Tampilkan postingan dengan label TASAWWUF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TASAWWUF. Tampilkan semua postingan

05 Oktober 2019

Musyahadah Maqom tertinggi

ღ☆ღ *✿°••••◈🌹﷽ 🌹◈••••°✿*

*Pelajaran AqidahTauhid*

*MUSYAHADAH*

*Musyahadah* adalah *penyaksian dan melihat Allah  ﷻ*, dengan memandang kepada  alam dan dirinya sendiri.

Makna melihat Allah ﷻdisini , *bukanlah berarti melihat Zat Allah*, kerana Dzat atau Diri Allah itu *tidak boleh dibayangkan dan di imaginasikan*..
Laisa kamishlihi sya'un...

Namun Allah ﷻ yang salah satu namanya adalah *al-Zahir* yaitu *yang  terang dan jelas tanpa hijab, tanpa tabir dan tanpa pendinding sebenarnya dapat dilihat, dipandang dan dikenal*...

Tapi bagaimana  caranya ?

Sebenarnya Allah ﷻ dapat dilihat dan dipandang, *bukan pada DzatNYA tapi pada sifat dan perbuatanNYA dengan melihat alam ini, makhluk dan diri kita sendiri*...

*Alam, makhluk dan diri kita tiada lain melainkan ayat-ayat Allah ﷻuntuk menunjukkan diriNYA*....

Kepada  kita DIA menunjukkan *WUJUDNYA*,  menunjukkkan *SIFATNYA*, menunjukkan *ASMA'NYA* dan menunjukkan *AF'ALNYA* yakni *perbuatanNYA*.
Perkara-perkara inilah yang dikatakan sebagai
*WAJAH ALLAH*....

Firman Allah  *Dimana saja kamu menghadap, disitulah wajah Allah* (al-Baqarah:115)

*MUSYAHADAH*  yaitu  maqam yang *perlu diusahakan untuk mencapai tingkatan tertinggi dalam Ihsan* yaitu rukun agama ketiga. 

*MUSYAHADAH* ini adalah  suatu *maqam lebih tinggi dari maqam muraqabah* yang mana cara memilikinya adalah  dengan jalan *MUJAHADAH(memaksakan diri dengan niat yang sangat kuat)*  seperti *latihan zikir, tafakkur* dan *menghilangkan hijab-hijab pemisah antara pandangan mata kita kepada wajah Allah dengan cara menyucikan hati dari nafsu ammarah, sombong, riya, hasad dengki, dendam, cinta dunia, cinta sanjungan dan pujian, ujub, tinggi diri dan lain-lain*.....

Kalau sekadar telah mempelajari *ilmu tauhid,  itu masih di area martabat *ilmu yaqin* Yakni sekadar maklumat saja.

Apabila telah *mencapai muraqabah (perasaan sentiasa dilihat Allah  ﷻ), ini masih di area ainul yaqin* yaitu masih di dalam kadar *rasa dan perasaan*...

Kemudian apabila *telah mencapai tingkatan musyahadah*,  ini  bukan lagi berada di area perasaan dan rasa , tetapi *secara hakikat dia  sudah melihat Allah   ﷻ, memandangNYA, menyaksikanNYA dan mengenalNYA, ini sudah MASUK KE AREA  HAQQUL YAKIN*

Sekali lagi ingin dijelaskan bahwa melihat Allah ﷻ disini bukanlah pada melihat  *DZATNYA , tapi pada WAJAHNYA*  yaitu *kesan-kesan perbuatan Allah  ﷻ yang ada di seluruh alam ini dan yang ada pada  diri kita*....

*Kesan perbuatan itu tiada berpisah dari perbuatan, perbuatan pula tiada berpisah dari sifat manakala sifat tiada berpisah dari Dzat*..

Ini bermakna *melihat alam ini dengan melihat perbuatan Allah ﷻ yang menghidupkan, mematikan, mewujudkan, menggerakkan, memperjalankan, mengatur, mentadbir, mengawasi ,menggenggam alam  dan memerintahnya*....
Semua ini  adalah makna dari musyahadah yang kita sedang bincangkan diatas....

Maka dengan ini *setiap segala sesuatu tidak akan terlepas dan terluput dari perbuatan Allah ﷻ*. Hatta degupan jantung kita , kelipan mata kita , aliran darah kita, adalah *dalam genggaman perbuatan Allah ﷻ*.
Disinilah hadirnya makna kebersamaan Allah ﷻ dengan kita.

Firman Allah *Dan Dia(Allah) bersama kamu dimana saja kamu berada*.. (al-Hadid:4)

Dan Kami(Allah) lebih hampir dengannya *lebih dekat dari urat lehernya sendiri*.(Qaf: 16)

“ Dan Allah telah *mencipatakan kamu dan menciptakan apa yang kamu lakukan* (al-Saffat:96)

Maka, kalau kita melihat alam ini , ajarilah jiwa kita bahwa sebenarnya kita sedang melihat semua perbuatan Allah ﷻ, dari Allah ﷻ berarti melihat Allah ﷻ jua.....

