Al –Imam Baidhawy meriwayatkan dari Sayyidina Abdullah Ibn Abbas Radiallahu anhu bahwa : Suatu ketika Sayyidina HASAN dan Husein jatuh sakit, lalu Rasulullah SAW bersama Sayyidina Abu Bakar dan Umar ra anhum ajma`in datang menjenguk.
Berkatalah Umar ibn khattab kepada Imam Ali ra : “Kalau anda bernadzar untuk dua orang putra anda itu , Allah akan memulihkan kesehatan mereka, Insya Allah…..”
“Baiklah, aku akan berpuasa tiga hari sebagai syukur kepada Allah, sahut Imam Ali ra, “Aku juga akan berpuasa tiga hari sebagai syukur….” , ujar siti Fatimah ra menimpali nadzar suaminya itu.”
“Kami juga akan berpuasa tiga hari…” sambung serentak sayyidina Hasan dan Husein , yang sedang sakit.
Beberapa hari kemudian ALLAH berkenan memulihkan kembali kesehatan sayyidina Hasan dan Husein. Semua anggota keluarga yang telah mengucapkan nadzar segera mulai melaksanakan puasa 3 hari.
Secara kebetulan selama hari-hari berpuasa itu mereka tidak mempunyai persediaan makanan sama sekali.
Imam Ali ra kemudian pergi ke rumah kenalannya, seorang Yahudi bernama Syam`un yang bekerja sebagai pengusaha tenun bulu domba, kepada Imam Ali ra menanyakan kemungkinan untuk bisa mendapat jatah pekerjaan dengan upah tertentu.
“Apakah anda bisa menyerahkan kepadaku bulu domba untuk dipintal oleh putri Muhammad dengan upah tiga (3) takar gandum?” , tanya Imam Ali kepadanya.
Syam`un menyatakan kesediannya. Kepada Imam Ali diserahkannya sejumlah bahan/bulu domba yang diminta untuk dikerjakan. Imam Ali lalu pulang membawa bulu domba untuk dipintal oleh istrinya sambil menenteng tiga takar gandum yang diterimanya sebagai upah.
Sesampainya dirumah Imam Ali menceritakan kepada istrinya bagaimana ia berhasil memperoleh pekerjaan itu. Ternyata Siti Fatimah ra menyambut baik usaha suaminya dan dengan senang hati ia bersedia mengerjakannya secepat mungkin.
Setelah sepertiga bulu domba selesai di kerjakan, diambilnya setakar gandum yang menjadi haknya sebagai upah kerja, lalu diolahnya menjadi beberapa potong roti. Dengan demikian masing-masing anggota keluarga akan mendapat jatah sepotong roti pada waktu buka puasa.
Hari mulai petang dan tibalah waktu maghrib. Bersama Rasulullah SAW, Ali ra menunaikan shalat di masjid, seusai shalat ia pulang, lalu duduk bersama keluarga menghadapi 5 potong roti untuk berbuka puasa.
Baru saja Imam Ali ra menggigit sepotong roti jatahnya, tiba-tiba muncul seorang fakir miskin berdiri di depan pintu sambil berkata memelas :
“Assalamualaikum, Ya Ahlal Bait Muhammad…..!... Aku ini seorang muslim yang miskin,……, tolong berilah aku sebagian dari hidangan yang sedang kalian santap. Semoga Allah akan memberi makan kalian dari hidangan yang tersedia di dalam surga…..
Roti yang masih terpegang di tangan segera diletakkan oleh Imam Ali ra, dan berkata kepada istrinya dalam bentuk senandung : “Hai Fatimah , wanita mulia dan beriman teguh, putri manusia termulia dimuka bumi,… tahukah engkau ada seorang miskin sengsara berdiri di depan pintu merintih kelaparan? Ingatlah bahwa tiap manusia tergantung pada kebajikan amalnya….”
Dengan bersenandung juga Siti Fatimah ra menyahut : “Hai putra paman, perintahmu kutaati…! Aku tidak menyesal dan tidak merasa lapar. Aku rela makan butiran gandum, karena aku ingin member makan orang kelaparan. Kebenaran ada pada manusia bertakwa dan hidup berjama`ah (gotong-royong). Kudambakan Syafa`at untuk masuk ke dalam surga…..”
Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera diambilnya semua roti hidangan dan diberikan kepada orang miskin yang menunggu di depan pintu.
Malam harinya semua perut anggota keluarga terasa lapar. Untuk dapat melanjutkan puasa nadzar, masing-masing hanya meneguk air putih saja.
Keesokan harinya Siti Fatimah ra memintal lagi sepertiga bahan bulu domba yang belum dikerjakan. Selesai dikerjakan ia mengambil lagi takaran gandum seperti kemarin.
Kemudian ditepung dan diolah menjadi beberapa potong roti. Seperti biasanya petang hari Imam Ali ra menunaikan shalat mahgrib bersama Rasulullah SAW di masjid. Selesai shalat ia pulang untuk berbuka puasa bersama keluarga. Belum lagi roti digigit, tanpa disangka-sangka datang seorang anak yatim dari salah satu keluarga muslimin. Anak itu berdiri di depan pintu minta diberi makanan.
Ia mengucapkan kata-kata yang hampir sama seperti yang dikatakan kemarin oleh orang miskin.
