Keagungan pribadi Nabi Muhammad SAW tidak ada bandingannya,sebab Nabi Muhammad SAW akan memimpin umat manusia di permukaan bumi ini. Keagungan pribadi Nabi Muhammad SAW adalah untuk rahmat bagi seluruh alam,seluruh makhluk.
Nabi Muhammad di lahirkan dari keturunan orang yang mulia,bukan keturunan yang rendah. Nabi Muhammad termasuk saudagar Quraisy yang paling sukses dan kaya raya, bahkan Nabi Muhammad kaya jiwa dan kaya budi. Artinya meskipun beliau kaya raya, namun kekayaan beliau ini untuk kejayaan Islam, seperti memerdekakan perbudakan, menyantuni orang-orang yang faqir dan miskin, anak-anak yatim, dan membela yang lemah.
Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai yatim piatu dan penuh kasih sayang. Maka karena yatim piatu ini, Nabi Muhammad dapat merasakan betapa pentingnya kasih sayang terhadap sesama.
Meneladani Kepribadian Nabi Muhammad SAW antara lain :
- Jiwanya murni dan niatnya sangat ikhlas. Beliau tidak suka di puji.
- Beliau tidak suka bersenang-senang. Beliau tetap sangat kasih sayang kepada sesama, terutama kapada fakir miskin dan yatim.
- Beliau sangat sopan santun,pemalu,tidak pernah mencaci maki atau menggunjing kapada orang lain.
- Beliau mencintai hidup sederhana,tidak suka bermewah-mewah,di samping suka bekerja keras untuk memperoleh nafkah dengan tidak menggantunngkan kepada orang lain.
- Beliau sangat cakap dan tangkas dalam melakukan tugas yang di amanatkan kepada dirinya.
- Nabi Muhammad SAW bukan orang pemarah, pendendam,tetapi pemaaf dan suka memberi ampun.
- Beliau sangat rendah hati dan dermawan.
- Beliau tidak pernah melupakan jasa orang lain. Sekecil apapun pemberian orang,tidak pernah di lupakannya selama hidup.
catatan :
Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
09 Juni 2010
Kisah Tentang Wanita-Wanita Yang Soleh
Dari Kalam Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi
Nur pernah berkata kepadaku, "Aku mendengar seruan Allah di akhir malam: Bangunlah, mintalah apa saja yang kau inginkan, kebutuhan dunia maupun agama, Aku akan memberimu saat ini juga". Ayah beliau, Habib Abdullah bin Husein memberinya wasiat:
Wahai Nur,
jika kau menginginkan nur,
dan hati makmur,
dada lapang dan bahagia,
taatlah selalu kepada Allah.
Ahmad bin Abdullah juga bercerita, "Suatu hari aku duduk bersama Nur. Ketika masuk waktu salat, ia bertanya, "Dimana arah kiblat?" Dengan maksud bercanda, aku menunjuk arah lain, bukan arah kiblat. Ketika ia mulai mengangkat tangannya hendak bertakbir, ia berkata, "Arah kiblatnya bukan ke situ. Kau pikir aku tidak tahu arah kiblat. Demi Allah, aku tidak mengucapkan takbiratul ihram, kecuali setelah benar-benar melihat ka'bah".
Suatu hari aku berkunjung ke rumah Hababah Nur bersama beberapa orang sahabatku. Hababah Nur berpesan, "Wahai keluargaku, curahkan perhatianmu pada ilmu Fiqih, sebab dengan ilmu Fiqih-lah syariat suci ini akan dapat tegak. Namun masyarakat telah meninggalkan ilmu Fiqih. Padahal ilmu fiqih merupakan inti (agama). Allah...Allah dalam Fiqih, ketahuilah ilmu ini akan hilang.
Dan kau (wahai Ali), hendak pergi ke Tarim, bukan? Jadikanlah semua topik ceramahmu tentang wara', juga masalah halal dan haram. Sebab, semua yang haram telah tersebar merata dan sikap wara' telah meninggalkan lembah ini. Anjurkanlah mereka untuk bersikap wara' dan meninggalkan semua yang syubhat. Ketahuilah, makanan haram akan melemahkan hati".
Perhatikan generasi dahulu, para wanitanya banyak yang saleh. Hababah Nur ini hidup di zamanku. Dikatakan bahwa: "Betapa banyak rambut terurai (wanita) lebih baik dari jenggot (pria)" Ibu Habib Abdullah bin Husein bin Tohir lebih agung lagi. Beliau adalah Hababah Syeikhoh binti Abdullah bin Yahya. Dari pasangan suami istri ini lahir Husein, Tohir, Abdullah dan Khodijah. Khodijah adalah ibu Habib Abdullah bin Umar bin Yahya.
Suatu hari Habib Abdulkadir bin Muhammad Al-Habsyi yang tinggal di Ghurfah mengunjungi para Habaib yang tinggal di kota Masileh. Mereka semua merasa senang dengan kedatangannya. Orang-orang mengatakan bahwa beliau gemar bermujahadah yang berat-berat, dan berulang kali melakukan arbainiyah (khalwat selama 40 hari). Selama dua puluh tahun beliau tidak minum air. Habib Tohir dan Habib Abdullah melaporkan hal ini kepada ibunya, "Wahai ibu, Habib Abdulkadir ini amalnya begini dan begini. Telah dua puluh tahun beliau tidak minum air".
"Dia lelaki yang baik, perbuatannya baik, dan apa yang telah disifatkan oleh orang-orang tentang dirinya sangat baik. Ambilkanlah sebuah teko lalu penuhilah dengan air", perintah ibunya. "Berikan teko ini kepadanya dan katakan: ibu kami mengucapkan salam dan berpesan agar kau meminum air ini sebagaimana kakekmu Muhammad saw meminumnya. Keutamaan kaum sholihin terletak pada kemampuannya meninggalkan larangan. Apakah selama dua puluh tahun ini engkau tidak mengerjakan yang makruh; apakah tidak pernah terlintas di hatimu untuk melakukannya? Kalau sekedar ibadah, para wanita tua pun dapat melakukannya. Demikian pesan ibu mereka setelah diambilkan teko yang penuh air.
"Kami tidak berani bersikap kurang ajar kepadanya, Bu". "Berikan teko ini lalu sampaikan pesanku kepadanya jika kalian menginginkan kebaikan dan keberkahan". Mereka berdua lalu menemui Habib Abdulkadir dan menyampaikan pesan ibunya. "Benar, ibumu benar. Sungguh dia adalah seorang murabbiyah (pendidik) yang baik. Sungguh beliau sebaik-baik muaddibah (pendidik). Sungguh baik ucapannya. Bawa sini air itu", jawab Habib Abdulkadir. Setelah teko Itu beralih ke tangannya, beliau pun segera meminum airnya. (N:102-105)
Suatu hari aku dan Ahmad Ali Makarim berjalan-jalan di kota Bur. Kami berbincang-bincang tentang masalah nafs. Jauh dari situ ada beberapa wanita sedang mencari kayu di tepi sungai yang sudah kering. Tiba-tiba salah seorang dari wanita-wanita itu mendatangi kami dan berkata, "Tidak ada yang merintangi manusia dari Tuhannya kecuali nafs". Kami berkata kepadanya, "Kau benar, Allah telah memuliakanmu dengan hikmah". Wanita itu kemudian pergi untuk bergabung kembali dengan teman-temannya. Rupanya pembicaraan kami di-kasyf oleh wanita tadi. (N:235)
Sholeh bin Nukh berkata kepadaku, "Wahai Habib Ali, aku memiliki anak perempuan yang saleh". "Bagaimana kau tahu dia seorang saleh?" "Aku pernah bertanya kepadanya, "Senangkah kau jika ada seseorang yang memberimu satu peti perhiasan?" Dia menjawab, "Wahai ayah, apakah perhiasan ini dapat menyenangkan hati seseorang? Perhiasan hanya akan melukai hati". Aku bertanya lagi, "Bagaimana pendapatmu jika kau dapat melihat Allah Yang Maha Mulia?" Mendengar ucapanku ini, ia terjatuh dan menangis selama tiga hari. Apakah ia seorang wanita saleh?"
"Ya, dia adalah seorang wanita yang saleh...sungguh-sungguh wanita yang saleh?" Salim bin Abubakar (bin Abdullah Alatas) berkata kepadaku, "Aku pernah mendengar Sholeh bin Nukh dan anak perempuannya berdzikir kepada Allah berdua di rumahnya, suara mereka seakan-akan suara 100 orang". (N:463-464)
http://www.asyraaf.net/v2/kalam.php?op=2&id=36
SIAPAKAH YANG DISEBUT BA'ALAWI?
Risalah kecil ini adalah usaha seorang insan kerdil untuk memberi sedikit maklumat mengenai Ba'alawi.lni ialah kerana ramai keturunan Ba'alawi dewasa ini yang mempunyai sedikit sekali, malah ada yang langsung tiada mempunyai pengetahuan, mengenai asal usul mereka. Saya amat berharap bahawa risalah yang cetek ini dapat menyingkap serba sedikit tentang asal usul Ba'alawi, serta menaruh harapan agar ia dapat mencetuskan minat lalu mendorong golongan Sadah daripada keturunan Ba'alawi untuk mengenali susur galur mereka secara lebih dekat lagi. Alangkah baiknya kalau risalah inidapat disebar luas bagi menemui seramai keturunan Alawi yang mungkin. Semoga usaha ini diberkati Allah swt.
Jaafar bin Abu Bakar Al 'Aydarus
KAUM ALAWIYIN DI HADRAMAUT
Nabi Hud as dan Hadramaut.
Hadramaut adalah suatu daerah yang terletak di Timur Tengah, tepatnya di kawasan seluruh pantai Arab Selatan dari mulai Aden sampai Tanjung Ras al-Hadd. Menurut sebagian orang Arab, Hadramaut hanyalah sebagian kecil dari Arab Selatan, yaitu daerah pantai di antara pantai desa-desa nelayan Ain Ba Ma'bad dan Saihut beserta daerah pegunungan yang terletak di belakangnya. Penamaan Hadramaut menurut penduduk adalah nama seorang anak dari Qahthan bin Abir bin Syalih bin Arfahsyad bin Sam bin Nuh yang bernama Hadramaut, yang pada saat ini nama tersebut disesuaikan namanya dengan dua kata arab hadar dan maut.
Nabi Hud merupakan salah satu nabi yang berbangsa Arab selain Nabi Saleh, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Nabi Hud diutus kepada kaum 'Ad yang merupakan generasi keempat dari Nabi Nuh, yakni keturunan Aus bin Aran bin Sam bin Nuh. Mereka tinggal di Ahqaf yakni jalur pasir yang panjang berbelok-belok di Arab Selatan, dari Oman di Teluk Persia hingga Hadramaut dan Yaman di Pantai Selatan Laut Merah. Dahulu Hadramaut dikenal dengan Wadi Ahqaf, Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa al-Ahqaf adalah al-Khatib al-Ahmar. Makam Nabi Hud secara tradisional masih ada di Hadramaut bagian Timur dan pada tanggal 11 Sya'ban banyak dikunjungi orang untuk berziarah ke makam tersebut dengan membaca tiga kali surah Yasin dan doa nisfu Sya'ban. Ziarah nabi Hud pertama kali dilakukan oleh al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan setelah beliau wafat, ziarah tersebut dilakukan oleh anak keturunannya. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad semasa hidupnya sering berziarah ke makam Nabi Hud. Beliau sudah tiga puluh kali berziarah ke sana dan beliau lakukan pada setiap bulan Sya'ban. Dalam ziarah tersebut beliau berangkat bersama semua anggota kerabat yang tinggal di dekatnya. Beliau tinggal (di dekat pusara Nabi Hud) selama beberapa hari hingga maghrib menjelang malam nisfu sya'ban. Beliau menganjurkan kaum muslimin untuk berziarah ke sana, bahkan beliau mewanti-wanti, "Barangsiapa berziarah ke (makam) Nabi Hud dan di sana ia menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ia akan mengalami tahun yang baik dan indah." Menurut sebagian ulama kasyaf, makam Nabi Hud merupakan tempat penobatan para waliyullah.
Setibanya di syi'ib Nabi Hud (lembah antara dua bukit tempat pusara nabi Hud), Imam al-Haddad bertemu dengan beberapa orang sayyid dan waliyullah, sehingga pertemuan itu menjadi majlis pertukaran ilmu dan pandangan.
Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah 'Hazar Maweth' yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan "hadirnya kematian" yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia. Pengertian lain kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah "panas membakar", sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).
Kota-kota di Hadramaut.
Di antara pelabuhan yang cukup penting di pantai Hadramaut adalah al-Syihir dan al-Mokalla. Asy-Syihir merupakan bandar penting yang melakukan perdagangan dengan pantai Afrika Timur, Laut Merah, Teluk Persia, India dan pesisir Arab Selatan terutama Moskat, Dzofar dan Aden serta perdagangan dengan bangsa Eropa dan bangsa-bangsa lainnya. Kota Syibam merupakan salah satu kota penting di negeri itu. Syibam merupakan kota Arab terkenal yang dibangun menurut gaya tradisional. Di kota ini terdapat lebih dari 500 buah rumah yang dibangun rapat, bertingkat empat atau lima. Orang Barat menjulukinya 'Manhattan of the Desert'. Kota tua ini telah menjadi ibukota Hadramaut sejak jatuhnya Syabwah (pada abad ke 3 sampai abad ke 16). Karena dibangun di dasar wadi yang agak tinggi, kota ini rentan terhadap banjir, seperti yang dialaminya tahun 1532 dan 1533. Kota-kota besar di sebelah Timur Syibam adalah al-Gorfah, Syeiun, Taribah, al-Goraf, al-Sowairi, Tarim, Inat dan al-Qasm.
