14 November 2017

Qur'an, apa Kitab?


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

Filsafat Tasawwuf
oleh
DR KH Imam Muslimin

Mohon maaf sebelumnya, saya akan ikut urun rembuk terhadap sesuatu yang mungkin dianggap sebagai problema oleh sebagian dari beberapa orang.

Semoga bisa dijadikan pertimbangan, karena apa saya sampaikan bukan jawaban yang MAK JLEBB, seperti pernah disampaikan problema dimaksud oleh Guru saya Prof. Imam Suprayo dan juga berbagai jawaban atas pernyataan Prof. Imamً Suprayogo, oleh para sesepuh dan Kyai.

Saya hanya menyampaikan sesuai dengan kapasitas saya yang sangat terbatas, saya sebagai Dosen FILSAFAT TASAWUF alias dalam kerangka ini barangkali penjelasan saya untuk memberikan urun rembuk yang hanya sebagai penjelasan saja, bukan jawaban. Saya bukan ahl tafsir, ahli fiqh dan sebagainya. Saya adalah dosen yang kebetulan mengajar mahasiswa MK Filsafat dan Tasawuf serta beberapa mata kuliyah lainnya.

Hendaknya dijelaskan terlebih dahulu, apa itu Qur'an..???

Apakah yang dimaksud dengan Qur'an itu adalah kertas yang ditulisi oleh manusia atau dicetak oleh percetakan yang yang terdiri dari 114 surat, 30 juz sekian ribu ayat dan sekian juta huruf; Dimulai dari surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas, itu disebut Qur'an..???

Apa pula yang dimaksud dengan dengan hadits, apakah ia tulisan yang dikumpulkan dalam buku oleh para tokoh seperti al Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah; Yang kemudian buku tersebut disebut dengan "kutub sittah"..???

Apakah kutub sittab (enam buku) itu yang dimaksud dengan hadits???

Kemudian apa yang dimaksud dengan dalil, apakah teks tulisan tangan manusia yang dinisbatkan kepada qur'an dan kutub sittah, itu disebut dalil..???

Qur'an itu kitab abadi ketika terbaca atau dibaca. Ia nyata adanya di dalam dada manusia dan dia adalah ayat yang jelas berada di dalam dada manusia;

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Al-Ankabut 49

Siapa berpegang teguh padanya tiada tersesat selama-lamanya.

Itulah "kitaballah wa sunnata rasulihi.."

تركت فيكم أمرين إن تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا : كتاب الله وسنة رسوله

Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, jika kalian berbegang teguh dengan keduanya, maka kalian tiada tersesat selama-lamanya.

Apakah "kitaballah" itu kertas yang ditulisi oleh manusia???

Apakah sunnah rasulullah itu "kutub sittah"???

Kitaballah itu "Alif Laaam Miiim" yang tiada keraguan di dalamnya untuk ditaqwai agar menjadi petunjuk bagi mutaqqin..

Sunnah rasulullah itu Shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah..

Jika ada tulisan tunjuk arah ke Surabaya 85 KM, apakah ini dilalah apa dalil???

Jika seseorang meminta dalil akan dilalah ke Surabaya 85 KM, ia harus mau ditunjukkan dengan alat "meteran" misalnya, kemudian dilakukan pengukuran dari tempat tunjuk arah tersebut, sampai tiba di Surabaya.

Kalau yang bertanya saja belum mengerti apa yang ia tanyakan, bagaimana menjawabnya??

Kalau yang bertanya tidak menginginkan jawaban apapun dari yang ditanya, perlukah yang ditanya menjawabnya???

Kemudian berkenaan dengan apa itu qur'an dan apa itu kitab???

Hendaknya dijelaskan pula agar sedapatnya diperoleh pengertian atas benda yang bernama qur'an dan kitab itu.

Qur'an itu ayat nyata yang di dalam dada manusia ketika terbaca atau dibaca, itulah qur'an namanya.

Lalu apa dan bagaimana dan dengan mushaf al Qur'an dan kutub sittah yang berjilid-jilid itu???

Keduanya amat penting posisinya sebagai marja' atau tempat merujuk, apakah bacaan (qur'an) terhadap ayat yang di dalam dada ini, sesuai dengan tulisan yang dikumpulkan di atas kertas itu.

Perlu dipahami pula, bahwa yang diturunkan bukan Qur'an, tapi al Kitab atau catatan dan harus dibaca.

ِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ0 الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
Al-Isra' 14.

Maka yang disuruh mengqur'an atau membaca adalah kitab catatan dirimu..

Sedangkan bacaan atau qur'an dengan bahasa Arab, karena Nabi Muhammad saw orang Arab yang lisan mulia beliau mengata dengan bahasa Arab.

Seandainya Nabi Muhammad saw itu, orang Turen, tentu bacaannya atau qur'annya berbahasa Jawa Malangan dan agak keduro-duroan.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Yusuf : 2.

Lalu terkait dengan haji, apakah ke Makkah atau Jember???

Haji itu ke Akbar, maka disebut dengan "hijjul akbar.."

Makkah itu tempat atau lokasinya Akbar, tepatnya di Baitullah, tandanya Ka'bah dan pintu masuknya adalah batu hitam atau hajar aswad.

Kalau Anda pergi ke rumah saya, siapa dan apa yang Anda tuju atau bahasa Arabnya "liman atau ila man tahujju"???

Apa dan siapa yang Anda hajatkan atau perlukan???

Bukan rumah saya kan???

Akan tetapi tentu Anda berhajat atau berhaji kepada saya, bukan rumah saya.

Rumah saya hanyalah alamat atau tanda di mana saya berada dan tinggal.

Tenaang duluuur, ojok menuduh yang bukan-bukan dulu, yaaa???

Saya mendapatkan pengertian semacam itu, bukan baru saja, tapi sejak tahun 90an dengan seorang guru yang mlarat dan kere tiada harta benda di desa Nanggalan perbatasan Blitar Kediri.