Imam Ali ra segera mengembalikan roti yang ada ditangannya ke tempat hidangan semula. Ia berhenti makan dan berkata lagi kepada istrinya dengan berenandung : “Hai Fatimah, putri Nabi, putri pemimpin orang -orang yang dermawan, Allah mendatangkan anak yatim itu kepada kita. Siapakah yang hari ini mengharapkan keridhoan Allah, Ia memperoleh janji masuk surga yang penuh nikmat…”
Ucapan suaminya itu disambut baik oleh Siti Fatimah ra dengan senandung pula: “Ia pasti kuberi, tak peduli bagaimana kita sendiri. Allah akan membuat segar semua keluargaku. Bersamaku malam ini mereka akan lapar…dan itu yang paling kecil (Sayyidina Husein ra) laksana sedang bertempur melawan lapar….”
Sambil mengucapkan kata-kata itu, Siti Fatimah ra mengambil semua roti yang ada, lalu diserahkannya kepada anak yatim yang sedang menunggu didepan pintu. Mereka sendiri hanya meneguk air tawar seperti kemarin. Keesokan harinya mereka masih tetap melaksanakan puasa nadzar yang tinggal sehari lagi.
Pada hari ketiga, Siti Fatimah ra mengerjakan lagi sisa bulu domba yang belum di garap. sehabis dikerjakan, ia mengambil sepertiga sisa gandum yang menjadi haknya sebagai upah. Gandum dimasak seperti kemarin. Petang hari sepulang dari shalat berjama`ah di masjid bersama Rasulullah SAW, Imam Ali ra duduk bersama keluarga hendak berbuka puasa.
Baru saja hendak memasukkan sesuap roti ke dalam mulutnya, datanglah seorang muslim yang baru saja bebas dari tawanan orang-orang kafir. Bekas tawanan itu berkata : “ Assalamualaikum Ya Ahlalbait Muhammad….!
Orang-orang kafir baru saja habis menawanku. Aku diborgol dan tidak diberi makan…!
Imam Ali ra meletakkan sepotong roti yang sedang dipegang, sambil bersenandung kepada istrinya : “Hai Fatimah ra, putri mulia, putri Nabi dan putri pemimpin Agung….” Tanpa ada yang menunjukkan tawanan itu datang kemari dengan tangan habis dibelenggu. Ia mengeluh kelaparan dan sengsara. Ingatlah, siapa memberi makan orang sengsara, kelak akan memperoleh balasan yang sama. Di sisi Allah, tiap orang yang menanam akan memetik buahnya dalam sehari…..”
Siti Fatimah ra menyambut anjuran suaminya itu dengan senandung juga : “Gandum yang tinggal setakar, kami tak ada lagi ditangan. Demi Allah, selamatkanlah anak-anakku dari bencana kelaparan….”
Semua roti yang di dalam hidangan diambilnya kemudian diserahkan kepada bekas tawanan yang mengeluh kelaparan di pintu.
Esok harinya semua anggota keluarga sudah tidak berpuasa lagi dan sudah tidak ada bekal makanan apapun.
Imam Ali ra mengajak dua orang puteranya menghadap Rasulullah SAW. Mereka bertiga dalam keadaan sangat lapar sehingga sekujur badan terasa gemetar.
Ketika Rasulullah SAW melihat keadaan cucu-cucunya seperti itu, beliau berkata kepada menantunya, Imam Ali ra “Aku sedih sekali melihat kalian. Mari kita pergi menemui Fatimah.”
Bersama Rasulullah SAW , Imam Ali ra dan dua orang puteranya pulang ke rumah.
Saat itu Siti Fatimah ra sedang berada di dalam mihrabnya. Puterinya sudah tampak sedemikian kempes perutnya dan matanya sedemikian cekung karena sangat lapar. Ketika Rasulullah saw menyaksikan keadaan puterinya seperti itu, segera di peluknya sambil berucap : “Ya Allah, tolonglah ahlul bait Muhammad yang hampir mati kelaparan ini…”
Belum lagi selesai mengucapkan do`a itu, datanglah malaikat Jibril alaihisssalam menyampaikan wahyu suci, seperti yang termaktub di dalam Al qur`an surat Al Insan (Ad-dahr) 7-9 yang artinya :
“Mereka itu ialah yang telah menunaikan nadzar dan takut kepada hari yang adzab siksanya merata kemana-mana dan mereka itu ialah yang telah memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan semata-mata hanya karena mengharapkan keridhoan Allah. Sesungguhnya kami tidak menghendaki balasan apapun dari kalian dan tidak juga mengharapkan ucapan terima kasih……”
Tidak aneh kalau Allah menjadikan mereka sebagai pewaris surga Firdaus dalam kehidupan akhirat. Mereka benar-benar merupakan keluarga teladan dan tak akan terlupakan sepanjang zaman. Allah ta`ala menjadikan mereka dan anak cucu keturunan mereka hingga hari kiamat yang shaleh sebagai pemimpin-pemimpin umat. Dan Allah sendirilah yang akan mewariskan bumi dan segala isinya kepada hamba-hamba Nya yang hidup taqwa dan shaleh.
BAGAIMANA DENGAN KELUARGA KITA?
Allahumma Shalli alaihi waalihi washahbihi wasallam
((Idolaku Nabi Muhammad SAW))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar