22 September 2016

Bahaya Fitnah

Bismillaahirrohmaanirrohiim

*K E M O C E N G*

_(Bahayanya Fitnah )

“Habib... Maafkanlah saya yang telah memfitnah Habib dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.”

Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan Habib."

Habib Umar terkekeh :
“Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan :
“Saya serius, Habib, Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Habib Umar terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Habib Umar kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yg bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku.

Beberapa jenak kemudian, Habib Umar mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—

“Apakah kamu punya sebuah kemoceng di rumahmu?”

Aku benar-benar heran Habib Umar justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

“Maaf, Habib?” Aku berusaha memperjelas maksud Habib Umar.

Habib Umar tertawa, seperti Habib Umar yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku,

“Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Habib Umar benar-benar serius dengan permintaannya.

“Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Habib. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Habib Umar tersenyum.
“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya,

“Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Habib Umar adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Habib Umar Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

Keesokan harinya, aku menemui Habib Umar dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Habib bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Habib.

Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Habib yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, Habib. Maafkan saya…”

Habib Umar mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya :
“Seperti aku katakan kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kamu hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Habib Umar yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Habib Umar.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Habib Umar melanjutkan kalimatnya :
"Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengarkan permintaan Habib Umar kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya:

“Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yg tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Habib Umar.

“Kamu akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Habib Umar.

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan.

Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana

19 September 2016

Wahai Suami..mana Akhlakmu

Bismillaahirrohmaanirrohiim....

Suatu ketika...
sang istri yg sedang melipat baju suami dan membereskan kamar,
tiba tiba..timbul rasa rindu...
Sang istri melipat baju suami sambil berfikir, ..
Ohh..
betapa sang suami selalu sibuk mencanri sesuap nasi menafkahi istri dan anak anaknya di rumah....
Jika saat itu suami meninggal sementara istri belum tuntas baktinya pada suami, betapa penyesalan mendalam meliputi hati...
Kemudian...
Terbersit Istri  ingin menelpon suami dengan cinta yg sdg merindu.
.sedang apakah suami  disana...

Dengan harapan ketika menelpon suami, mungkin saja suara lembut kerinduan istri dapat menghalau lelah walau sejenak...
Tarikan
Hati yg melembut ini segralah  menarik hp untul menelpon..

Ketika hp diangkat...
Belum istri mengucapkan "hallo sayang"..
Disebrang sana , sang suami langsung membentak dengan suara  kasarnya " saya lagi sibuk !! "..kemudian telpon ditutup...

Mengalirlah air mata istri....
Sabaaar...dalam hati berkata demikian.....
Ya Allah....
Ternyata bunga cinta saat ini, harumnya hanya untukMU saja...

Persembahan cinta padaMU saja...yakin
tak pernah hati kecewa...
Sungguh Engkau sangat Paham dan Selalu membalas cinta dg penuh kelembutanMU...
Sabarkan hatiku ya Robb....
Demikianlah istri melanjutkan pekerjaan dengan dituntun cintaNYA saja..krn bersamaNYA selalu sejuk damai...

Istri harus berpikir positif, mungkin suami sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu..
Istri harus memberikan kata maaf....

Apakah suami berpikir ?
Bahwa istri mungkin merindukan dirinya ? Atau butuh sapaan mesra di telepon untuk pembamgkit smangatnya.....

Sebuah ketimpangan akhlak telah terjadi..
--------

Wahai Suami....
Sungguh laki laki yg terbaik adalah  yg ber akhlak mulia kepada Istrinya...

Dalam sebuah Hadits yang disampaikan oleh Muslim, Anas ibn Malik, yang menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun, mengatakan:” aku tidak pernah melihat seorang pria yang lebih sayang kepada anggota keluarganya selain Muhammad SAW”.

Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka. … 

Rasulullah saw bersabda :
..... Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian”. [HR Tirmidzi] 

Faedah yg bisa kita ambil dari hadits tersebut adalah, akhlak yang baik adalah yang baik terhadap isterinya.