Tapi, tentu semua itu hanyalah penjelasan bukan keputusan, sehingga masih mungkin diberikan berbagai penjelasan yang lain untuk didapatkan penjelasan yang lebih jelasss dan seterusnya.

Selanjutnya, apa itu Islam??

Kalau saya mengartikan Islam itu, seperti dirumuskan oleh para pendahulu kita, para alim dan cendekia yaitu Islam itu rukun.

Rukun itu anggota badan jama'nya "arkan" alias amal nyata.
Jikalau Islam itu pasti beramal nyata berupa kerukunan. Kalau tidak rukun, bukan Islam.

Maka RUKUN ISLAM artinya, beramal nyata kerukunan, saling menghargai, hati tetap husnu dhon dst, itulah damai diri dan damai orang lain atau Islam..

Islam itu mendamaikan : aslama- yuslimu-islam artinya mendamaikan diri sehingga bisa berdamai tehadap orang lain, produknya adalah "salam" atau kedamaian.

🥀⚘🌻
*Allohumma Sholli 'ala Sayyidina wa Maulana Muhammaddin  Wa 'ala Aalihi wa Ashhabihi wa Azwajihi wa  Dzurriyyatihi wa Ahli Baiytihi 'adada maa Fii 'Ilmillaahi Sholaatan  daa'imatan Bidawaami Mulkillaah*
💙🌷🌷

Guru Mursyid

  ❀✿           بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ      ✿❀
                                                                                                                 

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Sunan Bonang berkata :
Jangan hanya belajar kepada KITAB,
Haruslah belajar juga kepada KUTUB,

Yaitu KUTUB Alamin ialah seorang Guru Mursyid Pewaris Nur Muhammad dari Rosulullloh SAW,inilah yg disebut ulama Warosatul Anbiya yg mewarisi ilmu Nabi,sebagai QUTUB amal dan QUTUB ilmu

Karena penjelasan islam tidak cukup hanya DIJABARKAN
Tetapi harus dibimbing oleh seorang mursyid agar DITASYJIDKAN.

Yaitu DIHIDUPKAN dan dinyalakan cahaya dzikir dihati kita dg TALKIN DZIKIR.
Agar kita dituntun kepada hadrat Allah sampai marifat billah.
Melalui Dzikir Dzahar, Dzkir Khafi, Dzikir Ruh, Dzikir Sirri dan Dzikir Akhfa..!

Tentang seorang MURSYID di dalam Quran disebut oleh Alloh dalam surat Al Kahfi ayat 17:

"May-yahdillaahu fahuwal muhtad wa may yauhdhil falan tajida lahuu WALIYAM MURSYIDA"

Artinya :
Barang siapa yg diberi petunjuk oleh Alloh dialah yg mendapat petunjuk dan siapa yg dibiarkan-Nya sesat,maka tidak akan dipertemukan dg WALI MURSID yg memberinya petunjuk.

Semoga Akhy dan Ukhty semuanya mendapatkan hidayah dipertemukan dg Qutub Alamin atau WALI MURSYID dalam perjalanan hidup kita yg cahaya dzikirnya mampu menyulut dan menyalakan cahaya iman dan taqwa, , ,
Aamiin

Renungkanlah

  🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻 ﷽ ⚘

♡ اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ♡

Mengapa kita begitu bosan ketika memandangi Kitab Suci *AL QUR'AN* ? Tetapi begitu santai ketika membaca buku-buku yang lain.

🌃Mengapa *MASJID MASJID* itu jadi lebih kecil? Tetapi bar dan klub malam meluas.

🌃Mengapa begitu mudah Mengidolakan (memuja) Selebriti? Tetapi sangat sulit akrab dengan *HAMBA HAMBA ALLAH* yang *SHALEH* 

🏯Ingatlah; *ALLAH (Subhanahu Wa Taala)* Berfirman: _*Jika Kalian Mengingkariku di depan Teman-teman kalian, Aku akan Mengingkari kalian pada Hari Pembalasan.*_

🌃Ketika satu pintu tertutup, ALLAH membukakan yang kedua; Jika  ALLAH telah membuka pintu-pintu untuk ANDA, sampaikanlah dakwah walau satu ayat. 

🌍Allah tidak memiliki BLACKBERRY, Android, tapi Dia adalah Kontak Favorit saya...

🌍Allah tidak ada di TWITTER, tetapi aku masih mengikutinya dan akan mengikutinya selamanya...

🌍Allah tidak ada di WHATSAPP,  tapi Dia selalu online...

*Jadi sekalipun tidak ada  INTERNET, Saya akan selalu terhubung dengannya...*

Telah dikatakan bahwa ketika *Malaikat Maut mengambil Ruh (nyawa) dari tubuh* yang telah meninggal dunia….. itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan. 

Mereka berkata bahwa ketika Orang mati bangkit pada hari Qiyamat, pengaruh dari Ruh yang telah diambil akan tetap disana.

 Oleh karenanya, Allah telah memberitahukan kepada kita untuk *membaca  Ayatul-Kursi* setiap selesai Sholat Fardhu dan itu akan meneguhkan yang membacanya, Ruh mereka akan dicabut sebagaimana Anda mencabut sehelai rambut dari gundukan tepung. 

Akan begitu ringan rasanya, Masha Allah!

🌉 *Semoga Allah Menyelamatkan kita* dari segala macam rasa sakit dan mengizinkan kita Meninggal di atas Imaan di hati Kita dan menyelamatkan kita dari ‘Azabnya. Aamiin….
🌉Tidak ada kata yang Seindah *ALLAH*.
🌉Tidak ada Tauladan yang seindah *RASULULLAH MUHAMMAD*  (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam).
🌉Tidak ada Tuntunan seindah *ISLAM*.
🌉Tidak ada nyanyian yang semerdu *ADZAN*.
🌉Tidak ada Darma seberarti *ZAKAT*
🌉Tidak ada ensiklopedi sesempurna *AL QUR'AN*
🌉Tidak ada diet sesempurna *PUASA*.
🌉Tidak ada Pengembaraan sesempurna *HAJI*
🌠 *Islam itu selamanya Indah dan Sempurna*, 

🌠Ini sangat biasa diantara kita, sebagian besar kita berbicara pada waktu Adzan... 

