Kesulitan dan ujian hidup bagi manusia sudah ada sejak adanya pertama kali manusia di muka bumi ini. Ingatlah kisah Nabiyullah Adam Alayhissalam Setelah `terusir' dari kenikmatan surga, Nabiyullah Adam mengalami ujian berat. Berpisah dengan Siti Hawa di tempat yang sangat asing. Menurut riwayat, Adam dibuang ke India, Hawa di Palestina.
Hal yang sama juga dialami Nabi Yunus AS. Tiga hari berada di perut ikan raksasa. Apalagi, semua armada kapal mengetahui setelah diundi namanya yang keluar sebagai penumpang yang harus dikorbankan di lautan. Di dalam perut ikan, Nabi Yunus AS diliputi rasa berdosa. Beliau yang telah meninggalkan dakwah itu pun mengalami `kesulitan hidup', berpisah dengan umat dan harus tertelan ikan besar.
Kesulitan akan selalu ada, termasuk manusia-manusia pilihan, yaitu nabi dan rasul. Bedanya, rasul dan nabi menyikapinya sebagai ibrah dan sarat pelajaran, sedangkan kita terkadang menambah jauh jarak kita dengan Allah, bahkan terkesan menyalahkan takdir-Nya. Bagi nabi dan rasul, kesulitan hidup mengukuhkan kedudukan. Bagi kita, kesulitan hidup memperburuk keadaan bahkan menjatuhkan kedudukan.
Kesulitan hidup ada yang datang karena ulah dari perbuatannya, tapi ada juga yang datang karena merupakan ujian dari Allah SWT. Bisa jadi sebagai teguran untuk mengingatkan, tapi bisa sebaliknya sebagai azab dan kutukan. Semoga saja kesulitan hidup yang kita alami bukan sebagai kutukan. Karena itu, jika ia adalah teguran untuk mengingatkan, inilah yang harus dilakukan supaya kesulitan hidup menjadi kenikmatan dan kebahagiaan hidup.
Pertama, tobat sungguh-sungguh dengan meminta maaf dan mengembalikan harta hasil kezalimannya (QS Al-Furqan: 70).
Kedua, bertakwa kepada Allah dengan menegakkan semua perintah-Nya, baik yang wajib maupun yang sunah dan secara bersamaan meninggalkan semua laranganNya, baik yang haram maupun yang makruh ataupun syubhat (QS At-Thalaq: 2-3).
Ketiga, perbanyak istighfar (QS Nuh: 10-12). Nabi Adam terkenal dengan kalimat permohonan ampunnya, Rabbanaa zhalamnaa anfusana wa illam taghfirlanaa wa tarhamna lana kuunanna minal khasirin, `'Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami, jika tidak Engkau ampuni sungguh kami tergolong orang-orang yang merugi.'' Begitu juga, Nabi Yunus dengan doa dan istghfarnya, Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin, `'Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orangorang yang zalim.''
Keempat, sedekah (QS At-Thalaq: 8).
Kelima, menolong saudara yang dalam kesulitan (QS Muhammad: 7).
Untuk meraih hidayah Allah, setiap Muslim harus memiliki naluri spiritual, menggunakan akal dan pancaindera, yang sesuai dengan ajaran Islam. Tiga hal tersebut akan lebih lengkap jika kita kembali pada Alquran, hadis Nabi SAW, dan memakmurkan masjid.
Salah satu cara meraih hidayah Allah SWT adalah dengan memakmurkan masjid. Bukan sekadar menghadiri shalat, tetapi bagaimana menangkap cahaya hidayah yang terpancar dari masjid.
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS At-Taubah [9]: 18).
Masjid adalah pancaran nur Ilahi. Allah adalah sumber dan pemberi cahaya. Suatu bahan yang terlihat mengilap atau kusam bergantung pada sifat dan posisi bahan itu apakah dia memantulkan, menyerap cahaya atau tidak. Cahaya dapat berbelok, dapat memantul.
Hidayah juga demikian. Cahaya hanya menembus benda yang transparan melalui kaca. Cahaya tidak dapat menembus tembok, demikian juga cahaya spiritual. Jika hati tertutup, cahaya atau hidayah Allah tidak akan masuk. Ini salah satu sebab mengapa orang ingkar dinamakan kafir. Sebab, hati mereka telah tertutup. Karena itu, bukalah pintu hati dan pikiran untuk meraih hidayah Allah.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat-(nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.'' (QS An Nuur [24]: 35)
Kalau kita ingin pengetahuan, ingin hidayah, maka gunakan naluri kita, gunakan pancaindera dan akal kita. Akal saja tidak cukup, dia memerlukan minyak untuk menyalakan api itu. Kalau minyaknya kotor, akan lahir asap yang memburamkan cahaya. Dan minyak yang bersih akan melahirkan cahaya yang bersih pula.
