10 Juni 2018

Setiap hati mendapatkan lailatul qodr

🌻 ﷽ 🌻 ﷽ 🌻

Sungguh Allah ta'ala Maha Baik,dan mempunyai rencana yang teramat baik yg tdk diduga..

DIA memang sangat baik dilihat dari berbagai sudut apapun...

Hanya hawa nafsu Manusia serta ego dan ke akuan  yg tinggilah yang menafsirkan  secara negative terhadap rencana Allah ....
Hawa Nafsu telah ber su'udzan terhadap kondisi buruk yg Allah bentangkan....padahal disebalik itu ada rencanaNYA yang sangat baik untuk sang hamba.....

Contoh....sebuah permisalan...

Kelapa....
Diparut....
jika kelapa bisa merasakan, tentulah sakit rasanya diparut....
Kmd diperaas , yg sebelumnya di beri air panas .....betapa menjerit si kelapa itu.....

kelapa itu tdk tahu bahwa diparut dan di mandikan air panas serta di peras, akan mengeluarkan santan kental yang sangat berguna ....

Allah Ta'ala sungguh Sangat Faham Rahasia Ilmu kelapa.....
Maha Suci Allah...lagi Maha Baik Allah...

Begitulah jiwa jiwa Manusia....
Ketika sedang di proses oleh Allah, bagaikan sebuah kelapa ...

Sabar dan selalu sangka baiklah pd NYA  serta memohon agar DIA saja yang menyelesaikan Masalah..
sungguh sang Hamba tidak mampu....dan sangat lemah....

Tawakal...

laa haula wala quwwata illa billaah.....

Insya Allah....semua persoalan adalah mudah untuk diselesaikan dg CaraNYA, bukan dg cara hawa nafsu kita...

Kun Faya Kuun
______

Sungguh  kondisi hati yg selalu ber itikaf, suasananya akan selalu berada dalam lailatul qodr yg abadi.....
Kemesraan bersamaNYA dimanapun berada...adalah keindahanNYA

Maka...?.

"Ikuti pilihan hati nurani meski dalam kenyataan ,mungkin akan kalah, namun hakekatnya   telah berhasil memenangkan hati nurani sendiri."

Namun bagaimanakah cara  memastikan bahwa sebuah pilihan langkah itu datang dari kebenaran hati nurani?

⚘
Sungguh.....
"Kebenaran nurani itu bebas dari kepentingan harta, tahta ataupun cinta duniawi.  Ia hadir sebagai bisikan rasa yang tak terjelaskan. Seperti sebuah ketertarikan memilih sesuatu yang bukan karena iming-iming pamrih apa pun. Bukan karena janji harta, tahta ataupun cinta dibalik pilihan itu."

"Kebenaran nurani tidak memerlukan pembenaran apa pun untuk membelanya. Sebab hanya pembenaranlah yang memerlukan pembenaran lain untuk menguatkan keyakinan atas pilihan itu."

Diamkan sejenak dalam sepi  menyepikan batin pd perenungan dan keheningan.....
Rasakanlah bahwa yang Maha Kasih betapa dekatnya dg Nafas  bahkan lbh dekat lagi...
Rasakanlah....
ada Damai dan kelegaan serta kebahagiaan tanpa sebab.....
Curahkanlah seluruh perhatian, hanya pada DIA..untuk DIA...
DIA yg Maha Kasih Sayang, tak pernah sedikitpun mengecewakan dikala tawakal pdNYA .....
DIA Maha Menghargai seberat debu usaha kita.....

#yang sedang mudik lebaran, semoga keselamatan selalu menyertai , kondisikan hati dalam keadaan i'tikaf walau dikeramaian......#

🥀Yaa Sayyidi yaa Rosululloh 🥀

02 Juni 2018

Rumahku Surgaku

🌻  ﷽ 🌻 ﷽ 🌻

Sahabatku, apakah  gambaran Wujud Surga yang ada di Rumah Tangga adalah  sebuah Rumah  dan isinya yang mewah sehingga terciptalah Rumahku Surgaku...?
Tidaklah demikian...👋

Pada hakekatnya,
Rumaku Surgaku adalah sebuah keluargà yang  semua anggota keluarganya adalah taat dan cinta pada Allah ﷻ, taat  dan cinta pada Rosulullah ﷺ ,penuh kasih sayang serta sabar dalam takdirNYA,
Sehingga Allah ﷻ memberikan kebahagiaan dan manisnya Iman serta kekayaan Jiwa dalam Mawaddah wa RohmahNYA, tenang dan damai....

Inilah rasa surgawi yang  sudah bisa di rasakan di Dunia saat ini.....

Maka apapun yg terjadi yang Allah ﷻ
Takdirkan, Hati Ridho menerima sepenuh jiwa sebagai bentuk rasa syukur yg mendalam ......
Karena kebaikan KaruniaNYA adalah sangat banyak sekali, tak pandai kita menghitungnya, dan tak bisa ditimbang dengan sebuah penderitaan.

Sungguh Kenikmatan Iman jika ditimbang dengan penderitaan, maka jaauuuh  lebih berat timbangannya, bagaikan menimbang Alam Semesta dengan debu.....

Penderitaan adalah sebuah titik debu yg tiada artinya dibandingkan dengan karunia nikmat Iman,qalbu, sehat, panjang umur, karunia akal,  mata, telinga,  mulut _lidah, hidung, tangan, kaki, nafas, Ilmu, dll masih banyak lagi...
Tidak terhitung, tdk terhingga...
Fabi Ayyi aalaa Irrobbikumaa Tukadz Dzibaan.....

Maka selalulah bersyukur dimanapun berada sebagaimana wujud Syukur sebuah Keluarga Surga yang Mulia yaitu Keluarga   Ali ibn Abi Thalib ra dengan Sayyidah Fathimah az-Zahra rah dibawah ini ⬇️

PADA saat malam Takbiran, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma.

Bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma.

Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Fathimah menuntun Hasan dan Husein.

Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.

Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti salat jama’ah dan mendengarkan khutbah.

Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah ﷺ itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah ﷺ.

Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.

Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, *gandum basi* yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu.

Seketika  itu Ibnu Rafi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah ﷺ.

Tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i.

“Ada apa wahai sahabatku?”
tanya Rasulullah.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah ﷺ pun bergegas menuju rumah Sayyidatuna Fathimah az-Zahra r.a.

Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya.

Mata Rasulullah pun berlinang.
Butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah ﷺ nan suci.

Air mata Rasulullah berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah ﷺ penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tak sedap, dengan makanan yang sudah basi.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad.
Ya Allah saksikanlah, saksikanlah.
Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi.

Di hari ‘Idul Fitri keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi.

Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin.

Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat.

Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.

Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak.

“Ya Abah..........
ada apa gerangan Abah menangis?”

Rasulullah  ﷺ tak tahan mendengar pertanyaan itu....
Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah ﷺ pada hari ‘Idul Fitri senantiasa menyantap makanan yang basi berbau apek.

Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri.

Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah ﷺ wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritkan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).

Ya Rasulullah, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga.
Siapa gerangan yang tak malu?
Siapa orangnya yang tak kelu?
Kami di hari nan fitri, makanan kami lezat-lezat, makanan kami enak-enak. Harus kami apakan diri ini, ya Rasul?

Kami malu....Kami Maluuuu yaa Rooobb...dipojok sana masihnada orang yang kelaparan, mereka membutuhkan sesuap nasi, namun malu untuk meminta,..mereka memilih diam berpura pura menjadi orang kaya padahal mereka membutuhkannya...

Yaa Rooobb.....qq.
Hati ini menjadi tidak peka....
Hati ini terlalu bermandi Dunia sehingga tidak peka terhadap orang yang butuh disekitar kita....
Ampuni kami yaa Roobb....

Ya Robbi...
Melalui KekasihMu  Rasulllah,
teteskan kemuliaan jiwa Bliau kepada kami...
teteskan walau hanya setitik,
agar jiwa kami semua tiada tandus dari kasih....

Ya Robbi.....melalui kemuliaan Rasulallah, ....
berikanlah  kedermawanan jiwa baginda dan keluarga kepada kami dan keluarga kami.....

Lapangkan dada kami untuk tidak terpukau oleh kemilau dunia sementara kaum fakir-miskin menderita...

Luaskan hati kami untuk bisa mencintai kaum papa sebagaimana KekasihMU Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan yang begitu sangat mulia pada kami semua...

We  Love RasulAllah ﷺ

۞ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَﻠّﯿ! ﻋَﻠﮱ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪْ ﻭَ ﻋَﻠﮱ ﺁﻝِ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤَّﺪ۞

Allahumma Solli Ala Sayyidina Muhammad, Wa'ala Aa Lii Sayyidina Muhammad.

“ Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad "

Al Fatiha ilaHadrotinNabiyyilMustafa Muhammad ﷺ  wa Ashhabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahlul baitihi...
al fatihah.

14 Mei 2018

Indah nya Sholawat

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

لَوْ كَانَ بَيْنَنَا الْحَبِيْب
لَدَنَا القَاصِيْ وَالْقَرِيْب
مِنْ طَيِّبَةٍ قَبْلَ الْمَغِيْب
طَالِباً قُرْبَ الحَبِيْب

Berada berhampirannya jiwa turut menjadi harum
Dan apa jua yang kalian doakan kepada Allah akan diperkenankan.
Cahaya Nabi Muhammad tidak akan pernah sirna.
Sempatkanlah kami bertemu dengan Baginda,
Wahai Tuhan yang Maha Merperkenankan doa hamba.
بِقُرْبِهِ النَّفْسُ تَطِيْب
وَتَدْعُوا الله فَيُجِيْب
أَنْوَارُ طَهَ لاَ تَغِيْب
بَلِّغْنَا لِقَاهُ يَا مُجِيْب

Hidayahmu kepada alam merata luas
Tanda hampirnya kasih sayang Tuhan Pemberi Hidayah.
Hadis-hadismu ibarat sungai mengalir jernih.
Berada disisimu bagaikan dahan yang tumbuh segar dan basah.

هُدَاكَ الْكَوْنُ الرَّحِيْب
رَحْمَةَ الهَادِيْ الْقَرِيْب
حَدِيْثُكَ النَّهْرُ الْعَذِيْب
جِوَارُكَ الْغُصْنُ الرَّطِيْب

Kutebus diriku dengan dirimu wahai Kekasihku.
Nabi Muhammad yang mulia lagi asing
Berada berhampiranmu jiwa menjadi harum
Wahai yang diutuskan sebagai tanda kasih sayang,
Tuhan kepada seluruh Alam
فَدَتْكَ رُوْحِيْ يَا حَبِيْب
محمدٌ مُكْرِمَ الْغَرِيْب
بِقُرْبِكَ الرُّوْحُ تَطِيْب
ياَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن

Wahai Kekasihku Wahai Muhammad
Wahai pengubat hatiku Wahai yang terpuji
Dirimu memiliki kelebihan yang diakui
Oleh Tuhan yang turut berselawat kepadamu.

يَا حَبِيْبِيْ ياَ مُحَمَّدْ
يَا طَبِيْبِيْ يَا مُمَجَّدْ
أَنْتَ ذُوالْفَضْلِ الْمُؤَيَّدْ
جَلَّ مَنْ صَلَّى عَلَيْك




https://youtu.be/GYXQ0Da4SLQ

07 Mei 2018

Syukur


_ _ _ _ _ ⚘_﷽_ ⚘_ _ _ _

Bersyukurlah di manapun  berada...
Tidak mudah untuk bisa bersyukur jika tidak ada karunia dari Allah Subhanahu wata'ala....⚘

Hanya Allah Ta'ala saja yang dapat menarik hati untuk mudah mensyukuri KaruniaNYA dg seizinNYA saja....(inilah salah satu bentuk Syafaat Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam  yg dikemas di dalam RahmatNYA, yang mana hakekat  wujud RahmatNYA adalah berupa  *Nur Muhammad* )✔

Orang yg hatinya di Karuniakan  setitik Rasa Syukur, dia akan mendapatkan RahmatNYA, artinya fana bersama Nur Muhammad yang ada di dalam dirinya sendiri , yang   dirinya dapat menjadi bagian dari Rahmatan lil 'aalamiin dengan se izinNYA saja...

SIapa yang tidak bersyukur ,maka tidaklah menjadi masalah bagi Allah Subhanahu Wata'ala , karena sesungguhnya Allah Ta'ala  Maha Kaya, lagi Maha Pemurah, dan tidak membutuhkan Syukurnya dirimu...

Bahkan sebaliknya jika kita tidak diberi Karunia olehNYA berupa  setitik rasa Syukur saja, maka hidup ini akan selalu  disetir oleh hawa nafsu tercela sehingga tidak pernah ada puasnya, selalu mengalami kehampaan jiwa, ragu ragu dan mudah putus asa, serta mudah galau,  muncul ke akuan dan ego , dan tidak tegar....
Namun imi semua, pun berdasarkan kasihNYA jua, karena DIA hendak memperkenalkan dirimu sendiri melalui sifat sifat  lemah nya dirimu , agar di dalam kelemahan itu , dirimu  dapat kembali kepada Allah Ta'ala yang Maha Pengasih dan Penyayang.....

Berdoalah , Semoga Allah yang Maha Kasih Sayang mengkaruniakan  rasa Syukur ke dalam jiwa dan hati kita...Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

Ashollatu wasallamu 'alaiyka
Yaa Sayyidi Yaa Rosulullah....

Al Faqir
Dhuha ,7 Mei 2018

https://youtu.be/O6SeTT17RTs

13 Maret 2018

Kesaktian yg sesungguhnya🌹

بسم الله الرحمن الرحيم

“Tuanku, engkau bisa berjalan di atas air,,,?!” murid-muridnya berkata dg penuh kekaguman kepada Syeikh Jumadil Qubro.

“Itu bukan apa-apa.. Sepotong kayu juga bisa,” Syeikh Jumadil Qubro menjawab.

Murid :“Tapi engkau juga bisa terbang di angkasa.”

Syeikh Jumadil Qubro :“Demikian juga burung-burung itu bisa,”

Murid : “Engkau juga bisa bepergian ke Ka’bah dalam sedetik.”

Syeikh Jumadil Qubro :“Setiap Jin yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu sedetik,”

Murid :Engkau juga kebal senjata dan kebal api..!

Syeikh Jumadil Qubro : "Batu karang dipantaipun bisa kebal seperti itu,,!"

Murid :“Kalau begitu, apa kehebatan seorang Manusia Sakti yg sebenarnya?” murid-muridnya ingin tahu.

Syeikh Jumadil Qubro tersenyum lalu menjawab: “Manusia sakti ialah mereka yg bisa menjaga hatinya agar tidak berpaling kepada sesuatu pun selain Alloh,Hatinya selalu bisa Dzikrulloh dalam keadaan apapun, sehingga bisa BERSABAR ketika di uji dan bisa BERSYUKUR ketika di beri , dg dzikirnya maka rasanya rata datar seperti AIR sehingga Tidak senang ketika DIPUJI dan Tidak sakit hati ketika DIHINA, dg dzikrullah maka ia bisa TERBANG Hijrah dari kegelapan perbuatan dosa ke jalan ketaqwaan penuh cahaya , dan KEBAL dari segala godaan syetan , sehingga bisa ringan secepat KILAT membawa badanya untuk shalat 5 waktu...!".

Maka ISTIQOMAH lebih hebat dari 1000 KAROMAH...

Di zamannya Sayyid Jumadil Kubro dijuluki "PANDITO RATU" karena mempunya Ilmu rahasiah Kaysaf Laduni yg langsung dari Allah seperti Nabi Khidir AS , yg mengetahui hal gaib dan ilmu-ilmu rahasiah yg tidak diketahui oleh umum,Syeikh Sayyid Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yg hidup sebelum Walisongo.

Beliau Seorang Qutubul alamin Wali Mursyid Agung Sultan Aulia terbesar dizamannya, penyebar Islam pertama yg mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit.

Syeikh Sayyid Jumadil Kubro adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad Sholallahu alaihi wasallam dari garis Sayidah Fatimah Az Zahra.

Semoga ada hikmahnya, dan menjadikan kita semuanya istiqomah dijalan yg di ridhai Alloh Subhanahu wata'ala Aamiin yaa Robbal aalamiim...

Barakallahu Al-fatihah Sayyid Syeikh Maulana Jumadil Qubro Jamaluddin al-Husain al-Akbar ra Belieu Leluhur walisongo

( Sumber dari Kitab Al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran Dan Kitab Risalah Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur, Kitab Babad Tanah Jawi karya Raden Hadiwijaya pajang ).....

Yaa Sayyidi...yaa Rosululloh.....