*Namun perlu difahami bahwa perbuatan adalah perbuatan manakala DZat adalah DZat. Perbuatan bukan DZat dan Dzat bukan perbuatan. Namun keduanya tidak berpisah*

Mari kita coba fahami melalui contoh dibawah ini :

Wawan seorang yang mempunyai  sifat kuat, selagi dia tidak memperlihatkan (mewujudkan) kekuatannya, maka kita takkan bisa melihat hakikat sifatnya itu ..
Ketika Wawan memukul tembok dinding hingga pecah, nampaklah sifat Wawan yang terpendam itu..
Intinya, Wawan telah  mewujudkan sifat kuatnya atau dengan kata Wawan  telah menzahirkan sifat kuatnya  melalui  sebuah perbuatan memukul tembok tersebut.

Yang menyebabkan tembok itu pecah yaitu karena ada  hubungannya dengan kesan perbuatan Wawan yang bersifat kuat.

Maka kesan, perbuatan dan sifat tidak berpisah dari Wawan...

Ini hanyalah perumpamaan untuk kefahaman kita saja..
Dan Allah ﷻ adalah Maha Tinggi Dan Maha Suci dari di persamakan dengan makhlukNYA...

Allah ﷻ yang  bersifat Maha Menciptakan, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Pengasih dan Penyayang, ingin DiriNYA dikenali , maka tujuan Allah ﷻ menciptakan alam ini supaya perbuatanNYA dapat diwujudkan, dizahirkan, dinampakkan melalui sifatNYA.

Maka alam dan diri kita adalah semata mata sebuah kesan dari ---->perbuatan Allah  ﷻ, dan dari ---->sifat sifat Allah ﷻ----->  dari Dzat Allah ﷻ..

Intinya , segala sesuatunya di Alam Raya ini sedikit pun tidaklah  terpisahkan  dari Allah  ﷻ...
Yang memisahkannya itu hanyalah akal kita saja, karena akal mudah dikuasai oleh hawa nafsu tercela...

Contoh lain adalah MATAHARI....

Matahari berada 150 juta km dari bumi.
Sifatnya adalah  bercahaya dan ..
Perbuatannya adalah  menyinari ....
Kesannya yang terasa adalah sinaran hangat matahari.

Kita tidak mengatakan bahwa  sinaran itu adalah Dzat sosok bulatan  matahari, akan tetapi  keduanya tidaklah dapat di pisahkan...

Namun dengan melihat sinaran mentari, secara automatik kita tahu sinaran itu ada hubungan yang tidak putus dari matahari nun jauh disana.

Nah , contoh diatas hanyalah gambaran visualisasi  untuk memudahkan diri dalam memahamiNYA bahwa DIA selalu mengalirkan kasih sayangNYA sebagaimana sinar Mentari selalu bersinar....

Hanya saja  bedanya, kalau Matahari jauh dan sinarnya saja yang terasa, namun Allah ﷻ adalah sangat dekat kepada  kita. Sangat sangaat dekatnya tanpa jarak, tanpa ruang, tanpa tempat dan tanpa masa, sehingga kedekatanNYA pada diri menjadi sebuah rahasia khusus untuk diri sendiri saja... (istilah bahasanya adalah sudah melihat wajah Allah) .(bagi yang sudah memasuki rahasia inilah dinamakan   sdh masuk ke area musyahadah)

Firman Allah *Sesungguhnya Aku sangat hampir, Aku menyahut seruan orang yang menyeruKu* (al-Baqarah:)

Dan ternyata Musyahadah ini  terbagi dalam beberapa tingkatan ..

1.ada yang pandangannya terhenti pada kesan dan bekas perbuatan Allah(martabat musyahadah infi’al)..

2.lebih tinggi dari itu yaitu ada yang pandangan dirinha  yang terhenti pada perbuatanNya (martabat musyahadah af’al),

3. lebih tinggi lagi yaitu yang pandangan qalbu dirinya  terhenti pada sifatNYA (martabat musyahadah sifat) dan

4. Yang paling tertinggi adalah martabat yang amat di idamkan dan ditunggu-tunggu  oleh sekalian makhluk,yaitu  tenggelam, lebur diri dan fana dalam wajah Allah saja sehingga Wajah diri kita dan wajah makhluk alam seluruhnya telah terbuang, terpadam, karam, tenggelam, binasa, lebur dan setelah wajah tidak lagi kelihatan , yang pasti wajah Allah-ﷻ yang kelihatan, yang akan terpandang dan yang akan terzahir senyata-nyatanya dan terpancar dengan sejelas-jelasnya diseluruh ruangan hembusan dan tarikan nafas kita.

Intinya,
*Cara memandang dan mengenal Allah ﷻ itu adalah dengan jalan memandang alam ciptaanNYA*

Setelah alam dipandang, alihkan pandangan itu kepada alam diri kita sendiri.
Dari situ nantinya, wajah Allah ﷻ akan terpandang dan akan terlihat cahayaNYA meliputi sekalian alam dan meliputi diri kita sendiri ,dengan segala kebesaranNYA, kemuliaanNYA, kesucianNYA dan keajaibanNYA..

Diri sendiri menjadi  mengerti bahwa jalan yang  paling mudah untuk mengenal Robb adalah melalui dirinya sendiri karena biasanya perbuatan Allah ﷻ yang  mengendalikam dirinya, Allah yang mehidupkannya, memperhayatkannya, memperjalankannya, memperlihatkannya, memperdengarkannya, memperkalamkannya, memperilmukannya, mengenyangkannya, menidurkannya, merehatkannya, memperkudratkannya, memperkehendakkannya dan lain-lain.