🌠Baca ini..
Rasulullah yang mulia (Shallallahu Alaihi Wasallam) berkata, " *_Hentikan melakukan segala aktivitas selama mendengar ADZAN, meskipun sedang membaca Quran_*..

.. 🏯BACALAH DO’A INI UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK...

_*Allahumma-Inni-Alaa-Dzhikrika-wa Shukrika-wa-husni-ibaadatika*_.
Sebuah Do’a yang dahsyat telah dikirim kepada Anda. 

SUBHANALLAH !!!*

🌍 Bangkitlah segera ketika Anda mendengar ADZAN, seperti ketika anda mendengar telephone Anda berdering❗

🌍Bacalah AL QUR'AN dengan BENAR, 
Seperti Anda membaca tulisan❗

🌃Takutilah ALLAH, seperti Anda takut KEMATIAN❗

🌃Ingatlah KEMATIAN, seperti Anda  
      Mengingat Nama Anda❗

🎇Berapa menit yang diperlukan Untuk mengerjakan setiap Sholat❗

🍇"SUBUH" 4 - 6 Menit❗

🍇"ZUHUR" 6 - 8 Menit❗

🍇"'ASHAR" 6 - 8 Menit❗

🍇"MAGHRIB" 5 - 7 Menit❗

🍇"ISYAA' " 7 - 10 Menit❗

🍒Total 28 - 39  Menit per hari dari 24 jam❓ 🍒

🌍Mari Pikirkan tentang hal ini, apakah kita betul-betul menghabiskan waktu kita demi kepentingan ALLAH❓

Cahaya-Cahaya Watak Diri An Nafsiyyah


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Setelah tujuh hari khalwat di ruang al-Fath, di bulan Ramadhan Mas Wardi Bashari keluar dengan wajah berbinar-binar memancarkan kegembiraan. Meski tampilannya kusut, namun wajahnya memantulkan suatu keluas-bebasan jiwa yang tidak diberati beban-beban yang menekan. Dan sewaktu menghadap Guru Sufi yang sedang  berbincang-bincang dengan para sufi dan salik di teras mushola, Mas Wardi Bashari mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Guru Sufi yang telah menunjukkannya ‘jalan’ Kebenaran yang haqqiqi kepadanya sampai ia menemukanNya. “Saya telah menyaksikan-Nya,  romo kyai. Saya telah sampai. Matur nuwun.”

Guru Sufi ketawa mendengar pengakuan Mas Wardi Bashari sambil memandang para sufi yang juga ketawa. Setelah itu, dengan suara lembut Guru Sufi bertanya,”Engkau telah menyaksikan apa? Engkau merasa telah sampai di mana?”

“Saya telah menyaksikan cahaya Kebenaran, romo  kyai,” sahut Mas Wardi Bashari menegaskan,”Saya telah sampai kepada-Nya. Saya sudah menyaksikan cahaya-cahaya aneka warna memancar dari qalbu saya. Saya tidak bisa menceritakan bagaimana cahaya-cahaya itu, tetapi keindahannya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata dalam bahasa manusia,” sahut Mas Wardi Bashari menjelaskan pengalaman ruhaninya.

“Apakah cahaya yang engkau lihat ada yang merah? Kuning? Kehitaman? Putih? Hijau bening seperti kristal?” tanya Guru Sufi memancing.

“Benar sekali, romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari masih tertegun-tegun dicekam pesona pengalaman ruhaninya, ”Saya melihat cahaya kemerahan yang sangat menyilaukan memancar seperti kilatan petir dari kedalaman qalbu saya dan cahaya itu menyelimuti seluruh cakrawala. Apakah itu bukan cahaya-Nya?”“Ketahuilah wahai sahabat, bahwa Allah kesucian dan keazalian-Nya diselubungi oleh tujuh puluh cahaya dan kegelapan. Syaikh Ahmad Rifa’i malah menyebut 70.000 selubung hijab cahaya dan kegelapan. Jadi jangan sekali-kali engkau menganggap jika sudah menyaksikan cahaya itu sudah sama dengan sudah melihat-Nya,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Tapi romo  kyai,” kata Mas Wardi Bashari berkilah,”Bukankah Allah itu  adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya  adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada Pelita. Pelita  itu ada di dalam Kaca. Kaca  itu laksana bintang berkilau yang dinyalakan dengan minyak dari  pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada Api  yang menyentuhnya. Cahaya di atas Cahaya! Allah  menuntun kepada Cahaya-Nya, siapa saja yang Ia kehendaki. Allah  membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah  mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An Nur : 35). Bukankah ayat Qur’an ini menunjukkan bahwa Allah adalah cahaya?”

“Ketahuilah wahai salik, bahwa Allah itu dalam haqqiqat meliputi satu kesatuan Asma’, Af’al, Shifat, Dzat. Apa yang terungkap dalam Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 35 yang engkau sitir, tiada lain adalah ungkapan tentang Af’al-Nya menerangi dan meliputi langit dan bumi. Itu artinya, ayat Al-Qur’an itu mengungkapkan tentang Dia dalam iktibar bahasa yang bisa difahami manusia. Jadi jangan ditafsir-tafsirkan dengan akal pikiranmu, tetapi fahami dengan qalbumu.  Bukankah Rasulullah Saw sudah melarang kita untuk memikirkan Dzat-Nya?” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Lalu makna Allah sebagai cahaya dalam ayat itu apa romo kyai?” tanya Mas Wardi.

“Asma’, Af’al dan Shifat-Nya yang menyelubungi haqqiqat  Dzat-Nya yang tersembunyi dan terahasia,” kata Guru Sufi menjelaskan, “Dan ungkapan kata cahaya di dalam Surah An-Nuur: 35 itu jangan sekali-kali engkau anggap sama dengan cahaya yang engkau saksikan. Sebab Cahaya langit dan bumi yang dimaksud di dalam al-Qur’an itu tidak bisa disaksikan mata inderawi karena diselubungi beribu-ribu cahaya dan kegelapan yang menghijab-Nya.”“Woo begitu ya romo  kyai,” sahut Mas Wardi Bashari mengerutkan kening,”Kalau begitu cahaya apa itu yang sudah saya saksikan memancar dari qalbu saya itu?”

“Syaikh Abdul Jalil al-Jawy  menjelaskan bahwa pemahaman cahaya  (nuur) itu mengikuti  limpahan anugerah yang memancar dari qalbu dan keadaannya mengikuti  kadar cahaya dalam  batinnya qalbu. Cahaya sendiri   beragam dan berbeda-beda: ada cahaya watak diri (an-nafsiyyah), ada cahaya akal (al-lubbu), ada cahaya ruh (ruhiyyah), ada cahaya qalbu (fawaid), ada cahaya titik hitam dalam qalbu (suwaidaa’ul qalb), ada pula cahaya batin yang terahasia (sirr), dan ada pula  cahaya rahasia di dalam rahasia batin (sirr al-asrar). Sirr al-Asrar itulah cahaya  yang paling agung dan paling sempurna,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Tapi bagaimana dengan perubahan-perubahan yang terjadi dengan cahaya-cahaya itu?”

Guru Sufi menjawab,”Tiap-tiap cahaya dari semua cahaya itu memang beragam dengan fungsi dan peran masing-masing sebagai selubung cahaya-Nya. Ketahuilah, bahwa di dalam kosmos (‘alam) senantiasa terdapat sesuatu yang bertentangan di mana yang bercahaya (nurani) selalu berlawanan dengan yang gelap (zhulmani). Dan ketahuilah, bahwa sesuatu yang gelap senantiasa berhubungan dengan sesuatu yang bersifat jasmani. Nah keragaman tiap-tiap cahaya itu berhubungan dengan tiap-tiap kegelapan yang menjadi lawannya. Demikianlah, masing-masing anasir cahaya itu eksis dalam keragamannya bersama kegelapan yang menjadi lawannya  sebagai hijab-hijab  yang menyelubungi rahasia Keberadaan-Nya.”

“Lalu cahaya aneka warna yang saya saksikan itu apa romo kyai?” tanya Mas Wardi Bashari ingin tahu.

“Itu adalah cahaya watak diri (an-nafsiyyah) yang memancar dari qalbumu,” kata Guru Sufi menjelaskan,”Cahaya merah adalah pancaran dari nafsu  ammarah (an-nafs al-ammarah). Cahaya kuning adalah pancaran dari nafsu sufliya (an-nafs as-sufliyyah). Cahaya kehitaman adalah pancaran nafsu lwammah (an-nafs al-lwammah). Cahaya putih adalah pancaran nafsu muthmainnah (an-nafs al-muthmainnah). Itu artinya, engkau sudah masuk ke dalam matra alam gaib (‘alam al-ghayb) dengan melalui ketersingkapan (kasyf) alam kecil (‘alam as-shaghir) dirimu sendiri. Itu berarti, pandangan batinmu (bashirah) yang tertutup karat jiwa (al-rayn)  telah mulai sedikit tersingkap.”

“Saya mohon petunjuk, romo kyai!” kata Mas Wardi Bashari memohon.

“Ketahuilah wahai salik, bahwa di balik ketersingkapan (kasyf) pandangan batinmu (bashirah) itu masih cukup kuat peranan angan-anganmu (khayal) yang bersumber dari akalmu (‘aql) untuk memperlambat bahkan menghambat ketersingkapan (kasyf) yang lebih luas, sehingga engkau terhenti pada sekat (barzakh) yang mengantarai alam gaib dengan alam nyata,” kata Guru Sufi.“Apakah gambaran-gambaran yang terbentuk dari cahaya-cahaya yang saya saksikan  itu adalah pantulan dari angan-angan (khayal) saya sendiri, romo kyai?” tanya Mas Wardi Bashari.

“Dalam cahaya merah engkau menyaksikan perwujudan harimau, kan?” tanya Guru Sufi.

“Benar sekali romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari, ”Saya saksikan harimau itu sangat ganas. Meraung-raung kelaparan seperti ingin memangsa segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Berarti, itu nafsu saya sendiri. Nafsu Ammarah. Dan perwujudan harimau itu sejatinya pantulan dari jiwa rendah saya sendiri, yaitu nafsu hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) saya sendiri. Apakah seperti itu maknanya  romo kyai?”

“Itu benar demikian,” sahut Guru Sufi, ”Cahaya kehitaman yang engkau saksikan hanya sekilas bukan?”

“Benar romo kyai, saya hanya sekilas menyaksikan cahaya kehitaman yang lenyap ditelan kumparan cahaya kuning yang sangat terang dan meliputi segenap cakrawala kesadaran saya.”

“Itu artinya, engkau bukan golongan manusia yang kemaruk harta benda dan tidak cukup kuat terikat dengan kehidupan duniawi. Artinya, engkau tidak punya bakat menjadi orang matre yang kikir, pelit, bakhil, medhit seperti Qarun,” kata Guru Sufi tegas.

“Apakah setelah ini saya boleh khalwat lanjut ke ruang al-jihad?” tanya Mas Wardi Bashari dengan mata berbinar-binar diliputi kegembiraan dan harapan.

“Oo belum waktunya,” kata Guru Sufi datar,”Engkau justru harus pulang ke rumah dulu dan secepatnya menikah. Setelah cukup waktu hidup berumah tangga, engkau akan dipanggil untuk bisa memasuki ruang al-jihad.”