Kyai Faqih
Batam, 13 maret 2018

Tasawuf ditegakkan atas 8


🌻 ﷽ 🌻🌻 ﷽ 🌻

Dan Syaikh Abul Qasim Al-Junayd Al-Baghdadi ra. berkata:
"Tasawuf didirikan di atas delapan kualitas yang dicontohkan oleh delapan orang Rasul:

1.Kemurahan hati Ibrahim as., yang mengorbankan putranya;

2.Kepasrahan hati Ismail as., yang taat kepada perintah Tuhan dan memberikan hidupnya yang paling berharga;

3.Kesabaran Ayyub as., yang dengan sabar menanggung penderitaan akibat luka-luka boroknya dan menanggung kecemburuan Yang Maha Pengasih;

4.Perlambangan Zakariyya as., yang kepadanya Tuhan berfirman, "Engkau jangan berbicara kepada manusia selama tiga hari kecuali dengan tanda-tanda (isyarat)" [QS 3:37], dan juga "Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang berbisik lembut" [QS 19:3];

5. Keasingan Yahya as., ia sebagai seorang asing di negerinya sendiri dan merasa terasing bagi sanak keluarganya, yang di tengah-tengah mereka ia hidup;

6. Perjalanan ruhani Isa as., yang dengan begitu rupa meninggalkan (kemewahan) benda-benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir --- cangkir itu ia lemparkan apabila ia melihat seseorang yang minum dengan telapak tangannya, dan sisir itu dibuang apabila ia melihat orang lain menggunakan jari-jarinya untuk menyisir rambutnya;

7. Pakaian bulu domba yang digunakan oleh Musa as., jubahnya terbuat dari bulu-bulu binatang itu;

8. Kefakiran Muhammad saw., yang kepadanya Tuhan telah menyampaikan kunci dari semua perbendaharaan harta yang ada di permukaan bumi, dan berfirman: "Jangan susahkan dirimu, tapi nikmatilah setiap kemewahan dengan menggunakan semua harta kekayaan ini"; dan beliau menjawab: "Wahai Tuhan, aku tidak menginginkan itu semua, berilah aku kenyang satu hari dan lapar satu hari."

Ini semua adalah prinsip-prinsip perilaku yang paling utama."

[ Kasyful Mahjub, Syaikh Ali Ibn Utsman Al-Hujwiri (w.1072M) ]

Kyai Faqih
Batam, 13 maret 2018
Shollu'ala Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wasallam

12 Maret 2018

Ahli Tasawwuf

بسم الله الرحمن الرحيم

[ Riwayat Imam Ahmad Bin Hanbal Dalam Bertasawuf ]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 H) adalah seorang fuqaha yang tidak asing lagi bagi kita. Pada mulanya beliau tidak menyukai ahli-ahli tasawuf dan selalu menasihati anak lelakinya yang bernama Abdullah supaya menjauhkan diri dari ahli tasawuf.

Salah seorang ahli tasawuf yang sangat tak disenangi oleh beliau ialah Syubbán al-Rá'ie (guru Imam Syafie dalam bidang tasawuf). Imam Ahmad bin Hanbal menyangka bahawa Syubban al-Ra'ie itu seorang yang jahil yang bercakap dengan istilah-istilah tasawuf  yang payah difahami yang direka-reka sahaja.

Pada suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal bertanya satu soalan sukar dijawab kepada Syubban al Ra'ie. Disangkakn Syubban al Ra'ie tidak akan dapat memberikan jawapannya. Soalan itu ialah mengenai seorang yang telah meninggalkan satu solat dari solat fardu 5 waktu tetapi orang tersebut tidak tahu solat apakah yang dia tinggalkan itu, zohor atau asar atau subuh atau isyak atau maghrib? Bagaimanakah orang ini harus menyelesaikan masalahnya?

Syubban al Ra'ie menjawab : orang itu ghaflah, maka wajiblah ia mendidik dirinya supaya ghaflah itu hilang. Mendengar jawapan itu Imam Ahmad jatuh pengsan.  Selepas beliau sedar dari pengsan itu maka beliau segera memeluk Syubban al Ra'ie. Peristiwa itu menginsafkan Imam Ahmad sehingga beliau segera belajar ilmu tasawuf daripada Abu Hamzah al Baghdadi, seorang ahli tasawuf yang terkenal pada zaman itu.

Selepas Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mempelajari tasawuf maka nasihat-nasihat yang diberikan kepada anak lelakinya, Abdullah adalah berlainan dari yang pernah diberikan pada masa sebelumnya. Nasihat-nasihatnya sesudah beliau belajr dan mendampingi ahli-ahli tasawuf. Antara nasihatnya itu :

"Hai anakku, wajiblah di atas engkau mendampingi ahli-ahli tasawuf itu, kerana mereka itu boleh menambahkan banyaknya ilmu kita, menambahkan sifat takut kita kepada Allah, sifat kasih kita kepada Allah, taqwa kita dan keazaman kita (dalam bermujahadah di jalan Allah)"

[ Risalah al Qusyairiyyah : Syeikh Abu Qasim al Qusyairi ]

اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلمُرْسَلِيْنَ

19 Februari 2018

Diam itu  dosa.


🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻 ﷽ 🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻

 وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ♡

Diam itu  dosa.
0leh: KH.Bachtiar Ahmad
====================
Anakku, sesungguhnya “lidah dan mulut” bisa mendatangkan malapetaka besar. Sehingga dikatakan dalam pepatah: “mulutmu harimaumu, yang akan merekah (membelah) kepalamu.” Sedangkan  dalam kalimat yang lain disebutkan orang: “lidah lebih tajam dari pedang” yang bermakna ucapan yang terlontar dari mulut kita dapat membuat seseorang terluka yang akan meninggalkan bekas mendalam dalam kehidupannya. Oleh sebab itulah dalam hadits beliau Rasulullah SAW mengingatkan:

“Sesungguhnya telah banyak orang yang binasa (mati) lantaran digelincirkan oleh lidahnya.”  (HR. Al-Baihaqi).
Sementara sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada sesuatupun yang lebih patut untuk di-ikat berlama-lama selain lidah.”

Namun demikian  anakku, kalau kita hanya “diam saja”, maka perbuatan itu juga bisa mendatangkan dosa  bagi diri sendiri. Lebih-lebih lagi dalam 4(empat) keadaan sebagaimana yang dijelaskan  Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an maupun  As-Sunnah.

Pertama: Ketika kita melihat kemungkaran yang dilakukan secara terang-terangan di hadapan kita, maka bisa-bisa Allah melaknat kita sama halnya dengan apa yang telah dialami oleh Bani Israil sebagaimana yang dijelaskan Allah Ta’ala dengan Firman-Nya:
“Telah dilaknati (Allah) orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam; yang demikian itu disebabkan mereka semua durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu  tidak melarang kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat itu.”     (Q.S.Al-Maa-idah: 78-79)

Kedua: Jika kita sengaja menyembunyikan informasi tentang perkara penting yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
  “Jika seorang alim (yang mengetahui sesuatu) ditanya tentang sesuatu, lalu ia diam (tidak mau bicara dan menerangkannya); maka ia akan dibelenggu dengan belenggu api neraka.” (HR.Imam Ahmad dan An-Nasa’i r.a)

Ketiga:  Apabila  kita hanya mau bicara atau membicarakan kepentingan untuk diri kita sendiri, dan diam terhadap kepentingan orang lain, maka ia tak ubahnya hanya seperti seekor keledai sebagaimana yang tersirat dalam Firman Allah Ta’ala:
  “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan  dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya suara yang paling buruk adalah suara keledai.” (Q.S.Luqman: 19)
Adapun tentang ayat ini diterangkan oleh Jalaluddin Ar-Rumi, bahwa “Keledai” adalah satu-satunya hewan yang enggan memuji dan bertasbih kepada Allah.  “Keledai” baru bersuara dan berteriak ketika perutnya merasa lapar. Dan ironisnya sekarang ini, tabi’at “Keledai” inilah yang paling banyak ditiru oleh sebahagian orang; Bahwa mereka selalu berteriak keras dan nyaring, tatkala kepentingan dirinya atau kelompoknya terabaikan atau diabaikan oleh pihak lain.

Ke-empat: Diam yang mengandung dosa adalah diamnya kita atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, tidak  mau mengakui kesalahan yang kita perbuat dan sekaligus meminta ma’af kepada orang lain atas kesalahan yang telah kita perbuat. Bahkan mungkin saja kepada Allah, untuk memohon ampun dan bertaubat atas kesalahan kita tersebut. Padahal Allah Ta’ala telah menjelaskan:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali ‘Imran: 135)

Oleh sebab itu anakku, hal yang paling tepat untuk diperbuat adalah; “diam dan bicaralah” engkau sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Artinya adalah, jangan gunakan lidahmu untuk bicara yang bathil dan jangan pula engkau kunci lidahmu untuk menyampaikan yang hak lagi benar.

