Tampilkan postingan dengan label DA'WAH WALISONGO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DA'WAH WALISONGO. Tampilkan semua postingan

01 April 2013

Cinta Ahlul Bait, Apa Untungnya Sih ?



Cinta Ahlul Bait, Apa Untungnya ?
masa Setiap menyinggung pembicaraan "ahlul bait" , eh lantas di tuding : O..kamu Syi'ah ya ?..bla ..bla...bla... banyak lagi tudingan yang dilancarkan , tanpa melihat dahulu siapa dan siapanya...

>>> hmmm , kamu jangan picik dong !! <<<

Setiap dari kita, pasti lebih mencintai dirinya sendiri melebihi apapun dan siapapun juga. Ini di karenakan fitrah yang telah di tentukan kepada setiap makhluk.

Kita semua ingin di puji, ingin di perhatikan, ingin mendapatkan keuntungan yang banyak.
 Dan melebihi semua itu, kita semua ingin selamat dan terhindar dari bahaya, yang setiap saat bisa menimpa diri kita.

Seorang Qays, yang di ceritakan sangat mencintai Layla, yang rela megorbankan apapun, bahkan nyawanya, masih tetap mencintai dirinya sendiri. Dia berusaha sekuat tenaga, dengan bermacam cara, agar Layla bisa bahagia. Karena dengan berbahagianya Layla, Qays menjadi bahagia. Dia juga berjuang mati–matian, untuk menjaga Layla, agar terhindar dari marabahaya, yang dapat menyakiti hati dan tubuh Layla. Karena Qays tidak ingin melihat Layla merasakan sakit. Dengan mengetahui sakit yang di alami Layla, akan menyebabkan sakit pula di dalam hati Qays. Jadi, bahagia Layla, merupakan kebahagiaan untuk Qays. Dan sedihnya Layla, merupakan kesedihan untuk Qays. Untuk membuat hatinya selalu bahagia, Qays sekuat tenaga berusaha, agar Layla bisa berbahagia dan terhindar dari bahaya.

Kita semua melakukan bermacam cara, untuk membuat diri kita bahagia, dan menjaganya dari bahaya. Dengan membeli perabot, mainan, makanan, obat–obatan, berlibur, mendatangi Dokter atau Dukun, atau yang lainnya. Yang semua itu, kita sangka akan membut kita bahagia dan terhindar dari bahaya. Padahal jauh di dalam lubuk hati kita, kita semua mengetahui, bahwa di balik semua materi itu, ada zat yang maha mampu, untuk membuat kita bahagia dan terhindar dari bahaya. Hanya ALLAH yang dapat membuat kita bahagia, dan hanya DIA lah yang dapat menghilangkan bencana. Karena DIA lah sang pencipta, dan hanya DIA lah yang dapat mengatur ciptaanNYA.
Di dalam Al Qur`an, surah Aali `Imron, ayat 31, ALLAH S.W.T, berfirman;

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ

Artinya; Katakan! (Hai Muhammad). Jika kalian mencintai ALLAH, maka ikuti Aku, niscaya ALLAH mencintai kalian dan mengampuni dosa–dosa yang kalian lakukan.
Dalam ayat ini di jelaskan, untuk mendapatkan cinta ALLAH, yang mana hal tersebut adalah sumber segala kebahagiaan, dan pengampunan dosa, yang dosa tersebut adalah sumber segala bencana, itu semua hanya bisa di dapat dengan cara mengikuti Nabi Muhammad S.A.W. hamba pilihanNYA, Sang Penyampai Risalah Ilahi.

Di dalam Sunan At Tirmidzy, Rasul S.A.W bersabda, yang artinya:
“Cintai lah ALLAH, karena Dia telah memberikan berbagai macam nikmat kepada kalian. Dan cintailah Aku, karena perintahNYA dan atau untuk mendapatkan cintaNYA. Dan cintailah keluargaku, karena Aku.
Dalam mengikuti ajaran Nabi S.A.W, dan meniru tingkah laku Beliau, tidak akan sempurna, apabila tidak ada di dalam hati kita, perasaan cinta kepada Beliau. Dan Beliau pula menjelaskan, bahwa cinta kepada Beliau, tidak akan sempurna, tanpa ada di dalam hati, rasa cinta kepada keluarga Beliau, yaitu Ahlul Bait. Hal ini dapat di fahami melalui Hadits di atas.
Dalam ayat lain, ALLAH S.W.T berfirman kepada RasulNYA:


قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًا إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِى ٱلۡقُرۡبَىٰۗ

Artinya: katakan! (Hai Muhammad) Aku tidak meminta imbalan apapun, dari kalian, atas da`wah yang Aku sampaikan, kecuali agar kalian mencintai keluargaku (al
Qurbaa) As Syuuraa 23.


Sebagaimana penafsiran Sahabat, yang mendapat gelar “Hibrul Ummah”, yaitu `Abdullah bin `Abbas, yang dikutip oleh Syekh Yusup bin Isma`il An Nabhany, di dalam bukunya “Syaroful Muabbad Li Aali Muhammad”.
Di dalam melakukan amal ibadah, tidaklah pantas seorang hamba meminta imbalannya kepada selain ALLAH S.W.T. Terlebih lagi, amal tersebut adalah Da`wah untuk mengajak Manusia menuju Ridho ALLAH. Apabila mengharap imbalan kepada selain ALLAH, tidak pantas di lakukan oleh seorang Manusia biasa, bagaimana dengan sepaling mulia makhluk ciptaanNYA?
Di dalam surah As Syu`ara, ayat 109,127,145,164 dan 180, ketika ALLAH S.W.T menceritakan tentang perjuangan da`wah Nabi Nuh, Hud, Sholeh, Luth dan Syu`aib, “`Alayhimussalaam”, Mereka semua menyatakan;

وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ إِنۡ أَجۡرِىَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ


Artinya: Dan Aku tidak akan meminta upah, sedikit pun juga, kepada kalian, atas da`wah yang Aku sampaikan. Ganjaran yang Aku harapkan, tiada lain hanya kepada Tuhan, penguasa seluruh alam.
Apabila pernyataan seperti ini di ucapkan oleh para Nabi AS, tentunya Muhammad S.A.W menyatakan hal serupa, bahkan lebih. Karena Beliau adalah “Sayyidul Anbiyaa wal Mursaliin”. Dan karena ALLAH S.W.T mengetahui, kekasihNYA ini tidak akan meminta upah, dari da`wah yang telah di sampaikannya, maka DIA perintahkan kekasihnya ini, untuk menyampaikan ayat 23 dari surah
As Syuuraa. Hal ini merupakan kemuliaan yang di berikan khusus kepada Muhammad S.A.W, dan karena adanya manfaat untuk Ummat Beliau.

Di dalam “Syaroful Muabbad li Aali Muhammad” susunan Syaikh Yusuf bin Isma`il An Nabhani, di sebutkan; “Apabila berbuat baik, mencintai, dan menghormati, wajib di lakukan kepada setiap Muslim, maka kepada keluarga Rasul S.A.W, hal–hal tersebut lebih wajib dan “afdhol” untuk di lakukan.
Lalu, keuntungan apa yang di dapat dengan melakukan permintaan Rasul S.A.W, yaitu mencintai keluarga Beliau?
Di dalam ayat 46 dari surah Saba`, ALLAH S.W.T berfirman;

قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٍ۬ فَهُوَ لَكُمۡۖ إِنۡ أَجۡرِىَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ شَہِيدٌ۬

Artinya: Katakan! (Hai Muhammad) Apapun yang Aku pinta kepada kalian, berupa upah, maka manfaatnya untuk kalian. Ganjaran sebenarnya yang Aku harapkan hanya kepada ALLAH. Dan Dia memperhatikan segalanya.

Dan pada ayat 57 dari surah Al Furqaan;


قُلۡ مَآ أَسۡـَٔلُڪُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلاً۬

Artinya: Katakan! (Hai Muhammad) Aku tidak meminta upah kepada kalian, untuk da`wah yang Aku sampaikan, kecuali kepada orang–orang yang ingin mengambil jalan, untuk menuju Tuhannya.
Dengan kedua ayat di atas, Rasul S.A.W di perintahkan untuk menyampaikan, bahwa upah yang beliau harapkan kepada setiap Ummatnya, yaitu cinta kepada keluarga beliau (Al Qurbaa), tiada lain manfaatnya untuk kebaikan diri mereka sendiri (ayat pertama). Dan manfaat tersebut adalah tujuan utama setiap hamba, yaitu sampainya mereka dalam meraih Ridho ALLAH S.W.T (ayat kedua). Sebagai mana pendapat sementara “Mufassiriin”, dalam tafsir Al Baydhowy.

Dengan sebuah Hadits, yang telah di nukil oleh Prof.Dr. Sayyid Muhammad Al Maliki, di dalam bukunya, “Syarii`atullah Al Khalidah, Rasul S.A.W, bersabda, yang artinya:
“Aku titipkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu “Kitaabullah” dan “Sunnah” NabiNYA”.
(Al Imam Malik fil Muwatho).

Dan di dalam riwayat Al Imam Ahmad, seperti yang tercantum dalam kitab “Syaroful Muabbad li Aali Muhammad”, yang artinya;

“Sesungguhnya telah dekat panggilan itu(kematian), dan Aku akan memperkenankannya. Dan sesungguhnya, Aku menitipkan kepada kalian dua perkara yang sangat besar. Yang pertama “Kitaabullah”, Ia adalah tali yang terulur dari langit ke bumi. Dan yang kedua adalah “Itrotiy”, yaitu “Ahlul Bait”ku. Dan sesungguhnya Tuhan yang Maha mengetahui hal yang paling halus, telah mengabarkan kepadaku, bahwa keduanya tidak akan berpisah, sampai Aku menemui keduanya di dekat “telaga”, pada hari kiamat. Maka perhatikanlah keduanya, setelah Aku pergi nanti!