Saiun merupakan kota terpenting di Hadramaut pada abad ke 19, kota terbesar yang merupakan ibukota protektorat terletak 320 km dari Mokalla'. Ia juga sering dijuluki 'Kota Sejuta Pohon Kurma' karena luasnya perkebunan kurma di sekitarnya.
Kota lain di sebelah Timur Syibam adalah Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun. Di satu sisi kota ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi'i. Antara abad ke 17 dan abad ke 19 telah terdapat lebih dari 365 masjid. Kota Tarim atau biasa dibaca Trim termasuk kota lama. Nama Tarim, menurut satu riwayat diambil dari nama seorang raja yang bernama Tarim bin Hadramaut. Dia juga disebut dengan Tarim al-Ghanna atau kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai. Kota tersebut juga dikenal dengan kota al-Shiddiq karena gubernurnya Ziyad bin Lubaid al-Anshari ketika menyeru untuk membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, maka penduduk Tarim adalah yang pertama mendukungnya dan tidak ada seorang pun yang membantahnya hingga khalifah Abu Bakar mendoakan penduduk Tarim dengan tiga permintaan: (1) agar kota tersebut makmur, (2) airnya berkah, dan (3) dihuni oleh banyak orang-orang saleh. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ba'abad berkata bahwa: "al-Shiddiq akan memberikan syafa'at kepada penduduk Tarim secara khusus".
Menurut suatu catatan dalam kitab al-Ghurar yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid, bahwa keluarga Ba'alawi pindah dari Desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521 hijriyah. Setelah kepindahan mereka kota Tarim dikenal dengan kota budaya dan ilmu. Diperkirakan, pada waktu itu di kota Tarim ada sekitar 300 orang ahli fiqih, bahkan pada barisan yang pertama di masjid agung kota Tarim dipenuhi oleh ulama fiqih kota tersebut. Adapun orang pertama dari keluarga Ba'alawi yang hijrah ke kota Tarim adalah Syaikh Ali bin Alwi Khali' Qasam dan saudaranya Syaikh Salim, kemudian disusul oleh keluarga pamannya yaitu Bani Jadid dan Bani Basri.
Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan: (1) keberkahan pada setiap masjidnya, (2) keberkahan pada tanahnya, (3) keberkahan pada pergunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba'alawi menjadi universital-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal pada masanya. Di antara masjid-masjid di kota Tarim yang bersejarah ialah masjid Bani Ahmad yang kemudian dikenal dengan masjid Khala' Qasam setelah beliau berdomisili di kota tersebut. Masjid tersebut dibangun dengan batu, tanah dan kayu yang diambil dari desa Bait Jubair karena tanah dari desa tersebut dikenal sangat bagus, kemudian masjid tersebut dikenal dengan masjid Ba'alawi. Bangunan masjid Ba'alawi nyaris sebagian tiangnya roboh dan direnovasi oleh Muhammad Shahib Mirbath. Pada awal abad ke sembilan hijriyah, Syaikh Umar Muhdhar merenovasi kembali bagian depan dari masjid tersebut.
Naqib dan Munsib.
Di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.
Munsib merupakan perluasan dari tugas 'Naqib' yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang 'naqib' adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim, seperti Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf. Ketika terpilih menjaga 'naqib', beliau mengajukan beberapa persyaratan, diantaranya:
Menurut Syekh Ismail Yusuf al-Nabhani dalam kitabnya 'Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad' berkata: "Salah satu amalan yang khusus yang dikerjakan oleh keluarga Rasulullah, adanya 'naqib' yang dipilih di antara mereka". Naqib dibagi menjadi dua, yaitu:
Naqib Umum ( al-Naqib al-Am ), dengan tugas:
Dari waktu ke waktu tugas 'naqib' semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu 'naqib' jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas 'naqib' tersebut, maka terbentuklah 'munsib'. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan. Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala' Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.
Hadramaut adalah suatu daerah yang terletak di Timur Tengah, tepatnya di kawasan seluruh pantai Arab Selatan dari mulai Aden sampai Tanjung Ras al-Hadd. Menurut sebagian orang Arab, Hadramaut hanyalah sebagian kecil dari Arab Selatan, yaitu daerah pantai di antara pantai desa-desa nelayan Ain Ba Ma'bad dan Saihut beserta daerah pegunungan yang terletak di belakangnya. Penamaan Hadramaut menurut penduduk adalah nama seorang anak dari Qahthan bin Abir bin Syalih bin Arfahsyad bin Sam bin Nuh yang bernama Hadramaut, yang pada saat ini nama tersebut disesuaikan namanya dengan dua kata arab hadar dan maut.
Nabi Hud merupakan salah satu nabi yang berbangsa Arab selain Nabi Saleh, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Nabi Hud diutus kepada kaum 'Ad yang merupakan generasi keempat dari Nabi Nuh, yakni keturunan Aus bin Aran bin Sam bin Nuh. Mereka tinggal di Ahqaf yakni jalur pasir yang panjang berbelok-belok di Arab Selatan, dari Oman di Teluk Persia hingga Hadramaut dan Yaman di Pantai Selatan Laut Merah. Dahulu Hadramaut dikenal dengan Wadi Ahqaf, Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa al-Ahqaf adalah al-Khatib al-Ahmar. Makam Nabi Hud secara tradisional masih ada di Hadramaut bagian Timur dan pada tanggal 11 Sya'ban banyak dikunjungi orang untuk berziarah ke makam tersebut dengan membaca tiga kali surah Yasin dan doa nisfu Sya'ban. Ziarah nabi Hud pertama kali dilakukan oleh al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan setelah beliau wafat, ziarah tersebut dilakukan oleh anak keturunannya. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad semasa hidupnya sering berziarah ke makam Nabi Hud. Beliau sudah tiga puluh kali berziarah ke sana dan beliau lakukan pada setiap bulan Sya'ban. Dalam ziarah tersebut beliau berangkat bersama semua anggota kerabat yang tinggal di dekatnya. Beliau tinggal (di dekat pusara Nabi Hud) selama beberapa hari hingga maghrib menjelang malam nisfu sya'ban. Beliau menganjurkan kaum muslimin untuk berziarah ke sana, bahkan beliau mewanti-wanti, "Barangsiapa berziarah ke (makam) Nabi Hud dan di sana ia menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ia akan mengalami tahun yang baik dan indah." Menurut sebagian ulama kasyaf, makam Nabi Hud merupakan tempat penobatan para waliyullah.
Setibanya di syi'ib Nabi Hud (lembah antara dua bukit tempat pusara nabi Hud), Imam al-Haddad bertemu dengan beberapa orang sayyid dan waliyullah, sehingga pertemuan itu menjadi majlis pertukaran ilmu dan pandangan.
Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah 'Hazar Maweth' yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan "hadirnya kematian" yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia. Pengertian lain kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah "panas membakar", sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).
Kota-kota di Hadramaut.
Di antara pelabuhan yang cukup penting di pantai Hadramaut adalah al-Syihir dan al-Mokalla. Asy-Syihir merupakan bandar penting yang melakukan perdagangan dengan pantai Afrika Timur, Laut Merah, Teluk Persia, India dan pesisir Arab Selatan terutama Moskat, Dzofar dan Aden serta perdagangan dengan bangsa Eropa dan bangsa-bangsa lainnya. Kota Syibam merupakan salah satu kota penting di negeri itu. Syibam merupakan kota Arab terkenal yang dibangun menurut gaya tradisional. Di kota ini terdapat lebih dari 500 buah rumah yang dibangun rapat, bertingkat empat atau lima. Orang Barat menjulukinya 'Manhattan of the Desert'. Kota tua ini telah menjadi ibukota Hadramaut sejak jatuhnya Syabwah (pada abad ke 3 sampai abad ke 16). Karena dibangun di dasar wadi yang agak tinggi, kota ini rentan terhadap banjir, seperti yang dialaminya tahun 1532 dan 1533. Kota-kota besar di sebelah Timur Syibam adalah al-Gorfah, Syeiun, Taribah, al-Goraf, al-Sowairi, Tarim, Inat dan al-Qasm.
Saiun merupakan kota terpenting di Hadramaut pada abad ke 19, kota terbesar yang merupakan ibukota protektorat terletak 320 km dari Mokalla'. Ia juga sering dijuluki 'Kota Sejuta Pohon Kurma' karena luasnya perkebunan kurma di sekitarnya.
Kota lain di sebelah Timur Syibam adalah Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun. Di satu sisi kota ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi'i. Antara abad ke 17 dan abad ke 19 telah terdapat lebih dari 365 masjid. Kota Tarim atau biasa dibaca Trim termasuk kota lama. Nama Tarim, menurut satu riwayat diambil dari nama seorang raja yang bernama Tarim bin Hadramaut. Dia juga disebut dengan Tarim al-Ghanna atau kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai. Kota tersebut juga dikenal dengan kota al-Shiddiq karena gubernurnya Ziyad bin Lubaid al-Anshari ketika menyeru untuk membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, maka penduduk Tarim adalah yang pertama mendukungnya dan tidak ada seorang pun yang membantahnya hingga khalifah Abu Bakar mendoakan penduduk Tarim dengan tiga permintaan: (1) agar kota tersebut makmur, (2) airnya berkah, dan (3) dihuni oleh banyak orang-orang saleh. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ba'abad berkata bahwa: "al-Shiddiq akan memberikan syafa'at kepada penduduk Tarim secara khusus".
Menurut suatu catatan dalam kitab al-Ghurar yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid, bahwa keluarga Ba'alawi pindah dari Desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521 hijriyah. Setelah kepindahan mereka kota Tarim dikenal dengan kota budaya dan ilmu. Diperkirakan, pada waktu itu di kota Tarim ada sekitar 300 orang ahli fiqih, bahkan pada barisan yang pertama di masjid agung kota Tarim dipenuhi oleh ulama fiqih kota tersebut. Adapun orang pertama dari keluarga Ba'alawi yang hijrah ke kota Tarim adalah Syaikh Ali bin Alwi Khali' Qasam dan saudaranya Syaikh Salim, kemudian disusul oleh keluarga pamannya yaitu Bani Jadid dan Bani Basri.
Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan: (1) keberkahan pada setiap masjidnya, (2) keberkahan pada tanahnya, (3) keberkahan pada pergunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba'alawi menjadi universital-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal pada masanya. Di antara masjid-masjid di kota Tarim yang bersejarah ialah masjid Bani Ahmad yang kemudian dikenal dengan masjid Khala' Qasam setelah beliau berdomisili di kota tersebut. Masjid tersebut dibangun dengan batu, tanah dan kayu yang diambil dari desa Bait Jubair karena tanah dari desa tersebut dikenal sangat bagus, kemudian masjid tersebut dikenal dengan masjid Ba'alawi. Bangunan masjid Ba'alawi nyaris sebagian tiangnya roboh dan direnovasi oleh Muhammad Shahib Mirbath. Pada awal abad ke sembilan hijriyah, Syaikh Umar Muhdhar merenovasi kembali bagian depan dari masjid tersebut.
Naqib dan Munsib.
Di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.
Munsib merupakan perluasan dari tugas 'Naqib' yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang 'naqib' adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim, seperti Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf. Ketika terpilih menjaga 'naqib', beliau mengajukan beberapa persyaratan, diantaranya:
- Kepala keluarga Alawiyin dimohon kesediaannya untuk menikahkan anak-anak perempuan mereka dari keluarga kaya dengan anak laki-laki dari keluarga miskin, begitu pula sebaliknya untuk menikahkan anak laki-laki dari keluarga kaya dengan anak perempuan dari keluarga miskin.
- Menurunkan besarnya mahar pernikahan dari 50 uqiyah menjadi 5 uqiyah, sebagaimana perintah shalat dari 50 waktu menjadi 5 waktu.
- Tidak menggunakan tenaga binatang untuk menimba air secara berlebihan.
Menurut Syekh Ismail Yusuf al-Nabhani dalam kitabnya 'Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad' berkata: "Salah satu amalan yang khusus yang dikerjakan oleh keluarga Rasulullah, adanya 'naqib' yang dipilih di antara mereka". Naqib dibagi menjadi dua, yaitu:
Naqib Umum ( al-Naqib al-Am ), dengan tugas:
- Menyelesaikan pertikaian yang terjadi di antara keluarga
- Menjadi ayah bagi anak-anak dari keluarga yatim
- Menentukan dan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang telah membuat suatu kesalahan atau menyimpang dari hukum agama.
- Mencarikan jodoh dan menikahkan perempuan yang tidak punya wali.
- Menjaga silsilah keturunan suatu kaum
- Mengetahui dan memberi legitimasi terhadap nasab seseorang.
- Mencatat nama-nama anak yang baru lahir dan yang meninggal.
- Memberikan pendidikan akhlaq kepada kaumnya.
- Menanamkan rasa cinta kepada agama dan melarang untuk berbuat yang tidak baik.
- Menjaga keluarga dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.
- Menjaga keluarga bergaul kepada mereka yang mempunyai akhlaq rendah demi kemuliaan diri dan keluarganya.
- Mengajarkan dan mengarahkan keluarga tentang kebersihan hati
- Menjaga orang yang lemah dan tidak menzaliminya.
- Menahan perempuan-perempuan mereka menikah kepada lelaki yang tidak sekufu'.
- Menjaga harta yang telah diwakafkan dan membagi hasilnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.
- Bertindak tegas dan adil kepada siapa saja yang berbuat kesalahan.