Anakku, semoga pengajaran dan nasihatku ini bermanfaat bagimu, dan kepada Allah Ta’ala jualah kita berserah diri. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi,  3 Jumadil Akhir 1439 H / 19 Pebruari 2018
KH.Bachtiar Ahmad

13 Februari 2018

Rumus Matematika kehidupan

__ * -﷽- *____
*صلوا على النبي صلى اللّٰÙ‡  عليه وسلم*

Rumus Matematika kehidupan

Ketika sang Hamba melakukan Syukur  , maka Allah ta'ala akan menarik rasa  syukur kearah  bertambah besar ,  maksudnya kwalitas syukurnya  akan semakin bertambah.
Jika kwalitas Syukurnya semakin bertambah, ini akan ber efek kepada kedamaian dan kebahagiaan hidup, serta  dapat meningkatkan  Iman dan Takwanya ....Insya Allah...

  Ketika sang hamba mengeluh , maka Allah Ta'ala  akan  menarik keluhan demi keluhan  berikutnya ke arah yang lebih besar lagi.....

Apabila hal ini dibiarkan tanpa bimbingan Ahlinya, maka rasa susah yang berkepanjangan akan merusak qalbu sehingga terjangkiti virus

_ Ujub (apabila ditimpa kesuksesan atau mendapat Ilmu, dll, hatinya bangga, dan merasa hebat , shgg bisa mengarah ke sombong, baik sombong secara halus ataupun sombong secara berat)
Efek samping dari Ujub adalah dibagi 2

1. Efek terhadap qalbu (batin) / jiwa adalah  tidak kuatnya sang hati menghadapi celaan, cercaan , fitnah, hinaan,  sehingga mudah galau, mudah tersinggung, mudah sakit hati , mudah benci, mudah dendam dan iri, mudah bimbang dan ragu, mudah marah, setrees..(adanya ke tidak seimbangan jiwa / Terganggu Psikologisnya)

2. Efek terhadap Badan adalah timbulnya penyakit Psikosomatis, yaitu penyakit yang diakibatkan oleh gangguan Psikologis seperti, sakit maag, migren, darah tinggi dll.

(Catatan :Memang ada penyakit yg murni sakit yg bukan berasal dari Psikosomatis, tapi dari turunan /genetika, atau yg lainnya)

Namun sebahagian besar penyakit, munculnya adalah dari Psikosomatis...

Lebih baik bersyukur dlm kondisi apapun karena kita selalu berada dalam IrodatNYA ..dan DIA adalah Maha Suci dari segala yg  bersifat buruk Subhanalloh...wabihamdihi......

Allah Subhanahu wata'ala selalu memberikan yang terbaik buat hambaNYA,hanya saja sang Hamba tidak mau bersabar dan susah mensyukuriNYA....

Jika bisa melakukan kesabaran, maka Allah Ta'ala akan menambah Kesabaran yg lebih besar lagi kwalitasnya

Tinggal pilihan kita, mau mengeluh atau bersyukur?

Maka Rumusnya, apabila mendapat kesulitan,
Ucapkanlah Insya Allah akan dimudahkan Allah...insya Allah..

Jangan berkata aah susaahnyaa , ini adalah doa....nanti malah akan timbul kesusahan baru...

Wallahu a'lam bish showwab


11 Desember 2017

Dialog Sufi dan Sang Presiden

BismillahirRohmaanirRohiim

Shollu alanNabiMuhammad Sholallahu alaiyhi wasallam

Mungkin ini adalah pertemuan sakral yang: dialami oleh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc – seorang angkatan 1945, ahli sufi, ahli fisika dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Panca Budi, Medan - dengan Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Ia bersama rombongan saat itu diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof. Ir. Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.

“Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 Profesor-Profesor” kelakar Ir. Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Prof. Kadirun Yahya beserta rombongan. Kemudian Presiden Soekarno mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk.

“Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya”, pinta presiden Soekarno kepada Prof. Kadirun Yahya, terkesan khusus.

“Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen (saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu),” kata presiden Soekarno dengan bahasa Belanda.
“Ya, tentang apa itu Bapak Presiden…?”

“Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.”
“Lantas soalnya apa bapak Presiden?”

"Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya” jawab Presiden Soekarno.
“Baik Presiden” kata Prof. Kadirun Yahya

“Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan sorga?” tanya Presiden. “Sorga” jawab Prof.Kadirun Yahya.
“Accoord (setuju)”, balas Presiden terlihat lega.

Menyusul Presiden bertanya untuk soal berikutnya. “Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat sorga?” tanyanya.

“Untuk Presiden, Jenderal, Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan sorga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana," jawab Prof. Kadirun.
“Accoord”, kata Bung Karno (panggilan akrab Presiden).

“Nu heb ik je te pakken Professor (sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor)” lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah. “Saya cerita sedikit dulu” kata Bung Karno.
“Silakan Bapak Presiden”.

“Saya telah banyak melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum."

"Lantas saya ketemu dengan satu Hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : Rasulullah berkata; Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli sorga”.

“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan sorga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk sorga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli sorga. How do you explain it Professor?” Tanya Bung Karno lanjut. Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

"Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan”, katanya.

Keduanya adalah sama-sama eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.

Di atas kertas Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.
10/10 = 1 ;
“Ya” kata Presiden.
10/100 = 1/10 ; “Ya” kata Presiden.
10/1000` = 1/100 ;
“Ya” kata Presiden.
10/10.000 = 1/1000 ;
“Ya” kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
1000.000 … / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0;
“Ya” kata Presiden.
Dosa / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden. ———————————————–“

Nah…” lanjut Prof,
1 x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden
½ x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
1 zarah x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
“… ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar."

"Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.
Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . “Geweldig (hebat)” katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan."

"Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Presiden kemudian.

“Melalui isi dada Rasulullah” jawab Prof.

“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya : Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a), lanjutnya.

Prof menyambung, “Begitu juga dalam QS.Al-Hijr :29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya”.

"Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT", kata Prof.

Prof melanjutkan, "Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!
Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat”.

"Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)", jelas Prof.

Prof menyimpulkan, "Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi."

“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?” tanya Presiden. “

Prof menjawab, "Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT.
–Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang – (HR. Abu Daud dan An-Nasay).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”.

Sontak Presiden berdiri. “You are wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presidenpun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum....dst"

25 November 2017

C i n t a

🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻 ﷽

 اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

 🌸'Jika CINTA adalah hal terindah dalam hidupmu,

maka jadikan keimanan sebagai tiangnya,

 serta ketaqwaan kepada SANG MAHA CINTA sebagai pondasinya,

 berilah atap ketulusan dlm melakoninya,

agar apapun yg menerpamu, cahaya keikhlasan senantiasa menjadi penerang langkahmu''....
 

🌹 Cinta sesuci apapun kalau masih hanya sebatas bayangan,  maka Cinta nya bagaikan  Fatamorgana..

❤ Cinta yg sejati yaitu  apabila  engkau menjadi lebur kedalam yang engkau cintai.

 Di dlm kitab syarakh Al Hikam Ibnu Ibad juz II hal.36 dikatakan :

 Hakikat cinta adalah sekiranya engkau meleburkan seluruh dirimu demi untuk orang yg engkau cintai sehingga tidak ada sesuatupun yg tertinggal untuk dirimu sendiri...

🌷Cinta ada ukuran dan kualitasnya

1. Mahabbah Sifatiyah (Kecintaan kepada Sifat sifat) :
Yaitu, munculnya sebuah  cinta di hati yang di sebabkan  karena tertarik kepada sifat sifat dari yg dicintainya seperti Cantik, Lembut,  Indah,  Anggun,  Pandai n Cerdas,  Supel,  Baik hati,  Cakep, Gagah, Dermawan, Kaya,  Sholih Sholihah,   dll, 
nah apabila Sifat sifat  diatas menjadi daya tarik sebuah  Cinta, atau menjadi Asbab timbulnya kecintaan,  maka Cinta yang  semacam ini  tidak akan berkekalan,  dan gampang berubah menjadi kebencian ketika sifat sifat diatas hilang...
 (Cinta seperti ini,  masih tergantung kepada situasi dan kondisi / cinta yang sesuai dengan  hawa nafsunya saja)

2. Mahabbah Fi'liyah (Kecintaan kepada Pekerjaan/Perbuatan) :
 Yaitu Cinta muncul  karena tertarik oleh pekerjaan atau jabatan atau kekayaan orang yg dicintai, cinta semacam ini juga tidak awet.
(Cinta seperti ini pun masih tergantung kepada situasi dan kondisi / cinta yang sesuai dengan  hawa nafsu)

3. Mahabbah Dzatiyah (Kecintaan kepada DzatNYA) :
Yaitu timbulnya ke Cintaan adalah karena DzatNYA atau WujudNYA saja  yg dicintainya dan hatinya tidak pernah memandang kepada  keadaan Rupa dan Kedudukan serta bentuk  dan sifat orang yg dicintainya (cinta yg tidak membutuhkan sebab) atau cinta tanpa Syarat..
 inilah Wujud Cinta SEJATI tanpa adanya campur tangan Hawa Nafsu.