Secara ringkas dapat dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah ﷻ adalah terang dan jelas lagi zahir dan wujud dalam keyakinan, dalam aqidah, dalam perasaan  bahkan juga dalam penglihatan dan pandangan hamba-hambaNYA yang bertauhid kepadaNYA dengan tauhid yang mendalam dan mantap.

Maka  sempurnalah  Iman dan Islam ...
Sehingga  hakikat al-Ihsan menjadi pakaian batinnya...
Menjadi hiduplah lampu cahaya rohaninya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNYA..

Semoga Allah ﷻ mengurniakan  kita hakikat Iman ,Islam dan Ihsan ini.

Amiin Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin

Wallahu 'alam bish showwab
ღ*صلوا على النبي* ° ღ
         *˛˚ღ • *ﷺ* * ★
˚. .❀¸.••.❀ ..••.¸✿ ✿¸.
✿*•☆°•Rafi'ah Jameela•°☆•*✿

13 Maret 2018

Kesaktian yg sesungguhnya🌹

بسم الله الرحمن الرحيم

“Tuanku, engkau bisa berjalan di atas air,,,?!” murid-muridnya berkata dg penuh kekaguman kepada Syeikh Jumadil Qubro.

“Itu bukan apa-apa.. Sepotong kayu juga bisa,” Syeikh Jumadil Qubro menjawab.

Murid :“Tapi engkau juga bisa terbang di angkasa.”

Syeikh Jumadil Qubro :“Demikian juga burung-burung itu bisa,”

Murid : “Engkau juga bisa bepergian ke Ka’bah dalam sedetik.”

Syeikh Jumadil Qubro :“Setiap Jin yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu sedetik,”

Murid :Engkau juga kebal senjata dan kebal api..!

Syeikh Jumadil Qubro : "Batu karang dipantaipun bisa kebal seperti itu,,!"

Murid :“Kalau begitu, apa kehebatan seorang Manusia Sakti yg sebenarnya?” murid-muridnya ingin tahu.

Syeikh Jumadil Qubro tersenyum lalu menjawab: “Manusia sakti ialah mereka yg bisa menjaga hatinya agar tidak berpaling kepada sesuatu pun selain Alloh,Hatinya selalu bisa Dzikrulloh dalam keadaan apapun, sehingga bisa BERSABAR ketika di uji dan bisa BERSYUKUR ketika di beri , dg dzikirnya maka rasanya rata datar seperti AIR sehingga Tidak senang ketika DIPUJI dan Tidak sakit hati ketika DIHINA, dg dzikrullah maka ia bisa TERBANG Hijrah dari kegelapan perbuatan dosa ke jalan ketaqwaan penuh cahaya , dan KEBAL dari segala godaan syetan , sehingga bisa ringan secepat KILAT membawa badanya untuk shalat 5 waktu...!".

Maka ISTIQOMAH lebih hebat dari 1000 KAROMAH...

Di zamannya Sayyid Jumadil Kubro dijuluki "PANDITO RATU" karena mempunya Ilmu rahasiah Kaysaf Laduni yg langsung dari Allah seperti Nabi Khidir AS , yg mengetahui hal gaib dan ilmu-ilmu rahasiah yg tidak diketahui oleh umum,Syeikh Sayyid Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yg hidup sebelum Walisongo.

Beliau Seorang Qutubul alamin Wali Mursyid Agung Sultan Aulia terbesar dizamannya, penyebar Islam pertama yg mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit.

Syeikh Sayyid Jumadil Kubro adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad Sholallahu alaihi wasallam dari garis Sayidah Fatimah Az Zahra.

Semoga ada hikmahnya, dan menjadikan kita semuanya istiqomah dijalan yg di ridhai Alloh Subhanahu wata'ala Aamiin yaa Robbal aalamiim...

Barakallahu Al-fatihah Sayyid Syeikh Maulana Jumadil Qubro Jamaluddin al-Husain al-Akbar ra Belieu Leluhur walisongo

( Sumber dari Kitab Al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran Dan Kitab Risalah Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur, Kitab Babad Tanah Jawi karya Raden Hadiwijaya pajang ).....

Yaa Sayyidi...yaa Rosululloh.....

Kyai Faqih
Batam, 13 maret 2018

Tasawuf ditegakkan atas 8


🌻 ﷽ 🌻🌻 ﷽ 🌻

Dan Syaikh Abul Qasim Al-Junayd Al-Baghdadi ra. berkata:
"Tasawuf didirikan di atas delapan kualitas yang dicontohkan oleh delapan orang Rasul:

1.Kemurahan hati Ibrahim as., yang mengorbankan putranya;

2.Kepasrahan hati Ismail as., yang taat kepada perintah Tuhan dan memberikan hidupnya yang paling berharga;

3.Kesabaran Ayyub as., yang dengan sabar menanggung penderitaan akibat luka-luka boroknya dan menanggung kecemburuan Yang Maha Pengasih;

4.Perlambangan Zakariyya as., yang kepadanya Tuhan berfirman, "Engkau jangan berbicara kepada manusia selama tiga hari kecuali dengan tanda-tanda (isyarat)" [QS 3:37], dan juga "Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang berbisik lembut" [QS 19:3];

5. Keasingan Yahya as., ia sebagai seorang asing di negerinya sendiri dan merasa terasing bagi sanak keluarganya, yang di tengah-tengah mereka ia hidup;