“Apa, pulang dan kawin?” Mas Wardi Bashari terhenyak kaget,”Saya sangat senang berada di sini, romo kyai. Saya sudah merasa tenang dan damai di sini. Kenapa saya harus pulang dan kawin?”

“Engkau belum bisa tenang secara paripurna, o Mas Wardi,” sahut Guru Sufi tegas, “Sebab jiwamu masih belum berdaya menghadapi kuasa nafsu sufliya yang sangat kuat memancar dari kedalaman jiwamu. Maksudnya, engkau masih banyak melewatkan waktu hidupmu dengan berimajinasi tentang hal-hal yang erotis yang merangsang syahwatmu. Justru itulah, nafsu sufliya yang masih kuat menguasaimu itu akan menjadi penghalang utama bagimu untuk melangkah ke tahap ruhani berikutnya. Jadi engkau harus melampiaskan terlebih dulu gelegak nafsu sufliya hewanimu lewat perkawinan yang sah menurut sarak.”“Aduh benar sekali romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari dengan wajah tersipu malu, “Kilasan-kilasan bayangan erotis itulah yang paling sering mengganggu khalwat saya.”

“Jadi untuk mengatasi kendala itu engkau harus kawin dulu,” kata Guru Sufi ketawa.

“Waduh berarti masih jauh ya perjalanan yang akan saya tempuh untuk sampai kepada-Nya,” kata Mas Wardi Bashari kurang semangat.

“Memang masih jauh dan engkau harus mulai sadar itu,” kata Guru Sufi tersenyum, “Jangan sekali-kali engkau berangan-angan bahwa berjuang (jihad) menuju Dia itu sesuatu yang mudah dan instant dengan cukup berkhalwat 40 hari sudah sampai. Ingat-ingatlah, bahwa Rasulullah Saw berkhalwat di Gua Hira itu sejak usia 25 tahun dan baru menyaksikan Namus (Jibril) pada usia 40 tahun. Ada jedah waktu 15 tahun yang mengantarai khalwat Rasulullah Saw dari awal sampai ketersingkapan awal.”

Mas Wardi Bashari termangu-mangu mendengar penjelasan Guru Sufi. Ia faham bahwa selama ini telah keliru mengasumsikan laku ruhani sebagai sesuatu yang gampang dijalani akibat pengaruh buku-buku tentang sufisme yang sering dibacanya. Bahkan saat ia menyaksikan kilasan-kilasan cahaya nafsiyyah selama bermujahadah dan musyahadah  telah ia sangkakan secara keliru sebagai cahaya Kebenaran Ilahi.

U l a m a

  🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻 ﷽ ⚘

♡ اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ♡

Jika dikembali kepada asal dan usulnya atau usul dan asalnya, maka sesuatu akan didapatkan pengertian.

Jika masih terjebak terhadap berbagai pendapat orang, apakah itu para ahli atau yang lainnya, maka kesulitan ditemukan pengertian atas sesuatu tersebut.

Sedangkan ketika disebutkan "para ahli" saja, itu artinya banyak pendapat dari ahli yang sudah barang tentu masing-masing ahli itu berbeda pendapatnya.

Jika masing-masing berbeda pendapat, bagaimana bisa ditemukan pengertian yang paling tepat??? Kecuali membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat yang lainnya, sehingga bukan pengertian yang diperoleh, akan tetapi mungkin pendapat kita sendiri atas dasar perbandingan dari berbagai perbedaan pendapat dari para pendapat manusia.

Maka, hendaknya ada upaya untuk bersedia dan mau kembali dan mengembalikan segala sesuatu itu ke dalam asal dan usulnya atau usul dan asalnya.

Ulama' itu bukan manusia, ia adalah pewaris para Nabi penyambai berita penting dari Allah swt.

العلماء وثرة الأنبياء

Ketika seseorang dengan imannya yang tidak tidur alias ber-rooha-yaruuhu, maka iman tersebut akan menegakkan empat sifatnya yakni shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah.
Berbeda dengan ketika iman itu tidur, sehingga ia tidak menegakkan empat sifatnya iman, maka ia tidak shiddiq, tidak amanah, tidak tabligh dan tidak fathonah.

Bagaimana supaya iman kepercayaan Tuhan tersebut tidak tidur..?

Lakukan dan tegakkan shalat. Maka shalat itu lebih baik dari pada tidur.

الصلاة خير من النوم

Jika shalat, maka iman tidak tidur. Oleh karena itulah iman bisa sambung dengan Allah Akbar, masuklah ke dalam benteng Allah dan barang siapa memasuki bentengnya Allah, aman dar siksa-Nya.

الا إله إلا الله حصني فمن دخل حصني أمن من عذابي

Kembali ke kata "ulama', bahwa secara asal dan usul ia bukan manusia,ulama adalah pewaris para Nabi.

Siapa dan apa yang bisa mewarisi para Nabi???
Tiada lain adalah iman yang bersifat empat, yakni shiddiq, amanah, tablih dan fathonah.

Saat iman bersifat empat  itulah ia sedang mendapatkan warisan, sehingga ia mukmin lalu mampu menyampaikan berita kenabian tanpa harus belajar dari manusia siapapun.

Jika masih harus belajar, atau apalagi masih mengutip dan menyampaikan berbagai pendapat para ahli, maka bukanlah ulama' pewaris para Nabi; Mungkin bisa disebut ulama saja atau majlis ulama atau duduk di majlis yang membahas ilmu dst. Akan tetapi, ia bukanlah ulama' yang dimaksudkan oleh Sabda Nabi Muhammad saw tersebut.

Tentu masing-masing orang dalam hal ini, sesuai kadar taufiq dan hidayahnya Allah swt.

Manusia dalam artian fisik, selamanya tidaklah mampu menjadi pewaris para Nabi. Bagaimana manusia yang "lakanudun" atau bersifat penentang dan keterlaluan menjadi pewaris para Nabi?