Hadits pertama menjelaskan, bahwa Rasul S.A.W, meninggalkan dua perkara yang sangat berharga, yaitu “Kitaabullaah” dan “Sunnah”, tata cara beribadah kepada ALLAH S.W.T dan bergaul terhadap sesama makhluk, yang telah di contohkan oleh Baginda Nabi S.A.W. dan ia merupakan penjelasan terhadap “Kitaabullaah” pada ayat-ayat yang memberikan penjelasan secara tidak terperinci.
Sedangkan dalam hadits kedua, Rasul S.A.W. berwasiat, agar ummatnya berpegang teguh kepada Kitaabullaah dan anak cucu Beliau. Karena keduanya tidak akan berpisah selamanya, dalam memberikan petunjuk kepada manusia, sampai tibanya hari kiamat, dan keduanya menjumpai Nabi S.A.W, di telaga yang telah Beliau janjikan.

Dengan melihat hadist di atas, menjadi jelaslah bahwa penafsiran Kitabullah dan sunnah Rasul SAW, sekaligus cara mengamalkan kedua warisan tersebut, dapat dilakukan dengan sempurna apabila kita mencintai dan mengikuti cara yang dilakukan Ahlulbait, yang disebutkan oleh hadist diatas dengan ‘Itrah. Karena mereka, Ahlulbait, dalam melakukan perintah Allah dan Rasulnya, tidak hanya mengambilnya melalui kitab-kitab hadits atau tafsir. Akan tetapi mereka melihat langsung cara pengamalannya melalui orang tua dan kakek mereka. Sedangkan kakek mereka tadi langsung melihat dari ayahnya. Dan terus seperti itu, sampai kepada datuk mereka yaitu Rasulullah SAW. Dengan cara ini keamanan dalam memaham ayat-ayat Allah, dan sabda Nabi, lebih terjaga.

Hal ini sesuai dengan pernyataan yang telah disampaikan oleh Alhabib Umar Bin Muhammad Bin Hafizh, pendiri Darul Mushtafa, Tarim, Hadramaut, dalam menggabungkan dua ma’na hadits tersebut.

Dengan Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad tadi, menjadi jelaslah sebab diperintahkannya Nabi SAW untuk menyampaikan kepada ummatnya, agar mereka mencintai Ahlulbait, Anak cucu keturunan Nabi SAW, dan mengikuti jejak langkah mereka. Wallahu a'lam...

01 Desember 2012

Amalan shalawat bertemu Nabi SAW


by : Sayid Muchsin el Munawwar

Di dalam KITAB MAGHNATHISUL QABUL FIL WUSHUL ILAA RU’YATI SAYYIDINAR RASUL SAW (MAGHNATIS: RISALAH METODE BERJUMPA RASULULLAH SAW) buah karya dari Sayyid Hasan Muhammad syiddad ba Umar. Pengantar kitab ini adalah Habib Abdurrahman bin Syech Al-Atthas, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masyhad, Sukabumi.. Kitab yang sangat bagus karena diberi sambutan / referensi oleh beberapa Ulama besar.

Diantaranya:

Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Asseqaf
Al-Habib Ahmad Masyhur Al-Haddad
Al-Habib Abu Bakar bin Ali Al-Masyhur
Al-Habib Hasyim Al-Idrus
Al-Habib Abdul Qadir Jilani bin Salim Al-Khird
As-Sayyid Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaff
As-Sayyid Ali bin Abdullah bin Husein Asseqqaf
As-Sayyid Muhammad bin said bin Al-Baidh
As-Syekh Husein Shaleh Al-Masibily
As-Syekh Abdur Rahiim Syekh Ali Musa
As-Syekh Abdullah Sirajuddin
As-Syekh Musa Abduh Yusuf
As-Syekh Shaleh Al-Syekh Al-Abbassy
As-Syekh Ahmad Al-Badawi bin Usman Al-Barawy

Beliau-beliau diatas menyatakan bahwa Kitab ini MAGHNATHISUL QABUL FIL WUSHUL ILAA RU’YATI SAYYIDINAR RASUL, adalah satu kitab yang terjamin ke shahihannya dan berdasarkan dalil yang kuat juga dari Ijazah yang bersambung secara berantai sanadnya. Merupakan pedoman bagi para Muhibbin yang bercita- cita untuk dapat bertemu dengan Junjungan Yang Mulia Sayyidina wa Habibina wa Maulana Rasulullah Muhammad bin Abdillah SAW.
Perangkum kitab ini merangkumnya kedalam tiga bahasan pokok dalam merajut kecintaan dan menjalin keterpautan hati kepada Nabi SAW secara sistematis dan proporsional berdasarkan Al- Qur’an, As-Sunnah, dan wacana para salaf dan khalaf melalui pengamalan sholawat. Perjumpaan yang dimaksud adalah dengan melalui mimpi dan diharapkan berlanjut ke alam nyata.

Mimpi merupakan yang pertama nampak dari wahyu kenabian kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya pada bahasan Ta’bir dan oleh Muslim pada bahasan Al-Imam (hadist no: 252). Kata RU’YAH digunakan untuk mimpi yang disukai, sedangkan kata HULUM untuk mimpi yang tidak disukai. Terkadang kata Ru’yah digunakan untuk keduanya. Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim pada bahasan itu- dari Abu Qatadah bahwa Nabi SAW bersabda: “ Ru’yah yang benar berasal dari Allah dan Hulum yang buruk berasal dari Syetan.”

Sayyid Allamah Abdullah bin Alwi Al-Haddad Ra pernah ditanya tentang Ru’yah dan beliau mengatakan, ”Mimpi adalah bagian dari kenabian dan memiliki alam tersendiri, malah mimpi merupakan dinding pemisah antara kasyf yang bersifat bathin dengan kesadaran (yagdhah) yang bersifat zhohir”. Kewalian biasanya diawali dengan mimpi sebagaimana yang di awali oleh Rasulullah SAW pada awal kenabian. Namun tidak setiap mimpi yang diawali oleh seseorang bersifat demikian.

Orang yang suka mencampur adukkan yang haq dengan yang batil kecil kemungkinannya untuk mendapatkan mimpi yang benar (Shidig).

Syarat bermimpi yang benar adalah bersikap jujur dan menjauhkan diri dari khayalan-khayalan buruk.

Allah memuliakan para pecinta Nabinya dengan kemampuan melihat Rasulullah SAW ketika tidur sebagai perwujudan dari mengutamakan dan memuliakan beliau SAW adalah pangkat yang paling agung yang didambakan dan diharapkan oleh setiap insan yang mencintai beliau.

Sesuai dengan sabda Nabi SAW,”Tidak beriman (dengan sempurna) satu diantara kamu, sehingga aku lebih dicintainya dari pada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan setiap manusia.”
Setelah Allah menganugerahi para pecinta dengan kemampuan melihat Nabi-NYA SAW dikala tidur, kedudukan mereka menjadi tinggi dengan memperbanyak bacaan sholawat dan salam sambil mengikuti jejak beliau yang sempurna, sehingga Allah Yang Maha Mulia memberi mereka keutamaan.

Mereka mampu melihat beliau dan berkumpul bersama beliau dalam keadaan terjaga. Itulah yang termasuk pangkat yang tinggi dan derajat yang agung.

Sebagaimana sabda beliau SAW, ”Barangsiapa melihat aku diwaktu tidur maka dia benar-benar melihat aku, karena sesungguhnya setan tidak mampu menyerupai aku”. (Sungguh benar Nabi SAW yang benar dan dibenarkan).

Setelah itu beliau memberi kabar gembira kepada kita: “Barangsiapa melihat aku diwaktu tidur, maka dia akan melihat aku di waktu terjaga atau (dia seakan-akan melihat aku di waktu terjaga) setan tidak dapat menyerupai aku”. (HR.Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Diantara syarat-syarat Mahabbah kepada Rasul SAW adalah:

Taqwa dan Istiqomah yang sempurna. Karena merupakan azaz yang kokoh dalam semua amal ibadah disamping niat yang benar dengan ikhlas.

Didalam mengikuti jejak rasul SAW ada 3 faedah yang besar dan agung:

* Dicintai Oleh Allah SWT.
* Taat kepada Rasulullah SAW.
* Diampuni dosa-dosanya.

Tersebut didalam kitab Mafatihul Mafatih: Barangsiapa bisa bermimpi melihat Rasulullah SAW dikala tidur, maka dia akan mendapatkan Husnul Khotimah dan syafaat beliau, mendapatkan surga dan Allah mengampuninya serta kedua orang tuanya- jika keduanya muslim. Dia termasuk yang mengkhatamkan Qur’an sebanyak 12 kali, sakaratul maut terasa ringan baginya, siksa kubur dihilangkan dari padanya, diselamatkan dari kesulitan da hari kiamat dan tercapai hajatnya didunia dan akhirat dengan kasih sayang dan karunia-NYA.

Ketahuilah bahwasanya mimpi melihat beliau SAW adalah Haq. Mimpi adalah suatu keterbukaan yang tidak bisa terjadi kecuali dengan hilangnya penutup / Hijab dari hati.Oleh karena itu tidak bisa dipercaya kecuali mimpi seseorang laki-laki shaleh dan benar ucapannya. Adapun orang yang banyak kebohongannya, tidaklah benar mimpinya. Orang yang banyak kerusakan dan perbuatan maksiatnya akan gelap hatinya, sehingga apa yang dilihatnya adalah bunga-bunga tidur.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang yang diberi Taufiq oleh Allah SWT dan dimuliakan dengan melihat Nabi SAW, terkadang dia melihat beliau dalam bentuk-bentuk yang banyak. Hal ini kembali kepada perilaku orang yang melihat beliau, karena perobahan tingkah lakunya, istiqomahnya, dan khaufnya kepada Allah, disertai cara-cara menunaikan ibadah-ibadah fardhu dengan benar. Apabila amalan orang yang melihat Rasul SAW baik, maka baik pula baginya bentuk dan rupa beliau. Terkadang beliau nampak dengan sifat-sifat yang dimilikinya, kendatipun demikian beliau diatas segala sifat-sifat itu dari kebagusan, kesempurnaan, kedermawanan, cahaya dan rahasia beliau yang merupakan sifat-sifat Mulia yang tidak diketahui kecuali Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Agung.