Nah, ada di  tingkatan manakan cinta kiTa  saat ini...

20 November 2017

Hutang Lunas Tanpa Membayar

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

Hutang lunas karena banyak baca Solawat...

Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir bercerita tentang seorang yang terbelit  banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini.

Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang.

Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar.

Saking terkenalnya dia sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,
*"Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini ?*
*"Minggu depan tuan." jawabnya singkat.*

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya.

Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba.

Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan,
*"Tempo hutang anda telah tiba."*

Dengan suara lirih dia menjawab,
*"Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi."*

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim.

Di pengadilan, Hakim bertanya:

*"Mengapa anda tidak membayar hutang anda ?"*

Dia menjawab,
*"Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan."*

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya.

Kemudian si miskin bangkit dan berkata :
*"Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja.* *"Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.*

Hakim: *"Bagaimanamungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok ?*

Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. *""Rasulullah  صلى الله عليه وسلم  jaminanku, wahai tuan hakim,* *bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong.

Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah  صلى الله عليه وسلم . Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara.

Istrinya bertanya : *"Kok sekarang engkau bisa bebas ?*

*"Aku menaruh nama Rasulullah   صلى الله عليه وسلم sebagai jaminanku."*

Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya;
*"Jika nama Rasulullah  صلى الله عليه وسلم yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.*

Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah  صلى الله عليه وسلم dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

*Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah  صلى الله عليه وسلم .* *Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata,:*

*"Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan.*
*Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu.*
*Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini;*
*"Katakan padanya bahwa dimalam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali, dan dimalam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya.*

*Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.*

Seketika si miskin terbangun dan terkejut.
Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya

*"Wahai tuan, Rasulullah   صلى الله عليه وسلم telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku."*

Alim bertanya,
*"Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu ?"*

*"Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 x dan dimalam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca.*
*Rasulullah   صلى الله عليه وسلم mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna, dan shalawat anda telah diterima olehnya."*

Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah  صلى الله عليه وسلم
*Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar*
*dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.*

Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya.

Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu.

Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata:

*"Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah  صلى الله عليه وسلم  "*

*Rasulullah  صلى الله عليه وسلم telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah   صلى الله عليه وسلم akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu".*

Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.
Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang.
Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap,

*"Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah*.
*Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat,Rasulullah   صلى الله عليه وسلم akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas".*

*"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi (Muhammad  صلى الله عليه وسلم) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya."*
(Al Ahzab;56)

Semoga kisah diatas menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad  صلى الله عليه وسلم sebagai kekasih dan Rosul Allah

🥀🥀⚘🌻
*Allohumma Sholli 'ala Sayyidina wa Maulana Muhammaddin  Wa 'ala Aalihi wa Ashhabihi wa Azwajihi wa  Dzurriyyatihi wa Ahli Baiytihi 'adada maa Fii 'Ilmillaahi Sholaatan  daa'imatan Bidawaami Mulkillaah*
🌷🌷

Saudaraku,  setiap problema,  pasti ada jalan keluarnya dg IzinNYA,

14 November 2017

Qur'an, apa Kitab?


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

Filsafat Tasawwuf
oleh
DR KH Imam Muslimin

Mohon maaf sebelumnya, saya akan ikut urun rembuk terhadap sesuatu yang mungkin dianggap sebagai problema oleh sebagian dari beberapa orang.

Semoga bisa dijadikan pertimbangan, karena apa saya sampaikan bukan jawaban yang MAK JLEBB, seperti pernah disampaikan problema dimaksud oleh Guru saya Prof. Imam Suprayo dan juga berbagai jawaban atas pernyataan Prof. Imamً Suprayogo, oleh para sesepuh dan Kyai.

Saya hanya menyampaikan sesuai dengan kapasitas saya yang sangat terbatas, saya sebagai Dosen FILSAFAT TASAWUF alias dalam kerangka ini barangkali penjelasan saya untuk memberikan urun rembuk yang hanya sebagai penjelasan saja, bukan jawaban. Saya bukan ahl tafsir, ahli fiqh dan sebagainya. Saya adalah dosen yang kebetulan mengajar mahasiswa MK Filsafat dan Tasawuf serta beberapa mata kuliyah lainnya.

Hendaknya dijelaskan terlebih dahulu, apa itu Qur'an..???

Apakah yang dimaksud dengan Qur'an itu adalah kertas yang ditulisi oleh manusia atau dicetak oleh percetakan yang yang terdiri dari 114 surat, 30 juz sekian ribu ayat dan sekian juta huruf; Dimulai dari surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas, itu disebut Qur'an..???

Apa pula yang dimaksud dengan dengan hadits, apakah ia tulisan yang dikumpulkan dalam buku oleh para tokoh seperti al Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah; Yang kemudian buku tersebut disebut dengan "kutub sittah"..???

Apakah kutub sittab (enam buku) itu yang dimaksud dengan hadits???

Kemudian apa yang dimaksud dengan dalil, apakah teks tulisan tangan manusia yang dinisbatkan kepada qur'an dan kutub sittah, itu disebut dalil..???

Qur'an itu kitab abadi ketika terbaca atau dibaca. Ia nyata adanya di dalam dada manusia dan dia adalah ayat yang jelas berada di dalam dada manusia;

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Al-Ankabut 49

Siapa berpegang teguh padanya tiada tersesat selama-lamanya.

Itulah "kitaballah wa sunnata rasulihi.."

تركت فيكم أمرين إن تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا : كتاب الله وسنة رسوله

Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, jika kalian berbegang teguh dengan keduanya, maka kalian tiada tersesat selama-lamanya.

Apakah "kitaballah" itu kertas yang ditulisi oleh manusia???

Apakah sunnah rasulullah itu "kutub sittah"???

Kitaballah itu "Alif Laaam Miiim" yang tiada keraguan di dalamnya untuk ditaqwai agar menjadi petunjuk bagi mutaqqin..

Sunnah rasulullah itu Shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah..

Jika ada tulisan tunjuk arah ke Surabaya 85 KM, apakah ini dilalah apa dalil???

Jika seseorang meminta dalil akan dilalah ke Surabaya 85 KM, ia harus mau ditunjukkan dengan alat "meteran" misalnya, kemudian dilakukan pengukuran dari tempat tunjuk arah tersebut, sampai tiba di Surabaya.

Kalau yang bertanya saja belum mengerti apa yang ia tanyakan, bagaimana menjawabnya??

Kalau yang bertanya tidak menginginkan jawaban apapun dari yang ditanya, perlukah yang ditanya menjawabnya???

Kemudian berkenaan dengan apa itu qur'an dan apa itu kitab???

Hendaknya dijelaskan pula agar sedapatnya diperoleh pengertian atas benda yang bernama qur'an dan kitab itu.

Qur'an itu ayat nyata yang di dalam dada manusia ketika terbaca atau dibaca, itulah qur'an namanya.

Lalu apa dan bagaimana dan dengan mushaf al Qur'an dan kutub sittah yang berjilid-jilid itu???

Keduanya amat penting posisinya sebagai marja' atau tempat merujuk, apakah bacaan (qur'an) terhadap ayat yang di dalam dada ini, sesuai dengan tulisan yang dikumpulkan di atas kertas itu.

Perlu dipahami pula, bahwa yang diturunkan bukan Qur'an, tapi al Kitab atau catatan dan harus dibaca.

ِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ0 الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
Al-Isra' 14.

Maka yang disuruh mengqur'an atau membaca adalah kitab catatan dirimu..

Sedangkan bacaan atau qur'an dengan bahasa Arab, karena Nabi Muhammad saw orang Arab yang lisan mulia beliau mengata dengan bahasa Arab.

Seandainya Nabi Muhammad saw itu, orang Turen, tentu bacaannya atau qur'annya berbahasa Jawa Malangan dan agak keduro-duroan.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Yusuf : 2.

Lalu terkait dengan haji, apakah ke Makkah atau Jember???

Haji itu ke Akbar, maka disebut dengan "hijjul akbar.."

Makkah itu tempat atau lokasinya Akbar, tepatnya di Baitullah, tandanya Ka'bah dan pintu masuknya adalah batu hitam atau hajar aswad.

Kalau Anda pergi ke rumah saya, siapa dan apa yang Anda tuju atau bahasa Arabnya "liman atau ila man tahujju"???

Apa dan siapa yang Anda hajatkan atau perlukan???

Bukan rumah saya kan???

Akan tetapi tentu Anda berhajat atau berhaji kepada saya, bukan rumah saya.

Rumah saya hanyalah alamat atau tanda di mana saya berada dan tinggal.