Peliharalah cahaya itu agar senantiasa bersinar dan menerangi hati kita. Gunakanlah hati, pikiran, dan seluruh pancaindera, agar api dan cahaya itu tidak padam. Dan dari masjid kiranya hal tersebut bisa kita dapatkan. Sebab, orang yang memakmurkan masjid, berarti telah memancarkan cahaya Ilahi. Dan siapa yang berada di jalan cahaya Ilahi, niscaya dia akan selalu diterangi. Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan limpahan hidayah Allah karena aktivitas kita selalu terpaut ke masjid, majelis2 ilmu, majelis2 dzikir, dan tempat2 mulia lainnya.. Amin.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.” (QS [96]: 1-3).
Setiap saat kita membaca banyak hal. Yang tertulis maupun yang
tersirat. Dari membaca berita sampai membaca apa yang terjadi pada
lingkungan kita. Namun, sering kita lupa membaca dan menyimak apa-apa
yang berlangsung di dalam diri kita.
Manusia diciptakan dari segumpal darah ('alaq) dan di dalam dadanya
ada segumpal daging (mudghah). Kata Nabi SAW, bila segumpal daging itu
baik maka baik diri keseluruhannya. Namun, bila segumpal daging itu
buruk, buruk diri keseluruhannya. Itulah yang dinamakan hati.
Karenanya, bacalah setiap saat kondisi hati kita. Sedang was-waskah
dia? Sedang gelisahkah dia? Sedang takutkah dia? Sedang dengkikah dia?
Iqra, iqra, iqra! Seperti penggalan lagu religi bertajuk “Jagalah
Hati”: jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati pelita hidup ini.
Kita tidak mungkin menjaga sesuatu yang tidak kita sadari
keberadaannya. Karena itu, bacalah hati setiap saat, agar kita sadar
akan keberadaan dan aktivitasnya. Karena kondisi hati yang baik membuat
diri menjadi baik keseluruhannya.
Jika hati kita terasa bersih, bersyukurlah. Sebaliknya, jika hati
sedang terasa buruk, akuilah sebagai amanah, akuilah sebagai ujian,
akuilah bahwa perasaan negatif hanyalah ilusi. Semata-mata kita yang
membuatnya. Karena tidak selayaknya makhluk Allah yang sempurna ini
(“sempurna” dalam skala dunia) mempunyai jiwa yang tidak sempurna.
Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS [95]:
4), dan meniupkan ruh-Nya yang mulia kepada nenek moyang kita Adam,
sehingga bersujudlah seluruh alam semesta kepada Adam. Jika bersih hati
kita, itulah fitrah. Jika kotor hati kita berarti ada dusta sedang
berlangsung.
Kita sedang tidak menjadi diri sejati kita. Dan, harus ada ikhtiar
yang kita lakukan untuk mengembalikannya kepada fitrahnya. Dengan
zikrullah, dengan berulang-ulang meyakinkan diri bahwa
perasaan-perasaan kita-baik yang nyaman maupun tak nyaman, semuanya
adalah amanah sekaligus ujian. Dan, bahwa kalau tak nyaman berarti kita
sedang tak sesuai fitrah.
Maka, perlahan-lahan tapi pasti, kita sedang meninggikan ruh kita
yang mulia di atas perasaan-perasaan kita. Dan, meninggikan kehendak
Allah di atas keinginan-keinginan kita. Jika tidak, alih-alih menjadi
ciptaan paling mulia, kita justru jatuh kepada derajat binatang ternak.
(QS [25]: 43-44). “Sungguh berbahagia orang yang menyucikannya (jiwa
itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS [91]: 9-10).
Jika kita terus-menerus membaca hati kita dan membersihkannya, insya
Allah kita akan sampai pada derajat jiwa yang muthmainnah dan kelak
kembali menghadap Allah dalam keadaan puas dan diridai-Nya. “Wahai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan
diridai-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan
masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS [89]: 27-30). Bacalah alam semesta,
bacalah segala yang baik-baik. Agar mulia, jangan pernah lupa setiap
waktu, bacalah hati! wallahu a'lam.