6. Perjalanan ruhani Isa as., yang dengan begitu rupa meninggalkan (kemewahan) benda-benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir --- cangkir itu ia lemparkan apabila ia melihat seseorang yang minum dengan telapak tangannya, dan sisir itu dibuang apabila ia melihat orang lain menggunakan jari-jarinya untuk menyisir rambutnya;

7. Pakaian bulu domba yang digunakan oleh Musa as., jubahnya terbuat dari bulu-bulu binatang itu;

8. Kefakiran Muhammad saw., yang kepadanya Tuhan telah menyampaikan kunci dari semua perbendaharaan harta yang ada di permukaan bumi, dan berfirman: "Jangan susahkan dirimu, tapi nikmatilah setiap kemewahan dengan menggunakan semua harta kekayaan ini"; dan beliau menjawab: "Wahai Tuhan, aku tidak menginginkan itu semua, berilah aku kenyang satu hari dan lapar satu hari."

Ini semua adalah prinsip-prinsip perilaku yang paling utama."

[ Kasyful Mahjub, Syaikh Ali Ibn Utsman Al-Hujwiri (w.1072M) ]

Kyai Faqih
Batam, 13 maret 2018
Shollu'ala Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wasallam

12 Maret 2018

Ahli Tasawwuf

بسم الله الرحمن الرحيم

[ Riwayat Imam Ahmad Bin Hanbal Dalam Bertasawuf ]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 H) adalah seorang fuqaha yang tidak asing lagi bagi kita. Pada mulanya beliau tidak menyukai ahli-ahli tasawuf dan selalu menasihati anak lelakinya yang bernama Abdullah supaya menjauhkan diri dari ahli tasawuf.

Salah seorang ahli tasawuf yang sangat tak disenangi oleh beliau ialah Syubbán al-Rá'ie (guru Imam Syafie dalam bidang tasawuf). Imam Ahmad bin Hanbal menyangka bahawa Syubban al-Ra'ie itu seorang yang jahil yang bercakap dengan istilah-istilah tasawuf  yang payah difahami yang direka-reka sahaja.

Pada suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal bertanya satu soalan sukar dijawab kepada Syubban al Ra'ie. Disangkakn Syubban al Ra'ie tidak akan dapat memberikan jawapannya. Soalan itu ialah mengenai seorang yang telah meninggalkan satu solat dari solat fardu 5 waktu tetapi orang tersebut tidak tahu solat apakah yang dia tinggalkan itu, zohor atau asar atau subuh atau isyak atau maghrib? Bagaimanakah orang ini harus menyelesaikan masalahnya?

Syubban al Ra'ie menjawab : orang itu ghaflah, maka wajiblah ia mendidik dirinya supaya ghaflah itu hilang. Mendengar jawapan itu Imam Ahmad jatuh pengsan.  Selepas beliau sedar dari pengsan itu maka beliau segera memeluk Syubban al Ra'ie. Peristiwa itu menginsafkan Imam Ahmad sehingga beliau segera belajar ilmu tasawuf daripada Abu Hamzah al Baghdadi, seorang ahli tasawuf yang terkenal pada zaman itu.

Selepas Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mempelajari tasawuf maka nasihat-nasihat yang diberikan kepada anak lelakinya, Abdullah adalah berlainan dari yang pernah diberikan pada masa sebelumnya. Nasihat-nasihatnya sesudah beliau belajr dan mendampingi ahli-ahli tasawuf. Antara nasihatnya itu :

"Hai anakku, wajiblah di atas engkau mendampingi ahli-ahli tasawuf itu, kerana mereka itu boleh menambahkan banyaknya ilmu kita, menambahkan sifat takut kita kepada Allah, sifat kasih kita kepada Allah, taqwa kita dan keazaman kita (dalam bermujahadah di jalan Allah)"

[ Risalah al Qusyairiyyah : Syeikh Abu Qasim al Qusyairi ]

اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلمُرْسَلِيْنَ

14 November 2017

Qur'an, apa Kitab?


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

Filsafat Tasawwuf
oleh
DR KH Imam Muslimin

Mohon maaf sebelumnya, saya akan ikut urun rembuk terhadap sesuatu yang mungkin dianggap sebagai problema oleh sebagian dari beberapa orang.

Semoga bisa dijadikan pertimbangan, karena apa saya sampaikan bukan jawaban yang MAK JLEBB, seperti pernah disampaikan problema dimaksud oleh Guru saya Prof. Imam Suprayo dan juga berbagai jawaban atas pernyataan Prof. Imamً Suprayogo, oleh para sesepuh dan Kyai.

Saya hanya menyampaikan sesuai dengan kapasitas saya yang sangat terbatas, saya sebagai Dosen FILSAFAT TASAWUF alias dalam kerangka ini barangkali penjelasan saya untuk memberikan urun rembuk yang hanya sebagai penjelasan saja, bukan jawaban. Saya bukan ahl tafsir, ahli fiqh dan sebagainya. Saya adalah dosen yang kebetulan mengajar mahasiswa MK Filsafat dan Tasawuf serta beberapa mata kuliyah lainnya.

Hendaknya dijelaskan terlebih dahulu, apa itu Qur'an..???