. Mengapa demikian? Krn kadang para suami mampu merekayasa akhlaknya jk dihadapan teman-2nya, dan dihadapan sang istri, suami perlihatkan keburukannya...(tidak boleh demikian)

Jika menginginkan wajahNYA ,perbaikilah Akhlak kalian terhadap Istri kalian serta anak cucu kalian....

Masih banyak lagi contoh akhlak suami yang kasar kepada istrinya....

Smoga Allah beri hidayah pada kita semua
.
Aamiin yaa Robbal aalamiin..

Smoga bermanfaat

Shollu 'alanNabiiy saw

18 September 2016

Lihatlah ke diriku

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Wahai Sahabatku....
Yuk membaca diri sendiri.....
Lihatlah cermin....
Pandanglah diri sendiri dan bertanyalah pada diri sendiri....

*_BAIK KAH, Saya ?_*

*"Baik kah saya"* walaupun selalu sholat 5 waktu serta tepat pada waktunya

*"Baik kah saya"* walaupun telah berhaji & umroh beberapa kali

*"Baik kah saya"* walaupun telah bersedekah setiap hari

*"Baik kah saya"* walaupun hari-hari kita memberi nasihat dan teguran kpd orang lain yang berbuat salah.

*"Baik kah saya"* walaupun sudah pakai jubah, berjenggot dan menutup aurat dengan sempurna.

*"Baik kah saya"* walaupun setiap malam sholat Tahajjud, Witir, Hajat dan zikir

*"Baik kah saya"* walaupun  tiap hari ke masjid atau musholla utk shalat & menambah ilmu.

*"Baik kah saya"* walaupun setiap saat kita update status berunsur nasihat dan dakwah.

*"Baik kah saya"* walaupun setiap saat kita menolong orang lain.

*al-Quran, surah an-Najm ayat 32:*

فلا تُزٓكُّوْا آنْفُسٓكُمْ هُوٓ آعْلٓمُ بِمٓنْ اتّٓقٓى

*_"...........Janganlah kamu menganggap diri kamu suci (orang baik) karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertaqwa_*

Aisyah (ra) ditanya orang *"Siapakah orang yang buruk?" dijawab olehnya "yaitu orang yang merasa dirinya baik".
Beliau ditanya lagi "Siapakah orang yang baik?",
maka dijawab "yaitu orang yang merasa dirinya buruk"*.

Wahai Sahabatku.....

*_JANGAN MERASA DIRI KITA LEBIH BAIK DARIPADA ORANG LAIN._*

Karena kita takkan pernah tahu dimanakah dan bilakah saat *HATI* kita *IKHLAS* melakukan amalan-amalan soleh, menasihati orang serta beramal ibadah lain yang bakal diterima oleh Allah Swt.

*Kita tak tahu amal manakah yang Allah terima.*

Wahai.Sahabatku.....
_Selalu lah meletakkan diri kita dalam keadaan :_

*_"Aku banyak kekurangan dan kelemahan, semua orang lain lebih baik dari aku karena hati manusia masing-masing hanya diketahui Allah"_*.

*_"Akulah yang paling buruk dikalangan manusia. Aku sedang perbaiki diriku dan mencoba bantu orang🙏💐...

Semoga Allah swt  berkahi Kita.semua....
Aamiin Yaa Ribbal 'aalamiin

Ashollatu wasallaamu '_alaiyka yaa Sayyidi yaa Rosululloh.....

Ungkapan Keluarga Nubuwah

Bismillaahirrohmaanirrihiim

Menjawab Surat Kaisar Romawi Dan Kecerdasan S.Ali ra

Disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Khatthab berkali-kali dan dalam kondisi yang berbeda-beda mengatakan, "Aku berlindung kepada Allah dari menghadapi masalah, dimana dalam upaya mencari penyelesaiannya Abu al-Hasan, Ali as tidak berada bersama kita."