Manusia itu sering keluh kesah, manusia itu suka lupa diri ketika dalam posisi yang mapan dan mengeluh ketika dalam posisi yang kurang mapan, bahkan manusia thogho atau TER LAAA LUUU..

Kemudian, kalau seseorang itu mendapatkan warisan berupa sawah ladang atau harta yang lainnya, apakah di dalam mendapatkannya ia musti melakukan transaksi jual beli dan bekerja atau yang lainnya???

Apa si penerima harta warisan itu, harus bekerja keras untuk mendapatkannya???

Tentu tidak..

Warisan itu terwariskan dari pemilik harta yang diwariskan..

Pewaris para Nabi itu tinggal mendapatkan dan tidak perlu bekerka keras untuk mendapatkannya alias ia tinggal menunggu pasrah taufiq hidayah-Nya, berapa pun didapatkan tinggal menerimanya dan menyampaikan atau me-NABA'-kannya.

Lalu persoalan tingkatan Hadits yang dirumuskan oleh para ahli atau peneliti hadits.

Bagaimana kalau hadits itu diyakini sebagai sabda Rasulullah saw, lalu ada yang derajatnya shohih, ada yang hasan dan bahkan ada dhoif serta palsu..?
Berarti apakah Rasul yang mulia dan suci itu:

Pernah bersabda shohih..?
Pernah bersabda hasan..?
Pernah bersabda lemah atau dhoif..?

Dan bahkan pernah bersabda palsu..?

Yaa Robb....kok iso, jika mereka yang merumuskan atau membuat rumusan tentang hadits disebut ulama???

Ulama, apa peneliti tentang ucapan seseorang yang dinisbatkan terhadap rasulullah???
Ini adalah persoalan yang hendaknya dijelaskan sehingga didapatkan penjelasan yang jelas.

Jadi, ulama itu bukan manusia..

Ulama itu pewaris para Nabi..

Makanya yang punya khosy-yah takut terhadap Allah, hanya Ulama' yang ia dipercaya oleh Tuhan, yang tiada lain adalah iman itu sendiri yang ada di dalam dada manusia, bukan manusia..

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Fathir : 28.

Materi
Kajian sirrul Asrar
Setiap sore jl Wilis 11
Kantor MUI
Oleh Yai Dr. Imam Muslimin

07 November 2017

Rindu dan Cinta

Tasbihku dalam ruas jari jemari..
Detak nadiku mengiringi lafas Nya.
Helaian nafasku mengalunkan bait2 kecintaan ku pada Nya.
Duhai penjaga malam dan hatiku.,
Kecintaan Mu harapan insan penghambaan..

sejuk kalam membaca CintaNYA...
ayat ayatNYA alunkan swara hati milikNYA.......
...DIA sang Maha Kekasih Sejati..
.hiasi mawar putih di cakrawala...

Rinduku membahana...
memanggil nama Cinta milikMU seiring detakan jantung....

Duhai Kecintaan.....
Saat ini aku merindu.....

28 April 2017

Dialog Rasulullah saw dan Malaikat Jibril as

Bismillaah...

Kisah Sayyidina Maulana Nabi Muhammad Rosulillah Saw dan Sayyidina Malaikat Jibril As PENGHITUNG TETESAN AIR HUJAN

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Rosulillah Shollalloohu’alaihi wasallam bersabda : Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.

Aku bertanya kepada Jibril as pendampingku : Siapa gerangan malaikat itu dan apa tugasnya??

Sayyidina Malaikat Jibril As berkata : Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi

Sayyidina Rosulillah Saw bertanya kepada malaikat tadi : Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Nabi Adam As?

Malaikat itupun berkata : Wahai Rasulallah saw,demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran) sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as,sampaisekarang ini,begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut,ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung,ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.

Mendengar uraian malaikat tadi, Sayyidina Maulana Rosulillah Saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.

Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau : Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.

Sayyidina Rosulillah Saw pun bertanya : Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.

Malaikat itupun menjawab : Kekurangan dan kelemahanku Wahai Rosulalloh Saw, jika ummatMu berkumpul disatu tempat, mereka menyebut namaMu lalu bersholawat atasMu. Pada disa'at itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas diriMu.
(Kitab Al-Mustadrak Syaikh An-Nuri jilid 5 :  shohifah 355 hadist ke72)

Alloohumma sholli a’laa sayyidinaa Muhammadin, wa a’laa alihi wa shohbihi wasallim.

Sayyidina Nabi Muhammad Rosullahi Saw bersabda : Perbanyaklah sholawat kepadaku pada setiap Jum’at, karena sholawat ummatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bersholawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari Qiamat nanti.
(HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Sunan Al-Kubro)

Sayyidina Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : Orang pelit itu adalah orang yang ketika disebut namaku ia tidak mau/enggan bersholawat padaku.
(HR Imam At-Tirmidzi no 3546)

Shallu alaih....

27 April 2017

Potret Islam di Indonesia

BismillahirRohmaanirRohiim

**Selayang Pandang Islam di Indonesia.**

Islam Kejawaan
(Taddaburan/maiyahan)

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU,  namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw.

Copas :
Bp. Agus Sunyoto Lesbumi

Shollu 'alanNabiMuhammad Sholallahu alaihi wasallam

14 Oktober 2016

Bohong dapat merusak kekebalan tubuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bohong dapat mengurangi sistem kekebalan Tubuh....,

Duh...Masih Suka Bohong ?
Hati hati ! Dapat merusak Syaraf loh !

Bohong itu nikmat dan berulang kali dilakukan karena merasakan nikmatnya bohong...

Tapi , ketahuilah , bahwa ketika asyik melakukan kebohongan, akan terjadi serangkaian hal di dalam tubuh yang dapat  merusak kesehatan dan juga mental ....