Orang yang berkeinginan untuk melihat Rasulullah SAW wajib menambah:

1. Sikap merendahkan diri kepada Allah SWT.
2. Beradab bersama Rasulullah SAW.
3. Memandang sesuatu sesuai yang disenangi dan di Ridhai Oleh Allah dan Rasul-NYA.
4. Menjauhi semua tempat yang tidak di Ridhai oleh Allah dan Rasul-NYA.

Dan berikut ini adalah contoh beberapa faedah untuk tujuan yang dimaksud, maka bangun dan berjuanglah, ambillah dia untukmu dan semoga kita dapat menyaksikan Ke Maha Murahan dan Ke Maha Agungan Allah yang Maha Penolong dan pemberi Taufiq.

Faedah beberapa surah di dalam Al-Qur’an untuk tujuan berjumpa (Mimpi) kepada Rasulullah SAW.


1. Surah Al-Kautsar.
Barangsiapa membacanya dimalam hari 1.000 kali, maka dia akan bermimpi melihat Nabi SAW. (Mujarab Shahih)

2. Surah Al-Muzammil.
Barangsiapa ingin melihat Nabi SAW maka bacalah surah itu sebanyak 41 kali. Maka dia pasti akan melihat beliau SAW. (Mujarab shohih)

3. Surah Al-Qodr.
Dibaca pada malam jum’at 1.000 kali maka dia tidak akan mati sebelum melihat Nabi SAW. (Mujarab)

4. Surah Al- Qurays.
Dibaca malam jum’at 1.000 kali, kemudian tidur dalam keadaan suci maka dia akan melihat Nabi SAW didalam tidurnya dan tercapai maksud serta tujuannya. (Mujarab)

5. Surah Al-Ikhlas.
Riwayat Ibnu Abbas: Dibaca malam hari 1.000 kali, maka dia akan melihat Nabi SAW didalam tidurnya. (Mujarab)

Dibagian lain Ibnu Abbas menerangkan: “Barangsiapa yang melaksanakan sholat dua rakaat pada malam jum’at, pada setiap rakaatnya setelah fatehah membaca Surah Al-Ikhlas 25 kali setelah itu ba’da sholat membaca sholawat dengan sighat ini:

Shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummi. 1.000 kali.

Maka tidak akan sempurna jum’at yang akan datang kecuali dia melihat Nabi SAW diwaktu tidurnya. Jika dia dapat melihat Nabi SAW maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. (Mujarab Shohih)

Faedah beberapa sholawat pendek An-Nabi SAW.


1. Sholawat Nur.

Bismillahir rahmanir rahiim…
Allaahumma innii as-aluka bi nuuril anwaaril ladzii huwa ‘ainuka laa ghoiruka an turiyanii wajha nabiyyika sayyidinaa Muhammadin sholallahu ‘alaihi wa aalihi wassallama kamaa Huwa ‘indaka.

Sighat sholawat tersebut dibaca 100 kali. (Ini Mujarab)

2. Sholawat Ummi.

Bismillahir rahmanir rahiim…
Allaahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummi. 1.000 kali.

Caranya: Sholat sunah dua rakaat pada malam jum’at. Dalam setiap rakaatnya membaca ba’da al-fatehah: Ayat Qursy.1x dan Surah Al-Ikhlas 15 kali. Setelah salam membaca sholawat tersebut diatas 1.000 kali. (Mujarab)


3. Sholawat Syekh Abbu Abbas Al-Mursy Ra..

Bismillahir rahmanir rahiim…
Allaahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammadin ‘abdika wa nabiyyika wa rasuulikan nabiyyil ummi wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallim. 500 kali.

Berkata Syekh Abbu Abbas Al-Mursy Ra: “Barang siapa membaca secara rutin sighat sholawat tersebut dalam sehari semalam sebanyak 500 x, maka dia tidak akan mati sebelum berkumpul bersama Nabi SAW dialam nyata (terjaga).” Syekh Yusuf An- Nabhani menambahkan dan menerangkan: Apabila sholawat tersebut berfaedah untuk melihat Nabi SAW dialam nyata, tentunya sholawat tersebut lebih berfaedah lagi untuk melihat beliau didalam tidur”. (Ini Mujarab)

4. Sholawat Sayyid Jamaludin Abu Mawahib Asy-Syadzily Ra..
Beliau adalah termasuk orang-orang pilihan yang agung. Beliau berkata, ”Saya pernah melihat Rasulullah SAW didalam tidur, lalu beliau SAW berkata kepadaku “Bacalah olehmu ketika hendak tidur…

Bismillahir rahmanir rahiim. 5x

A’udzubillahi minasy-syaithonnir rajiim.5x

Allaahumma bihaqqi Muhammadin arinii wajha Muhammadin haalaan wa maalaan. 5x

Artinya: Yaa Allah dengan kebenaran Nabi Muhammad saw. perlihatkanlah kepada saya wajha Nabi Muhammad saw. sekarang dan nanti (diakhirat).

Apabila engkau membacanya ketika hendak tidur, maka aku akan mendatangimu dan aku tidak akan meninggalkanmu sama sekali.“

Lalu beliau menuturkan “alangkah indahnya bentuk bacaan ini dan juga artinya bagi orang yang mempercayainya, terlebih lagi jika engkau menambahinya dengan bacaan sholawat dan salam kepada Nabi SAW”. (Ini Mujarab Shohih).

5. Sholawat Rahmat.

Penulis kitab ini Sayyid Hasan Muhammad syiddad ba Umar mengatakan telah memperoleh ijazah dari Guru beliau Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Smith- dan beliau berkata: “Sesungguhnya Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy Ra berkata: “Barang siapa banyak membaca sighat sholawat yang berkah ini maka dia akan melihat An-Nabi SAW”.

Inilah sighat sholawat yang dimaksud:

Bismillahir rahmanir rahiim…
Allaahumma sholli wa sallim ’alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad miftaahi baabi rohmaatillah, ‘adada maafii ‘ilmillah, sholaatan wa salaaman daa-imaini bidawamii mulkillah”.

Dan beliau- Sayyid Hasan Muhammad syiddad ba Umar mengatakan telah memperoleh sighat sholawat yang sama dari Al-Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syatthiri diawal perjumpaan beliau di Raudhah yang mulia di Masjid Madinah Al-Munawarrah.

* Barangsiapa membaca shalawat ruhi ini minimal 100x setiap harinya dan pada malam jum’at 1000x maka ia akan bermimpi ketemu Nabi Muhammad.

اللهم صل على روح سيدنا محمد فى الارواح, و على جسده فى الاجساد, و على قبره فى القبور

Allaahumma sholli ‘alaa ruuhi sayyidinaa muhammadin fil- arwaahi, wa ‘alaa jasadihi fil-ajsaadi, wa ‘alaa qobrihi fil- qubuuri.

Artinya: Yaa Allah limpahkanlah shalawat kepada ruh sayyidina Muhammad di alam ruh, kepada jasadnya di alam jasad dan kepada kuburnya di alam kubur”.

Imam Syarany berkata: “Nabi Muhammad telah bersabda: barangsiapa mengucapkan shalawat atasku dengan cara yang dikemukakan dalam shalawat ini (shalawat ruhi di atas), maka ia akan melihatku di dalam mimpi, barangsiapa melihatku didalam mimpinya maka ia akan melihatku di Hari Kiamat, barangsiapa melihatku di Hari Kiamat maka aku akan memberikan syafaat, dan barangsiapa yang aku beri syafaat niscaya ia akan meminum dari telagaku dan diharamkan Allah jasadnya dari neraka”.

* Juga dikatakan barangsiapa membaca syair burdah pada bait ke 8 ini:

والحب يعترض اللذات بالالم نعم سرى طيف من اهوى فارقني

Na’am saroo’ thoifu man ahwaa’ fa-arroqonii * wal-hubbu ya’taridhul-ladzaati bil-alami.

Artinya: “Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga. Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita”.

Diamalkan setelah habis sholat isya sebanyak-banyaknya dengan penuh kerinduan dengan Nabi Muhammad saww. dan sampai ia tertidur maka Insya Allah ia akan bermimpi ketemu Nabi Muhammad saww.

* Amalan ini saya dapat dari Al-Habib Ahmad bin Novel Bin Jindan untuk dapat bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, amalan ini dibaca 300x sebelum tidur.

Ini amalannya:

ليته خصني برؤية وجه زال عن كل من رآه الشقاء

Laitahu khoshshinii biru’yati wajhin zaala ‘an kulli man ro- aahusy-syaqoo’u. 300 kali.

* Amalan shalawat ini juga dikatakan bisa untuk bermimpi ketemu Nabi saww. bila dibacanya, shalawat ini dibaca 100x yang sebelumnya mengerjakan sholat sunnah 2 roka’at.

Ini shalawatnya:

يا نور النور يا مدبر الامور بلغ عني روح سيدنا محمد و ارواح آل سيدنا محمد تحية و سلاما

Yaa nuuran-nuuri yaa mudabbirol-umuuri balligh ‘annii ruuha sayyidinaa muhammadin wa arwaaha aali sayyidinaa muhammadin tahiyyatan wa salaaman.

Artinya: “Ya Allah sumber pancaran nur, Ya Allah Tuhan yang mengatur semua perkara, semoga Engkau sampaikan daripadaku salam dan tahiyat kepada Ruh Nabi Muhammad saww. dan ruh keluarga Nabi Muhammad saww”. 100 kali.

Hadits-hadits berkenaan dengan mimpi ketemu Nabi Muhammad saww.

حَدََّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami Abdullah dari Yunus dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Salamah, bahwasanya Abu Hurairah mengatakan, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka (seakan-akan) ia melihatku ketika terjaga, (karena) setan tidak bisa menyerupaiku.” Abu Abdullah mengatakan, Ibnu Sirin mengatakan; ‘Maksudnya jika melihat beliau dengan bentuk (asli) beliau.’ (HR. Bukhori No. 6478, Ibnu Majah No.3895)

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَخَيَّلُ بِي وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Mu’allaa bin Asad telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar telah menceritakan kepada kami Tsabit Al Bunani dari Anas radliallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa melihatku dalam mimpi, berarti ia telah melihatku, sebab setan tidak bisa menjelma sepertiku, dan mimpi seorang mukmin adalah sebagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Bukhori No.6479)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ حَدَّثَنِي ابْنُ الْهَادِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَبَّابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَكَوَّنُنِي

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits telah menceritakan kepadaku Ibnul Al Had dari Abdullah bin Khabbab dari Abu Sa’id Al Khudzri, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihatku, berarti ia telah melihat yang sebenarnya, sebab setan tak bisa menjelma sepertiku.” (HR. Bukhori No.6482)

حَدََّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ وَهِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

Telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi’ Sulaiman bin Dawud Al ‘Ataki; Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid; Telah menceritakan kepada kami Ayyub dan Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa bermimpi melihatku dalam tidurnya, maka sesungguhnya dia benar-benar melihatku; karena setan itu tidak dapat menyerupai bentukku.” (HR. Muslim No.4206)

حَدََّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي وَقَالَ ابْنُ فُضَيْلٍ مَرَّةً يَتَخَيَّلُ بِي فَإِنَّ رُؤْيَا الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ الصَّادِقَةَ الصَّالِحَةَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa melihatku di dalam mimpi sungguh dia telah melihatku (yang sebenarnya), karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai aku” -Ibnu fidloil berkata: “menghayalkan aku-, Sesungguhnya mimpi seorang mukmin yang benar adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian kenabian.” (HR. Ahmad No.6871, At-Tirmidzi No.2202)

Dan masih banyak dalil-dalil lainnya tentang kebenaran seseorang dapat bermimpi ketemu Nabi Muhammad saw.

Allahu a’lam bishawab..

Yang Paling Pertama

 
 by : Grup Para Wali, Habaib, Salafush Sholih
1. Orang yang pertama menulis Bismillah :
Nabi Sulaiman AS.

2..Orang yang pertama minum air zamzam :
Nabi Ismail AS.

3..Orang yang pertama berkhatan :
Nabi Ibrahim AS.

4.Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat :
Nabi Ibrahim AS.
.
5…Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat :
Nabi Adam AS.

6….Orang yang pertama mengerjakan saie antara Safa dan Marwah :
Sayyidatina Hajar (Ibu Nabi Ismail AS)

7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat :
Nabi Muhammad SAW

8. ..Orang yang pertama menjadi khalifah Islam :
Abu Bakar AsSiddiq RA

9. Orang yang pertama menggunakan tarikh hijrah:
Umar bin Al-Khattab RA

10. Orang yang pertama meletakkah jawatan khalifah dalam Islam:
Al-Hasan bin Ali RA

11. ..Orang yang pertama menyusukan Nabi SAW:
Thuwaibah RA

12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki :
Al-Harith bin Abi Halah RA

13. ..Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita:
Sumayyah binti Khabbat RA

14… Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran :
Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA

15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah :
Saad bin Abi Waqqas RA

16. …Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan azan:
Bilal bin Rabah RA

17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW :
Ali bin Abi Tholib RA

18…. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW:
Tamim Ad-dary RA

19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : Az-Zubair bin Al-Awwam RA

20…. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW:
Ibban bin Othman bin Affan RA

21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW :
Khadijah binti Khuwailid RA

22… Orang yang pertama mengasaskan usul fiqh :
Imam Syafei RH

23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam:
Ali bin Abi Tholib RA

24. ….Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam :
Muawayah bin Abi Sufyan RA

25… Orang yang pertama membuat perpustakaan awam :
Harun Ar-Rasyid RH

26.Orang yang pertama mengadakan baitul mal : Umar Al-Khattab RA

27… Orang yang pertama menghafal Al-Quran selepas Rasulullah SAW:
Ali bn Abi Tholib RA

28.Orang yang pertama membina menara di Masjidil Haram Mekah :
Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur RH

29…Orang yang pertama digelar Al-Muqry :
Mus’ab bin Umair RA

30. … Orang yang pertama masuk Syurga :
Nabi Muhamamad SAW

Wahai, sahabat-sahabatku & saudara-saudaraku… baca dan hayatilah.. sebarkanlah… semoga kita mendapat keberkatan dariNYA bersama2.. insyallah..

17 November 2012

Perlengkapan Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam.





“Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. adalah Gamis.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari al Fadhal bin Musa, diriwayatkan pula oleh Abu Tamilah dan Zaid bin Habab, ketiganya menerima dari Abdul Mu’min bin Khalid, dari Abdullah bin Buraidah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.)

• Ummu Salamah r.a. adalah Ummul Mu’minin Hindun binti Mughirah al Makhzumiyah.

“Sesungguhnya Nabi saw. keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Beliau memakai pakaian Qithri yang diselempangkan di atas bahunya, kemudian beliau shalat bersama mereka.” (Diriwayatkan oleh `Abd bin Humaid , dari Muhammad bin al Fardhal, dari Hammad bin Salamah, dari Habib bin as Syahid, dari al Hasan, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• Qithri adalah sejenis kain yang terbuat dari katun yang kasar. Kain ini berasal dari Bahrain tepatnya dari Qathar.

Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik r.a. mengemukakan: “Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. ialah kain Hibarah*.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Mu’adz bin Hisyam dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• Kain Hibarah ialah kain keluaran Yaman yang terbuat dari katun.

“Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian sewaktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik- baik pakaian bagi kalian.” 

(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Basyar bin al Mufadhal, dari `Utsman Ibnu Khaitsam, dari Sa’id bin Jubeir, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

“Rasulullah saw. bersabda : “Pakailah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih bagus. Juga kafankanlah ia pada orang yang meninggal diantara kalian.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib yang bersumber dari Samur bin Jundub r.a.)

  ♥♥. SERBAN RASULULLAH SAW ♥♥.

“Nabi saw. memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota mekkah,beliau memakai serban hitam.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)

“Sesungguhnya Nabi saw. berpidato da hadapan umat, beliau memakai serban hitam.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan,dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin `Isa,keduanya menerima dari Waki’, dari Musawir al Waraq, dari Ja’far bin `Amr bin Huraits,yang bersumber dari bapaknya.)

   ♥♥. KHUF RASULULLAH SAW ♥♥.

“Sesungguhnya raja *an-Najasyi menghadiahkan sepasang khuf hitam pekat kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. memakainya dan kemudian ia berwudlu dengan (hanya) menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kaki).”(Diriwayatkan oleh Hinad bin Siri, dari Waki’, dari Dalham bin Shalih, dari Hujair bin `Abdullah, dari putera Buraidah, yang bersumber dari Buraidah r.a.)

• Khuf ialah sejenis kaos kaki tapi terbuat dari kulit binatang. Khuf dibuat amat tipis dan tingginya menutupi mata kaki. Khuf biasanya hanya digunakan pada musim dingin untuk mencegah agar kulit kaki tidak pecah-pecah. Biasanya, orang memakai khuf ketika musafir dimusim dingin dan masih memakai sepatu luar lagi.

Sepatu ini namanya “jurmuq”. Para Ulama Indonesia sering menggunakan istilah Mujah untuk terjemahan khuf. Tapi kadangkadang diterjemahkan juga dengan “sepatu khuf”.
• An najasyi menurut literature barat umumnya disebut Negust. Negust adalah gelar raja-raja di Abesina (Habsyi), sekarang dikenal “Ethiopia”.

  ♥♥. SANDAL RASULULLAH SAW ♥♥.

“Bagaimanakah sandal Rasulullah saw. itu?” Anas menjawab : “Kedua belahnya mempunyai tali qibal*(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)

• Tali qibal adalah tali sandal yang bersatu pada bagian mukanya dan terjepit di antara dua jari kaki.

“Janganlah diantara kalian berjalan dengan sandal sebelah. Hendaklah memakai keduanya.”(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al Anshari, dari Ma’an, dari Malik, dari Abiz Zinad, dari al A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

“Sesungguhnya Nabi saw.melarang seorang laki-laki makan dengan tangan kiri dan berjalan dengan sandal sebelah.”

(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa,dari Ma’an,dari Malik,dari Abi Zubair,yang bersumber dari Jabir r.a.)


“Sesungguhnya Nabi saw. bersabda :

 “Bila salah seorang diantara kalian hendak memakai sandal hendaklah ia memulainya dari yang sebelah kanan. Dan bila ia melepasnya, maka hendaklah dimulai dari yang sebelah kiri.

Hendaklah posisi kanan dijadikan yang pertama kali dipasangi sandaldan yang terakhir kali dilepas.

”(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Malik, dan diriwayatkan pula oleh Ishaq bin Musa ,dari Ma’an, dari Malik, dari Abu Zinad, dari A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)


  ♥♥. CINCIN RASULULLAH SAW ♥♥.

“Cincin Rasulullah saw. terbuat dari perak sedangkan permatanya dari Abessina (Habsyi)”.(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, dari `Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)


“Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa `Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: “Sungguh bangsa `Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw.”
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu’adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah,yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)


• karena sebagaimana dikatakan bahwa cincin Nabi saw. dipakai sebagai pengecap surat,maka Nabi saw. tidak memakainya karena fungsinya pun lain. Atau mungkin saja pengertiannya bukan tidak dipakai, tapi jarang.

“Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah “Muhammad” satu baris ,”Rasul” satu baris, dan “Allah” satu baris”.

(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin `abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)


“Sesungguhnya apabila Nabi saw. masuk ke jamban, maka ia melepaskan cincinnya.”(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Sa’id bin `Amir, dan diriwayatkan pula oleh Hajjaj bin Minhal, dari Hamman, dari Ibnu Juraij, dari Zuhri yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)


 ♥♥. CARA RASULULLAH SAW  BERCINCIN ♥♥.

“Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin di jari tangan kanannya.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin `Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh `Abdullah bin Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin `Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin `Abdullah bin Hunain, dari bapaknya, yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)


♥.✿ALLAAHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD✿.