Sebagai contoh, suatu waktu Khalifah Umar kedatangan seorang utusan dari kerajaan Romawi yang membawa surat dan diberikan kepada Umar. Isi suratnya demikian, "Surat ini berasal dari Raja Bani al-Ashfar kepada Umar, Khalifah Muslimin. Setelah memuji Allah, saya menyampaikan sejumlah pertanyaan dan menanti jawabannya:

1. Apa yang tidak diciptakan oleh Allah

2. Apa yang tidak diketahui Allah

3. Apa yang tidak berada di sisi Allah

4. Apa yang keseluruhannya adalah mulut

5. Apa yang keseluruhannya adalah kaki

6. Apa yang keseluruhannya adalah mata

7. Apa yang keseluruhannya adalah sayap

8. Siapa pria yang tak memiliki keluarga

9. Empat makhluk hidup yang tidak berada di perut ibunya

10. Apa yang dapat bernafas, tapi tidak memiliki ruh

11. Apa yang dikatakan Naqus

12. Makhluk apa yang hanya sekali berjalan

13. Pohon apa yang mengendarai bayangannya selama 100 tahun, tapi tidak pernah sampai dan apa contohnya di dunia

14. Tempat mana yang hanya sekali terkena sinar matahari

15. Pohon apa yang tumbuh tanpa air

16. Penghuni surga makan dan minum tapi tidak buang air, apa contohnya di dunia

17. Di jamuan surga ada tempat yang berisikan makanan bermacam-macam dan tidak bercampur, apa persamaannya di dunia

18. Di surga ada anak perempuan kecil yang keluar dari apel sementara apel itu sendiri tidak kurang, bagaimana itu terjadi di dunia

19. Seorang hamba sahaya perempuan dimiliki oleh dua orang pria dan di akhirat hanya milik seorang dari mereka. Bagaimana itu bisa terjadi

20. Apa saja kunci surga

Setelah membaca surat itu, Khalifah Umar tidak bisa berbicara apa-apa dan kebingungan untuk menjawabnya. Akhirnya ia memberikan surat itu kepada Imam Ali as dan meminta solusinya. Imam Ali as membaca surat itu dan segera menuliskan jawabannya.

Bismillahirrahmanirrahim. Setelah bersyukur dan memuji Allah, wahai Raja Romawi!

Aku telah membaca suratmu dan dengan bantuan Allah, kekuasaan dan berkah-Nya serta berkah Nabi kami, Muhammad Saw, saya menjawab surat Anda.

1. Sesuatu yang tidak diciptakan Allah adalah al-Quran. Karena al-Quran merupakan firman dan sifat Allah, sama seperti kitab-kitab lain yang diturunkan dari Allah. Allah Swt adalah qadim dan sifat-Nya juga qadim.

2. Sesuatu yang tidak diketahui oleh Allah Swt adalah apa yang kalian pemeluk Kristen bahwa Allah memiliki anak, istri dan sekutu. Ketahuilah bahwa Allah tidak memiliki anak, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak juga memiliki ayah atau dilahirkan.

3. Sesuatu yang tidak ada pada Allah adalah kezaliman. Karena Allah Swt tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya.

4. Sesuatu yang hanya memiliki mulut adalah api neraka. Apa saja yang dijatuhkan ke dalamnya akan dimakannya.

5. Sesuatu yang semuanya kaki adalah air.

6. Sesuatu yang semuanya mata adalah matahari.

7. Sesuatu yang segalanya sayap adalah angin.

8. Orang yang tidak memiliki keluarga adalah Adam.

9. Empat makhluk hidup yang tidak berada perut ibunya adalah tongkat Musa as, domba Ibrahim as, Adam dan Hawa as.

10. Sesuatu yang tidak memiliki ruh tapi bisa bernapas adalah Subuh atau pagi. Karena Allah Swt dalam al-Quran menyebutkan "Was Shubhu Idza Tanaffasa...Dan demi Subuh apabila fajarnya mulai menyingsing." (QS. at-Takwir:18)

11. Naqus mengatakan, "Hak, hak, perlahan-lahan, keadilan, keadilan, benar, benar, dunia telah menipu kita dan menyeret kita pada hawa nafsu. Dunia berlalu dan tidak pernah membiarkan ada rezeki, kecuali untuk melemahkan pondasi kita. Mereka yang telah mati memberi tahu kita agar segera melewati tempat sementara ini. Lalu mengapa kita menjadika,n dunia sebagai tempat tinggal selamanya

