More Arabic Comments untuk berburuk
sangka, mencari-cari kesalahan orang lain atau menceritakan keburukan orang
lain tanpa sepengetahuan mereka.
Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : "Aku sebagaimana
prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan
kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya".
Allah SWT menuntun manusia hidup dengan adab kesopanan yang luhur. Jika
mereka berpegang dengan adab tersebut, insya Allah akan tumbuh rasa cinta
dan kebersamaan di antara mereka. Hidup bermasyarakat akan rawan konflik.
Disengaja atau tidak selalu saja akan muncul potensi sakit hati. Dan Allah
telah mengajari kita agar hidup jauh dari prasangka buruk (su'uzhan),
mencari-cari kesalahan orang (tajassus), dan (ghibah) yaitu membicarakan
aib saudaranya, yang jika mereka mendengarnya tentu akan sakit hati dan
membencinya.
Berburuk sangka atau su'uzhan akan membuat hati kita capek dan busuk. Kita
tahu bahwa prasangka-prasangka buruk akan memengaruhi cara berpikir,
bersikap, dan mengambil keputusan. Selain merusak hati su'uzhan juga akan
melenyapkan kebahagiaan, merusak akhlak dan akan menodai kedudukan kita di
sisi Allah. Jika kita sadar bahwa su'uzhan itu buruk akibatnya, maka
mengapa kita tidak berbaik sangka (husnuzhan) saja kepada orang lain?
Saat kita mengucapkan salam pada orang lain, kemudian tidak mendapat
jawaban sedikit pun, maka cobalah untuk berbaik sangka. Siapa tahu orang
yang kita salami tidak mendengar suara kita atau mungkin saja ia tengah
konsentrasi berdzikir pada Allah. Biasakanlah kita melatih diri untuk
mencari seribu satu alasan positif agar dapat memaklumi orang lain. Respons
positif kita bisa dijadikan salah satu cara untuk menghindari kebiasaan
ber-su'uzhan.
Orang yang gemar berburuk sangka, maka akan menderita sendiri. Hidupnya
akan sempit, sesempit gelas yang terisi air. Kalau dimasukkan ke dalamnya
sesendok garam saja, maka akan terasa asin seluruh airnya. Berbeda dengan
danau, walaupun dimasukkan sekarung garam, maka airnya tidak akan menjadi
asin, sebab airnya melimpah. Demikian juga hati kita, jika hati kita sempit
sesempit gelas maka sedikit saja masalah akan membuat hati kita sakit. Dan
bila hati sudah sakit maka apa pun yang terjadi, akan terlihat buruk oleh
mata kita. Maka jika kita gemar berbaik sangka (husnuzhan), insya Allah
hidup akan terasa tenang dan lapang.
Lingkungan juga dapat membentuk akhlak seseorang. Lingkungan orang-orang
beriman dan terpuji akhlaknya, insya Allah akan menghindarkan diri kita
dari berburuk sangka. Ketika ada orang tak dikenal datang ke rumah kita,
jangan langsung su'uzhan. Tapi juga jangan sampai hilang kewaspadaan,
waspada tetap dibutuhkan di samping kewajiban kita berbaik sangka. Kita
kenali yang mendatangi rumah kita, maka jangan langsung kita su'uzhan
terlebih dahulu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita selalu waspada agar
dapat mengendalikan keadaan dengan tepat.
Belajar untuk mencari seribu satu alasan sebagai jawaban dari berbagai
permasalahan dapat menjadikan kita selalu husnuzhan dengan tepat. Jangan
sampai kita berbaik sangka pada para penjahat. Bisa-bisa, sebelum kita
menyadarinya ternyata kita telah menjadi korban kejahatannya. Bayangkan
saja, bagaimana jadinya kalau kita berbaik sangka pada maling. Ber-
husnuzhan juga ada ilmunya, jangan sampai kita tertipu karena telah ber-
husnuzhan pada orang yang tidak tepat. Ber-husnuzhan lah pada orang beriman
dan akhlaknya mulia. Dan biasakanlah untuk selalu dapat memaklumi sikap
orang lain dan tetap harus waspada.
Selain menghindari su'uzhan, Allah mengajarkan hamba-Nya melalui Rasulullah
SAW untuk tidak ber-tajassus (mencari-cari aib orang lain) dan ber-ghibah
(menceritakan aib orang lain). Dua hal buruk ini sangat akrab sekali dalam
kehidupan manusia. Kadang malah bisa menjadi kebiasaan yang sulit untuk
ditinggalkan.
Ghibah adalah menyebut-nyebut seseorang tentang hal-hal yang tidak ia sukai
dan tanpa sepengetahuannya. Ghibah itu dimisalkan dengan memakan daging
bangkai, sebab dengan ber-ghibah berarti kita telah merobek-robek
kehormatan pribadi dan orang lain yang serupa dengan merobek-robek dan
memakan daging yang sudah menjadi bangkai. Lebih dari itu, ayat dari surat
al Hujuraat sebagaimana tersebut di atas, menganggap bahwa daging yang
dimakan itu adalah daging saudara sendiri yang telah mati, sebagai gambaran
betapa kejinya perbuatan seperti itu yang dianggap menjijikan oleh perasaan
orang lain.
Saudaraku, apabil! a kita terlanjur ber-su'uzhan, tajassus, dan ghibah,
maka wajiblah bagi kita untuk bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya.
Ketika perbuatan dosa itu kita lakukan, maka secara langsung kita harus
bertaubat, yaitu dengan cara berhenti dari perbuatan dosa dan menyesal atas
keterlanjurannya serta bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan
yang sudah terlanjur dilakukan itu.
Selain bertaubat, kita harus meminta maaf pada orang yang telah kita sakiti
dengan su'uzhan, tajassus, dan ghibah yang telah kita lakukan. Jika kita
tidak sempat meminta maaf padanya karena ia telah tiada, maka doakanlah
kebaikan bagi diri dan keluarganya. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah
mengampuni dosa yang telah kita perbuat dan tentu saja kita berharap
menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Wallahu a'lam.
copas note
(KH Abdullah Gymnastiar )
http://www.lailahaillallah.com/I_F_A/blog/aku-sebagaimana-prasangka-hamba-ku/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar