23 Desember 2009

HANCURNYA IBU PERADABAN DUNIA


WANITA setengah baya menjerit hiteris di depan Museum Nasional Irak, pusat kota Baghdad. Dengan berurai air mata, ia melontarkan sumpah serapah. ''Lihatlah ulah sekelompok manusia biadab, telah menghancurkan karya agung umat manusia,'' katanya berapi-api, sembari tangannya menunjuk benda-benda museum yang porak-poranda.

Bukan hanya dia yang menuding tentara Amerika Serikat sebagai biang perusak benda warisan sejarah dunia. Sejumlah arkeolog Inggris juga mencurigai Washington punya peran besar atas raibnya puluhan ribu benda bersejarah museum di Irak. Mereka curiga, Pentagon telah diperalat para kolektor jahat pemburu benda purba.
Para kolektor itu, kata mereka, minta pemerintah membiarkan benda-benda bersejarah di Irak dijarah, kemudian diperdagangkan di pasar gelap. Walau Pentagon berusaha menepis tudingan tersebut, toh sejumlah fakta memperkuat penilaian arkeolog Inggris. Kolektor benda purbakala di Amerika yang tergabung dalan American Council for Cultural Policy, awal Januari lalu, menemui Presiden George W. Bush di Gedung Putih.

Mereka membicarakan aturan main dalam bidang kepurbakalaan Irak setelah pemerintahan Saddam Hussein dirobohkan. Fakta lain, jauh-jauh hari sebelum serangan ke Irak dilancarkan, pakar-pakar kepurbakalaan Amerika minta Pentagon melindungi kekayaan budaya Irak dari penjarahan. ''Mereka menjamin hal itu tak akan terjadi,'' ujar Profesor McGuire Gibson, pakar arkeologi dari Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Prakteknya, Pentagon sama sekali tidak menyiapkan rencana pengamanan benda-benda purbakala yang tak ternilai harganya itu. Anggota pasukan Amerika yang bertugas di pelbagai kota di Irak membiarkan aksi-aksi penjarahan museum berlangsung. ''Padahal, saya sudah melapor dan meminta bantuan tentara Amerika untuk melindungi museum. Mereka menolak,'' ujar Abdul Rahman Mugeer, anggota Satuan Pengamanan Museum Nasional Irak.

Tentu saja Mugeer jengkel dengan sikap tentara Amerika yang dinilainya tak berbudaya. Tapi, ia sendiri tak kuasa membendung aksi para penjarah yang menyerbu Museum Nasional Irak, satu dari sepuluh museum terbesar di dunia. Para penjarah menyandang senapan mesin mengancam akan membunuh penjaga bila tidak membuka pintu museum.

McGuire Gibson, Mounir Bouchenaki [UNESCO], & Salma El Radi [University of New York] (Yahoo! News/AP) ''Kalau saja Amerika segera menempatkan tank di depan museum, penjarahan barang-barang museum tidak akan terjadi,'' kata Mugeer, kesal. Ia pantas jengkel, karena penjarahan Museum Nasional Irak mengakibatkan 80% dari 170.000 benda purbakala rusak berat dan hilang. Antara lain, harpa emas karya seniman Mesopotamia 5.000 tahun silam hilang dari tempat penyimpanannya.

Satu-satunya lemari kaca museum ini yang masih utuh adalah lemari katalog. Tak cuma benda-benda purbakala yang terbuat dari emas, perak, dan perunggu yang hilang. Gedung Arsip dan Perpustakaan Nasional, yang berjarak sekitar 500 meter dari Museum Nasional Irak, kehilangan ratusan koleksi kitab kunonya. Berbagai naskah bersejarah hangus terbakar kena hantaman rudal.

Lembaran-lembaran surat tulisan tangan dari masa Kekhalifahan Ottoman tak ketahuan lagi di mana rimbanya. Malah, arsip-arsip tulisan tangan sekitar Perang Irak-Iran kurun waktu 1980-1988 raib bersamaan dengan terbakarnya peralatan mikrofilm.

Museum Mosul, yang tak kalah terkenal dibandingkan dengan Museum Nasional Irak di Baghdad, tidak luput dari penjarah segera setelah pasukan Amerika menduduki kota itu. Berbagai peninggalan, dari benda perhiasan, ukiran, arca, sampai naskah kuno, hilang atau rusak berat. Patung Raja Saqnatroq II, yang usianya lebih dari 2.000 tahun, pun lenyap.