12. Sesuatu yang berjalan hanya sekali adalah bukit Sina.n Jarak antara bukit Sina dan Masjidul Aqsa kira-kira beberapa hhari perjalanan. Bani Israil menolak perintah Nabi Musa as untuk memasuki daerah itu. Allah Swt membelah bukit itu dan memberikan dua sayap dari cahaya kepadanya dan bergerak di atas Bani Israil yang tengah jalan di gurun pasir untuk menghalangi mereka dari terik matahari. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka..." (QS. al-A'raf: 171) Nabi Musa as berkata kepada mereka, "Mengapa kalian menentang perintahku? Jangan melakukan itu, bila tidak bukit ini akan dijatuhkan di atas kalian." Mereka kemudian bertaubat dan bukit Sina kembali ke tempatnya.

13. Pohon yang mengendarai bayangannya dan tidak pernah sampai adalah pohon Thuba yang berada di langit ketujuh. Amalan manusia naik ke tempatnya dan ia berasal dari pohon surga. Setiap istana dan bangunan di surga pasti ada pohon Thuba yang bergantung. Contohnya di dunia adalah matahari. Ia hanya sendiri, tapi cahayanya menyinari semua.

14. Tempat yang hanya sekali terkena sinar matahari adalah daerah yang dilalui Bani Israil akibat dikejar Firaun dan bala tentaranya dan kemudian daerah itu tertutup air kembali yang mengakibatkan Firaun dan bala tentaranya tenggelam. Pada waktu itu Allah Swt membuka laut untuk Nabi Musa as dan air bak bukit yang berdiri tegak, sementara tanah di dasar laut itu kering dan diterpa sinar matahari dan air kembali ke tempatnya semula.

15. Pohon yang tumbuh tanpa air adalah pohon Nabi Yunus as. Itu adalah mukjizat Allah Swt ketika berfirman, "Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu." (QS. as-Shaffat: 146)

16. Penduduk surga makan dan minum tapi tidak buang air sama seperti janin dalam rahim ibunya yang makan lewat tali pusarnya dan tidak pernah buang air.

17. Makanan surga di sebuah tempat tapi tidak bercampur sama seperti telur di dunia. Ada kuning telur dan putih telur, tapi mereka tidak bercampur.

18. Anak perempuan kecil yang keluar dari buah apel di surga, contoh di dunianya seperti ulat yang keluar dari apel dan tidak terjadi perubahan pada apel itu.

19. Hamba sahaya perempuan yang dimiliki dua pria di dunia dan di akhirat hanya dimiliki seorang dari mereka seperti pohon kurma yang dimiliki oleh dua orang; yang pertama mukmin seperti saya dan yang kedua kafir seperti engkau dan di akhirat nanti pohon kurma itu untukku, bukan buatmu. Karena di akhirat pohon itu berada di surga, sementara engkau tidak pergi ke surga.

20. Kunci surga adalah Laa Ilaaha Illallaaha dan Muhammad Rasulullah.

Disebutkan bahwa ketika Raja Romawi membaca jawaban surat itu, ia berkata, "Ungkapan seperti ini tidak pernah disampaikan kecuali oleh keluarga nubuwwah."

Ashollatu wasallaamu 'alaiykaa Yaa Sayyidi yaa Rosululloh....

17 September 2016

Menghias dengan Maksiat ?

Bismillaahirrohmaanirrohiim

yaa Sayyidi Yaa Rosululloh

Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata,
زينوا أعمالكم بالمعاصي  و لا تزينوا نفسك بالطاعة
“ Hiasilah dirimu dengan maksiat dan janganlah dihiasi dengan ketaatan”.
Maqalah ini merupakan maqalah untuk maqam tasawwuf, sehingga tidak bisa dimaknai secara langsung atau lateral. Apabila hanya dimaknai secara makna zhahirnya saja, maka langsung bisa mengklaim bahwa Syaikh Ibnu Athaillah itu sesat atau salah. Padahal yang dimaksud dalam maqalah tersebut adalah jangan merasa banyak amal dalam hidup ini, tetapi merasalah banyak dosa dalam hidup ini.

Mengapa? Karena kalau kita selalu menghisai diri kita dengan perasaan bodoh dan meyakini kebodohan, maka kita tidak akan memandang rendah orang lain dan tidak akan menakar sekolah atau pesantren. Selain itu, kita harus selalu berada di maqam kekurangan agar selalu termotivasi untuk terus belajar dan tidak meremehkan orang lain.

Oleh karena itu, orang ahli thariqah itu harus selalu merasa banyak dosa, ahli maksiat, bodoh, menghilangkan perasaan berhasil, menghilangkan perasaan bisa atau mampu, dan yang ada dalam diri dan jiwanya hanya perasaan ana ‘abdun faqiirun jaahilun (saya adalah hamba yang faqir dan bodoh), sehingga sebagai hamba atau kawulo benar-benar sadar bahwa diri ini adalah kawulo, dan terus semakin meningkatkan kekawulonannya, karena itu adalah salah satu fungsi dari thariqah, sehingga bisa mencapai inti tasawwuf yaitu tashfiyatu al-quluub wa tazkiyatu an-nafs (membersihkan hati dan menyucikan jiwa).

Selain itu, tasawwuf itu tidak menyangkut pakaian, tidak berhubungan dengan pakaian. Akan tetapi, tasawwuf itu menyangkut ilmu hati, sehingga orang dulu memaknai tasawwuf dengan aji roso. Wallahu a’lam

-    Disarikan dari pengajian Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada 20 Ramadlan 1433 H.

16 September 2016

Hanya MU

Bismillaahirrohmaanirohiim....

Shollu 'alanNabiiy saw...

Allahku yg bertajali  di  Nur Muhammad  yang pd hakekatnya DIA jua yg meliputi Nur Muhammad ,senang memandang diriNYA sendiri dlm  tafakur , sehingga semburat percikan cahaya pancarkan aura pd alam sekitar yang menjadi Rahmatan Lil 'alaamiin untuk kemanfaatan dan kemudharatan sesuai kehendakNYA serta kebijakanNYA....
Wahai Allah....pujian sepatutnyalah untukMU jua...
Wahai Allah...kau sematkan sang Mutiara diantara CahayaMU dan Cahaya KekasihMU ...
Mutiara itu Engkaulah jua...
Wahai Allah....
Tiada kesaktian yg hamba cari, pun tiada Ilmu yg Hamba Raih...kecuali wajahMU saja yg KAU semat pd Alam Raya yg bagai maghnet selalu saja ingin menyatu kembali denganMU bersamaMU..karena semua adalah diriMU jua....
Allaahu Akbar.....Wabihamdihi...yaa Jamil...

Al Fakir
Sekupang,
16 Sept 2016
Jum'at Barokah  06.30

Allahku


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Shollu 'ala Rosulillaah saw

Allahku yang bersemayam di Arsy
Keindahan Mu menaungi semesta
Pesona bagi hamba Mu yang memamdang dalam setiap tafakur bagi kalbu yang Engkau sucikan
Allahku Yang Maha Lembut
Kelembutan Mu yang Engkau tahtakan disetiap diri hamba Mu yang bersyukur
Mereka berdoa dan berzikir untuk menyapa Mu
YA LATIF...YA LATIF... YA LATIF
(Allah ku)

Mengenal Allah

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ashollaru wasallamu 'alaiyka yaa Sayyidi yaa Rosululloh....

Pernah para Sahabat Rosululloh saw  bertanya kepada Beliau....

" Yaa Rosululloh...AMALAN  Apakah yg lebih utama ?"
Rosululloh  saw menjawab  :" ILMU MENGENAL ALLOH Azza wajalla"

Sahabat bertanya kembali :"AMALAN  apa yg Baginda Kehendaki ?"

Rosululloh saw menjawab :" ILMU MENGENAL ALLOH YANG BERTASBIH KEPADANYA SEGALA SESUATU"

Sahabat berkata  lagi :" Kami menanyakan tentang  AMAL,  tetapi Baginda  menjawab tentang ILMU"

Maka Rosululloh saw menjawab :" Bahwasanya SEDIKIT AMAL adalah  BERMANFAAT  bila disertai dengan ILMU MENGENAL ALLOH  dan bahwasanya BANYAKNYA  AMAL  TIADA BERMANFAAT  bila tidak disertai ILMU MENGENAL ALLOH ".....