Inilah hal yang terjadi di dalam tubuh pada saat  melakukan praktek  kebohongan.

*..... 1 Meni t- Saat telah terjadi kebohongan,
maka akan terjadi pelepasan kortistol dalam otak, karena terjadinya penekanan dalam sistim syaraf.
Jika kebohongan yang di lakukan  itu cukup besar, maka adrenalin di dalam jantung akan meningkat.
Dan otak akan langsung mempersiapkan respon untuk membela diri, seperti dengan mengucapkan kata2 untuk menutupi kebohongan pertama.

*----5 Menit - Dan beberapa menit kemudian, otak akan terus berpikir untuk memikirkan kebohongan apa palagi untuk menutupi kebohongan yang  di lakukan sebelumnya. Hal ini akan membuat kerja otak menjadi berat karena otak dipaksa untuk berfikir dan mengambil keputusan di saat yang bersamaan. itulah sebabnya jika telah berbohong,  biasanya akan terjadi kebohongan2 lainnya beruntun

*----10 Menit - Makin lama waktu berlalu, kinerja otak semakin meningkat akibat adanya tekanan2 yang menyudutkan  hati....
. Hal ini akan menyebabkan  meningkatnya nafsu marah kepada orang yang di bohongi ketika hati beranggapan  bahwa dia tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan ...

*------ 30 Menit - Hormon stres akan berangsur hilang, karena orang yang  jadi korban kebohingan sudah pergi,
hal yang akan terjadi selanjutnya adalah munculnya hormon khawatir, yaitu mulai merasa takut  bahwa kebohongan yang sudah di lakukan akan terbongkar, yang menyebabkan  beban fikiran pun menjadi lebih berat....

*---- 24 Jam - Mungkin beberapa orang sudah lupa dengan kebohongan yang  tlh mereka lakukan.
Namun bagi orang yang tidak terbiasa berbohong,akan terus berfikir dan memiliki perasaan negatif tentang ketidakjujuran yang telah di lakukan.
Dan hal ini mengakibatkan  menjadi stres.....

*---- 72 Jam - Kebohongan yang  telah di  lakukan akan menyebabkan rasa cemas yang kronis. Selain itu akibat hormon stres meningkat akan mengakibatkan sulit untuk berpikir secara jernih.

Dan hal ini juga mampu mengakibatkan sistem kekebalan tubuh menjadi berkurang. ahirnya, kesehatan pun terganggu .....

Untuk itu ....
lebih baik bicara apa adanya daripada bicara bohong tapi akhirnya diri sendiri yang menanggung akibatnya....

Bohong itu ga enak , wahai Sahabat
Sama dengan merusak sel sel ditubuh sendiri.....

Shollu 'ala Rosulillaah saw

13 Oktober 2016

Tahukah kamu ?

Bismillah.....
★┊ Tahukah ? ┊★┊  ┊ ★┊  ┊
┊  ┊
┊   ┊ aah ┊  ★ ★┊  ┊ ★┊  ┊
┊  ┊ Andai saja tahu....
┊   ┊  ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ★ ☆ ┊  ┊  ┊

┊  ┊   ┊tapi  ★
┊  ┊ saya tak tahu... ☆
┊  ┊ apakah itu ????
┊   ┊  ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ★ ☆ ┊  ┊  ┊

┊  ┊   ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ┊  ☆
┊  ★ ☆ ┊  ┊  ┊

┊  ┊   ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ┊
┊   ┊  ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ★ ☆ ┊  ┊  ┊

┊  ┊   ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ┊
┊   ┊  ┊  ★
┊  ┊  ☆
┊  ★ ☆ ┊  ┊  ┊

┊  ┊   tahukah ?┊  ★
┊  ┊  ☆disebalik jurang ,ada kebun yg indah....

Disebalik Gunung itu ada sungai yg airnya sejuk...

Disebalik batu , memancar mata air...

Jangan dikira Tanah yg gersang tak dpt menumbuhkan biji2 an...

Jangan dilkira Air yg tenang itu tak menghanyutkan...

Jangan dikira Harimau itu tidur....

Jangan dikira , Terik mentari itu akan membakar rerumputan....

Awan yg gelap belum tentu menurunkan hujan....

Panas yg menyengat belum tentu kemarau...,

Semua Rahasia di tanganNYA...

hanya Qalbu yg hidup yg dpt mengerti....

Shollu 'ala Rosulillaah saw

11 Oktober 2016

Mutiara Hikmah

Bismillaah.....

Mumpung sepiiii...
MUTIARA HIKMAH. 🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍🌍.                                *PESAN INDAH DARI DR. ZAKIR NAIK*

🌃 Saudara dan Sahabat Muslim semua..
✅ *Mohon* ⬇

🌠1⃣ *Jangan tulis TUHAN*
Mohon selalu *Tulislah ALLAH*
Karena tidak ada penyebutan Tuhan pada Kitab suci Al-Qur'an.

🌠2⃣ jangan katakan  "Mosque"
Selalu katakan *MASJID*
Karena Organisasi Islam telah menemukan bahwa arti Mosque itu, nyamuk.

🌠3⃣ Jangan tulis  "Mecca:
Selalu tulislah dengan benar
*MAKKAH*" karena
Mecca itu berarti Rumah Anggur

🌠4⃣ Jangan tulis "Mohd"
Selalu tulislah dengan lengkap
*MUHAMMAD* karena
Mohd berarti anjing yang bermulut besar.

✅ Jika anda punya paket (kuota),
✅ Tolong sampaikan hal ini ke *Sahabat-Sahabat Muslim* kita.