Tenaang duluuur, ojok menuduh yang bukan-bukan dulu, yaaa???

Saya mendapatkan pengertian semacam itu, bukan baru saja, tapi sejak tahun 90an dengan seorang guru yang mlarat dan kere tiada harta benda di desa Nanggalan perbatasan Blitar Kediri.

Tapi, tentu semua itu hanyalah penjelasan bukan keputusan, sehingga masih mungkin diberikan berbagai penjelasan yang lain untuk didapatkan penjelasan yang lebih jelasss dan seterusnya.

Selanjutnya, apa itu Islam??

Kalau saya mengartikan Islam itu, seperti dirumuskan oleh para pendahulu kita, para alim dan cendekia yaitu Islam itu rukun.

Rukun itu anggota badan jama'nya "arkan" alias amal nyata.
Jikalau Islam itu pasti beramal nyata berupa kerukunan. Kalau tidak rukun, bukan Islam.

Maka RUKUN ISLAM artinya, beramal nyata kerukunan, saling menghargai, hati tetap husnu dhon dst, itulah damai diri dan damai orang lain atau Islam..

Islam itu mendamaikan : aslama- yuslimu-islam artinya mendamaikan diri sehingga bisa berdamai tehadap orang lain, produknya adalah "salam" atau kedamaian.

🥀⚘🌻
*Allohumma Sholli 'ala Sayyidina wa Maulana Muhammaddin  Wa 'ala Aalihi wa Ashhabihi wa Azwajihi wa  Dzurriyyatihi wa Ahli Baiytihi 'adada maa Fii 'Ilmillaahi Sholaatan  daa'imatan Bidawaami Mulkillaah*
💙🌷🌷

Guru Mursyid

  ❀✿           بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ      ✿❀
                                                                                                                 

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Sunan Bonang berkata :
Jangan hanya belajar kepada KITAB,
Haruslah belajar juga kepada KUTUB,

Yaitu KUTUB Alamin ialah seorang Guru Mursyid Pewaris Nur Muhammad dari Rosulullloh SAW,inilah yg disebut ulama Warosatul Anbiya yg mewarisi ilmu Nabi,sebagai QUTUB amal dan QUTUB ilmu

Karena penjelasan islam tidak cukup hanya DIJABARKAN
Tetapi harus dibimbing oleh seorang mursyid agar DITASYJIDKAN.

Yaitu DIHIDUPKAN dan dinyalakan cahaya dzikir dihati kita dg TALKIN DZIKIR.
Agar kita dituntun kepada hadrat Allah sampai marifat billah.
Melalui Dzikir Dzahar, Dzkir Khafi, Dzikir Ruh, Dzikir Sirri dan Dzikir Akhfa..!

Tentang seorang MURSYID di dalam Quran disebut oleh Alloh dalam surat Al Kahfi ayat 17:

"May-yahdillaahu fahuwal muhtad wa may yauhdhil falan tajida lahuu WALIYAM MURSYIDA"

Artinya :
Barang siapa yg diberi petunjuk oleh Alloh dialah yg mendapat petunjuk dan siapa yg dibiarkan-Nya sesat,maka tidak akan dipertemukan dg WALI MURSID yg memberinya petunjuk.

Semoga Akhy dan Ukhty semuanya mendapatkan hidayah dipertemukan dg Qutub Alamin atau WALI MURSYID dalam perjalanan hidup kita yg cahaya dzikirnya mampu menyulut dan menyalakan cahaya iman dan taqwa, , ,
Aamiin

Renungkanlah

  🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻 ﷽ ⚘

♡ اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ♡

Mengapa kita begitu bosan ketika memandangi Kitab Suci *AL QUR'AN* ? Tetapi begitu santai ketika membaca buku-buku yang lain.

🌃Mengapa *MASJID MASJID* itu jadi lebih kecil? Tetapi bar dan klub malam meluas.

🌃Mengapa begitu mudah Mengidolakan (memuja) Selebriti? Tetapi sangat sulit akrab dengan *HAMBA HAMBA ALLAH* yang *SHALEH* 

🏯Ingatlah; *ALLAH (Subhanahu Wa Taala)* Berfirman: _*Jika Kalian Mengingkariku di depan Teman-teman kalian, Aku akan Mengingkari kalian pada Hari Pembalasan.*_

🌃Ketika satu pintu tertutup, ALLAH membukakan yang kedua; Jika  ALLAH telah membuka pintu-pintu untuk ANDA, sampaikanlah dakwah walau satu ayat. 

🌍Allah tidak memiliki BLACKBERRY, Android, tapi Dia adalah Kontak Favorit saya...

🌍Allah tidak ada di TWITTER, tetapi aku masih mengikutinya dan akan mengikutinya selamanya...

🌍Allah tidak ada di WHATSAPP,  tapi Dia selalu online...

*Jadi sekalipun tidak ada  INTERNET, Saya akan selalu terhubung dengannya...*

Telah dikatakan bahwa ketika *Malaikat Maut mengambil Ruh (nyawa) dari tubuh* yang telah meninggal dunia….. itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan. 

Mereka berkata bahwa ketika Orang mati bangkit pada hari Qiyamat, pengaruh dari Ruh yang telah diambil akan tetap disana.

 Oleh karenanya, Allah telah memberitahukan kepada kita untuk *membaca  Ayatul-Kursi* setiap selesai Sholat Fardhu dan itu akan meneguhkan yang membacanya, Ruh mereka akan dicabut sebagaimana Anda mencabut sehelai rambut dari gundukan tepung. 

Akan begitu ringan rasanya, Masha Allah!

🌉 *Semoga Allah Menyelamatkan kita* dari segala macam rasa sakit dan mengizinkan kita Meninggal di atas Imaan di hati Kita dan menyelamatkan kita dari ‘Azabnya. Aamiin….
🌉Tidak ada kata yang Seindah *ALLAH*.
🌉Tidak ada Tauladan yang seindah *RASULULLAH MUHAMMAD*  (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam).
🌉Tidak ada Tuntunan seindah *ISLAM*.
🌉Tidak ada nyanyian yang semerdu *ADZAN*.
🌉Tidak ada Darma seberarti *ZAKAT*
🌉Tidak ada ensiklopedi sesempurna *AL QUR'AN*
🌉Tidak ada diet sesempurna *PUASA*.
🌉Tidak ada Pengembaraan sesempurna *HAJI*
🌠 *Islam itu selamanya Indah dan Sempurna*, 

🌠Ini sangat biasa diantara kita, sebagian besar kita berbicara pada waktu Adzan... 

🌠Baca ini..
Rasulullah yang mulia (Shallallahu Alaihi Wasallam) berkata, " *_Hentikan melakukan segala aktivitas selama mendengar ADZAN, meskipun sedang membaca Quran_*..

.. 🏯BACALAH DO’A INI UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK...

_*Allahumma-Inni-Alaa-Dzhikrika-wa Shukrika-wa-husni-ibaadatika*_.
Sebuah Do’a yang dahsyat telah dikirim kepada Anda. 

SUBHANALLAH !!!*

🌍 Bangkitlah segera ketika Anda mendengar ADZAN, seperti ketika anda mendengar telephone Anda berdering❗

🌍Bacalah AL QUR'AN dengan BENAR, 
Seperti Anda membaca tulisan❗

🌃Takutilah ALLAH, seperti Anda takut KEMATIAN❗

🌃Ingatlah KEMATIAN, seperti Anda  
      Mengingat Nama Anda❗

🎇Berapa menit yang diperlukan Untuk mengerjakan setiap Sholat❗

🍇"SUBUH" 4 - 6 Menit❗

🍇"ZUHUR" 6 - 8 Menit❗

🍇"'ASHAR" 6 - 8 Menit❗

🍇"MAGHRIB" 5 - 7 Menit❗

🍇"ISYAA' " 7 - 10 Menit❗

🍒Total 28 - 39  Menit per hari dari 24 jam❓ 🍒

🌍Mari Pikirkan tentang hal ini, apakah kita betul-betul menghabiskan waktu kita demi kepentingan ALLAH❓

Cahaya-Cahaya Watak Diri An Nafsiyyah


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Setelah tujuh hari khalwat di ruang al-Fath, di bulan Ramadhan Mas Wardi Bashari keluar dengan wajah berbinar-binar memancarkan kegembiraan. Meski tampilannya kusut, namun wajahnya memantulkan suatu keluas-bebasan jiwa yang tidak diberati beban-beban yang menekan. Dan sewaktu menghadap Guru Sufi yang sedang  berbincang-bincang dengan para sufi dan salik di teras mushola, Mas Wardi Bashari mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Guru Sufi yang telah menunjukkannya ‘jalan’ Kebenaran yang haqqiqi kepadanya sampai ia menemukanNya. “Saya telah menyaksikan-Nya,  romo kyai. Saya telah sampai. Matur nuwun.”