MENGENAL ALLOH  , istilah Bahasa Arabnya adalah  MAKRIFATULLOH..

Dari Ali Ibnu Abi Thollib Kwh,
Rosululloh saw bersabda .
Bahwasanya Alloh swt Berfirman :

".BARANG SIAPA BERHARAP KEPADA SELAIN AKU,
BERARTI TIDAK MENGENALKU..
BARANG SIAPA TIDAK MENGENALKU, BERARTI  TIDAK MENGABDI  KEPADAKU....
BARANGSIAPA TIDAK MENGABDI KEPADAKU MAKA BERARTI MENJADI WAJIBLAH KEMURKAANKU ..
BARANG SIAPA TAKUT KEPADA SELAIN AKU ,  HALAL BAGINYA PEMBALASANKU...

Ali bin Abi Thollib ra menyampaikan sebuah hadis Qudsi yg diperoleh dari Baginda Muhammad Rosululloh saw, Alloh swt berfirman :"

BARANG SIAPA BERHARAP KEPADA SELAINKU BERARTI dia TIDAK MENGENALKU...
BARANG SIAPA TIDAK MENGENALKU,  BERARTI TIDAK MENGABDI KEPADAKU..,
BARANG SIAPA TIDAK MENGABDI I KEPADAKU , BERRATI TELAH MELUKAIKU ..
Karena itu dia yang mengagungkan kepada selainKU, .sebenarnya TELAH MELUKAI DIRI SENDIRI "

08 September 2016

Mengapa Sholat tapi tak Sholat ?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم

Seolah saya terkena palu Godam, saat dikisahkan dialog sahabat. Abu Hurairah ra berkata: “Ada seseorang shalat sudah 60 tahun lamanya. Tapi sesungguhnya ia tak shalat!”

“Mengapa bisa begitu?” Spontan seorang sahabat bertanya terkaget-kaget.

“Ketika sujud tak sempurna, ruku juga tak sempurna, dan berdirinya pun tak sempurna. Dia shalat tapi tak khusyuk”, jawab Abu Hurairah ra.

Deeesss... seolah saya dihempas. Dan lebih terhempas lagi karena ditambahi pesan Umar bin Khatab ra: “Ada yang sudah berislam sampai tua dan beruban. Tapi tak satu rakaat pun dia shalat. Sebab ruku dan sujudnya tak sempurna”.

Lha, itu kan saya. Usia saya sudah Isya. Puluhan tahun shalat, masalahnya tetap kedodoran hadirkan khusyuk. Teringat dulu ketika mulai niat serius sujud. Azam digurat. Meski shubuh bolang-bolong, saya akan tetap jalani shalat sampai akhir hayat.

Alhamdulillah sudah terjalani. Namun dialog di atas, astagfirullah, sujud apa yang saya jalani selama ini. Tampak sepele. Cuma sekadar konsen khusyuk. Tapi sepanjang shalat, sepanjang itu pula sulit mengingat Allah. Dalam shalat, "jangan-jangan apapun dipikirkan kecuali Tuhan".

Dalam sebuah riwayat, Imam Ghazali ra pun ingatkan: “Saat sujud, disangkanya dia sedang mendekat pada Allah SWT. Padahal demi Allah. Jika mungkarnya sujud ditampakkan, maka hancurlah dunia. Dia memang sujud. Tapi pikirannya kemana-mana”.

_*Entah mengapa pikiran saya langsung ke jalan raya. Dalam berlalu lintas, kualitas kesabaran saya memang tampak belangnya. Sering saya tak terima saat disalip mobil yang tiba-tiba*_. _*Dalam kondisi tersulut, tak terpikir mobil lain terburu-buru karena sedang bawa orang sakit, misalnya. Atau tergesa-gesa karena hendak  ujian. Atau bisa jadi yang di dalam mobil tergopoh-gopoh karena  diburu deadline*_.