Suatu hari 'Abdullah bin Ja'far memasuki sebuah perkebunan kurma. Di sana ia lihat seorang anak kecil berkulit hitam menjaga perkebuan tersebut. Di tangannya tampak beberapa potong roti.
. Sang budak kecil melemparkan sepotong roti kepadanya. Tak lama kemudian terlihat seekor anjing memasuki perkebunan itu.
Anjing itu memakannya dengan lahap. Budak itu kemudian melemparkan dua potong roti lagi. Anjing tersebut menyantapnya tanpa sisa.
"Duhai anakku, dalam sehari, kau makan apa?" tanya 'Abdullah bin Ja'far penasaran. "Tiga potong roti yang kau lihat, " jawabnya. "Mengapa kau lebih mengutamakan anjing itu dan memberikan semua rotimu kepadanya?" tanya 'Abdullah.
"Di kawasan ini tidak ada anjing, dia datang dari tempat yang jauh. Dia tentu lapar. Aku tak mau dia kelaparan sedangkan aku kenyang, " jawab anak kecil itu. "Lalu apa yang akan kau makan hari ini” Tanya Abdullah. Hari ini aku akan berpuasa," jawabnya. Budak kecil ini lebih dermawan dariku/'ujarnya. 'Abdullah membeli perkebunan kurma tersebut beserta budak kecil itu dan segala peralatannya, kemudian ia membebaskan Sang budak dan menghadiahkan kebun itu kepadanya.
Hikmah dibalik Cerita
Jika seorang yang berharta berderma itu hal yang biasa, tetapi jika seorang yang kekurangan harta berderma itu adalah sesuatu yang luar biasa.
Kisah di atas mengajarkan banyak hal, di antaranya adalah sifat itsar, yaitu mengutamakan orang lain meskipun kita berada dalam kesulitan dan kesempitan.
Bayangkan, seorang budak kecil rela mendermakan jatah makannya kepada seekor anjing. Dia tahu bahwa anjing itu lelah dan lapar, sebab ia berasal dari daerah yang jauh. Sikap ini timbul dari jiwa yang penuh kasih.
Rasuluah saw bersabda: "Orang-orang yang berjiwa kasih akan dikasihi oieh Allah yang Maha Pengasih. Kasihilah (sayangilah) (semua) yang di bumi, maka semua yang di larngit akan mengasihi (menyayangj) kalian," (HR Tirmidzi Abu Dawud dan Ahmad)
Anak kecil itu telah memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi. Karena mengasihi seekor anjing, ia pun memperoleh kasih sayang Allah.
Seketika itu juga ia bebas dari perbudakan dan menjadi jutawan
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA Keberkahan
bukanlah pemberian Allah yang tiba-tiba dengan tanpa sebab diturunkan
kepada seseorang. Keberkahan merupakan sesuatu yang senantiasa diminta
dan harus diupayakan oleh setiap manusia kepada pemiliknya, Allah SWT.
Di
antara sebab-sebab turunnya keberkahan adalah:
Pertama, mendasari
keimanan dan ketakwaan dalam sebuah kegiatan atau usaha. Allah SWT
berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96).
Kedua, beramal saleh dan
berikhtiar memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan semua makhluk-Nya.
Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan
Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).
Ketiga, memulai setiap
pekerjaan dengan menyebut nama Allah karena pada hakikatnya Dialah
pemiliknya. Rasulullah SAW bersabda, "Berkumpullah kalian atas makanan
dan sebutlah nama Allah, maka Allah akan memberikan keberkahan pada
kalian di dalamnya." (HR. Abu Daud).
Keempat, menyegerakan diri
dalam kebaikan dan membuang rasa malas di pagi hari. Rasulullah SAW
mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang menyegerakan diri dan
bersemangat di pagi hari dalam meraih sukses melalui doanya, "Ya Allah,
berkahilah umatku yang (bersemangat ) di pagi harinya." (HR. Abu Daud).
Kelima,
berlaku jujur dan melayani pelanggan dengan baik dan ihlas. Rasulullah
SAW bersabda, “Penjual dan pembeli itu diberi pilihan selama keduanya
belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menjelaskan (kondisi barangnya),
maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Namun bila keduanya
menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihilangkan keberkahan jual beli
keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pada tingkat tertentu,
keberkahan tidak selalu bersifat definitif dalam arti selamat, tetap,
langgeng, baik, bertambah, dan tumbuh melainkan berati puas dan rela
dengan pemberian dan pembagian yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam
kategori ini orang-orang yang mendapatkan keberkahan juga merasakan
hidup dengan perasaan nyaman dan bahagia.