الرجاء ارسالها الى اصدقائك المسلمين

✊✊ *Populasi Muslim* di Dunia, di masing-masing negara:

1⃣ Afghanistan 100%
2⃣ Albania 75%
3⃣ Algeria 99%
4⃣ Angola 25%
5⃣ Argentina 2%
6⃣ Australia 2.09%
7⃣ Azerbaijan 93%
8⃣ Bahrain 100%
9⃣ Bangladesh 85%
🔟 Bhutan 5%
1⃣1⃣ Brazil 0.6%
1⃣2⃣ Burma 10%
1⃣3⃣ Canada 1.48%
1⃣4⃣ Central African 55%
1⃣5⃣ China 11%
1⃣6⃣ Egypt 94%
1⃣7⃣ Ethiopia 65%
1⃣8⃣ Fiji 11%
1⃣9⃣ France 7%
2⃣0⃣ Georgia 11%
2⃣1⃣ Germany 3.4%
2⃣2⃣ Greece 1.5%
2⃣3⃣ Guinea 95%
2⃣4⃣ Guyana 15%
2⃣5⃣ Hongkong 1%
2⃣6⃣ India 14%
2⃣7⃣ *INDONESIA 85%*
2⃣8⃣ Iran 99%
2⃣9⃣ Iraq 97%
3⃣0⃣ Israel 14%
3⃣1⃣ Italy 1%
3⃣2⃣ Japan 1%
3⃣3⃣ Jordan 95%
3⃣4⃣ Kenya 30%
3⃣5⃣ Kuwait 89%
3⃣6⃣ Lebanon 70%
3⃣7⃣ Libya 100%
3⃣8⃣ Maldives 100%
3⃣9⃣ Malaysia 52%
4⃣0⃣ Mauritius 19.5%
4⃣1⃣ Mayotte 99%
4⃣2⃣ Nigeria 75%
4⃣3⃣ Oman 100%
4⃣4⃣ Pakistan 97%
4⃣5⃣ Phillipines 14%
4⃣6⃣ Qatar 100%
4⃣7⃣ Romania 20%
4⃣8⃣ Russia 18%
4⃣9⃣ Saudi Arabia 100%
5⃣0⃣ Singapore 17%
5⃣1⃣ Somalia 100%
5⃣2⃣ Sri Lanka 9%
5⃣3⃣ Sudan 85%
5⃣4⃣ Syria 90%
5⃣5⃣ Tazakistan 85%
5⃣6⃣ Tanzania 65%
5⃣7⃣ Thailand 14%
5⃣8⃣ Tunisia 98%
5⃣9⃣ Turkey 99.8%
6⃣0⃣ UAE 96%
6⃣1⃣ UK 2.5%
6⃣2⃣ USA 3.75%
6⃣3⃣ Uzbekistan 88%

🏯 *Darimana Rasul-Rasul itu berasal..???*

🌠 *Adam* (Alaihi Salam) - Sri Lanka
🌠 *Nuh* (Alaihi Salam) - Jordan
🌠 *Shu'aib* (Alaihi Salam) - Syria
🌠 *Saleh* (Alaihi Salam) - Lebanon
🌠 *Ibrahim* (Alaihi Salam) - Palestine and died in iraq
🌠 *Ismail* (Alaihi Salam) - Saudi Arabia
🌠 *Yakub* (Alaihi Salam) - Palestine
🌠 *Yahya* (Alaihi Salam) - Palestine
🌠 *Zakariya* (Alaihi Salam) - Palestine
🌠 *Ishaq* (Alaihi Salam) - Palestine
🌠 *Yusuf* (Alaihi Salam) - Palestine
🌠 *Luuth* (Alaihi Salam) - Iraq
🌠 *Ayub* (Alaihi Salam) - Jordan
🌠 *Hoed* (Alaihi Salam) - Yamen
🌠 *MUHAMMAD* ( _*Shallallahu Alaihi Wasalam*_) - Saudi Arabia

📝 *Usia para Rasul* 📝

✅ Adam (Alaihi Salam) - 1000 Tahun
✅ Nuh (Alaihi Salam) - 950 Tahun
✅ Shu'aib (Alaihi Salam) - 882 Tahun
✅ Saleh (Alaihi Salam) - 586 Tahun
✅ Zakariyya (Alaihi Salam) - 207 Tahun
✅ Ibrahim (Alaihi Salam) - 195 Tahun
✅ Sulaiman (Alaihi Salam) - 150 Tahun
✅ Ismail (Alaihi Salam) - 137 Tahun
✅ Yakub (Alaihi Salam) - 129 Tahun
✅ Musa (Alaihi Salam) - 125 Tahun
✅ Ishaq (Alaihi Salam) - 120 Tahun
✅ Harun (Alaihi Salam) - 119 Tahun
✅ Yusuf (Alaihi Salam) - 110 Tahun
✅ Isa (Alaihi Salam) - 40 Tahun
✅ *NABI MUHAMMAD* ( _*Shallallaahu Alaihi Wasalam*_) - 63Tahun

 

Shollu 'alanNabiiy saw

Iqro pada AyatNYA


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ........

DIA berbicara lewat tanda tanda Alam......
.. Itulah Ayat AyatNYA  jua....
Yuk kita membaca ayat ayatNYA
(Iqro)

Simbol Banjir /Air Bah ,
Seolah DIA mengatakan  banyak IlmuNYA  yang  tidak dimanfaatkan dijalanNYA....
Itupun jika air nya bening....dan air adalah simbol Ilmu......

Bagaimana jika air itu keruh bercampur lumpur ?...

Itu simbol bahwa Manusia banyak yg mencampurkan  IlmuNYA yang haq dengan yang batil.......inti nya HAQ dan BATIL bercampur...

Bagaimana dengan simbol jalan ?
Jalan dan Jembatan adalah simbol penghubung...
Penghubung antara HambaNYA dgNYA ...bisa Guru, Wali..Ustadz, dll ...

Jika Para Guru dan Para Waliyulloh sudah tidak dihargai  lagi... maka DIA akan  putuskan penghubung itu sehingga manusia tidak bisa mencapai NYA melalui jalan penghubung itu...

Wallahu a'lam bish showwab...

Asshollaatu wasallaamu 'alaiyka yaa Sayyidi Yaa Rosulullaah.....