Dari waktu ke waktu tugas 'naqib' semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu 'naqib' jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas 'naqib' tersebut, maka terbentuklah 'munsib'. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan. Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala' Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.
MANA BUKTI AYAT YANG MELARANG MENIKAHI SYARIFAH SELAIN SAYED..
Dalil-Dalil Yang Mendasari Kafa’ah Syarifah
Pada dasarnya ayat-ayat Alquran yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan ahlul bait secara umum merupakan dalil yang mendasari pelaksanaan kafa’ah dalam perkawinan syarifah. Begitu pula dengan ayat yang terdapat dalam alquran surat al-An’am ayat 87, berbunyi:
ومن أبآئهم وذرّيّتهم وإخوانهم …
“(dan kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka…”
Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab:
ان الله خلق الخلق فجعلني في خيرهم من خيرهم قرنا ثم تخير القبائل فجعلني من خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلني من خيربيوتهم فأنا خيرهم نفسا و خيرهم بيتا
“Allah menciptakan manusia dan telah menciptakan diriku yang berasal dari jenis kelompok manusia terbaik pada waktu yang terbaik. Kemudian Allah menciptakan kabilah-kabilah terbaik, dan menjadikan diriku dari kabilah yang terbaik. Lalu Allah menciptakan keluarga-keluarga terbaik dan menjadikan diriku dari keluarga yang paling baik. Akulah orang yang terbaik di kalangan mereka, baik dari segi pribadi maupun dari segi silsilah“.
BOLEHKAH SYARIFAH MENIKAH DGN LAKI-LAKI BIASA,...?
tanya :
Mohon Informasi Apakah boleh Perempuan dari kalangan Syarifah menikah dengan laki-laki biasa,..........?
Bukankah Jodoh itu juga sudah ditentukan oleh Allah Swt....
Apa jaminan Allah kelak kepada perempuan Syarifah yg menikah dgn laki-laki satu garis keturunan (syarif)...?
Jika hal ini sudah terjadi pd perempuan syarifah yg menikah dgn laki-laki biasa, apa pula sanksinya......?
Mohon penjelasan, dengan landasan Nash, Ayat Al-Qur'an atau Hadist
Terima kasih.
--------
AHLUL-BAYT MEMENUHI BELAHAN BUMI
Dicuplik dari buku karya KH. Ali Badri Azmatkhan (Sekjen IKAZHI)
yang berjudul “DARI KANJENG NABI SAMPAI KANJENG SUNAN”
Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliu, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.”
Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu adalah bahwa Allah memberi banyak keturunan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam melalui putri beliau, Fatimah Az-Zahra’.
Sedangkan Abu lahab dan ‘Ash bin Wa’il dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar bahwa justru merekalah yang tidak akan memiliki keturunan, yaitu ayat..
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang tidak sempurna (putus keturunan).”
Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benar-benar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh masyarakat, maupun yang tidak.
Sekedar gambaran, penulis memiliki banyak data tentang silsilah Ulama-ulama Pesantren yang dikenal sebagai “Kiai” Indonesia, khususnya Jawa (termasuk Madura), Hampir seratus persen dari mereka memiliki garis nasab pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, seperti Kiai-kiai keturunan keluarga Azmatkhan, Basyaiban dan sebagainya. Kemudian, di berbagai daerah, kaum santri sangat didominan oleh keluarga-keluarga yang bernasab sama dengan Kiai-kiai itu, bedanya hanya karena beberapa generasi sebelum mereka tidak berprestasi seperti leluhur “keluarga Kiai”, sehingga setelah selisih beberapa generasi, merekapun tidak dikenal sebagai “keluarga Kiai”, tapi hanya sebagai “keluarga santri”.
Ahlul-bayt
Dicuplik dari buku karya KH. Ali Badri Azmatkhan (Sekjen Robithoh Azmatkhan Indonesia) yang berjudul “DARI KANJENG NABI SAMPAI KANJENG SUNAN” Allah Azza wa-Jalla berfirman: إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْراً “Allah hanya bermaksud untuk menghilangkan kekotoran dari kalian, wahai Ahlul-bayt, dan membersihkan diri kalian sebersih-bersihnya.” (Al-Qur’an, surat Al-Ahzab : 33) Terjadilah perbedaan pendapat mengenai siapakah Ahlul-bayt yang dimaksudkan dalam Ayat di atas, dan perbedaan itu terjadi di kalangan Sahabat Nabi, namun masing-masing pendapat yang berbeda itu bukanlah menyalahkan atau bertentangan dengan pendapat yang lain, melainkan masing-masing menangkap tafsiran sesuai dalil yang mereka dapatkan, sehingga semua pendapat itu adalah benar, dan kumpulan dari pendapat itu kemudian menjadi sebuah kesimpulan yang disepakati oleh seluruh ulama generasi berikutnya. Berkatalah Ibnu Asakir: Ulama berbeda pendapat mengenai tafsiran Ahlul-bayt menjadi tiga pendapat: 1. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa beliau berkata: “Ayat ini diturunkan mengenai istri-istri Nabi.” Selain Abdullah bin Abbas, Sa'id bin Jubair juga sependapat dengan beliau, demikian pula dengan Sahabat Ikrimah dan beliaupun berkata: "Bukanlah Ahlul-bayt dalam Ayat itu sebagaimana yang mereka tafsirkan, melainkan Ayat itu bermaksud pada istri-istri Rasul secara khusus." Bahkan Sahabat Ikrimah mengumandangkan pendapat beliau ini dihadapan halayak ramai. Pendapat ini juga dipahami oleh Sahabat Ibnu As-Sa'ib dan Sahabat Muqatil. Mereka beralasan karena Ayat sebelumnya dan Ayat sesudahnya jelas secara khusus menyinggung istri-istri Rasul. |
Asal Usul Keluarga
| Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah SAW, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliau, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Untuk menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu, Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi: “Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.” |
ASAL NAMA AZMATKHAN
ASAL NAMA AZMATKHAN Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India. Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang. Adapun nasab Sayyid Abdul Malik adalah sebagai berikut: |
Siti Fathimah Az-Zahra [Putri Rasulullah]
Oleh: S.Faroji Ar-Robbani Azmatkhan Al-Husaini
Siti Fathimah lahir satu tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia enam bulan sesudah ayahnya Rasulullah saw meninggal, yaitu pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah.
Nama Fathimah berasal dari kata Fathman yang artinya sama dengan qath’an atau man’an, yang berarti memotong, memutuskan atau mencegah. Ia dinamakan Fathimah karena Allah swt mencegah dirinya dari api neraka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Fathimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka’.
Al-Nasai meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya putriku Fathimah ini adalah seorang manusia-bidadari’. Dia tidak haid dan tidak pula mengeluarkan kotoran. Karena itulah ia dinamakan al-Zahra atau yang suci, sebab ia tidak pernah mengeluarkan darah, baik dalam haid maupun sesudah melahirkan (nifas). Pada saat melahirkan, ia mandi dan kemudian shalat sehingga ia tidak pernah luput dari melaksanakan shalat. Adapun sebutan al-Batul baginya itu adalah karena ia merupakan wanita yang paling menonjol di masanya dalam hal keutamaan, agama dan keturunan.
Dikemukakan pula oleh al-Thabrani, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Tiap anak itu bernisbat kepada keturunan bapaknya, kecuali putra Fathimah, akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka’. Dalam riwayat lain yang sahih disebutkan, ‘Setiap anak itu mengikuti garis keturunan bapaknya kecuali anak-anak Fathimah , sebab akulah ayah mereka dan ashabah mereka’
Siti Fathimah lahir satu tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia enam bulan sesudah ayahnya Rasulullah saw meninggal, yaitu pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah.
Nama Fathimah berasal dari kata Fathman yang artinya sama dengan qath’an atau man’an, yang berarti memotong, memutuskan atau mencegah. Ia dinamakan Fathimah karena Allah swt mencegah dirinya dari api neraka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Fathimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka’.
Al-Nasai meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya putriku Fathimah ini adalah seorang manusia-bidadari’. Dia tidak haid dan tidak pula mengeluarkan kotoran. Karena itulah ia dinamakan al-Zahra atau yang suci, sebab ia tidak pernah mengeluarkan darah, baik dalam haid maupun sesudah melahirkan (nifas). Pada saat melahirkan, ia mandi dan kemudian shalat sehingga ia tidak pernah luput dari melaksanakan shalat. Adapun sebutan al-Batul baginya itu adalah karena ia merupakan wanita yang paling menonjol di masanya dalam hal keutamaan, agama dan keturunan.
Dikemukakan pula oleh al-Thabrani, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Tiap anak itu bernisbat kepada keturunan bapaknya, kecuali putra Fathimah, akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka’. Dalam riwayat lain yang sahih disebutkan, ‘Setiap anak itu mengikuti garis keturunan bapaknya kecuali anak-anak Fathimah , sebab akulah ayah mereka dan ashabah mereka’
Sayyidah Syarifah Fathimah Az-Zahra bintu Nabi Muhammad Rasulillah Saw
http://www.facebook.com/note.php?note_id=348632629490KEISTIMEWAAN FATHIMAH AZ-ZAHRA
a. Ilmu Fathimah a.s
Fathimah a.s. dari semenjak lahir telah mempelajari ilmu pengetahuan dari sumber wahyu. Rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang dimilikinya adalah hasil diktean sang ayah dan ditulis oleh suaminya tercinta, Imam Ali a.s. Setelah itu, ia mengumpulkannya dalam bentuk sebuah mushaf yang akhirnya dikenal dengan nama Mushaf Fathimah a.s.
b. Mendidik Orang Lain
Dengan menjelaskan hukum dan pengetahuan-pengetahuan Islam, Fathimah a.s. telah berhasil memperkenalkan para wanita pada masa itu dengan kewajiban-kewajiban mereka. Fidhdhah, salah seorang murid dan hasil didikannya selama dua puluh tahun tidak berbicara kecuali Al Quran dan jika ia hendak menerangkan sesuatu, ia menjelaskannya dengan membaca ayat-ayat Al Quran.
Fathimah a.s. dari semenjak lahir telah mempelajari ilmu pengetahuan dari sumber wahyu. Rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang dimilikinya adalah hasil diktean sang ayah dan ditulis oleh suaminya tercinta, Imam Ali a.s. Setelah itu, ia mengumpulkannya dalam bentuk sebuah mushaf yang akhirnya dikenal dengan nama Mushaf Fathimah a.s.
b. Mendidik Orang Lain
Dengan menjelaskan hukum dan pengetahuan-pengetahuan Islam, Fathimah a.s. telah berhasil memperkenalkan para wanita pada masa itu dengan kewajiban-kewajiban mereka. Fidhdhah, salah seorang murid dan hasil didikannya selama dua puluh tahun tidak berbicara kecuali Al Quran dan jika ia hendak menerangkan sesuatu, ia menjelaskannya dengan membaca ayat-ayat Al Quran.
HADITS AHLUL BAIT
Hadis ini menegaskan bahwa Allah swt menghendaki manusia selamat dari kebinasaan, fisik dan ruhani, di dunia dan akhirat. Hadis ini merupakan penegasan jaminan keselamatan bagi umat Islam. Allah dan Rasul-Nya mengumpamakan Ahlul bait (sa) seperti bahtera Nabi Nuh (as) dalam hal menyelamatkan umatnya.
Redaksi hadis ini bermacam-macam, antara lain: Rasulullah saw bersabda,
مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق وهوى
“Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam dan celaka.”
مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam.” Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak menyatakan bahwa hadis ini shahih berdasarkan persyaratan Muslim.
انما مثل أهل بيتي فيكم كمثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Sungguh tiada lain perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam.”
Redaksi hadis ini bermacam-macam, antara lain: Rasulullah saw bersabda,
مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق وهوى
“Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam dan celaka.”
مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam.” Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak menyatakan bahwa hadis ini shahih berdasarkan persyaratan Muslim.
انما مثل أهل بيتي فيكم كمثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Sungguh tiada lain perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam.”
SIAPAKAH AHLUL BAIT NABI ITU?
Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani Azhmatkhan Al-Husaini
انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا
Sesungguhnya Allah swt hendak membersihkan kotoran atas kamu hai ahlu bait, dan mensucikannya sesuci-sucinya (QS. Al-Ahzab ayat 33)
Wahai ahlu bait Rasulullah saw, mencintai kamu adalah suatu kewajiban yang Allah swt turunkan dalam alquran. (Imam Syafii ra)
Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan Muhammad saw dan keturunannya dari tanah arsy. (Imam Ja’far al-Shaddiq)
Tuhan belum pernah menciptakan apapun yang lebih dicintai-Nya selain Muhammad dan keluarganya. (Al-Hallaj)
انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا
Sesungguhnya Allah swt hendak membersihkan kotoran atas kamu hai ahlu bait, dan mensucikannya sesuci-sucinya (QS. Al-Ahzab ayat 33)
Wahai ahlu bait Rasulullah saw, mencintai kamu adalah suatu kewajiban yang Allah swt turunkan dalam alquran. (Imam Syafii ra)
Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan Muhammad saw dan keturunannya dari tanah arsy. (Imam Ja’far al-Shaddiq)
Tuhan belum pernah menciptakan apapun yang lebih dicintai-Nya selain Muhammad dan keluarganya. (Al-Hallaj)
ISLAM DIHUJAT, ANTARA KEBENARAN DAN KEBOHONGAN
Dalam www.mengenal-islam.t35.com
Selamat Datang ...