Apakah yang dimaksud dengan Qur'an itu adalah kertas yang ditulisi oleh manusia atau dicetak oleh percetakan yang yang terdiri dari 114 surat, 30 juz sekian ribu ayat dan sekian juta huruf; Dimulai dari surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas, itu disebut Qur'an..???

Apa pula yang dimaksud dengan dengan hadits, apakah ia tulisan yang dikumpulkan dalam buku oleh para tokoh seperti al Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah; Yang kemudian buku tersebut disebut dengan "kutub sittah"..???

Apakah kutub sittab (enam buku) itu yang dimaksud dengan hadits???

Kemudian apa yang dimaksud dengan dalil, apakah teks tulisan tangan manusia yang dinisbatkan kepada qur'an dan kutub sittah, itu disebut dalil..???

Qur'an itu kitab abadi ketika terbaca atau dibaca. Ia nyata adanya di dalam dada manusia dan dia adalah ayat yang jelas berada di dalam dada manusia;

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Al-Ankabut 49

Siapa berpegang teguh padanya tiada tersesat selama-lamanya.

Itulah "kitaballah wa sunnata rasulihi.."

تركت فيكم أمرين إن تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا : كتاب الله وسنة رسوله

Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, jika kalian berbegang teguh dengan keduanya, maka kalian tiada tersesat selama-lamanya.

Apakah "kitaballah" itu kertas yang ditulisi oleh manusia???

Apakah sunnah rasulullah itu "kutub sittah"???

Kitaballah itu "Alif Laaam Miiim" yang tiada keraguan di dalamnya untuk ditaqwai agar menjadi petunjuk bagi mutaqqin..

Sunnah rasulullah itu Shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah..

Jika ada tulisan tunjuk arah ke Surabaya 85 KM, apakah ini dilalah apa dalil???

Jika seseorang meminta dalil akan dilalah ke Surabaya 85 KM, ia harus mau ditunjukkan dengan alat "meteran" misalnya, kemudian dilakukan pengukuran dari tempat tunjuk arah tersebut, sampai tiba di Surabaya.

Kalau yang bertanya saja belum mengerti apa yang ia tanyakan, bagaimana menjawabnya??

Kalau yang bertanya tidak menginginkan jawaban apapun dari yang ditanya, perlukah yang ditanya menjawabnya???

Kemudian berkenaan dengan apa itu qur'an dan apa itu kitab???

Hendaknya dijelaskan pula agar sedapatnya diperoleh pengertian atas benda yang bernama qur'an dan kitab itu.

Qur'an itu ayat nyata yang di dalam dada manusia ketika terbaca atau dibaca, itulah qur'an namanya.

Lalu apa dan bagaimana dan dengan mushaf al Qur'an dan kutub sittah yang berjilid-jilid itu???

Keduanya amat penting posisinya sebagai marja' atau tempat merujuk, apakah bacaan (qur'an) terhadap ayat yang di dalam dada ini, sesuai dengan tulisan yang dikumpulkan di atas kertas itu.

Perlu dipahami pula, bahwa yang diturunkan bukan Qur'an, tapi al Kitab atau catatan dan harus dibaca.

ِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ0 الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
Al-Isra' 14.

Maka yang disuruh mengqur'an atau membaca adalah kitab catatan dirimu..

Sedangkan bacaan atau qur'an dengan bahasa Arab, karena Nabi Muhammad saw orang Arab yang lisan mulia beliau mengata dengan bahasa Arab.

Seandainya Nabi Muhammad saw itu, orang Turen, tentu bacaannya atau qur'annya berbahasa Jawa Malangan dan agak keduro-duroan.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Yusuf : 2.

Lalu terkait dengan haji, apakah ke Makkah atau Jember???

Haji itu ke Akbar, maka disebut dengan "hijjul akbar.."

Makkah itu tempat atau lokasinya Akbar, tepatnya di Baitullah, tandanya Ka'bah dan pintu masuknya adalah batu hitam atau hajar aswad.

Kalau Anda pergi ke rumah saya, siapa dan apa yang Anda tuju atau bahasa Arabnya "liman atau ila man tahujju"???

Apa dan siapa yang Anda hajatkan atau perlukan???

Bukan rumah saya kan???

Akan tetapi tentu Anda berhajat atau berhaji kepada saya, bukan rumah saya.

Rumah saya hanyalah alamat atau tanda di mana saya berada dan tinggal.

Tenaang duluuur, ojok menuduh yang bukan-bukan dulu, yaaa???

Saya mendapatkan pengertian semacam itu, bukan baru saja, tapi sejak tahun 90an dengan seorang guru yang mlarat dan kere tiada harta benda di desa Nanggalan perbatasan Blitar Kediri.

Tapi, tentu semua itu hanyalah penjelasan bukan keputusan, sehingga masih mungkin diberikan berbagai penjelasan yang lain untuk didapatkan penjelasan yang lebih jelasss dan seterusnya.

Selanjutnya, apa itu Islam??

Kalau saya mengartikan Islam itu, seperti dirumuskan oleh para pendahulu kita, para alim dan cendekia yaitu Islam itu rukun.

Rukun itu anggota badan jama'nya "arkan" alias amal nyata.
Jikalau Islam itu pasti beramal nyata berupa kerukunan. Kalau tidak rukun, bukan Islam.

