14 November 2012

Jangan membuang sampah ke otak kita...Ayo..positifve thinking



Mudah curiga, 

suka mengeluh,

 kurang percaya diri,

 merasa takut,

 cepat menyerah,

 mengatakan " Tidak Bisa " sebelum memulai sesuatu, 

dan sebagainya ...............

sama saja menanamkan nilai-nilai negatif dalam pikiran kita. 

 Jika hal ini berlarut dan menjadi kebiasaan maka semakin banyak sampah yang bertumpuk di dalam otak kita.

Sampah-sampah itu, jika dibiarkan menumpuk maka akan mengganggu kesehatan, baik fisik maupun spiritual kita.

 Akibatnya,  akan mudah stress dan tidak ada kebaikan yang kita peroleh. 

Hidup yang seharusnya indah menjadi tidak bisa ternikmati.

 Buatlah daftar catatan perilaku negatif pada diarymu dan Ingatkan diri untuk tidak mengulanginya lagi.

 Biasakanlah untuk tidak mengeluh, berani, pantang menyerah, dan mengatakan " Bisa ". 

 Tanamkan selalu sikap positif dalam benak kita. 

Ubahlah sampah-sampah dalam otak kita menjadi untaian mutiara positif yang akan membawa pada perasaan nyaman dan bahagia.

Ketahuilah, apa saja yg kita fikirkan, baik dan buruknya akan terwujudkan , manfaat serta mudharat hasil dari fikiran kita akan kembali pd diri sendiri ..

Maka, Optimislah wahai Sahabat, jangan Pesimis !!!



 Islam mengajarkan sikap dan tindak optimis, karenanya karakter optimis adalah salahsatu modal dasar keberhasilan hidup, konsep “fastabiqul khairat”—common virtues, atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

 “fastabiqul khairat”—common virtues .... , menunjukkan bahwa sukses itu harus dimulai dengan niat yang lurus, semangat tinggi, kebersamaan serta sikap optimis karena yakin Allah akan meridhoi segala usaha kita sepanjang itu dilandasi dengan tekad yang kuat untuk semata-mata mengabdi kepadaNya...

 Ada Sebuah Pepatah, bahwa “Pelaut Ulung tidak lahir dari laut yang tenang”

 Perjuangan hidup itu memerlukan pengorbanan, “No pain no gain”

Sahabat,  Tak ada yang “gratis” dalam hidup ini, semuanya harus diperjuangkan dengan kerja keras, kerja cerdas serta kerja ikhlas, selama hayat masih dikandung badan.


 Seseorang yang optimis tidak ‘buta kebahagiaan’ atau mengabaikan permasalahan. 

Tapi sebaliknya melakukan pilihan secara terus menerus untuk merespon dalam tindakan yang membangun baik dalam keadaan positif ataupun negatif. 

Tapi sebenarnya setiap orang bisa mengembangkan diri untuk selalu berpikir positif. 

Perbedaan dari orang yang berpikiran positif dan orang berpikiran negatif adalah bagaimana mereka menghadapi sebuah situasi.

 Seorang yang pesimis melihat sebuah kejadian buruk sebagai sesuatu yang mempengaruhi seluruh kehidupannya, terlihat dari pernyataan seperti ‘Tak pernah ada hal bagus yang terjadi padaku.’ Atau ‘tentu saja ini akan berakibat buruk…bagaimana jadinya hidupku nanti?’ Saat mengalami kejadian buruk membuat si pesimis semakin yakin kalau mereka korban ketidakberuntungan.

 Beda dengan seorang yang optimis, biasanya memiliki kemampuan untuk mengisolasi hal-hal negatif dan menjaga sikap serta pemikiran bahwa apa yang dialaminya hanya sebuah kejadian, bagian dari keseluruhan hidupnya.
 
Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam  telah mengajarkan agar umatnya selalu optimis, termasuk dalam hal menghadapi kematian.
 Ingatlah !!,
Orang yang paling cerdas  adalah orang yang banyak mengingat kematiannya, untuk kemudian giat mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. 

 Rasululah Shollallahu a'laihi wasallam mengatakan, sekalipun engkau mengetahui bahwa esok adalah kiamat dan ditanganmu ada sebutir biji kurma, maka tanamlah !, 

Artinya ada pesan moral yang luhur dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam , agar umat Islam senantiasa yakin dan optimis dengan masa depan, tidak mengeluh, cengeng apalagi putus asa menghadapinya. 

Lakukan saja semua ikhtiar sesuai dengan kemampuan, “do what you have to do”, setelah itu serahkan hasilnya dengan ikhlas (nothing to lose) serta tawakkal kepada Allah. 

Dengan demikian tak ada beban hidup ang sia-sia, karena setiap pekerjaan kita adalah dalam rangka ibadah kepadaNya. 

Seorang yang berpikiran optimis,  melihat kegagalan sebagai kemunduran sesaat, bukan sebuah kondisi yang permanen. 

 Seorang yang memiliki pemikiran optimis ,memahami bahwa saat mereka gagal bukan berarti mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk meraihnya, melainkan hanya sebuah pelajaran yang akan membawa mereka mencapai tujuan dengan cara lebih sempurna. 

Dengan belajar dari kesalahan, ke depannya mereka akan dapat mengurangi kesalahan dalam melakukan sesuatu dan pada akhirnya melakukan cara yang benar. 

Orang-orang optimis memilih bersikap tenang dalam segala situasi buruk yang dihadapinya. 

Orang-orang optimis memahami bagaimana memisahkan emosi dari situasi yang dihadapinya ini dengan situasi yang sebenarnya, dan mereka memiliki kemampuan untuk tetap bertindak rasional, mengatasi situasi dengan kepala dingin di tengah tekanan.  

Orang-orang optimis tidak menghadapi permasalahan secara pribadi tapi tetap bersikap obyektif dalam keadaan apa pun. Jika kita telah memahami bagaimana menjadi seorang yang optimis di atas, dan mempraktekannya dalam keseharian, lalu mengubah kita menjadi seseorang yang berpikir positif. 

Jangan mengharapkan orang-orang di sekeliling kita langsung menghargai sikap optimis ini, persiapkan diri untuk mengatasi segala hal negatif tersebut.

 Berfikir positif- (positifve thinking) juga perlu kewaspadaan. Dalam keseharian kita perlu berfikir positif. Tentu saja tanpa harus kehilangan kewaspadaan. Ayo optimis !…







Tidak ada komentar:

Posting Komentar