Situs ini diperuntukkan bagi masyarakat awam yang ingin mengenal Islam dan Kristen secara benar. Pada umumnya, para ustadz dan guru-guru agama Islam selalu mengajarkan Islam sebagai agama yang cinta damai, agama yang benci kekerasan, agama yang toleransi, agama surgawi, agama yang memperlakukan wanita secara wajar, dan masih banyak lagi kebohongan-kebohongan lainnya. Klaim-klaim mereka seringkali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Kalau dilihat dari cara peninjauan dalam situs ini yang sangat tidak ilmiah, nampak sekali bahwa kalimat “secara benar” itu adalah klaim arogan. Mereka hanya berani berbicara dalam forum “gentayangan” yang tidak semua orang bisa mendengar, sehingga “secara benar” versi mereka tidak bisa diuji dengan ketat.
Mereka bilang ajaran ulama Islam tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, padahal “lapangan” islam tidak pernah tertutup dan semua orang bisa menyaksikan bagaimana umat islam berinteraksi, baik dengan sesama muslim maupun dengan non-muslim. Memang tidak dipungkiri bahwa ada sekelompok muslim yang terbukti bersikap arogan dan bertindak brutal pada agama lain, tapi jumlah mereka sangat kecil dan tentu tidak bisa dijadikan bukti bahwa Islam secara keseluruhan bersifat arogansi, apalagi ajaran yang disepakati seluruh ulama Islam justru mengutuk tindakan arogansi dan brutal tersebut. Apakah kita akan menyebut Indonesia sebagai “negera pelacur” karena ada satu dua lokalisasi?! Kalaupun misalnya semua agama hanya mengajarkan kebaikan, bukan berarti semua pengikut suatu agama pasti baik sesuai yang diajarkan agamanya.
JANGAN IKUTI TRADISI ORANG-ORANG KAFIR".
NASEHAT AS-SAYYID AL-HABIB UMAR BIN HAFIZH BIN SYEKH ABI BAKAR
Seharusnya wanita-wanita kita kecil maupun besar tidak mengikuti ajaran kaum kafir. Janganlah mengikuti mereka dalam segala sesuatu. Baik cara berpakaian, adat perkawinan, di dalam rumah serta cara keluar rumah.
Siapakah yang kalian ikuti?! Wahai putri-putri dan wanita mu’minat, siapakah yang kalian ikuti dan jadikan contoh?! Kalian mengikuti orang kafir, Yahudi, Nasrani, para pelacur, wanita yang dilaknat Allah, wanita yang jauh dari jalan Allah!
Bagaimana kalian bisa sampai terjerumus, wahai mu’minah! Dan siapa yang menjerumuskan kalian?! Wahai mu’minah, wahai muslimah, siapakah yang kalian ikuti?! Wahai mu’minah, wahai muslimah, siapakah yang kalian ikuti??? Siapakah yang telah kalian contoh dan jalan siapa yang telah kalian ikuti?! Dengan siapa kalian telah menukar teladan kalian?! Kalian telah menukar Sayyidah Ahlil Jannah dengan kaum kafir! Kalian telah menukar Sayyidah Khadijah yang memperoleh salam dari Allah, dengan kaum yang dilaknat Allah SWT
Seharusnya wanita-wanita kita kecil maupun besar tidak mengikuti ajaran kaum kafir. Janganlah mengikuti mereka dalam segala sesuatu. Baik cara berpakaian, adat perkawinan, di dalam rumah serta cara keluar rumah.
Siapakah yang kalian ikuti?! Wahai putri-putri dan wanita mu’minat, siapakah yang kalian ikuti dan jadikan contoh?! Kalian mengikuti orang kafir, Yahudi, Nasrani, para pelacur, wanita yang dilaknat Allah, wanita yang jauh dari jalan Allah!
Bagaimana kalian bisa sampai terjerumus, wahai mu’minah! Dan siapa yang menjerumuskan kalian?! Wahai mu’minah, wahai muslimah, siapakah yang kalian ikuti?! Wahai mu’minah, wahai muslimah, siapakah yang kalian ikuti??? Siapakah yang telah kalian contoh dan jalan siapa yang telah kalian ikuti?! Dengan siapa kalian telah menukar teladan kalian?! Kalian telah menukar Sayyidah Ahlil Jannah dengan kaum kafir! Kalian telah menukar Sayyidah Khadijah yang memperoleh salam dari Allah, dengan kaum yang dilaknat Allah SWT
BUKTI BAHWA WALI SONGO ADALAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD
Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.
81 Macam-Macam Thariqah Mu’tabarah Seluruh Dunia
Thariqah Mu’tabarah adalah Thariqah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw
Thariqah Wali Songo, terdiri dari 9 Thariqah:
1. Thariqah ‘Alawiyyah Wali Songo
2. Thariqah Qadiriyyah Wali Songo
3. Thariqah Naqsabandiyyah Wali Songo
4. Thariqah Syadziliyyah Wali Songo
5. Thariqah Sanusiyyah Wali Songo
6. Thariqah Mawlawiyyah Wali Songo
7. Thariqah Nur Muhammadiyyah Wali Songo
8. Thariqah Khidiriyyah Wali Songo
9. Thariqah Mu’tabarah Ahadiyyah Wali Songo
Thariqah yang lain adalah:
10. Thariqah ‘Abbasiyyah
11. Thariqah Ahmadiyyah Idrisiyyah
12. Thariqah Akbariyyah
13. Thariqah Akmaliyyah
14. Thariqah 'Aliyyah Qadiriyyah Casnazaniyyah
15. Thariqah Al-Mu’min
16. Thariqah ‘Alawiyyah Al-Faqih Al-Muqaddam
17. Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah
18. Thariqah ‘Alawiyyah Naqsabandiyyah Muhsiniyyah
19. Thariqah Asyirah Muhammadiyyah
20. Thariqah Athaiyyah
21. Thariqah Aurad Muhammadiyyah
22. Thariqah Badawiyyah
23. Thariqah Bairumiyyah
24. Thariqah Bakdasiyyah
25. Thariqah Bakriyyah
26. Thariqah Bayumiyyah
27. Thariqah Buhuriyyah
28. Thariqah Chistiyyah
29. Thariqah Dusuqiyyah
30. Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah
31. Thariqah Ghaibiyyah
32. Thariqah Ghazaliyyah
33. Thariqah Haddadiyyah
34. Thariqah Hamzawiyyah
35. Thariqah Haqmaliyyah
36. Thariqah Hashafiyyah
37. Thariqah Hashafiyyah Syadziliyyah
38. Thariqah Idrisiyyah
39. Thariqah Idrusiyyah
40. Thariqah Jalwatiyyah
41. Thariqah Justiyyah
42. Thariqah Junaidiyyah
43. Thariqah Khalwatiyyah
44. Thariqah Khlawatiyyah Samaniyyah
45. Thariqah Kubrawiyyah
46. Thariqah Madbuliyyah
47. Thariqah Malamatiyyah
48. Thariqah Mahmudiyyah
49. Thariqah Mawlawiyyah
50. Thariqah Naqsabandiyyah
51. Thariqah Naqsabandiyyah Haqqaniyyah
52. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah
53. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Haqqaniyyah
54. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Mujaddadiyyah
55. Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyah Syadziliah al ‘Aliah
56. Thariqah Naqsabandiyyah Mudzhariyah
57. Thariqah Ni’matullah
58. Thariqah Qadiriyyah
59. Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah [TQN]
60. Thariqah Qadiriyyah Rifaiyyah [TQR]
61. Thariqah Rifaiyyah
62. Thariqah Robbaniyyah
63. Thariqah Rumiyyah
64. Thariqah Sa’diyyah
65. Thariqah Samaniyyah
66. Thariqah Sanusiyyah
67. Thariqah Shiddiqiyyah
68. Thariqah Shallallahu “alaihi Wasallamiyyah
69. Thariqah Sumbuliyyah
70. Thariqah Suhrawardiyyah
71. Thariqah Sya’baniyyah
72. Thariqah Syadziliyyah
73. Thariqah Syattariyyah
74. Thariqah Tijaniyyah
75. Thariqah ‘Umariyyah
76. Thariqah ‘Utsmaniyyah
77. Thariqah Utsaqiyyah
78. Thariqah Uwaitsiyyah
79. Thariqah Wahidiyyah
80. Thariqah Yahyawiyyah
81. Thariqah Zainiyyah
sumber :
http://www.facebook.com/photo.php?pid=211749&id=100000326304485
Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Thariqah Wali Songo, terdiri dari 9 Thariqah:
1. Thariqah ‘Alawiyyah Wali Songo
2. Thariqah Qadiriyyah Wali Songo
3. Thariqah Naqsabandiyyah Wali Songo
4. Thariqah Syadziliyyah Wali Songo
5. Thariqah Sanusiyyah Wali Songo
6. Thariqah Mawlawiyyah Wali Songo
7. Thariqah Nur Muhammadiyyah Wali Songo
8. Thariqah Khidiriyyah Wali Songo
9. Thariqah Mu’tabarah Ahadiyyah Wali Songo
Thariqah yang lain adalah:
10. Thariqah ‘Abbasiyyah
11. Thariqah Ahmadiyyah Idrisiyyah
12. Thariqah Akbariyyah
13. Thariqah Akmaliyyah
14. Thariqah 'Aliyyah Qadiriyyah Casnazaniyyah
15. Thariqah Al-Mu’min
16. Thariqah ‘Alawiyyah Al-Faqih Al-Muqaddam
17. Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah
18. Thariqah ‘Alawiyyah Naqsabandiyyah Muhsiniyyah
19. Thariqah Asyirah Muhammadiyyah
20. Thariqah Athaiyyah
21. Thariqah Aurad Muhammadiyyah
22. Thariqah Badawiyyah
23. Thariqah Bairumiyyah
24. Thariqah Bakdasiyyah
25. Thariqah Bakriyyah
26. Thariqah Bayumiyyah
27. Thariqah Buhuriyyah
28. Thariqah Chistiyyah
29. Thariqah Dusuqiyyah
30. Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah
31. Thariqah Ghaibiyyah
32. Thariqah Ghazaliyyah
33. Thariqah Haddadiyyah
34. Thariqah Hamzawiyyah
35. Thariqah Haqmaliyyah
36. Thariqah Hashafiyyah
37. Thariqah Hashafiyyah Syadziliyyah
38. Thariqah Idrisiyyah
39. Thariqah Idrusiyyah
40. Thariqah Jalwatiyyah
41. Thariqah Justiyyah
42. Thariqah Junaidiyyah
43. Thariqah Khalwatiyyah
44. Thariqah Khlawatiyyah Samaniyyah
45. Thariqah Kubrawiyyah
46. Thariqah Madbuliyyah
47. Thariqah Malamatiyyah
48. Thariqah Mahmudiyyah
49. Thariqah Mawlawiyyah
50. Thariqah Naqsabandiyyah
51. Thariqah Naqsabandiyyah Haqqaniyyah
52. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah
53. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Haqqaniyyah
54. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Mujaddadiyyah
55. Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyah Syadziliah al ‘Aliah
56. Thariqah Naqsabandiyyah Mudzhariyah
57. Thariqah Ni’matullah
58. Thariqah Qadiriyyah
59. Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah [TQN]
60. Thariqah Qadiriyyah Rifaiyyah [TQR]
61. Thariqah Rifaiyyah
62. Thariqah Robbaniyyah
63. Thariqah Rumiyyah
64. Thariqah Sa’diyyah
65. Thariqah Samaniyyah
66. Thariqah Sanusiyyah
67. Thariqah Shiddiqiyyah
68. Thariqah Shallallahu “alaihi Wasallamiyyah
69. Thariqah Sumbuliyyah
70. Thariqah Suhrawardiyyah
71. Thariqah Sya’baniyyah
72. Thariqah Syadziliyyah
73. Thariqah Syattariyyah
74. Thariqah Tijaniyyah
75. Thariqah ‘Umariyyah
76. Thariqah ‘Utsmaniyyah
77. Thariqah Utsaqiyyah
78. Thariqah Uwaitsiyyah
79. Thariqah Wahidiyyah
80. Thariqah Yahyawiyyah
81. Thariqah Zainiyyah
sumber :
http://www.facebook.com/photo.php?pid=211749&id=100000326304485
Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
ALLAH MENCIPTAKAN RASULULLAH DAN KETURUNANNYA DARI TANAH ARSY
Dari Muadz bin Jabal, bersabda Rasulullah saw : Sesungguhnya Allah telah menciptakan aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, tujuh ribu tahun sebelum Allah menciptakan dunia. Aku (Muadz bin Jabal) bertanya : Dimanakah selama itu engkau berada. Nabi menjawab : D...i Arsy, dimana Allah swt bertasbih memuji, mensucikan serta mengagungkannya.Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, mereka adalah ‘aal Muhammad’ yang telah disucikan, sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 33 :
إِنَّمَا يُرِيْدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَ يُطَهِّرَ كُمْ تَطْهِيْرًا
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs) dari kalian hai
ahli al-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”.
Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam kitabnya ‘al-Saraf al-Muabbad li Aali Muhammad’ berkata :
“Betapa tidak, mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai hubungan silsilah dengan Rasulullah. Mereka itu seasal dengan beliau, yakni silsilah yang menurunkan beliau dan juga menurunkan orang-orang yang dekat dengan beliau. Tidak diragukan lagi, bahwa mencintai beliau saw adalah wajib bagi setiap orang yang bertauhid. Adapun tebal-tipisnya kecintaan seseorang kepada Rasulullah saw merupakan ukuran tentang tebal-tipisnya keimanan yang ada pada orang itu. Orang yang mengaku beriman, tetapi ia tidak mencintai Rasulullah saw, sama artinya dengan berdusta, bahkan layak disebut munafik. Kecintaan kepada Rasulullah saw membawa konsekuensi wajib mencintai keluarga beliau, yakni ahli al-bait beliau, anak cucu keturunan beliau dan kaum kerabat beliau”.