Rasulullah SAW
bersabda, “Sungguh, Allah menguji hamba dengan pemberian-Nya. Barang
siapa rela dengan pembagian Allah terhadapnya, maka Allah akan
memberikan keberkahan baginya dan akan memperluasnya. Dan barang siapa
tidak rela, maka tidak akan mendapatkan keberkahan.” (HR. Ahmad).
Semoga
Allah SWT memberikan keberkahan terhadap rezeki, kediaman, keturunan
dan semua anugerah yang diamanahkan kepada kita serta memberi kekuatan
untuk senantiasa taat menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya
dan melimpahkan kepuasan kepada kita atas pemberian-Nya. Wallahu a'lam.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, di antara
hamba-hamba Allah ada yang bukan nabi, tetapi para nabi dan syuhada
cemburu terhadap mereka.”
Ada sahabat yang bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasul? Semoga kami bisa turut mencintai mereka.”
Rasulullah
pun menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena
Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka.
Wajah-wajah mereka bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya.
Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat
manusia sedih.”
Kemudian Rasul pun membacakan ayat, ‘Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak pula mereka bersedih hati’,” (QS. Yunus: 62).
Cinta dan
benci adalah dua sifat fitrah yang senantiasa melekat dalam diri
manusia, kapan pun dan di mana pun ia berada. Kedua sifat tersebut
merupakan karunia Allah SWT sejak manusia diciptakan. Cinta tidak selalu
bermuatan positif; demikian pula sebaliknya, benci tidak selalu
bermuatan negatif, seperti yang dipahami dan dianggap sebagian besar
orang.
Dalam Islam, kedua kata yang berlawanan arti ini bisa
sama-sama positif apabila disalurkan sesuai dengan aturan Allah. Bahkan,
cinta dan benci bisa menjadi ladang amal saleh kalau dikelola dengan
baik dan sesuai dengan aturan Islam. Sebaliknya, keduanya pun bisa
menjadi bumerang buat kita, saat kita menyalurkan kedua perasaan itu di
luar syariat yang telah ditetapkan Allah.
Menurut Syekh Salim bin
‘Ied Al-Hilali, cinta ialah perasaan sayang yang disertai mahabbah.
Sedangkan benci ialah kebalikannya. Seseorang bisa saja mencintai orang
lain dengan perspektif abstrak; yaitu ‘cinta’ dengan tutur katanya yang
sopan, budi pekertinya, tata krama, juga etika bersikap terhadap sesama.
Sebaliknya, banyak pula seseorang yang mencintai pasangannya
atau saudaranya karena faktor duniawi semata, entah itu kecantikan,
jabatan, kekayaan, materi yang melimpah, yang semuanya sungguh-sungguh
bersifat tidak kekal alias fana. Jika demikian adanya, siapakah yang
harus kita cintai?
Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang
siapa saja memilikinya, maka akan merasakan lezatnya keimanan. Pertama,
Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada apapun. Kedua, mencintai
karena Allah. Ketiga, enggannya untuk kembali bermaksiat, seperti tidak
maunya ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari
hadis tersebut, sekiranya ada benang merah yang dapat kita ambil bahwa
yang layak kita cintai ialah orang-orang yang jua mencintai Allah, yang
melaksanakan syariat Allah, yang ikhlas beribadah di jalan Allah.
Sedangkan orang yang patut kita benci ialah—orang yang kafir terhadap
Allah.
Dari kesimpulan tersebut, maka akan lahirlah keikhlasan
hati untuk mencintai dan membenci karena Allah serta keistiqamahan diri
untuk tidak berbuat maksiat baik kepada Allah juga enggan menyakiti
sesama. Pada akhirnya, mencintai karena Allah, akan menghasilkan sebuah
doa yang tulus, agar orang-orang yang kita cintai karena Allah,
senantiasa berada di jalan dan petunjuk Allah.
Sebab, jika kita
mencintai seseorang karena perkara duniawi yang sifatnya sementara, maka
Allah pun akan melepaskan ikatan tersebut. Dia balikkan hati-hati yang
tadinya saling mencintai, jadi memusuhi—karena kekeliruannya sendiri.
Beda
halnya dengan orang yang mencintai karena Allah, hatinya selalu tenang
jika berada dengan orang yang ia cinta, sebab yang dicinta senantiasa
melakukan ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah—sehingga, apa pun yang
terjadi—perpisahan maut sekalipun, ia akan tetap ikhlas dan yakin bahwa
Allah akan mempertemukan dan mengumpulkannya bersama insan dan
orang-orang yang ia cintai selama di dunia. Seperti sabda Rasulullah di
atas, hingga para nabi dan syuhada pun cemburu. Wallahu a’lam.
Nafsu
diciptakan oleh Allah sebagai perangkat (alat) uji untuk manusia, dia
dibuat dari unsur yang sangat halus dan mempunyai jaringan yang sangat
rumit, komponen di dalamnya demikian luar biasa banyaknya, hanya dengan
menggunakan mata Ruhlah manusia dapat menyakasikan dimensi nafsu ini.
Di
dalam kehidupanya nafsu tak pernah berhenti dan terus bergerak, bahkan
pada saat manusia tertidur pulas, ialah satu-satunya musuh besar bagi
manusia.
Dari Syadad bin Aus r.a.,
dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam., bahwa beliau berkata,
'Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri
serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang
lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan
terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, 'Hadits ini adalah
hadits hasan')
Gambaran Umum Hadits
Hadits di atas
menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani
kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari
sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan
Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus
memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith),
pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan
pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu alaihi
wasallam dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan
evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa
nafsu dan banyak angan.
suatu hari ada seekor merpati yang jatuh cinta pada mawar putih..
tapi Mawar putih itu berkata.. AKU G AKAN PERNAH MENCINTAI KAMU SAMPAI KAPAN PUN...
Merpati itu pun g kenal menyerah.. tiap saat dia terus mendatangi mawar putih.. hingga akhir na suatu hari mawar putih berkata..
AKU AKAN MENCINTAIMU, JIKA KAMU BISA MERUBAH WARNAKU MENJADI MERAH ...
Setelah
hari hari berjalan lama... si merpati benar benar merasa tidak mungkin
meminta alternatif lainya dia putuskan setuju memenui syarat yg
diberikan..
merpati itu mendatangi sang mawar putih.. merpati itu
pun MEMOTONG SAYAPNYA DAN MENEBARKANNYA PADA SANG MAWAR PUTIH . ..
hingga mawar pun berubah MERAH....
akhirnya.. sang mawar pun sadar betapa besar cinta merpati kepadanya.. namun kini semua sudah terlambat..
karena merpati itu tak kan pernah kembali lagi ...
walau harus mati karena lukanya, tapi dia benar benar puas karena dalam keadaan dicintai oleh pujaanya...
MAWAR memang INDAH, tapi DURInya selalu menyakiti.
MERPATI seolah terlihat KUAT. Ia mampu bertahan dan tak kenal lelah untuk mencari cinta. meski slalu di sakiti......
Hingga kini, mawar merah masih ada... karena warna merah yang melekat
pada dirinya..merupakan perwujudan abadi dan tak akan pernah ilang
selamanya....
bukti sebuah perasaan... yg sampai saat ini, dijadikan sebagai lambang ketulusan cinta yang sejati. .
JANGAN
BERHARAP PADA SESEORANG TANG TAK MENYAYANGI KITA. BUKAN MEMPERHATIKAN
ORANG YANG KITA SAYANG. TAPI HARGAI ORANG YANG MENYAYANGI KITA. HARGAI
ORANG YANG MEMPERHATIKAN KITA, BUKAN SLALU MEMPERHATIKAN ORANG YANG TAK
PERNAH PEDULI PADA KITA.. KARNA SESUNGGUHNYA.. ORANG YANG SAYANG SAMA
KITA AKAN SLALU ADA UNTUK KITA.. TAPI ORANG YANG KITA SAYANG BELUM TENTU
DIA SLALU ADA UNTUK KITA...
PESAN:
Setangkai mawar dan seekor merpati itu mengajari kita untuk bersungguh sungguh akan kesempatan yang ada saat ini.
Atau
kesempatan itu akan hilang selamanya.... hargai rasa sesorang.. jangan
pernah mengabaikan sayang dan perhatian dari seseorang karna niscaya
kelak kau akan mencari dan merindukannya................... Sebagaimana Mawar Putih yg slalu merindukan Merpati Putih...hmmmmmm •♥°˜¨•☆ .♥*♥
Nabi صلى ا لله عليه وسلم sangat sayang kepada umatnya. Maka tidak pernah baginda صلى ا لله عليه وسلم diberi
pilihan di antara dua perkara kecuali memilih yang termudah di antara
keduanya, untuk memberikan kemudahan kepada umat dan ingin menghilangkan
kesusahan darinya. Sebab itulah Nabi صلى ا لله عليه وسلمbersabda:
"Sesungguhnya Allah سبحانه
وتعالى tidak mengangkat aku sebagai seorang yang memaksakan kehendak dan tidak pula keras kepala, tetapi Dia سبحانه
وتعالى mengutusku sebagai guru yang suka memberikan kemudahan." (HR. Muslim).