Maka RUKUN ISLAM artinya, beramal nyata kerukunan, saling menghargai, hati tetap husnu dhon dst, itulah damai diri dan damai orang lain atau Islam..

Islam itu mendamaikan : aslama- yuslimu-islam artinya mendamaikan diri sehingga bisa berdamai tehadap orang lain, produknya adalah "salam" atau kedamaian.

🥀⚘🌻
*Allohumma Sholli 'ala Sayyidina wa Maulana Muhammaddin  Wa 'ala Aalihi wa Ashhabihi wa Azwajihi wa  Dzurriyyatihi wa Ahli Baiytihi 'adada maa Fii 'Ilmillaahi Sholaatan  daa'imatan Bidawaami Mulkillaah*
💙🌷🌷

Guru Mursyid

  ❀✿           بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ      ✿❀
                                                                                                                 

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Sunan Bonang berkata :
Jangan hanya belajar kepada KITAB,
Haruslah belajar juga kepada KUTUB,

Yaitu KUTUB Alamin ialah seorang Guru Mursyid Pewaris Nur Muhammad dari Rosulullloh SAW,inilah yg disebut ulama Warosatul Anbiya yg mewarisi ilmu Nabi,sebagai QUTUB amal dan QUTUB ilmu

Karena penjelasan islam tidak cukup hanya DIJABARKAN
Tetapi harus dibimbing oleh seorang mursyid agar DITASYJIDKAN.

Yaitu DIHIDUPKAN dan dinyalakan cahaya dzikir dihati kita dg TALKIN DZIKIR.
Agar kita dituntun kepada hadrat Allah sampai marifat billah.
Melalui Dzikir Dzahar, Dzkir Khafi, Dzikir Ruh, Dzikir Sirri dan Dzikir Akhfa..!

Tentang seorang MURSYID di dalam Quran disebut oleh Alloh dalam surat Al Kahfi ayat 17:

"May-yahdillaahu fahuwal muhtad wa may yauhdhil falan tajida lahuu WALIYAM MURSYIDA"

Artinya :
Barang siapa yg diberi petunjuk oleh Alloh dialah yg mendapat petunjuk dan siapa yg dibiarkan-Nya sesat,maka tidak akan dipertemukan dg WALI MURSID yg memberinya petunjuk.

Semoga Akhy dan Ukhty semuanya mendapatkan hidayah dipertemukan dg Qutub Alamin atau WALI MURSYID dalam perjalanan hidup kita yg cahaya dzikirnya mampu menyulut dan menyalakan cahaya iman dan taqwa, , ,
Aamiin

Cahaya-Cahaya Watak Diri An Nafsiyyah


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Setelah tujuh hari khalwat di ruang al-Fath, di bulan Ramadhan Mas Wardi Bashari keluar dengan wajah berbinar-binar memancarkan kegembiraan. Meski tampilannya kusut, namun wajahnya memantulkan suatu keluas-bebasan jiwa yang tidak diberati beban-beban yang menekan. Dan sewaktu menghadap Guru Sufi yang sedang  berbincang-bincang dengan para sufi dan salik di teras mushola, Mas Wardi Bashari mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Guru Sufi yang telah menunjukkannya ‘jalan’ Kebenaran yang haqqiqi kepadanya sampai ia menemukanNya. “Saya telah menyaksikan-Nya,  romo kyai. Saya telah sampai. Matur nuwun.”

Guru Sufi ketawa mendengar pengakuan Mas Wardi Bashari sambil memandang para sufi yang juga ketawa. Setelah itu, dengan suara lembut Guru Sufi bertanya,”Engkau telah menyaksikan apa? Engkau merasa telah sampai di mana?”

“Saya telah menyaksikan cahaya Kebenaran, romo  kyai,” sahut Mas Wardi Bashari menegaskan,”Saya telah sampai kepada-Nya. Saya sudah menyaksikan cahaya-cahaya aneka warna memancar dari qalbu saya. Saya tidak bisa menceritakan bagaimana cahaya-cahaya itu, tetapi keindahannya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata dalam bahasa manusia,” sahut Mas Wardi Bashari menjelaskan pengalaman ruhaninya.

“Apakah cahaya yang engkau lihat ada yang merah? Kuning? Kehitaman? Putih? Hijau bening seperti kristal?” tanya Guru Sufi memancing.

“Benar sekali, romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari masih tertegun-tegun dicekam pesona pengalaman ruhaninya, ”Saya melihat cahaya kemerahan yang sangat menyilaukan memancar seperti kilatan petir dari kedalaman qalbu saya dan cahaya itu menyelimuti seluruh cakrawala. Apakah itu bukan cahaya-Nya?”“Ketahuilah wahai sahabat, bahwa Allah kesucian dan keazalian-Nya diselubungi oleh tujuh puluh cahaya dan kegelapan. Syaikh Ahmad Rifa’i malah menyebut 70.000 selubung hijab cahaya dan kegelapan. Jadi jangan sekali-kali engkau menganggap jika sudah menyaksikan cahaya itu sudah sama dengan sudah melihat-Nya,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Tapi romo  kyai,” kata Mas Wardi Bashari berkilah,”Bukankah Allah itu  adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya  adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada Pelita. Pelita  itu ada di dalam Kaca. Kaca  itu laksana bintang berkilau yang dinyalakan dengan minyak dari  pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada Api  yang menyentuhnya. Cahaya di atas Cahaya! Allah  menuntun kepada Cahaya-Nya, siapa saja yang Ia kehendaki. Allah  membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah  mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An Nur : 35). Bukankah ayat Qur’an ini menunjukkan bahwa Allah adalah cahaya?”