08 Juni 2010
.SAHWAT YANG HALUS..
(KESUNGGUHAN KAMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH DIJAMIN الله UNTUKMU) Yaitu segala sesuatu yang telah الله tanggung seperti rizki sebagai kemurahan الله dan kebaikan-Nya, sebagaimana firman الله “Dan berapa banyak segala yang melata di atas bumi tidak membawa rizkinya. الله lah yang memberi rizki kepada mereka, demikian pula rizkimu…” SEDANGKAN KAMU LALAI TERHADAP KEWAJIPAN YANG DIAMANATKAN KEPADAMU) yaitu beberapa amalan ibadah yang menyebabkan kamu sampai kepada-Nya seperti beberapa bacaan dzikir dan shalawat dan lain-lain dari bermacam-macam keta’atan sebagai mana firman الله “Dan tidaklah Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. ( yang demikian ini MENUNJUKKAN KEBUTAAN MATA HATIMU).
Sesuatu yang telah ditanggung الله bagi hambanya adalah rizki yang dengan rizki tersebut hamba الله dapat mempertahankan eksistensinya untuk hidup di dunia. Dan arti pertanggungan الله dalam hal rizki hamba-Nya adalah bahwa الله menjamin rizki untuk kelangsungan hidup hamba-Nya dan الله menghendaki hamba tersebut hatinya menjadi lapang serta tidak menanggung beban berat dalam mencarinya, atau hati menjadi susah karenanya. Adapun yang dituntut oleh الله atas hambanya adalah amal ibadah agar hamba tersebut dapat sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan dekat dengan الله Ta’ala. Dan yang dimaksudkan ibadah sebagai tuntutan dari الله adalah bahwasanya serangkaian keta’atan tersebut menjadi beban yang harus dilakukan oleh hamba secara bersungguh-sungguh sebagaimana telah diatur dalam syari’at mengenai sebab dan waktunya dan lain sebagainya. Pada sebagian atsar diterangkan firman الله Ta’ala “Wahai hambaKu ta’atlah kepadaKu dan janganlah engkau mengaturKu untuk hal kebaikanmu”.
Telah berkata Ibrahim Al-Khawash, “Ilmu itu kesemuanya terdapat dalam dua kalimat yaitu ‘Jangan engkau bebani diri dengan sesuatu yang telah dijamin, dan jangan sia-siakan sesuatu yang diwajibkan. Oleh karena itu barang siapa yang telah mampu menempati keadaan ini (yaitu bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban dan melapangkan hati terhadap sesuatu yang telah ditanggung الله Ta’ala) maka sungguh telah terbukalah mata hatinya dan telah bersinarlah nuurul Haq / cahaya kebenaran di dalam hatinya dan telah berhasilah ia mencapai puncak tujuan. Akan tetapi bagi yang sebaliknya, maka sengguh telah kabur dan butalah mata hatinya.
Adapun pengarang kitab ini rahimahuLlah memberikan istilah Ijtihad (bersungguh-sungguh), hal ini memberikan isyarah bahwa mencari rizki secara wajar dan tidak memforsir diri hanya untuk tujuan duniawi semata adalah tidak terecela dan mubah hukumnya, dan bukan termasuk perkara yang dapat mengeruhkan mata hati. Telah disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub, perihal firman الله Ta’ala, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk melakukan shalat, dan bersungguhlah dalam mengerjakannya. Sesungguhnya Aku tidak meminta rizki darimu akan tetapi Aku lah yang memberimu rizki” Maksud ayat ini adalah “Laksanakanlah pelayanan kepadaKu maka Aku akan melaksanakan pembagian rizki dariKu –Qum bikhidzmatiNa, wa Nahnu Naquumu laka biqismatiNaa.” Di sini terdapat dua perkara, yaitu perkara yang telah dijamin/ditanggung الله maka janganlah engkau sedih karenanya, dan perkara tuntutan الله kepadamu maka jangan di sia-siakan. Oleh karena itu barang siapa yang bersungguh-sungguh atas sesuatu yang telah dijamin sementara ia melalaikan sesuatu yang diwajibkan, maka tampak jelaslah kebodohannya, dan telah meluaslah kelalaiannya.
Bukankah kita telah melihat bahwa الله telah memberi rizki kepada orang yang durhaka kepada-Nya, maka bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang ta’at. Jikalau الله telah mengalirkan rizki-Nya kepada orang yang ingkar / kufur kepada-Nya, bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang beriman. Bukankah kita sebagai orang mukmin telah mengetahui dengan jelas bahwa dunia telah dijamin bagi kita, dan amal untuk akhirat adalah tuntutan bagi kita. Sebagaimana firman الله,”Watazawwaduu fa inna khaira zaad at-taqwa dan persiapkanlah bekal dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. Sebagian dari mereka (orang-orang shalih) berkata, “Sesungguhnya الله telah menjamin kemaslahatan duniaku dan الله menuntut amal untuk akhiratku. Dan Tidaklah الله menuntut kemaslahatan duniaku dan menjamin akhiratku.”
Sumber : Kitab Syarah al-Hikam
anggota Mazhab al hubbu alawiyyin
Khaufan Raja' Baraqbah
Sesuatu yang telah ditanggung الله bagi hambanya adalah rizki yang dengan rizki tersebut hamba الله dapat mempertahankan eksistensinya untuk hidup di dunia. Dan arti pertanggungan الله dalam hal rizki hamba-Nya adalah bahwa الله menjamin rizki untuk kelangsungan hidup hamba-Nya dan الله menghendaki hamba tersebut hatinya menjadi lapang serta tidak menanggung beban berat dalam mencarinya, atau hati menjadi susah karenanya. Adapun yang dituntut oleh الله atas hambanya adalah amal ibadah agar hamba tersebut dapat sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan dekat dengan الله Ta’ala. Dan yang dimaksudkan ibadah sebagai tuntutan dari الله adalah bahwasanya serangkaian keta’atan tersebut menjadi beban yang harus dilakukan oleh hamba secara bersungguh-sungguh sebagaimana telah diatur dalam syari’at mengenai sebab dan waktunya dan lain sebagainya. Pada sebagian atsar diterangkan firman الله Ta’ala “Wahai hambaKu ta’atlah kepadaKu dan janganlah engkau mengaturKu untuk hal kebaikanmu”.
Telah berkata Ibrahim Al-Khawash, “Ilmu itu kesemuanya terdapat dalam dua kalimat yaitu ‘Jangan engkau bebani diri dengan sesuatu yang telah dijamin, dan jangan sia-siakan sesuatu yang diwajibkan. Oleh karena itu barang siapa yang telah mampu menempati keadaan ini (yaitu bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban dan melapangkan hati terhadap sesuatu yang telah ditanggung الله Ta’ala) maka sungguh telah terbukalah mata hatinya dan telah bersinarlah nuurul Haq / cahaya kebenaran di dalam hatinya dan telah berhasilah ia mencapai puncak tujuan. Akan tetapi bagi yang sebaliknya, maka sengguh telah kabur dan butalah mata hatinya.
Adapun pengarang kitab ini rahimahuLlah memberikan istilah Ijtihad (bersungguh-sungguh), hal ini memberikan isyarah bahwa mencari rizki secara wajar dan tidak memforsir diri hanya untuk tujuan duniawi semata adalah tidak terecela dan mubah hukumnya, dan bukan termasuk perkara yang dapat mengeruhkan mata hati. Telah disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub, perihal firman الله Ta’ala, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk melakukan shalat, dan bersungguhlah dalam mengerjakannya. Sesungguhnya Aku tidak meminta rizki darimu akan tetapi Aku lah yang memberimu rizki” Maksud ayat ini adalah “Laksanakanlah pelayanan kepadaKu maka Aku akan melaksanakan pembagian rizki dariKu –Qum bikhidzmatiNa, wa Nahnu Naquumu laka biqismatiNaa.” Di sini terdapat dua perkara, yaitu perkara yang telah dijamin/ditanggung الله maka janganlah engkau sedih karenanya, dan perkara tuntutan الله kepadamu maka jangan di sia-siakan. Oleh karena itu barang siapa yang bersungguh-sungguh atas sesuatu yang telah dijamin sementara ia melalaikan sesuatu yang diwajibkan, maka tampak jelaslah kebodohannya, dan telah meluaslah kelalaiannya.
Bukankah kita telah melihat bahwa الله telah memberi rizki kepada orang yang durhaka kepada-Nya, maka bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang ta’at. Jikalau الله telah mengalirkan rizki-Nya kepada orang yang ingkar / kufur kepada-Nya, bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang beriman. Bukankah kita sebagai orang mukmin telah mengetahui dengan jelas bahwa dunia telah dijamin bagi kita, dan amal untuk akhirat adalah tuntutan bagi kita. Sebagaimana firman الله,”Watazawwaduu fa inna khaira zaad at-taqwa dan persiapkanlah bekal dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. Sebagian dari mereka (orang-orang shalih) berkata, “Sesungguhnya الله telah menjamin kemaslahatan duniaku dan الله menuntut amal untuk akhiratku. Dan Tidaklah الله menuntut kemaslahatan duniaku dan menjamin akhiratku.”
Sumber : Kitab Syarah al-Hikam
anggota Mazhab al hubbu alawiyyin
Khaufan Raja' Baraqbah
KEMULIAAN AKHLAK NABI MUHAMMAD, NABI PEMAAF DAN PEMBERI AMPUNAN
Keagungan pribadi Nabi Muhammad SAW tidak ada bandingannya,sebab Nabi Muhammad SAW akan memimpin umat manusia di permukaan bumi ini. Keagungan pribadi Nabi Muhammad SAW adalah untuk rahmat bagi seluruh alam,seluruh makhluk.
Nabi Muhammad di lahirkan dari keturunan orang yang mulia,bukan keturunan yang rendah. Nabi Muhammad termasuk saudagar Quraisy yang paling sukses dan kaya raya, bahkan Nabi Muhammad kaya jiwa dan kaya budi. Artinya meskipun beliau kaya raya, namun kekayaan beliau ini untuk kejayaan Islam, seperti memerdekakan perbudakan, menyantuni orang-orang yang faqir dan miskin, anak-anak yatim, dan membela yang lemah.
Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai yatim piatu dan penuh kasih sayang. Maka karena yatim piatu ini, Nabi Muhammad dapat merasakan betapa pentingnya kasih sayang terhadap sesama.
Meneladani Kepribadian Nabi Muhammad SAW antara lain :
- Jiwanya murni dan niatnya sangat ikhlas. Beliau tidak suka di puji.
- Beliau tidak suka bersenang-senang. Beliau tetap sangat kasih sayang kepada sesama, terutama kapada fakir miskin dan yatim.
- Beliau sangat sopan santun,pemalu,tidak pernah mencaci maki atau menggunjing kapada orang lain.
- Beliau mencintai hidup sederhana,tidak suka bermewah-mewah,di samping suka bekerja keras untuk memperoleh nafkah dengan tidak menggantunngkan kepada orang lain.
- Beliau sangat cakap dan tangkas dalam melakukan tugas yang di amanatkan kepada dirinya.
- Nabi Muhammad SAW bukan orang pemarah, pendendam,tetapi pemaaf dan suka memberi ampun.
- Beliau sangat rendah hati dan dermawan.
- Beliau tidak pernah melupakan jasa orang lain. Sekecil apapun pemberian orang,tidak pernah di lupakannya selama hidup.
Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Nabi Muhammad di lahirkan dari keturunan orang yang mulia,bukan keturunan yang rendah. Nabi Muhammad termasuk saudagar Quraisy yang paling sukses dan kaya raya, bahkan Nabi Muhammad kaya jiwa dan kaya budi. Artinya meskipun beliau kaya raya, namun kekayaan beliau ini untuk kejayaan Islam, seperti memerdekakan perbudakan, menyantuni orang-orang yang faqir dan miskin, anak-anak yatim, dan membela yang lemah.
Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai yatim piatu dan penuh kasih sayang. Maka karena yatim piatu ini, Nabi Muhammad dapat merasakan betapa pentingnya kasih sayang terhadap sesama.
Meneladani Kepribadian Nabi Muhammad SAW antara lain :
- Jiwanya murni dan niatnya sangat ikhlas. Beliau tidak suka di puji.
- Beliau tidak suka bersenang-senang. Beliau tetap sangat kasih sayang kepada sesama, terutama kapada fakir miskin dan yatim.
- Beliau sangat sopan santun,pemalu,tidak pernah mencaci maki atau menggunjing kapada orang lain.
- Beliau mencintai hidup sederhana,tidak suka bermewah-mewah,di samping suka bekerja keras untuk memperoleh nafkah dengan tidak menggantunngkan kepada orang lain.
- Beliau sangat cakap dan tangkas dalam melakukan tugas yang di amanatkan kepada dirinya.
- Nabi Muhammad SAW bukan orang pemarah, pendendam,tetapi pemaaf dan suka memberi ampun.
- Beliau sangat rendah hati dan dermawan.
- Beliau tidak pernah melupakan jasa orang lain. Sekecil apapun pemberian orang,tidak pernah di lupakannya selama hidup.
Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
MENGENAL ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD
MENGENAL ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD
Berikut ini nama-nama isteri Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam dan sekilas penjelasannya.
1. SITI KHADIJAH
Nabi mengawini Khadijah ketika Nabi masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam i
Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada tahun 621 A.D, dimana tahun itu bertepatan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam sangatlah mencintai Khadijah. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam baru mau menikahi wanita lain.