Guru Sufi ketawa mendengar pengakuan Mas Wardi Bashari sambil memandang para sufi yang juga ketawa. Setelah itu, dengan suara lembut Guru Sufi bertanya,”Engkau telah menyaksikan apa? Engkau merasa telah sampai di mana?”

“Saya telah menyaksikan cahaya Kebenaran, romo  kyai,” sahut Mas Wardi Bashari menegaskan,”Saya telah sampai kepada-Nya. Saya sudah menyaksikan cahaya-cahaya aneka warna memancar dari qalbu saya. Saya tidak bisa menceritakan bagaimana cahaya-cahaya itu, tetapi keindahannya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata dalam bahasa manusia,” sahut Mas Wardi Bashari menjelaskan pengalaman ruhaninya.

“Apakah cahaya yang engkau lihat ada yang merah? Kuning? Kehitaman? Putih? Hijau bening seperti kristal?” tanya Guru Sufi memancing.

“Benar sekali, romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari masih tertegun-tegun dicekam pesona pengalaman ruhaninya, ”Saya melihat cahaya kemerahan yang sangat menyilaukan memancar seperti kilatan petir dari kedalaman qalbu saya dan cahaya itu menyelimuti seluruh cakrawala. Apakah itu bukan cahaya-Nya?”“Ketahuilah wahai sahabat, bahwa Allah kesucian dan keazalian-Nya diselubungi oleh tujuh puluh cahaya dan kegelapan. Syaikh Ahmad Rifa’i malah menyebut 70.000 selubung hijab cahaya dan kegelapan. Jadi jangan sekali-kali engkau menganggap jika sudah menyaksikan cahaya itu sudah sama dengan sudah melihat-Nya,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Tapi romo  kyai,” kata Mas Wardi Bashari berkilah,”Bukankah Allah itu  adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya  adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada Pelita. Pelita  itu ada di dalam Kaca. Kaca  itu laksana bintang berkilau yang dinyalakan dengan minyak dari  pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak ada Api  yang menyentuhnya. Cahaya di atas Cahaya! Allah  menuntun kepada Cahaya-Nya, siapa saja yang Ia kehendaki. Allah  membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah  mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An Nur : 35). Bukankah ayat Qur’an ini menunjukkan bahwa Allah adalah cahaya?”

“Ketahuilah wahai salik, bahwa Allah itu dalam haqqiqat meliputi satu kesatuan Asma’, Af’al, Shifat, Dzat. Apa yang terungkap dalam Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 35 yang engkau sitir, tiada lain adalah ungkapan tentang Af’al-Nya menerangi dan meliputi langit dan bumi. Itu artinya, ayat Al-Qur’an itu mengungkapkan tentang Dia dalam iktibar bahasa yang bisa difahami manusia. Jadi jangan ditafsir-tafsirkan dengan akal pikiranmu, tetapi fahami dengan qalbumu.  Bukankah Rasulullah Saw sudah melarang kita untuk memikirkan Dzat-Nya?” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Lalu makna Allah sebagai cahaya dalam ayat itu apa romo kyai?” tanya Mas Wardi.

“Asma’, Af’al dan Shifat-Nya yang menyelubungi haqqiqat  Dzat-Nya yang tersembunyi dan terahasia,” kata Guru Sufi menjelaskan, “Dan ungkapan kata cahaya di dalam Surah An-Nuur: 35 itu jangan sekali-kali engkau anggap sama dengan cahaya yang engkau saksikan. Sebab Cahaya langit dan bumi yang dimaksud di dalam al-Qur’an itu tidak bisa disaksikan mata inderawi karena diselubungi beribu-ribu cahaya dan kegelapan yang menghijab-Nya.”“Woo begitu ya romo  kyai,” sahut Mas Wardi Bashari mengerutkan kening,”Kalau begitu cahaya apa itu yang sudah saya saksikan memancar dari qalbu saya itu?”

“Syaikh Abdul Jalil al-Jawy  menjelaskan bahwa pemahaman cahaya  (nuur) itu mengikuti  limpahan anugerah yang memancar dari qalbu dan keadaannya mengikuti  kadar cahaya dalam  batinnya qalbu. Cahaya sendiri   beragam dan berbeda-beda: ada cahaya watak diri (an-nafsiyyah), ada cahaya akal (al-lubbu), ada cahaya ruh (ruhiyyah), ada cahaya qalbu (fawaid), ada cahaya titik hitam dalam qalbu (suwaidaa’ul qalb), ada pula cahaya batin yang terahasia (sirr), dan ada pula  cahaya rahasia di dalam rahasia batin (sirr al-asrar). Sirr al-Asrar itulah cahaya  yang paling agung dan paling sempurna,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Tapi bagaimana dengan perubahan-perubahan yang terjadi dengan cahaya-cahaya itu?”

Guru Sufi menjawab,”Tiap-tiap cahaya dari semua cahaya itu memang beragam dengan fungsi dan peran masing-masing sebagai selubung cahaya-Nya. Ketahuilah, bahwa di dalam kosmos (‘alam) senantiasa terdapat sesuatu yang bertentangan di mana yang bercahaya (nurani) selalu berlawanan dengan yang gelap (zhulmani). Dan ketahuilah, bahwa sesuatu yang gelap senantiasa berhubungan dengan sesuatu yang bersifat jasmani. Nah keragaman tiap-tiap cahaya itu berhubungan dengan tiap-tiap kegelapan yang menjadi lawannya. Demikianlah, masing-masing anasir cahaya itu eksis dalam keragamannya bersama kegelapan yang menjadi lawannya  sebagai hijab-hijab  yang menyelubungi rahasia Keberadaan-Nya.”

“Lalu cahaya aneka warna yang saya saksikan itu apa romo kyai?” tanya Mas Wardi Bashari ingin tahu.

“Itu adalah cahaya watak diri (an-nafsiyyah) yang memancar dari qalbumu,” kata Guru Sufi menjelaskan,”Cahaya merah adalah pancaran dari nafsu  ammarah (an-nafs al-ammarah). Cahaya kuning adalah pancaran dari nafsu sufliya (an-nafs as-sufliyyah). Cahaya kehitaman adalah pancaran nafsu lwammah (an-nafs al-lwammah). Cahaya putih adalah pancaran nafsu muthmainnah (an-nafs al-muthmainnah). Itu artinya, engkau sudah masuk ke dalam matra alam gaib (‘alam al-ghayb) dengan melalui ketersingkapan (kasyf) alam kecil (‘alam as-shaghir) dirimu sendiri. Itu berarti, pandangan batinmu (bashirah) yang tertutup karat jiwa (al-rayn)  telah mulai sedikit tersingkap.”

“Saya mohon petunjuk, romo kyai!” kata Mas Wardi Bashari memohon.

“Ketahuilah wahai salik, bahwa di balik ketersingkapan (kasyf) pandangan batinmu (bashirah) itu masih cukup kuat peranan angan-anganmu (khayal) yang bersumber dari akalmu (‘aql) untuk memperlambat bahkan menghambat ketersingkapan (kasyf) yang lebih luas, sehingga engkau terhenti pada sekat (barzakh) yang mengantarai alam gaib dengan alam nyata,” kata Guru Sufi.“Apakah gambaran-gambaran yang terbentuk dari cahaya-cahaya yang saya saksikan  itu adalah pantulan dari angan-angan (khayal) saya sendiri, romo kyai?” tanya Mas Wardi Bashari.

“Dalam cahaya merah engkau menyaksikan perwujudan harimau, kan?” tanya Guru Sufi.

“Benar sekali romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari, ”Saya saksikan harimau itu sangat ganas. Meraung-raung kelaparan seperti ingin memangsa segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Berarti, itu nafsu saya sendiri. Nafsu Ammarah. Dan perwujudan harimau itu sejatinya pantulan dari jiwa rendah saya sendiri, yaitu nafsu hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) saya sendiri. Apakah seperti itu maknanya  romo kyai?”

“Itu benar demikian,” sahut Guru Sufi, ”Cahaya kehitaman yang engkau saksikan hanya sekilas bukan?”

“Benar romo kyai, saya hanya sekilas menyaksikan cahaya kehitaman yang lenyap ditelan kumparan cahaya kuning yang sangat terang dan meliputi segenap cakrawala kesadaran saya.”

“Itu artinya, engkau bukan golongan manusia yang kemaruk harta benda dan tidak cukup kuat terikat dengan kehidupan duniawi. Artinya, engkau tidak punya bakat menjadi orang matre yang kikir, pelit, bakhil, medhit seperti Qarun,” kata Guru Sufi tegas.