                           ✿ ♥♥.✿

09 November 2012

Dari nur Muhammad inilah kemudian Allah Ta’ala menciptakan alam semesta dan isinya.



Hubungan yang ada antara nur Muhammad dan Allah SWT bersifat vertikal. Nur Muhammad berada pada sisi yang diciptakan, sementara Allah SWT berada pada sisi lain, yaitu sebagai Pencipta-nya.



Nur adalah cahaya. Sementara An-Nur adalah Sang Cahaya, salah satu Asmaul Husna, nama-nama Allah yang indah. Nur adalah cahaya ciptaan yang memancar dari Cahaya Allah. Nur Muhammad adalah cahaya Muhammad.

Terkadang ia juga disebutkan sebagai Haqiqah Muhammadiyah, artinya  sebuah realitas Muhammad atau realitas kemuhammadan yang diciptakan sebelum penciptaan alam. Nur Muhammad inilah yang pertama kali diciptakan Allah. Dan dari nur Muhammad inilah kemudian Allah Ta’ala menciptakan alam semesta dan isinya.


Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, dalam kitab Maulid-nya, Simthud Durar, menuliskan perihal nur Muhammad, “Telah sampai kepada kami dalam hadits-hadits yang termasyhur bahwa sesuatu yang awal mula diciptakan Allah SWT adalah cahaya yang tersimpan dalam pribadi agung (Muhammad SAW) ini. Maka cahaya manusia inilah makhluk pertama yang muncul dalam penciptaann-Nya. Darinya berasal seluruh wujud alam ini yang baru datang ataupun yang sebelumnya.


Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurrazaq dengan sanadnya yang bersambung sampai kepada sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia pernah bertanya, ‘Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang diciptakan Allah sebelum makhluk lainnya.’


Rasulullah menjawab, ‘Wahai Jabir, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan cahaya nabimu dari cahaya-Nya sebelum menciptakan yang lain.’ Dan telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Nabi Muhammad SAW telah bersabda: Aku adalah yang pertama di antara para nabi dalam penciptaan, tapi yang terakhir dalam kerasulan’.”


Yang Pertama Tercipta


Konsep nur Muhammad, bila memperhatikan hadits yang dikutip oleh Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di atas, telah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Dalam riwayat yang lainnya, Rasulullah juga mengatakan kepada Jabir terkait dengan hal itu, “Nur nabimu, wahai Jabir, kemudian Allah SWT menciptakan segala kebaikan dari nurku.”

Nur Muhammad itulah yang menjadikan sebagian manusia menjadi insan kamil. Namun demikian, insan kamil yang muncul di setiap zaman semenjak zaman Nabi Adam hingga akhir zaman nanti, tidak dapat melebihi keutamaan Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana diungkap dalam surah Al-Qalam ayat 4, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah pribadi yang agung.” Sementara sebuah hadits menyebutkan. “Aku adalah penghulu anak-cucu Adam.” Dan dalam redaksi hadits lainnya disebutkan, “Aku telah menjadi nabi dan Adam masih berada antara air dan tanah, antara ruh dan jasad.”

Redaksi kedua hadits di atas menunjukkan bahwa hubungan yang ada antara nur Muhammad dan Allah SWT bersifat vertikal, yaitu jalinan antara makhluk dengan Khalik-nya. Nur Muhammad berada pada sisi yang diciptakan, sementara Allah SWT berada pada sisi lain, yaitu sebagai Penciptanya.

Baik nur Muhammad maupun Nabi Muhammad SAW, keduanya adalah ciptaan Allah SWT. Hanya saja, yang menghubungkan keduanya adalah penghubung yang tak terpisahkan. Nur Muhammad sebagai awal penciptaan tidak dapat dipisahkan dari Nabi Muhammad SAW, yakni Muhammad yang mempunyai nur. Allah menciptakan nur Muhammad agar dari sana makhluk dan alam tercipta secara zhahir.

Secara lahiriah, nur Muhammad adalah cahaya Allah, dalam arti bahwa nur Muhammad identik dengan kesempurnaan, keutamaan, dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah Ta’ala. Sebagai pribadi, pribadi Rasulullah SAW adalah pribadi yang dapat memberi contoh dalam mewujudkan sifat, nama, dan af’al (perbuatan) Allah SWT.

Adapun secara bathiniah, kedudukan tinggi Nabi Muhammad atau nur Muhammad SAW tersirat dari sebuah hadits Nabi SAW yang maknanya, “Cahaya yang pertama diciptakan Allah adalah cahayaku.”

Juga sebuah hadits lainnya, “Sesungguhnya Allah SWT, ketika menciptakan Arasy, menulis padanya La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah dengan cahaya.”

Keterangan yang tersirat dari hadits tersebut menunjukkan, nur Muhammad digambarkan sebagai nur dari Allah sedang Nabi Muhammad SAW berasal dari “nur dzat” semata. Keduanya adalah baharu, ciptaan Allah SWT.


Makna di Balik Ungkapan

Saat digambarkan nur Muhammad sebagai wujud tajalli (penampakan) Allah dan Muhammad sebagai ciptaan Allah, dari sini kelihatan bahwa Allah SWT menempatkan Nabi Muhammad SAW pada martabat yang tinggi, sebagai rasul pembawa risalah, sebagai penerang bagi alam semesta, beroleh pengetahuan akan hal yang ghaib, dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Syaikh Yusuf An-Nabhani mengatakan, sejumlah nama yang ditujukan untuk nur Muhammad sebenarnya bermakna satu, tergantung dari sisi mana kita memandangnya.

Hubungan nur Muhammad dengan Nabi Muhammad SAW yang disebutkan dalam ungkapan yang berbeda tetapi bermakna satu, tampaknya menyalahi kaidah umum.

Karena berdasarkan beberapa nash dan teori, Muhammad SAW diangkat oleh Allah SWT menjadi nabi dan rasul dalam usia 40 tahun, sebagai nabi terakhir, dan yang dilahirkan melalui ibu dan ayah. Sementara nur Muhammad adalah nur dari Allah SWT yang pertama kali diciptakan oleh-Nya. Pandangan itu disepakati oleh para ulama tasawuf lewat isyarat Al-Quran dan hadits.

Perbedaan tersebut tampaknya sulit dipertemukan, karena nur Muhammad adalah awal ciptaan Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Dalam hal ini An-Nabhani berpendapat bahwa istilah pengucapanlah yang membedakan, namun dalam prinsipnya bermakna satu. Sebagai analoginya, hal ini dapat diamati ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, terkadang Malaikat Jibril berbentuk nur dan terkadang berbentuk sesuai keadaannya.

Selain itu, seandainya syari’at Nabi Muhammad datang bersamaan awal datangnya nur Muhammad, syari’at Nabi Adam AS dan syari’at para nabi dan rasul lainnya tidak akan bermakna dan bermanfaat sebagaimana mestinya, karena tentunya akan tergeser dengan kesempurnaan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, salah satu hikmah didahulukannya syari’at Nabi Adam AS dan nabi-nabi lainnya dan berakhir dengan syari’at Nabi Muhammad SAW adalah agar syari’at yang Allah turunkan kepada umat manusia dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan zaman yang terus berproses sesuai sunnatullah.

Demikian pula diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir dan berbentuk manusia sebagaimana bentuk manusia lainnya. Hal tersebut dikarenakan obyek dan sasaran dakwahnya adalah juga manusia, yang sama bentuknya, sehingga tugas kenabian dan kerasulan mencapai sasaran karena sifatnya sama.

Andai kata Nabi Muhammad SAW datang dalam bentuk nur Muhammad, tugas risalahnya tidak akan tercapai, karena sasaran dakwahnya berbeda bentuk dan sifatnya.

Hal itu juga sebagaimana yang disinggung dalam sebuah ayat Al-Quran, “Sesungguhnya Kami mengutusmu (Muhammad) untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.”

Berkaitan dengan ayat di atas, Syaikh Yusuf An-Nabhani mengatakan bahwa cahaya Rasulullah SAW itu bersinar meliputi seluruh alam semesta. Seperti halnya bila Rasulullah berjalan di jalan raya, maka semerbaklah bau harum darinya, sehingga aroma itu dijumpai pada setiap jalan yang telah dilewatinya.

Masalah nur Muhammad memang masalah hakikat. Masalah abstrak. Ia berada dalam ruang lingkup keimanan.

 Dalam hal ini, An-Nabhani kemudian merujuk pada beberapa kisah yang diabadikan dalam Al-Quran, seperti Maryam, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang mempunyai hal (keadaan) dan maqam (kedudukan) istimewa, sehingga keadaan yang mereka alami (peroleh) tidak dapat dipahami bila hanya disimak melalui akal pikiran atau melalui pancaindra.

Kisah-kisah seperti Maryam yang melahirkan tanpa suami, dan Nabi Isa AS yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, adalah kejadian yang sangat luar biasa, dan hanya dapat dipahami melalui mata hati dan keimanan.


Kesempurnaan Sifat Rasulullah SAW

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dalam kitab Simthud Durar-nya kemudian menerangkan proses selanjutnya dari perjalanan nur Muhammad itu, “Dan manakala kebahagiaan abadi menampakkan pengamatannya yang tersembunyi mengkhususkan manusia yang dipilihnya dengan kekhususan yang sempurna, dititipkannya cahaya terang benderang ini pada berbagai sulbi dan rahim yang dimuliakan di antara penghuni jagat raya dan berpindah-pindah dari sulbi Adam, Nuh, dan Ibrahim, sehingga pada akhirnya sampailah ia ke ayahnya yang terpilih menerima kehormatan tiada terhingga, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang bijak dan berwibawa, serta ibundanya Aminah yang mulia, yang selalu merasa aman dan tenteram meskipun di tengah apa saja yang menggelisahkan….”