2.SAWDA BINTI ZAM’A
Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam menikahinya.
3. AISHA SIDDIQA
Seorang perempuan bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam mengawini Aisha, putri dari Aby Bakrs, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Aby Bakr.
Waktu itu Aishah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, yang pada saat itu adalah seorang Non-Muslim. Orang-orang di Makkah tidaklah keberatan dengan perkawinan Aishah, karena walaupun masih muda, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang tanggung jawab didalam sebuah perkawinan.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam bertunangan dulu selama 2 tahun dengan Aishah sebelum kemudian mengawininya.
Dan bapaknya Aishah, Abu Bakr pun kemudian menjadi khalifah pertama setelah Nabi SAW meninggal.
4. HAFSAH BINTI UMAR
Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi.
Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah demikian juga Usman akan menikah lagi.
Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri menikah dengan Nabi SAW.
Hal ini membuat Usman dan Umar gembira.
5. ZAINAB BINTI KHUZAYMA
Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi Shallallahu 'alaihi wasalam mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 A.D.
6. SALAMA BINTI UMAYYA
Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin.
Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak.
Baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam mengawininya dan merawat anak-anaknya, dia bersedia.
7. ZAYNAB BINTI JAHSH
Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam , Umamah binti Abdul Muthalib. Pada awalnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam sudah mengatur agar Zaynab mengawini Zayed Ibn Hereathah Al Kalby.
Tapi perkawinan ini kandas tidak lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi mesti mengawini Zaynab (surat 33:37).
8. ALJUWAYRIYA BINTI HARITH
Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam menghendaki agar kelompok dari Juayreah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juayreah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq) .
Bapak Juayreyah datang pada Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juayreyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juayreayah untuk memilih.
Ketika diberi hak untuk memilih, Juayreyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam.
9. SAFIYYA BINTI HUYAYY
Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir.
Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam .
Cerita nya cukup menarik, mungkin Insya Allah akan disampaikan terpisah.
10. UMMU HABIBA BINTI SUFYAN
Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish.
Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam . Aubed Allah meninggak di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi Shallallahu 'alaihi wasalam pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun.
11. MAYMUNA BINTI AL HARITH
Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey.
Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam yang sudah 60 tahun.
Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam membuka Makkah di tahun 630 A.D, dia datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam , masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya.
Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi Shallallahu 'alaihi wasalam
12. MARIA AL QABTIYYA
Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam meninggal dunia, dan Maria akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Imam sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.
catatan
Berikut ini nama-nama isteri Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam dan sekilas penjelasannya.
1. SITI KHADIJAH
Nabi mengawini Khadijah ketika Nabi masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam i
Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada tahun 621 A.D, dimana tahun itu bertepatan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam sangatlah mencintai Khadijah. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam baru mau menikahi wanita lain.
2.SAWDA BINTI ZAM’A
Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam menikahinya.
3. AISHA SIDDIQA
Seorang perempuan bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam mengawini Aisha, putri dari Aby Bakrs, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Aby Bakr.
Waktu itu Aishah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, yang pada saat itu adalah seorang Non-Muslim. Orang-orang di Makkah tidaklah keberatan dengan perkawinan Aishah, karena walaupun masih muda, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang tanggung jawab didalam sebuah perkawinan.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam bertunangan dulu selama 2 tahun dengan Aishah sebelum kemudian mengawininya.
Dan bapaknya Aishah, Abu Bakr pun kemudian menjadi khalifah pertama setelah Nabi SAW meninggal.
4. HAFSAH BINTI UMAR
Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi.
Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah demikian juga Usman akan menikah lagi.
Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri menikah dengan Nabi SAW.
Hal ini membuat Usman dan Umar gembira.
5. ZAINAB BINTI KHUZAYMA
Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi Shallallahu 'alaihi wasalam mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 A.D.
6. SALAMA BINTI UMAYYA
Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin.
Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak.
Baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam mengawininya dan merawat anak-anaknya, dia bersedia.
7. ZAYNAB BINTI JAHSH
Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam , Umamah binti Abdul Muthalib. Pada awalnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam sudah mengatur agar Zaynab mengawini Zayed Ibn Hereathah Al Kalby.
Tapi perkawinan ini kandas tidak lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi mesti mengawini Zaynab (surat 33:37).
8. ALJUWAYRIYA BINTI HARITH
Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam menghendaki agar kelompok dari Juayreah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juayreah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq) .
Bapak Juayreyah datang pada Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juayreyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juayreayah untuk memilih.
Ketika diberi hak untuk memilih, Juayreyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam.
9. SAFIYYA BINTI HUYAYY
Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir.
Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam .
Cerita nya cukup menarik, mungkin Insya Allah akan disampaikan terpisah.
10. UMMU HABIBA BINTI SUFYAN
Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish.
Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam . Aubed Allah meninggak di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi Shallallahu 'alaihi wasalam pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun.
11. MAYMUNA BINTI AL HARITH
Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey.
Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam yang sudah 60 tahun.
Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam membuka Makkah di tahun 630 A.D, dia datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam , masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya.
Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi Shallallahu 'alaihi wasalam
12. MARIA AL QABTIYYA
Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam meninggal dunia, dan Maria akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Imam sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.
catatan
Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
28 April 2010
!!!!!!!! S E T A N !!!!!!!!!!
Kali ini saya akan menulis artikel tentang SETAN.
Wah, sereeem,
Jika sudah menyinggunug masalah “setan”, konotasinya pasti kea rah klenik, dukun, dunia lain, genderewo, kuntilanak, tuyul , dll.
Maka disini saya akan menuliskan makna dari arti kata “setan”
Menurut ‘Abbas Mahmud al – ‘Aqqaad dalam bukunya yang berjudul “ Iblis”, kata “setan” atau “syaithaan” (dlm bhs Arab) terambil dari bahasa Ibrani yang berarti lawan atau musush. Kata “setan” telah dikenal oleh bangsa Yahudi jauh sebelum adanya Agama Nasrani dan Islam.. Akan tetapi “Abbas menulis bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan karena orang Yahudi baru mengenal kata “setan” dan menggunakan kata “setan” untuk tingkah laku manusia yang “jahat “ setelah Yahudi berhijrah ke Babel.
(note : Babel (pada masa lalu), adalah kota yang paling besar dan terkenal di timur. Bekas reruntuhannya dapat ditemukan di sekitar sungai Eufrat arah timur Baghdad, Irak. Zaman keemasan Babel adalah sekitar 1000 tahun semelum Masehi---Babel menurut Al Qur’an adalah kota Babylonia)…
Sedangkan para pakar Mesir kenamaan mengatakan bahwa kata “setan” / syaithan berasal dari bahasa Arab asli yang sangat tua. Ini dibuktikan dengan adanya sekian kata kata Arab Asli yang dapat di bentuk dengan bentuk kata “syaithan”, misalnya :
“syathatha----syaatha---syawatha---syathana---yang semuanya mengandung makna
JAUH, SESAT, BERKOBAR, dan TERBAKAR serta EKSTREM…..
(note : dalam pandangan pakar bahasa Arab, jika ada satu kata bahasa Arab yang dapat di gunakan untuk berbagai macam bentuk kata, maka satu kata tersebut pasti berasal dari bahasa Arab yang Asli….kata “kursi,zamharir, qirthas yang juga di gunakan oleh al Qur’an, bukanlah berasal dari Bahasa Arab karena kata kata tersebut tidak di temukan kata kerjanya serta tidak dapat di bentuk dengan berbagai bentuk kata)
Dalam kamus Al-Misbah al –munir karya Ahmad Ibn Muhammad A’li al Fayyuumi (w.1368) dijelaskan bahwa kata “syaithan” boleh jadi terambil dari akar kata “syathana” yang mempunyai arti “jauh”…..karena sudah menjadi sifat setan , yaitu : “menjauh” dari kebenaran dan jauh dari Rahmat Allah. Bisa juga kata “syaithan” terambil dari kata “syatha” yang mempunyai arti melakukan “ kebatilan “ atau “ terbakar”.
Dari segi makna., seorang pakar bahasa “al Jauhari” (w.1005) menjelaskan bahwa semua yang membangkang, baik jin, manusia , maupun binatang, ini dinamakan “ syaithan”
DR Quraish shihab dalam buku “Yang Tersembunyi”, h 128, mengatakan bahwa dari sekian banyak ayat al Qur’an dan Hadis, ternyata kata “setan” tidak saja terbatas
pada Jin dan Manusia saja, akan tetapi kata “setan” lebih mengarah kepad perilaku / tingkah laku yang buruk / tidak menyenangkan / sesuatu yang buruk / tercela. Bukankah “setan” adalah lambing keburukan dan kejahatan ? al qur’an menamai ular dengan “setan” sebagaimana Firman Allah di QS ash Shaaffat (37) ayat 65 :
“ thol ‘uhaa ka annahu mur uususy syayaathiyyn”….
menurut ath Thabari (w.933), bahwa ayat diatas menggambarkan perumpamaan yang disebutkan untuk sesuatu yang buruk, seperti setan. Atau (mayangnya) di perumpamakan dengan nama ular ( untuk menggambarkan sesuatu yg buruk (sifat dan jenisnya), dikenal oleh masyarakat Arab dengan nama : “ syaithan”).
Nah, jenis ular ini berbau busuk dan berwajah buruk. Disini memakai kata “ setan” dalam ayat ini , yang di maksud adalah tumbuhan yang bernama : “ru’uus asy syayaathiin”.
Intinya, penggunaan kata “setan”, di gunakan untuk menggambarkan tingkah laku yang sangat buruk, batil, jauh (dari rahmat Allah), juga digunakan untuk benda yang buruk / jelek / busuk.
Kata “setan” dapat pula digunakan untuk menggambarkan “wabah” atau “sakit”.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam di perintahkan Allah Subhanahu wata’ala untuk merenungkan ucapan Nabi Ayub ‘alaihissalam di QS Shad (38) : 41
“ dan Ingatlah akan hamba Kami Ayub ketia dia menyeru TuhanNya :
“Anniy masy syaniyasy syaithaanu binushbiw wa a’dzaabin ” (sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana).
Gangguan “setan” berupa penyakit ditemukan juga dalam Hadis Nabi Shallallahu a’laihi wasalam : “ thoo uu’na wakhzu a’ daaikum minal jinni “ “ wabah penyakit merupakan tusukan saudara saudara kamu / musush musuh kamu dari jenis jin (setan)
(Hr. Ahmad dan Ibn a’bi Addunya melalui Abuu Muusa)
Ternyata pengertian kata “setan” bukanlah hanya ditujukan bagi tingkah laku jahat dari Jin dan Manusia, akan tetapi maknanya menjadi lebih luas lagi seperti virus, kuman penyakit, wabah, dll.
Jika pengertian kata “setan” menjadi luas, maka kita bisa menarik perbedaan antara “Jin “ dan “setan”
Jin adalah mahluk halus yang diciptakan Allah dari “api”. Jin diperintahkan untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan Jin yang membangkang dan mengajak kepada kedurhakaan adalah termasuk kedalam kelompok yang dinamakan “setan”. Disisi lain, Manusia yang durhaka , tidak taat kepada Allah dan RasulNya, ini juga dimasukkan ke dalam kelompok “setan”. Jadi, “setan” tidaklah berupa jenis jin saja, akan tetapi dapat pula berjenis manusia.
Ketahuilah ,bahwa “ setan” merupakan kata “sifat”, sifat nya mengarah kepada kekafiran, keburukan, jelek, kedurhakaan , selalu mengajak kearah kekufuran dan dosa.
Maka “setan’ bisa masuk ke Manusia dan Jinn, baca al an’am (6) : 112.
“Demi kianlah Kami jadikan tiap tiap Nabi itu musuh, yaitu setan setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jinn , sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan perkataan yang indah indah untuk menipu”.
Selanjutnya, apapun dan siapapun selain Jin dan Manusia, yang mana dapat mengakibatkan keburukan atau sesuatu yang tidak menyenangkan, ini juga dinamai “setan”. Maka tidak semua Jin adalah “setan”, juga tidak semua Manusia adalah “setan’
Ada Jinn yang Taat beribadah kepada Allah , ada pula mahluk yang mempunyai sifat “setan” , ia berubah menjadi taat taat dan bertaubat………………………
Al Qur’an menunjuk kata “setan” dengan “ath Thaaghuut”, kata ini terambil dari kata kerja ‘thagha” yaitu untuk menggambarkan keadaan meluapnya air hingga mencapai batas kritis dan membahayakan. Makna ini kemudian berkembang lagi untuk mengungkapkan segala sesuatu sikap yang melampaui batas baik terhadap Allah maupun terhadap manusia.
Maka kekufuran, kedurhakaan, pembangkangan, serta kesewenang wenangan, ini semua di rangkum dalam 1 kata yaitu “Thughyaan”. Setan dinamai “Thaaghuut” karena sifat setan sudah mencapai puncak kekufuran dan pembangkangan terhadap Allah subhanahu wata’ala.
Di dalam al Qur’an Allah berfirman :
“ Allah pelindung orang orang yang beriman,
Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman),
Dan orang orang yang kafir, pelindung pelindungnya ialah “setan” yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
Mereka itu adalah penghuni neraka,
Mereka kekal di dalamnya
(QS al Baqarah (2) : 257)
Wallahu a’lam
Refrensi
Buku “ Yang Tersembunyi “ by DR Quraish Shihab, hal 123
Wah, sereeem,
Jika sudah menyinggunug masalah “setan”, konotasinya pasti kea rah klenik, dukun, dunia lain, genderewo, kuntilanak, tuyul , dll.