Waktu panas hati, itu bukti nafsu telah kuasai diri. Maunya menang sendiri. Begitu muncul kata “kurang ajar”, segera kaki tangan mainkan pedal gas dan setir. Untuk apa? Lidah ini segera saja mengucap: “Musti dididik tuh mobil”.

Istilah mendidik jadi “pengesah kesewenangan”. Nafsu mazmummah jadi komandan. Dengan istilah mendidik, jahatnya nafsu tersisih. Seolah sah nan mulya didik supir sebelah. Padahal yang jadi soal nafsu sendiri. Yang ditaklukan, mustinya ya nafsu sendiri dong.

Dipikir-pikir masih emosi dalam keseharian, artinya shalat gagal cegah yang mungkar. Masih mata duitan dan mata keranjang, shalat tak berhasil cegah diri berkeji-keji. Padahal, ya padahal. Katanya shalat itu pencegah perbuatan keji dan mungkar.

Yang saya pelajari, keji dan mungkar, bisa ditaklukan dengan shalat khusyuk. Yang namanya khusyuk, hati ini hadirkan Kemahaan Allah SWT. Saat shalat, esensinya kita ingat Allah. Nah ketika shalat tak ingat Allah, ini “cilaka di atas cilaka”.

Shalat yang mustinya “ingat Allah malah tak ingat”. Maka bagaimana lagi pada waktu tak shalat. Pasti tak ada dan pasti tak ingat Allah. Akhirnya keji dan mungkar jadi bagian sehari-hari.

Imam Ahmad ra mengatakan: “Ada sebuah zaman dimana umat jalankan shalat tetapi sesungguhnya mereka tak shalat. Yang aku takuti itu terjadi di zamanku”. Jika generasi sabiquna awwalun berkata seperti itu, lha saya ini hidup di zaman apa.

Rasulullah SAW pun berpesan: “Ya Allah, jadikan shalat ini jadi penenang diriku”.

Sang uswah sudah jelas “kekasih Allah”. Mengapa harus berdoa begitu. Yang jadi soal utama, mengapa selama ini saya merasa tenang dan tentram dengan shalat yang ala kadarnya. Mengapa saya merasa bangga dengan ibadah yang jangan-jangan compang camping karena diomong-omongkan ke sana sini.

Ingin khusyuk mudah. Lakukan khusyuk, masya Allah ternyata inilah satu bentuk “jihad sesungguhnya”.

Duuuh shalatku. Maka ada karib  yang seolah tahu kesulitan saya. Dia ajari doa di tiap akhir sujud: “Ya Allah, jangan Engkau lempar shalat ini sebagai sampah ke wajahku. Dan jangan pula Engkau benamkan kami ke Neraka Wail karena kelalaian kami mengerjakan shalat ini. Ampuni dan maafkan kekurangan kami dalam menjalankan shalat ini. Baik shalat yang telah lalu, yang sekarang kami jalankan, maupun yang esok kami hendak tegakkan. Cukupkan dan sempurnakan shalat kami”. Aamiin yra.....
--------
Astaghfirullohal 'adziiim......

Aoakah ketika telah   berkemampuan  melakukan aneka macam  amalan  sholat  fardhu dan sunnat,  baca qur'an, puasa,  dzikir, sedekah, dll,
Lantas menyangka    bahwa  usaha dirinya dlm ibadah seperti itu telah  sukses untuk menyambungkan dirinya   kepada Alloh  Subhanahu wata'ala ...??

Padahal yang dapat menyambungkan ke Alloh Subhanahu wata'ala adalah Alloh Yg Maha Kasih  , DIA Maha Kuasa dan kita tak punya kekuasaan apa apa

Dan DIA selalu  melihat ke arah  HATI   yg TULUS **

Karena   di dalam ketulusan Hati pasti  terdapat   Kejujuran, kecintaan sejati  pdNYA, dan pd Rasulullah saw  ketaatan, kelembutan  dan  keindahan  Akhlak.