Setelah kelahirannya, akhlaq mulia Rasulullah SAW mengundang decak kagum setiap mata yang memandangnya dan setiap telinga yang mendengar perangai kebaikannya. Kesemuanya itu tak lain merupakan cerminan dari kesempurnaan sifat yang telah Allah pantulkan dari sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Namun secara lahiriah, sebagaimana yang diterangkan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, seorang muhaddits kenamaan, kesempurnaan dan keutamaan akhlaq Nabi Muhammad SAW itu lantaran hati yang bersih dan suci yang dimilikinya. Berdasarkan keterangan Al-Maliki, kebersihan dan kesucian hati Nabi Muhammad SAW melalui empat proses pembedahan (pembersihan).


Pertama, ketika Nabi Muhammad SAW masih kecil.

 Kedua, ketika Nabi Muhammad SAW berusia sepuluh tahun. Hikmah pembedahan hati Nabi Muhammad pada usia ini karena pada usia sepuluh tahun adalah usia mendekati dewasa.

Ketiga, pada saat dada Nabi Muhammad SAW dibelah ketika Malaikat Jibril datang membawa wahyu saat beliau diangkat menjadi nabi. Hikmah pada pembedahan ini adalah menambah kemuliaan padanya, serta kekuatan dan persiapannya menerima dan menyampaikan wahyu yang akan disampaikan kepadanya, agar beliau kuat serta dalam kedudukan yang sempurna dan suci.

Yang terakhir, atau yang keempat, adalah saat dada Nabi Muhammad SAW dibelah pada malam Isra. Hikmah pada pembedahan ini adalah mengangkat derajat kemuliaan Nabi Muhammad SAW serta kesiapannya berada di sisi Allah SWT.

Keterangan Al-Maliki di atas sejalan dengan konsep nur Muhammad yang identik dengan kesempurnaan, kemuliaan, dan keagungan. Dengan demikian, ungkapan nur Muhammad selalu dihubungkan dengan pribadi Nabi Muhammad SAW, karena Nabi Muhammad-lah yang memiliki keadaan dan sifat sempurna tersebut, baik secara jasmaniah maupun ruhaniah. 

06 Oktober 2012

Apa Sebab Rasulullah saw tdk mengenalmu ????


 
by Sheikh Ahmad Attamimi
 
Sejauh manakah kita mengingati dan mengenang akan Rasulullah Salallahu alaihi wassalam?

Imam Al-Ghazali rahimatullah pernah meriwayatkan kisah seorang lelaki sezaman dengannya.

Pada satu malam, dia bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w. Baginda s.a.w langsung tidak menoleh ke arahnya. Kemudian lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau marah padaku?" Rasulullah s.a.w menjawab, "Tidak". 
 
Lelaki itu bertanya lagi, "Mengapa engkau tidak menoleh dan memandang kepadaku?" 
 
Jawab Rasulullah s.a.w, "Kerana aku tidak mengenalimu." 
 
Lalu lelaki itu menambah, "Bagaimana engkau tidak mengenaliku, bukankah aku ini umatmu? Padahal para ulama telah mengatakan bahawa engkau mengenali umatmu lebih daripada ayah ibunya." 
 
Rasulullah s.a.w menjawab, "Aku tidak mengenalimu kerana engkau tidak mahu mengingatiku dengan membaca selawat. Padahal aku kenal pada umatku itu bergantung kepada bacaan selawat mereka kepadaku."

Kemudian lelaki itu terbangun dari mimpinya. Lalu dia mewajibkan dirinya dengan membaca selawat 100 kali sehari. Maka beberapa hari kemudian pemuda tadi bermimpi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w berkata, "Sekarang aku kenal engkau dan aku syafaati engkau."

– Imam al-Ghazali (Mukashafah al-Qulub)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

30 September 2012

HAKIKAT CINTA

 
by Sayyid Ibra Assegaf

As Salamu'alaykum warahmatullahi ta'ala wabarakatuhu ...

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,'' jawab Abu Dzar. ''Dirimu sendiri itu adalah orang yang paling kamu cintai. Dan kamu berbuat jahat terhadap dirimu bila durhaka kepada Allah,'' jelasnya. Dengan mengacu pada pendapat Abu Dzar tadi, sebenarnya banyak di antara kita yang tega berbuat jahat terhadap 'orang' yang amat dicintainya. Tapi anehnya, kita -- yang gemar berbuat dosa -- lupa bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan kebencian terhadap diri sendiri. Cinta adalah fitrah yang diberikan Allah untuk semua makhluk guna mempertahankan eksistensinya. Manusia berkembang biak karena cinta.

Kelestarian lingkungan menjadi kepedulian manusia karena cinta. Dan yang lebih penting, cinta -- ini yang perlu kita sadari -- merupakan refleksi keberadaan alam malakuti yang abadi. Itulah sebabnya, bila dua sejoli sedang dimabuk cinta, maka apa yang terbayangkan dan diangankannya, cinta mereka akan abadi. Tapi sayang, keabadian cinta yang diangankannya hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat duniawi, yang justru menghambat cinta malakuti.

Salah satu unsur penting yang menghambat perjalanan cinta malakuti adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Cinta dunia, dilukiskan oleh Sayyidina Ali, sebagai biang dari segala bencana. Bila hati manusia sudah terperosok dalam cinta dunia, maka logika-logika aneh pun muncul dari pikirannya.
<br><center><a href="http://www.funscrape.com/Comments/Hearts.html"><img src="http://img1.funscrape.com/en/hearts/196.gif" border=0><br><br><b>More Hearts Comments</b></a></center>


Salah satu logika anehnya, kata Abu Dzar, ia amat berharap rahmat dan ampunan dari Allah, padahal dalam hidup sehari-harinya, ia amat jauh denganNya. ''Rahmat dan ampunan Allah,'' tegas Abu Dzar, ''tak dihambur-hamburkan begitu saja hingga setiap orang akan mendapatkannya.'' Kata Abu Dzar, setan punya senjata pamungkas, berupa godaan pada manusia untuk mengharap rahmat Allah, sementara ia terus berusaha menjauhkannya dari ibadah dan amal saleh. Korban senjata pamungkas ini paling suka memaafkan dirinya sendiri. ''Rahmat Allah Mahaluas. Dosaku pasti dimaafkanNya,'' kata korban. Padahal ia tetap saja tak mau bertobat.

Orang yang berbuat dosa, tulis Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, bukan hanya mencelakakan dirinya, tapi juga menghina Allah, karena ia menyelewengkan amanah yang telah diberikan kepadanya. Lidah dan tangan yang Allah berikan kepada manusia untuk dipakai berzikir serta beramal saleh, misalnya, ia diselewengkan untuk mengumpat dan mengambil hak orang lain. Naudzubillah mindzalik!

wallahu a'lam

29 September 2012

GEMA



 by Sayyid Ibra Assegaf

Seorang anak kecil dan ayahnya sedang berjalan di sebuah gunung. Tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, "Aaaaahhh!!!" Betapa kagetnya ia, ketika mendengar ada suara dari balik gunung, "Aaaaahhh!!!"

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia berteriak, "Hai siapa kau?" Ia mendengar lagi suara dari balik gunung, "Hai siapa kau?"
Ia merasa dipermainkan dan dengan marah berteriak lagi, "Kau pengecut..!!" Sekali lagi dari balik gunung terdengar suara, "Kau pengecut..!!"

Ia lalu menengok ke ayahnya dan bertanya, "Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?" Ayahnya tersenyum dan berkata, "Anakku, mari perhatikan ini" Kemudian ia berteriak sekuat tenaga pada gunung, "Aku mengagumimu..!!" Dan suara itu menjawab, "Aku mengangumimu..!!" Sekali lagi ayahnya berteriak,"Kau adalah sang juara..!!" Suara itu pun menjawab lagi,"Kau adalah sang juara..!!"

Anak itu merasa terheran-heran, tapi masih juga belum memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan,

"Nak, orang-orang menyebutnya GEMA, tetapi sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan hidup itu. Ia akan mengembalikan padamu apa saja yang kau lakukan dan katakan. Hidup kita ini hanyalah refleksi dari tindakan kita. Bila kau ingin mendapatkan lebih banyak cinta kasih di dunia ini, maka berikanlah cinta kasih dari hatimu. Bila kau ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari dirimu.

Hal ini berlaku pada apa saja dan pada semua aspek dalam hidup. Hidup akan memberikan apa yang telah kamu berikan padanya. Maka, sebenarnya hidup ini BUKAN SUATU KEBETULAN. Hidup adalah pantulan dari dirimu; gema dirimu." 

Pancaran Kebersihan hati



by : Sayyid Ibra Assegaf

Mahasuci Allah SWT, Dzat yang menguasai segala-galanya dengan Maha Cermat dan Sempurna. Tahu persis apa yang kita lakukan, tidak hanya lirikan mata, tapi niat di balik setiap lirikan mata. Tidak hanya kata yang terucap, tapi niat dibalik setiap kata yang terucap. Berbahagialah bagi orang-orang yang selalu menyadari bahwa ALLAH Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Menilai segala apa yang kita lakukan, sebab pastilah tidak ada yang luput dari genggaman-Nya, walau satu titik noktah pun jua.