Maka disini saya akan menuliskan makna dari arti kata “setan”
Menurut ‘Abbas Mahmud al – ‘Aqqaad dalam bukunya yang berjudul “ Iblis”, kata “setan” atau “syaithaan” (dlm bhs Arab) terambil dari bahasa Ibrani yang berarti lawan atau musush. Kata “setan” telah dikenal oleh bangsa Yahudi jauh sebelum adanya Agama Nasrani dan Islam.. Akan tetapi “Abbas menulis bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan karena orang Yahudi baru mengenal kata “setan” dan menggunakan kata “setan” untuk tingkah laku manusia yang “jahat “ setelah Yahudi berhijrah ke Babel.
(note : Babel (pada masa lalu), adalah kota yang paling besar dan terkenal di timur. Bekas reruntuhannya dapat ditemukan di sekitar sungai Eufrat arah timur Baghdad, Irak. Zaman keemasan Babel adalah sekitar 1000 tahun semelum Masehi---Babel menurut Al Qur’an adalah kota Babylonia)…
Sedangkan para pakar Mesir kenamaan mengatakan bahwa kata “setan” / syaithan berasal dari bahasa Arab asli yang sangat tua. Ini dibuktikan dengan adanya sekian kata kata Arab Asli yang dapat di bentuk dengan bentuk kata “syaithan”, misalnya :
“syathatha----syaatha---syawatha---syathana---yang semuanya mengandung makna
JAUH, SESAT, BERKOBAR, dan TERBAKAR serta EKSTREM…..
(note : dalam pandangan pakar bahasa Arab, jika ada satu kata bahasa Arab yang dapat di gunakan untuk berbagai macam bentuk kata, maka satu kata tersebut pasti berasal dari bahasa Arab yang Asli….kata “kursi,zamharir, qirthas yang juga di gunakan oleh al Qur’an, bukanlah berasal dari Bahasa Arab karena kata kata tersebut tidak di temukan kata kerjanya serta tidak dapat di bentuk dengan berbagai bentuk kata)
Dalam kamus Al-Misbah al –munir karya Ahmad Ibn Muhammad A’li al Fayyuumi (w.1368) dijelaskan bahwa kata “syaithan” boleh jadi terambil dari akar kata “syathana” yang mempunyai arti “jauh”…..karena sudah menjadi sifat setan , yaitu : “menjauh” dari kebenaran dan jauh dari Rahmat Allah. Bisa juga kata “syaithan” terambil dari kata “syatha” yang mempunyai arti melakukan “ kebatilan “ atau “ terbakar”.
Dari segi makna., seorang pakar bahasa “al Jauhari” (w.1005) menjelaskan bahwa semua yang membangkang, baik jin, manusia , maupun binatang, ini dinamakan “ syaithan”
DR Quraish shihab dalam buku “Yang Tersembunyi”, h 128, mengatakan bahwa dari sekian banyak ayat al Qur’an dan Hadis, ternyata kata “setan” tidak saja terbatas
pada Jin dan Manusia saja, akan tetapi kata “setan” lebih mengarah kepad perilaku / tingkah laku yang buruk / tidak menyenangkan / sesuatu yang buruk / tercela. Bukankah “setan” adalah lambing keburukan dan kejahatan ? al qur’an menamai ular dengan “setan” sebagaimana Firman Allah di QS ash Shaaffat (37) ayat 65 :
“ thol ‘uhaa ka annahu mur uususy syayaathiyyn”….
menurut ath Thabari (w.933), bahwa ayat diatas menggambarkan perumpamaan yang disebutkan untuk sesuatu yang buruk, seperti setan. Atau (mayangnya) di perumpamakan dengan nama ular ( untuk menggambarkan sesuatu yg buruk (sifat dan jenisnya), dikenal oleh masyarakat Arab dengan nama : “ syaithan”).
Nah, jenis ular ini berbau busuk dan berwajah buruk. Disini memakai kata “ setan” dalam ayat ini , yang di maksud adalah tumbuhan yang bernama : “ru’uus asy syayaathiin”.
Intinya, penggunaan kata “setan”, di gunakan untuk menggambarkan tingkah laku yang sangat buruk, batil, jauh (dari rahmat Allah), juga digunakan untuk benda yang buruk / jelek / busuk.
Kata “setan” dapat pula digunakan untuk menggambarkan “wabah” atau “sakit”.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam di perintahkan Allah Subhanahu wata’ala untuk merenungkan ucapan Nabi Ayub ‘alaihissalam di QS Shad (38) : 41
“ dan Ingatlah akan hamba Kami Ayub ketia dia menyeru TuhanNya :
“Anniy masy syaniyasy syaithaanu binushbiw wa a’dzaabin ” (sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana).
Gangguan “setan” berupa penyakit ditemukan juga dalam Hadis Nabi Shallallahu a’laihi wasalam : “ thoo uu’na wakhzu a’ daaikum minal jinni “ “ wabah penyakit merupakan tusukan saudara saudara kamu / musush musuh kamu dari jenis jin (setan)
(Hr. Ahmad dan Ibn a’bi Addunya melalui Abuu Muusa)
Ternyata pengertian kata “setan” bukanlah hanya ditujukan bagi tingkah laku jahat dari Jin dan Manusia, akan tetapi maknanya menjadi lebih luas lagi seperti virus, kuman penyakit, wabah, dll.
Jika pengertian kata “setan” menjadi luas, maka kita bisa menarik perbedaan antara “Jin “ dan “setan”
Jin adalah mahluk halus yang diciptakan Allah dari “api”. Jin diperintahkan untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan Jin yang membangkang dan mengajak kepada kedurhakaan adalah termasuk kedalam kelompok yang dinamakan “setan”. Disisi lain, Manusia yang durhaka , tidak taat kepada Allah dan RasulNya, ini juga dimasukkan ke dalam kelompok “setan”. Jadi, “setan” tidaklah berupa jenis jin saja, akan tetapi dapat pula berjenis manusia.
Ketahuilah ,bahwa “ setan” merupakan kata “sifat”, sifat nya mengarah kepada kekafiran, keburukan, jelek, kedurhakaan , selalu mengajak kearah kekufuran dan dosa.
Maka “setan’ bisa masuk ke Manusia dan Jinn, baca al an’am (6) : 112.
“Demi kianlah Kami jadikan tiap tiap Nabi itu musuh, yaitu setan setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jinn , sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan perkataan yang indah indah untuk menipu”.
Selanjutnya, apapun dan siapapun selain Jin dan Manusia, yang mana dapat mengakibatkan keburukan atau sesuatu yang tidak menyenangkan, ini juga dinamai “setan”. Maka tidak semua Jin adalah “setan”, juga tidak semua Manusia adalah “setan’
Ada Jinn yang Taat beribadah kepada Allah , ada pula mahluk yang mempunyai sifat “setan” , ia berubah menjadi taat taat dan bertaubat………………………
Al Qur’an menunjuk kata “setan” dengan “ath Thaaghuut”, kata ini terambil dari kata kerja ‘thagha” yaitu untuk menggambarkan keadaan meluapnya air hingga mencapai batas kritis dan membahayakan. Makna ini kemudian berkembang lagi untuk mengungkapkan segala sesuatu sikap yang melampaui batas baik terhadap Allah maupun terhadap manusia.
Maka kekufuran, kedurhakaan, pembangkangan, serta kesewenang wenangan, ini semua di rangkum dalam 1 kata yaitu “Thughyaan”. Setan dinamai “Thaaghuut” karena sifat setan sudah mencapai puncak kekufuran dan pembangkangan terhadap Allah subhanahu wata’ala.
Di dalam al Qur’an Allah berfirman :
“ Allah pelindung orang orang yang beriman,
Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman),
Dan orang orang yang kafir, pelindung pelindungnya ialah “setan” yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
Mereka itu adalah penghuni neraka,
Mereka kekal di dalamnya
(QS al Baqarah (2) : 257)
Wallahu a’lam
Refrensi
Buku “ Yang Tersembunyi “ by DR Quraish Shihab, hal 123
25 April 2010
HUKUM ORANG MISKIN YANG TIDAK PERNAH BERINFAK
Allah subhanahu wata'ala berfirman :
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ“
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinyaal (Baqarah 93 )
Timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana nasib orang miskin yang tidak mampu berinfak , apakah dia tidak akan menjadi orang baik selama-lamanya menurut ayat ini ? Di sana ada beberapa jawaban :
1/ Ayat di atas bermaksud untuk mendorong seseorang agar berbuat baik dan itupun menurut kemampuannya masing-masing ,karena Allah tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya.
2/Ataupun arti ayat di atas bahwa seseorang tidak akan mendapatkan kebaikan secara lebih sempurna kecuali kalau dia meng-infakkan apa yang dimilikinya. (Ini sebagaimana yang dalam hadist tentang definisi miskin : “ Seorang miskin bukanlah orang yang hanya makan satu atau dua suap makanan, atau satu atau dua buah kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai uang sama sekali dan tidak diketahui keadaannya, sehingga ia diberi sedekah “ Berkata Al Jashos : Hadist ini ingin menerangkan orang miskin yang sempurna, dan bukan berarti selain itu tidak boleh disebut miskin ( Al Jashos, Ahkam Al Qur’an : 2/ 3001 )
Oleh karena itu, seorang yang miskin atau fakir tidak akan mendapatkan kebaikan yang sempurna tersebut sehingga dia menginfakkan apa yang ia cintai. Bukankah sedekah yang paling utama adalah sedekahnya orang yang hidupnya kekurangan ? [Para pengamen jalanan yang tergabung dalam Pengamen Stovia Community, menyumbang uang sejumlah Rp 746.200 yang murni dari dari hasil mengamen untuk korban tsunami Aceh dan Sumut . Mereka mengamen pada malam Tahun Baru selama sekitar empat jam di sekitar Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Begitu juga seorang pembantu rumah tangga dan seorang baby sitter masing-masing menyerahkan Rp 50.000 gajinya untuk disumbangkan para korban tsunami (Kompas , 06 Januari 2005 ) Begitu juga yang dilakukan oleh seorang ( Djarot ) pengamen di Ciledug, Tangerang, Banten. Ia menyumbangkan uang senilai hampir Rp 9 juta kepada korban gempa di Desa Muker, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jateng, Selain itu Djarot juga menghibur para pengungsi dengan mengajak bernyanyi bersama dengan lagu ciptaannya sendiri. Uang bernilai hampir Rp 9 juta diperoleh Djarot dengan cara mengamen di bus patas AC 44 tujuan Ciledug-Senen selama sepekan. (http://www.liputan6.com/view/7,124630,1,0,1150639203
3/ Ataupun artinya bahwa infak yang baik adalah infak terhadap apa yang ia cintai. [Al Alusy, Ruh Al Ma’ani : 3/ 223)
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ“
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinyaal (Baqarah 93 )
Timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana nasib orang miskin yang tidak mampu berinfak , apakah dia tidak akan menjadi orang baik selama-lamanya menurut ayat ini ? Di sana ada beberapa jawaban :
1/ Ayat di atas bermaksud untuk mendorong seseorang agar berbuat baik dan itupun menurut kemampuannya masing-masing ,karena Allah tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya.
2/Ataupun arti ayat di atas bahwa seseorang tidak akan mendapatkan kebaikan secara lebih sempurna kecuali kalau dia meng-infakkan apa yang dimilikinya. (Ini sebagaimana yang dalam hadist tentang definisi miskin : “ Seorang miskin bukanlah orang yang hanya makan satu atau dua suap makanan, atau satu atau dua buah kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai uang sama sekali dan tidak diketahui keadaannya, sehingga ia diberi sedekah “ Berkata Al Jashos : Hadist ini ingin menerangkan orang miskin yang sempurna, dan bukan berarti selain itu tidak boleh disebut miskin ( Al Jashos, Ahkam Al Qur’an : 2/ 3001 )
Oleh karena itu, seorang yang miskin atau fakir tidak akan mendapatkan kebaikan yang sempurna tersebut sehingga dia menginfakkan apa yang ia cintai. Bukankah sedekah yang paling utama adalah sedekahnya orang yang hidupnya kekurangan ? [Para pengamen jalanan yang tergabung dalam Pengamen Stovia Community, menyumbang uang sejumlah Rp 746.200 yang murni dari dari hasil mengamen untuk korban tsunami Aceh dan Sumut . Mereka mengamen pada malam Tahun Baru selama sekitar empat jam di sekitar Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Begitu juga seorang pembantu rumah tangga dan seorang baby sitter masing-masing menyerahkan Rp 50.000 gajinya untuk disumbangkan para korban tsunami (Kompas , 06 Januari 2005 ) Begitu juga yang dilakukan oleh seorang ( Djarot ) pengamen di Ciledug, Tangerang, Banten. Ia menyumbangkan uang senilai hampir Rp 9 juta kepada korban gempa di Desa Muker, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jateng, Selain itu Djarot juga menghibur para pengungsi dengan mengajak bernyanyi bersama dengan lagu ciptaannya sendiri. Uang bernilai hampir Rp 9 juta diperoleh Djarot dengan cara mengamen di bus patas AC 44 tujuan Ciledug-Senen selama sepekan. (http://www.liputan6.com/view/7,124630,1,0,1150639203
3/ Ataupun artinya bahwa infak yang baik adalah infak terhadap apa yang ia cintai. [Al Alusy, Ruh Al Ma’ani : 3/ 223)
Tafsir Ayat “ SHODAQOH"
Allah berfirman :
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ“
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ ( Al Baqarah : 93 )
Pada ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala meletakkan suatu kaidah yang sangat penting sekali di dalam kehidupan manusia. Kaidah tersebut adalah “ bahwa manusia ini tidak akan mendapatkan kebahagian dan keberhasilan di dalam kehidupannya baik sewaktu di dunia ini maupun di akherat nanti, kecuali jika ia mau mengorbankan apa yang dicintainya demi kehidupan manusia itu sendiri. “Allah swt memberikan syarat bagi setiap manusia yang ingin mendapatkan kebaikan -dan tentunya keberhasilan – untuk terlebih dahulu memberikan kepada orang lain sesuatu yang dicintainya,yaitu
infak dan sedekah.