“Apakah setelah ini saya boleh khalwat lanjut ke ruang al-jihad?” tanya Mas Wardi Bashari dengan mata berbinar-binar diliputi kegembiraan dan harapan.

“Oo belum waktunya,” kata Guru Sufi datar,”Engkau justru harus pulang ke rumah dulu dan secepatnya menikah. Setelah cukup waktu hidup berumah tangga, engkau akan dipanggil untuk bisa memasuki ruang al-jihad.”

“Apa, pulang dan kawin?” Mas Wardi Bashari terhenyak kaget,”Saya sangat senang berada di sini, romo kyai. Saya sudah merasa tenang dan damai di sini. Kenapa saya harus pulang dan kawin?”

“Engkau belum bisa tenang secara paripurna, o Mas Wardi,” sahut Guru Sufi tegas, “Sebab jiwamu masih belum berdaya menghadapi kuasa nafsu sufliya yang sangat kuat memancar dari kedalaman jiwamu. Maksudnya, engkau masih banyak melewatkan waktu hidupmu dengan berimajinasi tentang hal-hal yang erotis yang merangsang syahwatmu. Justru itulah, nafsu sufliya yang masih kuat menguasaimu itu akan menjadi penghalang utama bagimu untuk melangkah ke tahap ruhani berikutnya. Jadi engkau harus melampiaskan terlebih dulu gelegak nafsu sufliya hewanimu lewat perkawinan yang sah menurut sarak.”“Aduh benar sekali romo kyai,” sahut Mas Wardi Bashari dengan wajah tersipu malu, “Kilasan-kilasan bayangan erotis itulah yang paling sering mengganggu khalwat saya.”

“Jadi untuk mengatasi kendala itu engkau harus kawin dulu,” kata Guru Sufi ketawa.

“Waduh berarti masih jauh ya perjalanan yang akan saya tempuh untuk sampai kepada-Nya,” kata Mas Wardi Bashari kurang semangat.

“Memang masih jauh dan engkau harus mulai sadar itu,” kata Guru Sufi tersenyum, “Jangan sekali-kali engkau berangan-angan bahwa berjuang (jihad) menuju Dia itu sesuatu yang mudah dan instant dengan cukup berkhalwat 40 hari sudah sampai. Ingat-ingatlah, bahwa Rasulullah Saw berkhalwat di Gua Hira itu sejak usia 25 tahun dan baru menyaksikan Namus (Jibril) pada usia 40 tahun. Ada jedah waktu 15 tahun yang mengantarai khalwat Rasulullah Saw dari awal sampai ketersingkapan awal.”

Mas Wardi Bashari termangu-mangu mendengar penjelasan Guru Sufi. Ia faham bahwa selama ini telah keliru mengasumsikan laku ruhani sebagai sesuatu yang gampang dijalani akibat pengaruh buku-buku tentang sufisme yang sering dibacanya. Bahkan saat ia menyaksikan kilasan-kilasan cahaya nafsiyyah selama bermujahadah dan musyahadah  telah ia sangkakan secara keliru sebagai cahaya Kebenaran Ilahi.

U l a m a

  🌻﷽ ⚘ ﷽ 🌻 ﷽ ⚘

♡ اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ♡

Jika dikembali kepada asal dan usulnya atau usul dan asalnya, maka sesuatu akan didapatkan pengertian.

Jika masih terjebak terhadap berbagai pendapat orang, apakah itu para ahli atau yang lainnya, maka kesulitan ditemukan pengertian atas sesuatu tersebut.

Sedangkan ketika disebutkan "para ahli" saja, itu artinya banyak pendapat dari ahli yang sudah barang tentu masing-masing ahli itu berbeda pendapatnya.

Jika masing-masing berbeda pendapat, bagaimana bisa ditemukan pengertian yang paling tepat??? Kecuali membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat yang lainnya, sehingga bukan pengertian yang diperoleh, akan tetapi mungkin pendapat kita sendiri atas dasar perbandingan dari berbagai perbedaan pendapat dari para pendapat manusia.

Maka, hendaknya ada upaya untuk bersedia dan mau kembali dan mengembalikan segala sesuatu itu ke dalam asal dan usulnya atau usul dan asalnya.

Ulama' itu bukan manusia, ia adalah pewaris para Nabi penyambai berita penting dari Allah swt.

العلماء وثرة الأنبياء

Ketika seseorang dengan imannya yang tidak tidur alias ber-rooha-yaruuhu, maka iman tersebut akan menegakkan empat sifatnya yakni shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah.
Berbeda dengan ketika iman itu tidur, sehingga ia tidak menegakkan empat sifatnya iman, maka ia tidak shiddiq, tidak amanah, tidak tabligh dan tidak fathonah.

Bagaimana supaya iman kepercayaan Tuhan tersebut tidak tidur..?

Lakukan dan tegakkan shalat. Maka shalat itu lebih baik dari pada tidur.

الصلاة خير من النوم

Jika shalat, maka iman tidak tidur. Oleh karena itulah iman bisa sambung dengan Allah Akbar, masuklah ke dalam benteng Allah dan barang siapa memasuki bentengnya Allah, aman dar siksa-Nya.

الا إله إلا الله حصني فمن دخل حصني أمن من عذابي

Kembali ke kata "ulama', bahwa secara asal dan usul ia bukan manusia,ulama adalah pewaris para Nabi.

Siapa dan apa yang bisa mewarisi para Nabi???
Tiada lain adalah iman yang bersifat empat, yakni shiddiq, amanah, tablih dan fathonah.

Saat iman bersifat empat  itulah ia sedang mendapatkan warisan, sehingga ia mukmin lalu mampu menyampaikan berita kenabian tanpa harus belajar dari manusia siapapun.

Jika masih harus belajar, atau apalagi masih mengutip dan menyampaikan berbagai pendapat para ahli, maka bukanlah ulama' pewaris para Nabi; Mungkin bisa disebut ulama saja atau majlis ulama atau duduk di majlis yang membahas ilmu dst. Akan tetapi, ia bukanlah ulama' yang dimaksudkan oleh Sabda Nabi Muhammad saw tersebut.

Tentu masing-masing orang dalam hal ini, sesuai kadar taufiq dan hidayahnya Allah swt.

Manusia dalam artian fisik, selamanya tidaklah mampu menjadi pewaris para Nabi. Bagaimana manusia yang "lakanudun" atau bersifat penentang dan keterlaluan menjadi pewaris para Nabi?

Manusia itu sering keluh kesah, manusia itu suka lupa diri ketika dalam posisi yang mapan dan mengeluh ketika dalam posisi yang kurang mapan, bahkan manusia thogho atau TER LAAA LUUU..

Kemudian, kalau seseorang itu mendapatkan warisan berupa sawah ladang atau harta yang lainnya, apakah di dalam mendapatkannya ia musti melakukan transaksi jual beli dan bekerja atau yang lainnya???

Apa si penerima harta warisan itu, harus bekerja keras untuk mendapatkannya???

Tentu tidak..

Warisan itu terwariskan dari pemilik harta yang diwariskan..

Pewaris para Nabi itu tinggal mendapatkan dan tidak perlu bekerka keras untuk mendapatkannya alias ia tinggal menunggu pasrah taufiq hidayah-Nya, berapa pun didapatkan tinggal menerimanya dan menyampaikan atau me-NABA'-kannya.

Lalu persoalan tingkatan Hadits yang dirumuskan oleh para ahli atau peneliti hadits.

Bagaimana kalau hadits itu diyakini sebagai sabda Rasulullah saw, lalu ada yang derajatnya shohih, ada yang hasan dan bahkan ada dhoif serta palsu..?
Berarti apakah Rasul yang mulia dan suci itu:

Pernah bersabda shohih..?
Pernah bersabda hasan..?
Pernah bersabda lemah atau dhoif..?

Dan bahkan pernah bersabda palsu..?

Yaa Robb....kok iso, jika mereka yang merumuskan atau membuat rumusan tentang hadits disebut ulama???

Ulama, apa peneliti tentang ucapan seseorang yang dinisbatkan terhadap rasulullah???
Ini adalah persoalan yang hendaknya dijelaskan sehingga didapatkan penjelasan yang jelas.

Jadi, ulama itu bukan manusia..

Ulama itu pewaris para Nabi..

Makanya yang punya khosy-yah takut terhadap Allah, hanya Ulama' yang ia dipercaya oleh Tuhan, yang tiada lain adalah iman itu sendiri yang ada di dalam dada manusia, bukan manusia..

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Fathir : 28.

Materi
Kajian sirrul Asrar
Setiap sore jl Wilis 11
Kantor MUI
Oleh Yai Dr. Imam Muslimin