Pastilah pula Allah Ta’ala akan memberikan ganjaran yang setimpal dan balasan yang setimpal pula dari setiap yang kita lakukan. Dan ketahuilah bahwa apapun perilaku yang kita lakukan sebenarnya adalah pancaran dari hati kita. Seumpama sebuah teko, ia hanya akan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Jika di dalamnya air kopi maka yang keluar juga air kopi, di dalamnya air teh maka yang keluar juga air teh, di dalamnya air bening maka yang dikeluarkan juga air bening. Begitu pula dengan perilaku lahiriah kita, ia adalah cerminan keadaan hati kita yang sesungguhnya.
Artinya, pribadi seorang hamba yang hatinya telah bersih, bening dan lurus karena telah terkelola dengan baik akan tercermin pula dari tampilan dan perilaku lahiriahnya. Diantaranya dapat dilihat dari raut muka atau wajah kita ini, karena kalau hati cerah, ceria, senang, tulus, dari wajah juga akan tampak pancaran ketulusan, jadi jernih, bening, dan senantiasa memancar energi untuk membahagiakan orang lain.
Orang yang hatinya bersih akan tercermin pula dari kerapihan dan kebersihan di lingkungan sekitarnya. Kita sepakat bahwa kumal, kusut, kotor, dan bau adalah perilaku yang tidak disukai agama, karena agama berdiri atas kebersihan. Demikian disabdakan oleh Rasulullah SAW
Kita jangan sampai diperbudak oleh mode. Intinya, kalau orang lain melihat penampilan kita, orang itu menjadi cerah, tentram, senang, dan merasa aman. Tidak usah pula repot dengan menempelkan segala atribut, gambar tempel, atau juga tanda jasa supaya orang lain tahu siapa kita. Buat apa? Semuanya harus wajar dan tidak berlebih-lebihan.
Bagi seorang wanita yang memiliki hati bersih akan terpancar pula dari penampilannya yang tidak over acting, tidak berdandan mencolok, tidak mengumbar aurat tapi justru menjaga dan menutupnya. Hal ini menjadikan orang lain tidak berdosa gara-gara dia.
Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan enak kalau melihat orang lain senyum kepada kita dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir -- itu perkara tipu-menipu -- tapi yang paling penting adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar kita, minimal dengan senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam "Assalaamu'alaikum", timbul dari hati yang ikhlas, insyaallah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan menyenangkan.
Demikian pula hati yang bersih akan menampakkan kata-kata yang halus dan baik. Lisannya selalu dijaga dari perkataan yang diharamkan seperti dusta, ghibah, menipu dan lainnya, juga akan terhindar dari menyakiti saudaranya. Bukankah Nabi Muhammad SAW telah menyatakan :
“Muslim (yang benar) adalah yang menjadikan orang islam yang lain selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya” (Al Hadits)
Suatu yang patut kita renungkan, saat duduk di majelis, kadangkala kita suka enggan menyapa orang di samping kita, sepertinya ada tabir atau benteng yang kokoh menghalang. Padahal yakin sama-sama umat Islam, yakin sama-sama mau sujud kepada ALLAH. Kalau kita ada dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak usah berat untuk menyapa duluan. Kenapa kita ini ingin disapa lebih dulu? Etikanya memang, yang muda kepada yang tua, yang berdiri kepada yang duduk, yang datang kepada yang diam. Namun sebaiknya mumpung kita punya kesempatan, lebih baik kita duluan yang menyapa.
Maka, sudah seharusnya sapaan kita itu tidak hanya mengoreksi, mengkritik, tapi juga berupa penghargaan, pujian, ucapan-ucapan doa yang tidak harus ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. Artinya kalau orang lain bertemu kita, haruslah orang lain itu merasa aman. Kalau mau bicara, sapaan kita juga harus aman, harus bersih dari membuat orang lain terluka. Pokoknya kalau orang lain datang, orang itu harus merasa aman. Ini ciri-ciri orang yang pengelolaan hatinya sudah bagus. Kata-kata, lirikan mata, sikap diri kita harus kita atur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain, sebab hati tidak bisa disentuh kecuali oleh hati lagi.
Hati yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang, tenteram, tenang, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Semua ini akan tampak pula dalam setiap gerak-geriknya, perilakunya, tutur katanya, sunggingan senyumnya, tatapan matanya, riak air mukanya, bahkan diamnya sekalipun.
Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan. Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.
Sebaliknya adalah orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.
Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan merasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia akan tidak disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya. Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat atau siapapun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya.
Kebaikan yang ditunaikan dan kejahatan yang diperbuat seseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan, niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya.
wallahu'alam

36 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman


by Sayyid Ibra Assegaf

1. Bersyukur apabila Mendapat Nikmat
2. Sabar apabila mendapat Kesulitan
3. Tawakal apabila mempunyai Rencana
4. Ikhlas dalam segala amal Perbuatan.
5. Jangan Membiarkan hati Larut dalam Kesedihan.
... 6. Jangan Menyesal atas sesuatu Kegagalan.
7. Jangan Putus Asa dalam menghadapi Kesulitan.
8. Jangan Usil terhadap Kekayaan orang lain.
9. Jangan Iri dan dengki atas kesuksesan orang lain.
10. Jangan Sombong kalau memperoleh kesuksesan.
11. Jangan Tamak akan Harta.
12. Jangan terlalu Berambisi akan Kedudukan.
13. Jangan Hancur akan Kezaliman.
14. Jangan Goyah karena Fitnah.
15. Jangan berkeinginan terlalu Tinggi yang melebihi kemampuan kita.
16. Jangan Campuri Harta dengan Harta yang haram.
17. Jangan Sakiti Hati Ayah dan Ibu.
18. Jangan Usir orang yang meminta-minta.
19. Jangan Sakiti Anak Yatim.
20. Jauhkan diri dari Dosa-dosa Besar.
21. Jangan membiasakan diri melakukan Dosa-dosa Kecil.
22. Banyak berkunjung Kerumah Allah.
23. Shalat dengan Ikhlas dan Khusu’.
24. Shalat di awal Waktu dan berjamaahlah.
25. Biasakan Shalat Malam.
26. Perbanyak Zikir dan Doa.
27. Puasa Wajib dan Sunnat.
28. Sayangi dan Santuni Fakir Miskin.
29. Jangan ada Rasa Takut kecuali pada Allah.
30. Jangan Marah berlebih-lebihan.
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan.
32. Bersatulah Karena Allah dan Berpisahlah karena Allah.
33. Berlatihlah untuk khusyu.
34. Penuhi Janji apabila telah diikrarkan, dan minta maaflah apabila Batal menepati.
35. Jangan mempunyai Musuh kecuali dengan Iblis/setan.
36. Jangan percaya Ramalan Manusia.

Puisi Cinta :)



by Sayyid  Ibra Assegaf

Betapa menakjubkan Aku dapat mengambil gayung Aku dapat menyiduk air

Itulah puisi sederhana dari seorang sufi tak dikenal yang tinggal di sebuah dusun. Mungkin, kita menganggap puisi itu teramat sederhana. Tapi, bagi sang sufi, puisi itu sungguh hebat karena ia mengungkapkan ketakjuban yang luar biasa dari kemampuan dirinya. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berjalan, membaca, makan, dan minum -- tampaknya sangat sederhana. Kita tak merasakan sedikit pun bahwa semua itu merupakan ''rangkaian'' pelbagai proses yang amat rumit, kompleks, dan melibatkan perubahan fisika, kimia, dan biologi.

Berjalan, misalnya, sepintas tampak sederhana. Padahal, ada ribuan reaksi biokimia -- mulai dari pergerakan instruksi dari otak, pembuluh darah, hingga kontraksi otot kaki. Bagi si lumpuh, berjalan sungguh merupakan suatu keajaiban yang menakjubkan. Ada miliaran reaksi biokimia lainnya yang membuat manusia bisa hidup sempurna. Di antaranya adalah reaksi biokimia yang mampu menetralisir zat berbahaya seperti radiasi ultraviolet dan bahan-bahan hasil polusi.

Dari situlah, kita bisa mengerti betapa Maha Penyayang dan Pemurahnya Allah. Manusia diciptakan dengan kelengkapan dan kesempurnaan luar biasa -- secara fisis, kimiawi, biologis, dan matematis -- sehingga tubuh manusia tidak hanya mampu menghadapi segala kondisi atmosfer bumi yang penuh dengan zat-zat berbahaya, tapi juga mampu mengubah zat-zat berbahaya itu menjadi zat bermanfaat bagi tubuh melalui mekanisme dan proses yang rumit dan kompleks.

Allah juga telah menciptakan tubuh manusia dengan sangat indah dan sempurna. Tentu Allah telah menggunakan fungsi-fungsi matematik dengan kecermatan dan ketepatan yang tinggi untuk ''mendesain'' bentuk manusia yang ideal. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya'' (QS 95:4).

Dari logika itu, kita bisa memahami betapa sang sufi sangat mengagumi kemampuan dirinya -- yang bisa mengambil gayung dan menciduk air. Sang sufi yang menyadari betapa besar karunia yang telah Allah berikan kepadanya, tak bisa lain akan mengucapkan syukur dalam setiap geraknya. Karena, dalam setiap gerak manusia, sungguh terdapat ''paduan kerja yang amat indah, serasi, dan sempurna dari aspek matematis, fisis, dan biologis'' yang hal itu tak mungkin bisa dilakukan oleh keterbatasan otak manusia. Sungguh Allah Maha Tepat Perhitungan-Nya.

Allah Maha Pemurah. Dia tak menuntut balasan atas semua yang diberikan-Nya kepada manusia. Allah hanya minta manusia berbuat sesuai petunjuk-Nya (Alquran dan Sunah Rasul), agar ''kesempurnaan dan keindahan'' itu tidak rusak. ''Siapa yang menerima petunjuk itu, maka manfaatnya untuk dirinya sendiri, dan siapa yang mengingkarinya, maka akibatnya untuk dirinya sendiri juga (QS 39:41).'

wallahu a'lam..:)

Miskin Cinta


 by Sayyid Ibra Assegaf

Tengoklah dengan hati yang paling bening, sesungguhnya banyak di antara kita masih miskin cinta. Uluran pengemis yang ditepis, para pemimpin umat saling menyeteru, dan orang-orang kaya harta yang miskin cinta. Dada tempat bersemayamnya mahabbah telah menipis diganti angkara dunia. Gunjingan dan gosip menjadi nyanyian sehari-hari. Mereka tidak sadar betapa Allah telah berfirman bahwa bagi orang-orang yang menggunjing dan memfitnah itu, diibaratkan bagaikan manusia yang memakan bangkai sesama saudaranya sendiri.

Ini semua terjadi karena di antara kita bisa jadi sudah kehilangan nuansa cinta, dan sebaliknya sarat dengan muatan keserakahan, persaingan, dan memandang manusia dari kacamata materi, untung dan rugi belaka. Dia santuni dan mencoba ingin akrab dengan manusia yang mempunyai kekuasaan. Sopan dan simpatik penampilannya, tetapi hanya sekadar untuk mendapatkan cipratan materi. Dan berubah wajahnya ketika dia berhadapan dengan orang yang lemah (mustad'afin) dan memalingkan muka dari penderitaan orang-orang miskin.