Sisa - Sisa Penjarahan Museum di Baghdad (Yahoo! News/AFP) Kurator Museum Mosul, Mohammad, marah menyaksikan museumnya hancur. ''Selama ini, banyak turis dari Amerika dan Inggris yang datang ke berbagai museum di Irak. Mereka niscaya tidak dapat menerima keadaan seperti ini,'' tutur Mohammad. Yang membuat dadanya lebih sesak, tentara Amerika tak mau turun tangan mengamankan gedung museum.

Kondisi peninggalan sejarah di kota Ur, yang sudah berusia 4.000 tahun, tak kalah menyedihkan. Di kota kelahiran Nabi Ibrahim, di kawasan Irak Selatan, itu berdiri Kuil Ziggurat. Kondisi kuil peninggalan peradaban Sumeria, abad ke-20 SM, itu kian parah. Pecahan bom yang dijatuhkan pesawat Amerika merusak dinding dan bagian atas kuil tersebut.

Ziggurat sendiri berarti tinggi, melambangkan gunung. Di masa silam, kuil ini dikelilingi pepohonan. Menurut kepercayaan masyarakat Irak kuno, dewa-dewa turun ke bumi di puncak kuil, sehingga para pendeta pun harus mendaki lereng kuil. Di zaman Kerajaan Assiria dan Babilonia, sekitar abad ke-15 SM, kuil itu tetap memegang peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakatnya.

Bangsa Sumeria tidak saja meninggalkan bangunan-bangunan bersejarah seperti Kuil Ziggurat. Kelompok etnis yang hidup dan berkembang di seputar kawasan antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat ini mewariskan peninggalan lebih banyak lagi bagi perkembangan peradaban manusia di kemudian hari.

Dua Turis Yang Mengunjungi Museum di Baghdad (Yahoo! News/AP) Aksara dan bentuk tulisan tertua di dunia, misalnya, berasal dari bangsa yang berjaya selama lebih dari 1.000 tahun (abad ke-30 SM hingga abad ke-18 SM) yang bermukim di kawasan ini. Selain menciptakan aksara, bangsa Sumeria juga sudah mengenal dan mengembangkan teknologi. Pada masa itu, mereka sudah membuat perkakas dari bahan metal.

Mereka pula yang menemukan wahana pertama menggunakan roda serta jentera pembuat tembikar. Malah, bangsa Mesir, Semit, dan Yunani mengadopsi sistem kalender karya bangsa Sumeria. Para bijak-bestari bangsa ini mengembangkan kalender dengan pedoman peredaran bulan. Sedangkan pemikir Mesir, Semit, dan Yunani mengembangkannya dengan landasan waktu edar matahari.

Para sejarawan sepakat menjuluki kawasan lembah Sungai Tigris dan Eufrat sebagai tempat lahirnya peradaban dunia. Di sana ''ibu peradaban dunia'' bersemayam. Invasi Amerika dan sekutunya bukan saja menyengsarakan rakyat Irak, juga dinilai telah membunuh ibu peradaban dunia.

Serangan Amarika dan sekutunya kali ini menyempurnakan kehancuran dan pemusnahan peradaban di Irak dalam Perang Teluk I pada 1991. Dalam masa perang yang dipicu pencaplokan wilayah Kuwait oleh pasukan Irak itu, banyak benda bersejarah Irak hilang. Benda-benda purbakala, beberapa tahun kemudian, ditemukan di pasar lelang benda antik di sejumlah negara Eropa dan Amerika.

Tim Komando Pusat Amerika di Ziggurat (AP Photo/US Central Command) Tercatat lebih dari 4.000 keping benda bersejarah hilang dari berbagai museum di Irak saat berkecamuk Perang Teluk I. Patung-patung peradaban Assiria hilang dari tempat penyimpanannya di Museum Mosul. Bahkan, sebagian lempengan logam berisi Code Hammurabi, kodifikasi hukum pertama dalam sejarah umat manusia yang dibuat Raja Hammurabi (1792-1950 SM) dari Babilonia, juga digarong.