Alloh Subhanahu Wata'ala berfirman dalam hadis qudsi :

Wahai HambaKU....
Kalau engkau datang padaKU  dengan melakukan ibadah  dengan kemampuanmu, maka AKUlah TUHAN yg nanti akan menagih akan HAQKU dan menagih penyertaanKU pd badanmu yg menjadi pelaku  pada  engkau beramal"
-------

Keterangan :
**
HATI YANG TULUS ITU ADALAH, apabila diri merasa apa-apa yang dilakukan dan di af'alkan kepada diri  lakunya ALLOH
, semata-mata apa yang diri lakukan adalah taufiq, hidayah, karunia dan rahmad dari ALLOH semata,
tiada yang dapat diri lihat kecuali ALLOH semata,
selain itu adalah kebohongan semata (tipuan syaithan).....

sudah sepatutnya  sang hamba yang fakir  selalu dalam keadaan memperbaiki NIAT setiap akan beramal, sedang beramal, sesudah beramal, apakah benar amalan diri hanya untuk mencari RIDHO ALLOH semata. ..??

..Yaa ALLOH......
..hanya  kepada ALLOH  saja yg di maksud..
..hanya RIDHO ALLOH saja yang di harap

Istighfar yuk
Astaghfirullahal 'adziim.......

   صلوا على النبي صلي الله عليه و سلم

21 Agustus 2016

Mengapa serba Aku ?

Bismillaah.....

Cuplikan Dialog  ....

Saya sudah 5 tahun ikut dakwah ,
60 teman saya yang dulunya pemabuk, tukang zina sekarang sudah taubat karena sering SAYA datangi. ...

10 orang kristen sudah SAYA masukkan Islam....

Sudah berapa orang yang kamu ajak kepada kebaikan, sudah berapa orang yang kamu islamkan…???!!!

Umar bin khattnab bekas preman bukan lulusan S2 atau S3, tapi 2/3 dunia telah tunduk kepada islam.....
---------------------------
Bahasan :

Jika kita telah di pakai  Allah swt sebagai Asbab Datangnya HidayahNYA, itu murni KaruniaNYA untuk HambaNYA yg akan mendapat HidayahNYA...

Asbab yg DIA kehendaki bermacam macam....
Bisa  lewat Manusia,  Jin , Malaikat, Binatang , Sebuah Situasi dan Kondisi ,Tragedi, dll yang semuanya tersebar di penjuru alam.....
Allah Swt sepenuhnya mengatur sesuai dengan kehendak dan kebijakanNYA....

Kita sebagai HambaNYA hanya patuh dan takzim menuruti kemauanNYA....

Jadi DIAlah yg Maha Mengatur dan Maha Pemberi Syafaat dengan IzinNYA demi kemaslahatan HambaNYA yg akan DIA  tuju dengan caraNYA....dengan CaraNYA....

Malulah padaNYA jika telah merasa serba SAYA....serba aku.....

SAYA telah berbuat ini.....itu.....
itu karena SAYA......
Wah banyak SAYA.  SAYA.. SAYA..
Atau ..aku...aku..aku.....

Ketika  yg namanya SAYA /aku, telah merasa taat sempurna dan
kemudian  mulai  menilai nilai, membanding bandingkan dirinya dg orang lain.....
Ini menandakan  ke akuan masih meRAJA  di Hawa Nafsunya.....

Seorang Hamba yg sejati, harus membuktikan pdNYA kesejatiannya...dan selalu instropeksi diri dalam muhasabah....

Seorang Hamba sejati selalu berproses membersihkan qalbuNYA disamping menjalankan AmanahNYA sebagai kewajiban dariNYA...

Bukan membanggakan hasil dakwahnya, atau membanggakan karya karyanya...atau membanggakan si Fulan ......dll...
Padahal semua itu adalah gerakan dan tarikan Allah swt yg Maha Cinta, Maha Kasih Sayang...
Wahai.....
bawalah Si pembaca dan Umat Rasulullah saw kpd  kecintaan kpd Allah swt dan Rasulullah saw dengan meraih RidhoNYA saja...
Bukan kpd kebesaran  dan keberhasilan kebanggaan sang aku /SAYA .....

Sungguh kebanggaan diri adalah terjauh dari Akhlak Mulia....

Wallahu a'lam bish showwab
Ashollatu wasallamu 'alaiyka yaa Sayyidi Yaa Rosulullaah.....