“Ketahuilah wahai salik, bahwa Allah itu dalam haqqiqat meliputi satu kesatuan Asma’, Af’al, Shifat, Dzat. Apa yang terungkap dalam Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 35 yang engkau sitir, tiada lain adalah ungkapan tentang Af’al-Nya menerangi dan meliputi langit dan bumi. Itu artinya, ayat Al-Qur’an itu mengungkapkan tentang Dia dalam iktibar bahasa yang bisa difahami manusia. Jadi jangan ditafsir-tafsirkan dengan akal pikiranmu, tetapi fahami dengan qalbumu.  Bukankah Rasulullah Saw sudah melarang kita untuk memikirkan Dzat-Nya?” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Lalu makna Allah sebagai cahaya dalam ayat itu apa romo kyai?” tanya Mas Wardi.

“Asma’, Af’al dan Shifat-Nya yang menyelubungi haqqiqat  Dzat-Nya yang tersembunyi dan terahasia,” kata Guru Sufi menjelaskan, “Dan ungkapan kata cahaya di dalam Surah An-Nuur: 35 itu jangan sekali-kali engkau anggap sama dengan cahaya yang engkau saksikan. Sebab Cahaya langit dan bumi yang dimaksud di dalam al-Qur’an itu tidak bisa disaksikan mata inderawi karena diselubungi beribu-ribu cahaya dan kegelapan yang menghijab-Nya.”“Woo begitu ya romo  kyai,” sahut Mas Wardi Bashari mengerutkan kening,”Kalau begitu cahaya apa itu yang sudah saya saksikan memancar dari qalbu saya itu?”

“Syaikh Abdul Jalil al-Jawy  menjelaskan bahwa pemahaman cahaya  (nuur) itu mengikuti  limpahan anugerah yang memancar dari qalbu dan keadaannya mengikuti  kadar cahaya dalam  batinnya qalbu. Cahaya sendiri   beragam dan berbeda-beda: ada cahaya watak diri (an-nafsiyyah), ada cahaya akal (al-lubbu), ada cahaya ruh (ruhiyyah), ada cahaya qalbu (fawaid), ada cahaya titik hitam dalam qalbu (suwaidaa’ul qalb), ada pula cahaya batin yang terahasia (sirr), dan ada pula  cahaya rahasia di dalam rahasia batin (sirr al-asrar). Sirr al-Asrar itulah cahaya  yang paling agung dan paling sempurna,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Tapi bagaimana dengan perubahan-perubahan yang terjadi dengan cahaya-cahaya itu?”

Guru Sufi menjawab,”Tiap-tiap cahaya dari semua cahaya itu memang beragam dengan fungsi dan peran masing-masing sebagai selubung cahaya-Nya. Ketahuilah, bahwa di dalam kosmos (‘alam) senantiasa terdapat sesuatu yang bertentangan di mana yang bercahaya (nurani) selalu berlawanan dengan yang gelap (zhulmani). Dan ketahuilah, bahwa sesuatu yang gelap senantiasa berhubungan dengan sesuatu yang bersifat jasmani. Nah keragaman tiap-tiap cahaya itu berhubungan dengan tiap-tiap kegelapan yang menjadi lawannya. Demikianlah, masing-masing anasir cahaya itu eksis dalam keragamannya bersama kegelapan yang menjadi lawannya  sebagai hijab-hijab  yang menyelubungi rahasia Keberadaan-Nya.”

“Lalu cahaya aneka warna yang saya saksikan itu apa romo kyai?” tanya Mas Wardi Bashari ingin tahu.

“Itu adalah cahaya watak diri (an-nafsiyyah) yang memancar dari qalbumu,” kata Guru Sufi menjelaskan,”Cahaya merah adalah pancaran dari nafsu  ammarah (an-nafs al-ammarah). Cahaya kuning adalah pancaran dari nafsu sufliya (an-nafs as-sufliyyah). Cahaya kehitaman adalah pancaran nafsu lwammah (an-nafs al-lwammah). Cahaya putih adalah pancaran nafsu muthmainnah (an-nafs al-muthmainnah). Itu artinya, engkau sudah masuk ke dalam matra alam gaib (‘alam al-ghayb) dengan melalui ketersingkapan (kasyf) alam kecil (‘alam as-shaghir) dirimu sendiri. Itu berarti, pandangan batinmu (bashirah) yang tertutup karat jiwa (al-rayn)  telah mulai sedikit tersingkap.”

“Saya mohon petunjuk, romo kyai!” kata Mas Wardi Bashari memohon.

“Ketahuilah wahai salik, bahwa di balik ketersingkapan (kasyf) pandangan batinmu (bashirah) itu masih cukup kuat peranan angan-anganmu (khayal) yang bersumber dari akalmu (‘aql) untuk memperlambat bahkan menghambat ketersingkapan (kasyf) yang lebih luas, sehingga engkau terhenti pada sekat (barzakh) yang mengantarai alam gaib dengan alam nyata,” kata Guru Sufi.“Apakah gambaran-gambaran yang terbentuk dari cahaya-cahaya yang saya saksikan  itu adalah pantulan dari angan-angan (khayal) saya sendiri, romo kyai?” tanya Mas Wardi Bashari.