Benda-benda itu kemudian banyak ditemukan di pasar lelang internasional, di British Museum di London, Museum Louvre di Paris, dan Museum Berlin. ''Kejadian serupa kini terulang,'' kata Profesor Gibson, guru besar arkeologi dari Universitas Chicago. Ia menyatakan, beberapa benda yang hilang dari museum di Irak kini sudah ada dan dijual di Paris.

Sebelumnya, Baghdad pernah mengalami penghancuran dan pemusnahan yang tiada tara. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban di kota itu luluh lantak dalam sebuah serangan yang dilakukan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulaghu Khan pada 1258. Seluruh kekayaan ilmu pengatahuan Baghdad dihancurkan. Puluhan ribu bahkan mungkin ratusan buku dihanyutkan ke Sungai Tigris.

Berbagai bangunan kuno, istana, hingga rumah penduduk dibumihanguskan. Walau demikian, penghancuran di Baghdad ternyata tidak menghentikan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban di kota-kota lainnya di Irak. Namun, kehancuran total seperti itu akhirnya dialami kota-kota lainnya, setelah penerus Hulaghu Khan, Timur Lenk (1336-1405), menyerang kembali Baghdad pada 1401.

Seorang Pekerja di Perpustakaan Nasional Irak Yang Mencoba Mengumpulkan Sisa-Sisa Buku (Yahoo! News/Reuters) Bangsa Mongol bercokol menguasai Baghdad selama 100 tahun lebih. Sebelum serangan bangsa Mongol, Baghdad yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Abassiyah dikenal sebagai gudang ilmu pengetahuan dan peradaban. Kota itu tempat berkumpul para ilmuwan, filsuf, pemikir, dan pendidik kenamaan. Perpustakaan Islam Baghdad menyimpan karya ilmu termasyhur.

Kaum cerdik cendekia yang berdiam di Baghdad rajin, meneliti, mengkaji, dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan. Mulai ilmu kimia, matematika, astronomi, kedokteran, hingga filsafat dan sastra. Mereka pun sangat produktif melahirkan karya-karya dalam bentuk buku ataupun naskah ilmiah.

Awal abad ke-16, Baghdad dikuasai secara bergantian oleh bangsa Persia, Turki, dan Inggris. Bangsa Persia merebut kota itu dari bangsa Mongol pada 1508. Kamudian Kerajaan Safawi yang didirikan Ismail I itu berkuasa di Baghdad hingga 1683. Dalam periode ini, Kerajaan Turki Usmani berhasil merebut ''kota 1001 Malam'' itu. Sebelum Irak menyatakan kemerdekaannya pada 1932, Inggris sempat menduduki Baghdad selama kurang lebih 15 tahun.

Penjagaan Museum Nasional di Baghdad (Yahoo! News/Reuters) Setelah mengalami kehancuran dan pembumihangusan oleh bangsa Mongol, pelan-pelan berbagai peninggalan bersejarah kembali terkumpul di sejumlah museum. Berbagai buku dan naskah kuno pun kembali mengisi rak-rak yang ada di sejumlah perpustakaan. Kekayaan peninggalan peradaban yang terkumpul sampai akhir abad ke-20 itu kini kembali hancur dan tercerai-berai.

Entah berapa abad lagi diperlukan untuk memperkaya kembali koleksi yang sangat tidak ternilai itu. Terlebih lagi, ada isyarat bahwa Pemerintah Amerika yang memicu pemusnahan bukti peradaban manusia di Irak terkesan cuek saja. Sial. Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld bilang, bantuan pembangunan pascaperang untuk Irak tidak termasuk soal kerusakan dan raibnya benda-benda bersejarah.

Pernyataan Rumsfeld memicu reaksi para pakar arkeologi Lembaga Arkeologi Amerika Serikat. Mereka menyerukan agar Pentagon memerintahkan personel pasukan Amerika di Irak mencari benda-benda purbakala yang hilang. ''Banyak sekali benda sejarah dunia terbaik hilang di Irak,'' kata Patty Gerstenblith, ilmuwan dari Lembaga Arkeologi Amerika Serikat.

Namun, sejauh ini, belum terdengar kabar tentara Amerika menangkap pencuri atau penadah benda bersejarah yang digasak dari Irak. Lagi pula, mengembalikan benda sejarah peradaban dunia ke kampung halamannya tak semudah menghancurkan Baghdad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar