Pennsylvania itu seorang arkeolog dan ahli hidrologi. Mereka
menemukan bukti bagaimana suku Maya menggunakan saluran air yang diatur
dengan tekanan, tetapi masih belum diketahui proses detailnya.
“Sistem
tekanan air sebelumnya diperkirakan diperkenalkan oleh bangsa Spanyol
ketika kedatangannya,” ujar peneliti dalam Journal of Archaeological
Science edisi terbaru. Tetapi kini ada bukti baru yang lebih tua.
Berdasarkan
data arkeologis, kondisi iklim musiman, bentuk geomorfologi, dan teori
hidrolik jelas menunjukkan bahwa suku Maya di Palenque Chiapas telah
menerapkan pengetahuan empiris dari saluran air bertekanan tertutup
sebelum hadirnya bangsa Eropa.
Teknologi tersebut pertama
kali teridentifikasi pada 1999 saat survei pemetaan. Sementara saluran
air yang mengalir di bawah kawasan kota belum diketahui. Kemudian pada
tahun 2006, seorang arkeolog kembali ke Palenque bersama ahli hidrologi
untuk memeriksa fitur air yang tidak biasa.
Area Palenque pertama
kali dihuni pada tahun 100 Masehi, tetapi tumbuh lebih besar ketika
periode klasik Maya berlangsung, yakni tahun 250 hingga 600 Masehi. Kota
tersebut ditinggalkan sekitar tahun 800 Masehi.
“Di bawah
kondisi alamiah rasanya sulit membayangkan suku Maya membuat contoh
tekanan air yang teratur di dunia mereka,” ujar Christopher Duffy,
profesor rekayasa teknik sipil dan lingkungan.
Saluran air bawah
tanah sebagai akuaduk bukan hal yang umum di Palenque karena suku Maya
membangun kota dalam area kecil di atas tebing besar yang panjang. Untuk
membuat lahan yang tersedia layak dihuni, suku Maya di Palenque membuat
rute saluran di bawah kota melalui akuaduk.
“Mereka menciptakan
ruangan kota,” ujar Kirk French, dosen antropologi. “Ada saluran di
dalam area setiap 300 kaki atau menyeberangi tebing. Sangat sedikit
tanah yang bisa dibangun.”
Saluran tersebut juga berguna pada
musim hujan sehingga bahaya banjir bisa diantisipasi setidaknya sebagian
dialirkan dan dikontrol. Saluran yang diteliti oleh para ahli bernama
akuaduk Piedras Bolas yang berlokasi di atas permukaan tanah yang terjal
dengan ketinggian 20 kaki. (Satwiko Rumekso)

Ukiran bangsa Maya pada situs arkeologi El Zotz, Utara Guatemala. (Reuters)
Sejumlah
arkeolog telah menemukan sebuah makam raja suku Maya yang diawetkan dan
dikemas dengan baik. Dalam penggalian tersebut juga ditemukan sejumlah
ukiran, keramik serta tulang anak-anak.
Sejumlah peneliti telah menemukan ruang pemakaman di kawasan hutan Peten, Guatemala, Mei lalu, namun baru dipublikasikan.
Makam yang terletak di bawah piramida El Diablo, kota El Zotsz ini, diperkirakan berasal dari 300-600 M.
Makam
ini disegel dengan baik. Panjangnya sekitar sepuluh kaki dan lebar
empat kaki. Makam dilindungi oleh beberapa kain, ukiran kayu serta
dekorasi keramik merah-kuning yang dihiasi dengan motif-motif ikan dan
babi hutan.
Tim ini telah meneliti situs tersebut
ketika mereka menemukan rangkaian mangkuk yang terkubur berisi
peninggalan gigi-gigi dan jari manusia. Mereka terus menggali lebih jauh
dan menurunkan cahaya ke dalam lubang, yang mana telah mengungkap
"sebuah ledakan warna, merah, hijau dan kekuningan ke segala arah."
"Ketika
kami membuka makam itu, saya menjulurkan kepala saya ke dalam dan
perasaan menakjubkan benar-benar terasa, aroma bebatuan serta rasa
dingin menyusup ke tulang-tulang saya," Mr. Houston, salah seorang
peneliti.
Ruang yang disegel begitu baik selama
1.600 tahun, tidak terdapat sedikitpun udara dan air yang menyusup.
Bangsa Amerika Tengah tersebut dipenuhi piramida dan reruntuhan dari
peradaban Maya kuno, yang mencapai kejayaan antara 250 dan 900 M,
menutupi wilayah Honduras Modern hingga Meksiko.
Sejumlah
arkeolog mengatakan, penggalian pada El Zotz atau yang disebut
"kelelawar" oleh bangsa Maya, memberikan pengertian yang sangat mendalam
pada upacara pemakaman peradaban saat itu.
Anak
remaja seringkali dikorbankan selama pemakaman raja Maya. Namun dalam
sebuah penemuan mengejutkan, sejumlah arkeolog yang menggali El Zotz
telah menemukan tulang balita 12 bulan.
Penggalian
itu juga menunjukkan bukti bahwa raja dikubur menggunakan busana penari
tradisional, dihiasi kerang keong dan potongan batu giok, yang diyakini
sebagai yang pertama kali dilakukan.
El Zotz
adalah hutan lebat di Tikal, yang populer bagi wisatawan AS. Para
sejarawan mengatakan El Zotz seringkali menjadi ajang pertempuran antara
Tikal dan Calakmul, yang terletak di utara Meksiko modern.
Seperti
banyak situs arkeologi di wilayah pedalaman Peten Guatemala, El Zotz
sangat beresiko dari ulah para penjarah, pemburu dan penebang gelap yang
mencoba hidup di hutan. Tempat ini juga merupakan tempat transaksi
narkoba ke Meksiko.
"Kami masih memiliki banyak
pekerjaan yang harus diselesaikan. Makam-makam kerajaan sangat padat
informasi dan butuh waktu bertahun-tahun belajar untuk memahaminya,"
ujar Houston. (Erabaru/ telegraph/sua)