Sungguh, saat ini kita membutuhkan para pemimpin yang mempunyai wibawa cinta. Dia menampakkan wajahnya yang teduh dengan senyuman di bibir, bukan wajah yang sinis mencibir. Seharusnya dia sadar bahwa dirinya menjadi pemimpin karena adanya orang-orang yang dipimpinnya. Dia lupa bahwa menjadi pemimpin itu adalah menjadi pelayan umat.

Simak dan resapkanlah perilaku akhlakul karimah Nabi Muhammad saw dengan sahabat dan umatnya yang bagaikan cahaya mentari. Perilaku akhlakul karimah beliau itu telah menyentuh nurani umat manusia, menggubah peradaban yang gelap menjadi terang, dan meninggalkan pesan-pesan kepada kita untuk menampilkan diri sebagai umat yang santun, berakhlak, dan saling mencintai penuh kedamaian.

Pada saat Nabi saw meluruskan barisan dalam perang Badar, tanpa sengaja beliau memukul perut Sawad bin Ghazyah dengan anak panahnya. Sawad memprotes, ''Ya Rasulullah, dadaku sakit karena pukulanmu. Aku ingin menuntut qishash''. Mendengar ucapan Sawad, para sahabat marah seraya berkata, ''Betapa teganya engkau menuntut qishah kepada Rosulullah''.

Namun dengan tersenyum, Rasulullah menjawab, ''Biarkan dia menuntut haknya.'' Nabi saw menyingkapkan pakaiannya, dan tampaklah dadanya yang bidang dan putih itu, seraya bersabda, ''Balaslah!''. Tetapi Sawad bukannya memukul, melainkan menubruk dada Rasulullah dan kemudian menciumnya dengan penuh hikmat, seraya berkata, ''Betapa mungkin hamba membalasmu Ya Rasulullah. Sesungguhnya hamba sudah lama merindu mencium dadamu. Selama ini mencari kesempatan agar kulit hamba yang kasar ini dapat menyentuh kulitmu, berilah hamba syafaatmu ya Rasulullah.'' Dan kemudian Nabi mendoakannya.

Rasulullah memimpin dengan cinta, dan merasa terhimpit jiwanya melihat penderitaan orang lain yang mengharapkan uluran tangan dan pantulan cinta yang ikhlas dari sesamanya. wallahu a'lam

Kebahagiaan menurut Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu,


 by Sayyid Ibra Assegaf

Ada 7 Indikator Kebahagiaan menurut Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, apa aja? ini dia..

Suatu hari Sayyidina Ibnu Abbas RA ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas ra yg sejak sudah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya menuntut ilmu dan beragam gelar diperolehnya seperti faqih al-ashr (ahli fikih di masanya), imam al-mufassirin (pen

ghulu ahli tafsir), dan al-bahr (lautan ilmu) menjawab ada tujuh indikator kebahagiaan dunia.

Pertama, hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS al-Mu’minun [23]: 1).

Kedua, pasangan hidup yang saleh. Pasangan saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalehan. Sebaliknya, istri yang shalehah akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya.

Ketiga, anak yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Muslim).

Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu menggendong ibunya yang uzur. “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk berbakti pada orang tua?” Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak shaleh, berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”

Keempat, lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at-Taubah 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita. Pentingnya bergaul dengan orang shaleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan.

Kelima, harta yang halal. Dalam Islam kualitas harta adalah yang terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus, namun sayang makanan, minuman, dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan.”

Keenam, semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya.

Ketujuh, umur yang berkah. Semakin tua semakin shaleh, yang setiap detiknya diisi amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, hari tuanya akan sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati yang diangankannya. Orang yang mengisi umurnya dengan amal ibadah, semakin tua semakin rindu bertemu Allah SWT.

wallahu a'lam

Kelembutan Adalah Pedang Cahaya


  by Ibra Assegaf

Kelembutan adalah suatu hal yang mulai sirna di zaman ini. Terutama di lingkungan kita. Tidak jarang dalam sehari kita menemukan berkali-kali bentuk kekasaran yang terjadi, mulai di lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, pasar, dirumah-rumah hingga sajian ditelevisi yang berupa film, sinetron, bahkan lawakan sekalipun. Kasar disini maksudnya bukan kasar didalam tindakan fisik namun menyeluruh. Kasar didalam bentuk fisik dan kasar didalam tindakan. Padahal Rasulullah shalallahu alayhi wasallam mengajarkan kepada kita untuk selalu berlemah lembut baik dalam sopan santun, tindakan dan bahasa.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberi pada kelembutan yang tidak diberikan pada kekerasan." (HR Al Imam Abu Daud dalam Sunan Abu Daud bab Adab).

Diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah saw bersabda :

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

"Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya." (HR Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

"Sesungguhnya Allah Maha lembut dan mencintai kelembutan, dan Dia memberi atas dasar kelembutan sebagaimana Dia tidak memberi atas dasar kekerasan." (HR Imam Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah saw bersabda:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

"Sesungguhnya Allah Maha lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara." (HR Imam Ibnu Majah)

dari Ali bin Abu Thalib Radli Allahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

"Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai lemah lembut, dan Allah akan memberi kepada yang lemah lembut apa yang tidak diberikan kepada yang kasar."(HR Ahmad).

dari Abdullah bin Mughaffal dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

"Sesungguhnya Allah Azza wajalla Maha Penyantun, menyukai kasih sayang dan memberi kepada orang yang santun suatu hal yang tidak diberikan kepada orang yang bengis." (HR Ahmad)

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Dia suka kelembutan dan memberi padanya apa yang tidak Dia berikan karena sikap kasar." (HR Darimi).

dari Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal." (HR Darimi)

Diriwayatkan dari Urwah bahwa Sayyidatina Aisyah RA berkata :

دَخَلَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

"Beberapa orang dari kaum Yahudi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka berkata; "Assaamu 'alaika (kebinasaan atasmu)." Maka aku pun memahami ucapan mereka, aku langsung menjawab; "'Alaikumus saam walla'nah (semoga atas kalian kebinasaan dan juga laknat)." maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan disetiap perkara." Aku berkata; "Wahai Rasulullah, apakah anda tidak mendengar apa yang diucapkan mereka?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku telah menjawabnya; "wa'alaikum (dan atas kalian juga)." (HR Bukhari)

Diriwayatkan Abdullah bahwa Rasulullah saw berdoa,

أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kelembutan dan kejayaan." (Sunan Ibnu Majah)

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

"Sesungguhnya Allah 'azza wajalla menyukai kelembutan dalam sehala hal." (HR Ahmad)

Demikian himbauan dan tuntunan yang mulia dari Sayyidina Muhammad, tuntunan terindah dari semua tuntunan. Hidup kita bahagia, tenang dan damai dengan tuntunan Sayyidina Muhammad SAW.
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, Rasul SAW bersabda :

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَايُرْحَمُ

“ Barangsiapa yang tidak mengasihani, maka ia tidak dikasihani “

Jadi semakin kita bengis kepada orang lain, hati-hati takdir Allah semakin bengis kepada kita. Maka semakin kita berlemah lembut kepada orang lain, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang makin berlemah lembut kepada kita.

Maka berlemah lembutlah kepada orang lain semampunya , dan berusahalah jika orang-orang berbuat jahat kepada kita doakan agar dia diberi hidayah, karena banyak dari teman dan saudara kita itu berbuat kemungkaran karena dijebak oleh syaitan, hatinya tidak mau, hatinya ingin baik, mungkin ia melihat kalian hadir ke majelis hatinya terpanggil walaupun dia sedang dalam keadaan mungkar dan dosa , (si pendosa berkata dalam hatinya) “aku ingin seperti dia hadir ke majelis” namun dikalahkan oleh kekuatan syetan,,”ah nanti saja lain waktu”, nah hal seperti ini yang perlu dikasihani, hidayah ada di hatinya tapi ia dikalahkan oleh kekuatan syetan maka perlu dikasihani, diseru dengan kelembutan dan diajak kepada keluhuran.

Warisi perjuangan Nabi kita Muhammad SAW dalam hari-hari kita, bukan berarti harus menjadi Da’i semua namun jadilah penyeru ke jalan keluhuran di rumah, di tetangga, di pekerjaan, di sekolahan, kenalkan budi pekerti yang baik pada ayah bunda,

“kenapa ayah ibu saya selalu kasar pada saya?” Kalau kau berlemah lembut pada mereka sekali,dua kali, tiga kali, seminggu dua minggu, belum satu bulan engkau berlemah lembut pada ayah ibu mu, kau akan menjadi orang kesayangannya, dan kau tidak akan disakiti perasaanmu karena kau menjadi anak yang di banggakan, kenapa ? karena sangat berlemah lembut pada Ayah Bunda nya.

Hampir semua orang yang bengis kepada orang lain, kalau ia di lemah lembuti maka ia akan berubah menjadi baik, kenapa? Karena, pedang akhlak dan budi pekerti itu adalah pedang cahaya, kalau pedang besi hanya bisa merobek dada atau jantung, membunuh…, paling banyaknya tidak bisa lebih dari itu,
tapi pedang cahaya itu bisa menembus sanubari , merubah hati yang keras menjadi hati yang lembut penuh cahaya, membuat orang yang bengis menjadi orang yang sangat sering menangis, membuat orang yang selalu berbuat jahat menjadi orang yang selalu berbuat baik, membuat musuh terjahat menjadi teman tersetia, itulah pedang cahaya akhlak Sayyidina Muhammad SAW . Demikian banyak saya tidak bisa sebutkan satu persatu, riwayat Shahih Bukhari dan lainnya ; orang yang berkata kepada Nabi Muhammad SAW tidak ada orang yang lebih kubenci dari Muhammad SAW, tapi setelah keramahan beliau berubah menjadi orang yang paling dicintainya adalah Sayyidina Muhammad SAW .

Wallahu a'lam