“Dalam cahaya merah engkau menyaksikan perwujudan harimau, kan?” tanya Guru Sufi.

“Benar sekali romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari, ”Saya saksikan harimau itu sangat ganas. Meraung-raung kelaparan seperti ingin memangsa segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Berarti, itu nafsu saya sendiri. Nafsu Ammarah. Dan perwujudan harimau itu sejatinya pantulan dari jiwa rendah saya sendiri, yaitu nafsu hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) saya sendiri. Apakah seperti itu maknanya  romo kyai?”

“Itu benar demikian,” sahut Guru Sufi, ”Cahaya kehitaman yang engkau saksikan hanya sekilas bukan?”

“Benar romo kyai, saya hanya sekilas menyaksikan cahaya kehitaman yang lenyap ditelan kumparan cahaya kuning yang sangat terang dan meliputi segenap cakrawala kesadaran saya.”

“Itu artinya, engkau bukan golongan manusia yang kemaruk harta benda dan tidak cukup kuat terikat dengan kehidupan duniawi. Artinya, engkau tidak punya bakat menjadi orang matre yang kikir, pelit, bakhil, medhit seperti Qarun,” kata Guru Sufi tegas.

“Apakah setelah ini saya boleh khalwat lanjut ke ruang al-jihad?” tanya Mas Wardi Bashari dengan mata berbinar-binar diliputi kegembiraan dan harapan.

“Oo belum waktunya,” kata Guru Sufi datar,”Engkau justru harus pulang ke rumah dulu dan secepatnya menikah. Setelah cukup waktu hidup berumah tangga, engkau akan dipanggil untuk bisa memasuki ruang al-jihad.”

“Apa, pulang dan kawin?” Mas Wardi Bashari terhenyak kaget,”Saya sangat senang berada di sini, romo kyai. Saya sudah merasa tenang dan damai di sini. Kenapa saya harus pulang dan kawin?”

“Engkau belum bisa tenang secara paripurna, o Mas Wardi,” sahut Guru Sufi tegas, “Sebab jiwamu masih belum berdaya menghadapi kuasa nafsu sufliya yang sangat kuat memancar dari kedalaman jiwamu. Maksudnya, engkau masih banyak melewatkan waktu hidupmu dengan berimajinasi tentang hal-hal yang erotis yang merangsang syahwatmu. Justru itulah, nafsu sufliya yang masih kuat menguasaimu itu akan menjadi penghalang utama bagimu untuk melangkah ke tahap ruhani berikutnya. Jadi engkau harus melampiaskan terlebih dulu gelegak nafsu sufliya hewanimu lewat perkawinan yang sah menurut sarak.”“Aduh benar sekali romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari dengan wajah tersipu malu, “Kilasan-kilasan bayangan erotis itulah yang paling sering mengganggu khalwat saya.”

“Jadi untuk mengatasi kendala itu engkau harus kawin dulu,” kata Guru Sufi ketawa.

“Waduh berarti masih jauh ya perjalanan yang akan saya tempuh untuk sampai kepada-Nya,” kata Mas Wardi Bashari kurang semangat.

“Memang masih jauh dan engkau harus mulai sadar itu,” kata Guru Sufi tersenyum, “Jangan sekali-kali engkau berangan-angan bahwa berjuang (jihad) menuju Dia itu sesuatu yang mudah dan instant dengan cukup berkhalwat 40 hari sudah sampai. Ingat-ingatlah, bahwa Rasulullah Saw berkhalwat di Gua Hira itu sejak usia 25 tahun dan baru menyaksikan Namus (Jibril) pada usia 40 tahun. Ada jedah waktu 15 tahun yang mengantarai khalwat Rasulullah Saw dari awal sampai ketersingkapan awal.”

Mas Wardi Bashari termangu-mangu mendengar penjelasan Guru Sufi. Ia faham bahwa selama ini telah keliru mengasumsikan laku ruhani sebagai sesuatu yang gampang dijalani akibat pengaruh buku-buku tentang sufisme yang sering dibacanya. Bahkan saat ia menyaksikan kilasan-kilasan cahaya nafsiyyah selama bermujahadah dan musyahadah  telah ia sangkakan secara keliru sebagai cahaya Kebenaran Ilahi.

16 Januari 2012

Lebih dulu mana , Doa atau Ikhtiar



oleh : Wawan TBH

kehidupannya menjadi topik yang hangat di kalangan santri di Padepokan Tashawwuf, sehingga ketika ada suatu kesempatan bercengkrama dengan Sang Guru Bijak Bestari, salah seorang santri menanyakannya kepada Sang Guru.

Santri: Guru, dalam menghadapi suatu masalah, manakah sikap yang sebaiknya kita ambil, berikhtiar dulu semampu kita lalu menyempurnakannya dengan berdoa? Ataukah Berdoa dulu dengan keyakinan kemudian dilanjutkan dengan ikhtiar kita?

Guru:Pertanyaan yang bagus anakku… Memang dalam sejarah hidup manusia, pertanyaan itu senantiasa muncul di kalangan umat, namun ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan dalam hikmah kehidupan, niscaya dia akan mengerti tentang persoalan tersebut dengan segala variasinya.