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ“
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ ( Al Baqarah : 93 )
Pada ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala meletakkan suatu kaidah yang sangat penting sekali di dalam kehidupan manusia. Kaidah tersebut adalah “ bahwa manusia ini tidak akan mendapatkan kebahagian dan keberhasilan di dalam kehidupannya baik sewaktu di dunia ini maupun di akherat nanti, kecuali jika ia mau mengorbankan apa yang dicintainya demi kehidupan manusia itu sendiri. “Allah swt memberikan syarat bagi setiap manusia yang ingin mendapatkan kebaikan -dan tentunya keberhasilan – untuk terlebih dahulu memberikan kepada orang lain sesuatu yang dicintainya,yaitu
infak dan sedekah.
SHODAQOH
Pada diri manusia terdapat 360 persendian, maka ia harus bersedekah untuk tiap persendiannya. Para sahabat bertanya, ”Siapakah orang yang mampu berbuat demikian, ya Nabi Allah? Rasul menjawab, “Engkau timbun (bersihkan) ludah di dalam masjid, engkau singkirkan duri dari jalan. Dan apabila engkau tidak mendapatinya, lakukanlah shalat dhuha dua rakaat sebagai gantinya.” (HR. Abu Daud
SHODAQOH DAPAT MENYEMBUHKAN , KIKIR DAPAT MEMBINASAKAN
Ketahuilah bahwa harta benda bukan saja membawa manfaat, akan tetapi dapat membawa kearah Mudlarat. Mengapa demikian ? karena si pemilik harta sangat ketergantungan dengan harta hingga menimbulkan rasa sayang dan cinta yang berlebihan kepada harta …karena rasa cinta dan sayang yang berlebihan itulah ia merasa bahwa dirinyalah pemilik harta dan tidak akan memberikan harta kepada siapapun karena takut miskin….,
Tipe orang semacam ini , mereka tidak menyadari bahwa Bumi pasti akan menelannya habis, dan bahwa kekikiran akan membawa kepada kebinasaan…atau bisa juga disebut dengan bunuh diri, meskipun bukan jiwa mereka sendiri yg dipenggalnya, namun minimal mereka telah membunuh fitrah kebaikan yg telah Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada setiap insan, sehingga menjatuhkan kwalitas kemanusiaan yg mulia, naudzubillahi min dzalik………….
Allah Subhanahu wata’ala berfirman di dalam QS al Baqarah 195 :
“Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah subhanahu wata’ala, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan. Dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat baik”
Hudzaifah berkata :
Bahwa yang dimaksud dengan “ janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan”, adalah : tidak mau meng infakkan hartanya di jalan Allah karena takut miskin .
kebinasaan disini bukanlah diartikan tewasnya seseorang karena perang, akan tetapi hilangnya kwalitas kemanusiaan. Menurut tafsir al mishbah (qiraish shihab) hal. 425, arti kebinasaan disini adalah
hilangnya keyakinan akan keesaan Allah, maksudnya hilang kemerdekaan dan kebebasan bertauhid sehingga hidup menjadi tidak tenang lahir dan batin –red.,,,hilang entah kemana perginya….dapat juga diartikan bahwa kebinasaan disini adalah membinasakan si pemilik harta di hari kemudian.
Ketahuilah bahwa orang yang bersedekah, sesungguhnya ia telah memberi pinjaman kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Baca QS al Baqarah 245 :
“ Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah ) maka Allah subhanahu wata’ala akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan berlipat ganda . Dan Allah subhanahu wata’ala yang menyempitkan dan melapangkan (rizki)
Dan kepadaNYAlah kamu dikembalikan “
Ingat ya. Bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Allah di saat suatu hari manusia tidak mendapat pertolongan apapun (hari akhir), tidak juga dapat meminta pertolongan kepada sahabat, kakak , adik, orang tua, suami/istri/ anak anak, dll…..semua dihisab sesuai amalannya masing masing.. pada hari itu dihilangkan semua perantara yang dahulu di Dunia manusia selalu meminta pertolongan lewat perantaraan….hari itu mutlak milik Allah…..nah… jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari Allah pada saat satu makhlukpun tidak dapat memberi pertolongan, mulai sekarang, mumpung masih hidup di Dunia, banyaklah beramal sholih, suburkan sedekah karena dengan bersedekah, Allah melipat gandakan pahala ……juga isilah hari hari di Dunia dengan amalan amalan sholih , jangan di lewatkan waktu terbuang sia sia.
Ketahuilah, Allah menjamin orang orang yang bersedekah, dengan membersihkan hati dan fikiran . Dengan demikian, apa apa yang di derita mengenai penyakit hati, Allah akan menyembuhkannya, yang tadinya sakit, akan sembuh kembali berkat kepasrahan dan ke taqwaannya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Dikisahkan, bahwa seseorang datang kepada Abdullah bin mubarrak. Ia berkata kepada Abdullah bin Mubarrak :
“ sudah 7 tahun lamanya di lutut saya terdapa luka. Sudah saya coba bermacam macam obat, tetapi tidak membawa hasil. Saya juga sudah berusaha membawa kepada seorang tabib yang ahli,tetapi hasilnya nihil !
Lalu Abdullah bun Mubarrak berkata :
“ cobalah membuat sumur di tempat orang orang yang kekurangan air. Saya berharap kepada Allah , agar ketika air itu memancar di lubang sumur, darah di lututmu akan berhenti mengalir !”
Setelah melaksanakan anjuran Abdullah bin Mubarrak, yakni bersedekah dengan air, tak lama kemudian, lukakupun segra sembuh !
Subhanallah…………….
Pada hari Juim’at berikutnya, salah seorang wanita anggauta majelis taklim datang lagi sambil membawa secarik kertas bertuliskan tulisan tangannya, dimana isi tulisan tersebut antara lain :
“ pada hari jum’at yang lalu sekembalinya saya dari majelis taklim, saya mendo’akan Hakim dengan sungguh sungguh. Setelah itu saya bermimpi di datangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam. Dalam mimpiku, Rasulullah shallallahu a’laihi wasalam bersabda : “…Suruhlah Hakim agar memberikan kemudahan air bagi kaum Muslimin….”
Begitu mendengar hal ini, maka Abu Abdullah Hakim segra membuat tangki di depan rumahnya . Ia selalu memenuhinya dengan air dan es. Setelah berlalu satu minggu, maka luka di wajahnya segra membaik, bahkan keadaannya menjadi lebih tampan dari sebelumnya………..Alhamdulillah…
Subhanallah……
Inilah beberapa contoh kisah yang bisa kita ambil pelajarann dan hikmah, bahwa keutamaan bersedekah, pahalanya sangat besar, bahkan dilipat gandakan banyak sekali….., hal ini haruslah menjadi sesuatu yang diyakini . yakin bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu…. Menyembuhkan penyakit adalah hal yang sangat mudah bagi Allah.
Diambil dari buku “Keajaiban Sedekah”
(best seller) by Fayet Maulana. h 79 - 89
----------------------------------------R----------------------------------------------
22 April 2010
Kemungkinan Manusia Pernah Memasuki Zaman Nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu.
Masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa pra sejarah dan peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia.
Akan selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.
Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno,
dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.
Akhir-akhir ini perhatian saja tertuju terhadap sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu.
Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30000 SM hingga 15000 SM.
Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga Pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah.
Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 BC).
Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya 'Seven Rishi City' yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).
Dari berbagai sumber yang saya pelajari, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah :
- Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).
- Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.
- Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
- Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.
- Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi's City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
- Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
- Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.
- Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.
- Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari 'wahana terbang' yang disebut 'Vimana' yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini.
Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan Amerika Selatan.
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000SM atau 6000tahun yang lalu.
Hingga kini segala sesuatunya memang masih campur aduk antara mitos, sejarah, dan sains tapi setidaknya sebuah benang merah jelas terlihat dan bagi kita yang berpikiran terbuka, segala sesuatunya tentu menyimpan potensi kebenaran dan pencerahan dalam usaha umat manusia memajukan peradaban dengan mencari kunci dari masa lalu.
------------------------------------------------R---------------------R---------------------------------
Akan selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.
Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno,
dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.
Akhir-akhir ini perhatian saja tertuju terhadap sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu.
Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30000 SM hingga 15000 SM.
Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga Pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah.
Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 BC).
Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya 'Seven Rishi City' yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).
Dari berbagai sumber yang saya pelajari, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah :
- Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).
- Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.
- Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
- Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.
- Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi's City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
- Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
- Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.
- Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.
- Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari 'wahana terbang' yang disebut 'Vimana' yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini.
Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan Amerika Selatan.
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000SM atau 6000tahun yang lalu.
Hingga kini segala sesuatunya memang masih campur aduk antara mitos, sejarah, dan sains tapi setidaknya sebuah benang merah jelas terlihat dan bagi kita yang berpikiran terbuka, segala sesuatunya tentu menyimpan potensi kebenaran dan pencerahan dalam usaha umat manusia memajukan peradaban dengan mencari kunci dari masa lalu.
------------------------------------------------R---------------------R---------------------------------
...
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000SM atau 6000tahun yang lalu.
...
Ada sesuatu mengenai legenda ttg Advance Civilization yang selalu menggelitik gw:
1. Jika suatu peradaban sudah highly advanced, tentunya mereka sudah menemukan alat transport yang baik yang bisa membawa mereka untuk menjelajahi seluruh bumi, so, how come, sisa-sisa peradaban ini terbatas di daerah-daerah tertentu saja?
2. Suatu perang nuklir yang dahsyat bisa menjelaskan dengan mudah akan adanya missing link antara budaya tersebut dengan budaya sekarang, tetapi bukankah diperlukan lebih dari satu kali ledakan nuklir untuk menghancurkan secara total satu peradaban. Lalu mengapa tidak ditemukan bekas ledakan tersebut?
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000SM atau 6000tahun yang lalu.
...
Ada sesuatu mengenai legenda ttg Advance Civilization yang selalu menggelitik gw:
1. Jika suatu peradaban sudah highly advanced, tentunya mereka sudah menemukan alat transport yang baik yang bisa membawa mereka untuk menjelajahi seluruh bumi, so, how come, sisa-sisa peradaban ini terbatas di daerah-daerah tertentu saja?
2. Suatu perang nuklir yang dahsyat bisa menjelaskan dengan mudah akan adanya missing link antara budaya tersebut dengan budaya sekarang, tetapi bukankah diperlukan lebih dari satu kali ledakan nuklir untuk menghancurkan secara total satu peradaban. Lalu mengapa tidak ditemukan bekas ledakan tersebut?
13 April 2010
Benarkah Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan ? (2)
Sebagaimana yang telah di kemukakan pada bag 1, bahwa Fitnah adalah cobaan, baik berupa keburukan maupun kebaikan. Dan pengertian kata “fitnah’ , bukanlah ditujukan untuk orang yang menjelek jelekkan seseorang atau membicarakan kejelekan seseorang. Untuk katagori membicarakan kejelekan orang lain atau menuduh orang lain berbuat kejelekan, ini masuk dalam katagori “Ghibah”, baca QS al Hujurat (49) : 12
09 April 2010
Benarkah FITNAH lebih kejam dari Pembunuhan ? (1)
Di kampus, dalam Mata Kuliah Agama Islam, sekelompok Mahasiswa/i berdiskusi kelompok memperdebatkan makna kata “FITNAH”. Ada yang mengatakan bahwa “Fitnah itu menuduh seseorang berbuat dzalim tanpa bukti” , ada yg berkata bahwa “Fitnah itu adalah cobaan, bisa bala’ , bisa kenikmatan”, dan yg lain mengatakan bahwa “Fitnah itu kejam, bahkan lebih kejam dari pembunuhan “………….., Maka Salah satu Mahasiswi (mewakili Kelompok 2) berdiri menerangkan kata FITNAH yang rujukannya diambil dari Buku “Secercah Cahaya Ilahi” dan “Tafsir Al Misbah Vol 2”
karya M.Quraish Shihab
02 April 2010
PRIA MERUBAH STATUS MENJADI WANITA (WARIA)
Seorang laki-laki yang sengaja menyerupai sifat-sifat wanita, dilaknat oleh Allah subhanahu wata'ala dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Sesungguhnya Allah menciptakan manusia ini dalam dua jenis saja, yaitu laki-laki dan perempuan, sebagaimana firman Allah swt:
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى
“Dan Dia (Allah) menciptakan dua pasang dari dua jenis laki-laki dan perempuan.“ (Qs An Najm : 45)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى
“Wahai manusia Kami menciptakan kamu yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.“ (Qs Al Hujurat : 13)
Kedua ayat di atas, dan ayat-ayat lainnya menunjukkan bahwa manusia di dunia ini hanya terdiri dari dua jenis saja, yaitu laki-laki dan perempuan, dan tidak ada jenis lainnya.
Tetapi di dalam kenyataannya, kita dapatkan seseorang tidak mempunyai status yang jelas, bukan laki-laki dan bukan perempuan. Bagaimana Islam memandang orang tersebut? Bagaimana cara memperlakukannya? Apakah dia mendapatkan jatah warisan? Dan bagaimana pernikahannya? dan seabrek pertanyaan-pertanyaan lain yang timbul akibat status yang tidak jelas tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)