"Sesungguhnya Allah سبحانه
وتعالى Yang Maha Lembut menyukai kelembutan dan memberikan kerana sikap lembut sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada kekerasan." (HR. Abu Daud )
Sesungguhnya
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)
bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min.
(QS. at-Taubah:128)
Di antara kasih sayang Nabi صلى ا لله عليه وسلم kepada umatnya, kisah seorang lelaki datang kepada Nabi صلى ا لله عليه وسلم, dia berkata: " Aku binasa, wahai Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم."
Baginda صلى ا لله عليه وسلم bertanya: " Apakah yang telah membinasakan engkau?" Dia menjawab: " Aku menyetubuhi isteriku di bulan Ramadhan."
Baginda صلى ا لله عليه وسلم bertanya lagi: " Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan budak? " Dia menjawab: "Tidak." Baginda صلى ا لله عليه وسلم bertanya lagi, 'Apakah engkau mampu puasa dua bulan berturut-turut?
Dia menjawab: " Tidak." Baginda صلى ا لله عليه وسلم bertanya lagi: " Apakah engkau
mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh (60) orang miskin? Dia
menjawab: "Tidak." (Perawi) berkata, 'Kemudian dia duduk, lalu Nabi صلى ا لله عليه وسلم diberikan satu karung yang berisi kurma.
Maka baginda صلى ا لله عليه وسلم bersabda, "Bersedekahlah dengan ini."
Laki-laki itu bertanya: "Apakah kepada orang yang lebih miskin dari
pada kami? Tidak ada di antara dua bukit batu ini (maksudnya kota
Madinah) satu keluarga yang lebih memerlukannya dari pada kami." Maka
Nabi صلى ا لله عليه وسلم tertawa sehingga nampak giginya. Kemudian baginda صلى ا لله عليه وسلم bersabda: " Pergilah beri makan kepada keluargamu." (muttafaqun 'alaih).
Perhatikanlah kasih sayang Nabi صلى ا لله عليه وسلم kepada lelaki yang bersalah ini, yang bersetubuh dengan isterinya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya Nabi صلى ا لله عليه وسلم
bersikap lembut kepadanya dan memperturunkan dari hukuman yang berat
kepada yang lebih ringan.
Hingga akhirnya baginda صلى ا لله عليه وسلم yang memberikan
sesuatu untuk menebus kesalahannya. Bahkan dia صلى ا لله عليه وسلم
mengizinkan untuknya mengambil pemberian ini dan memberi makan kepada
keluarganya, karena melihat kemiskinannya. Alangkan agungnya kasih
sayang nabawi ini, alangkah indahnya kelembutan Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم
Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami berkata: 'Ketika aku solat bersama Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم, tiba-tiba seorang laki-laki bersin. Maka aku berkata: 'Yarhamukallah (semoga Allah I memberi rahmat kepadamu).' Maka semua orang berpaling melihat aku. Aku berkata, "Kenapa
kamu memandang saya? Maka mereka memukul tangan ke paha mereka. maka
tatkala aku melihat mereka menyuruhku diam, aku pun diam. Maka tatkala
Nabiصلى ا لله عليه وسلم selesai solat, aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang guru yang lebih baik pendidikan darinya صلى ا لله عليه وسلم Demi Allah, dia صلى ا لله عليه وسلم tidak menggertak dan tidak pula memukulku. Baginda صلى ا لله عليه وسلم bersabda:
"Sesungguhnya
solat ini tidak patut padanya sesuatu dari pembicaraan manusia.
Sesungguhnya ia adalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur`an." (HR. Muslim).
An-Nawawi rahimahullah berkata, 'Dalam hadith tersebut mengandungi keagungan akhlak Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم yang Allahسبحانه
وتعالى
bersaksi baginya, kelembutannya kepada orang jahil dan kasih sayangnya
kepadanya. Difahami dari hadith ini supaya berakhlak dengan akhlak Nabi r
dalam sikap lemah lembutnya kepada orang jahil, pengajarannya yang
baik, menyantuni dan mendekatkan kebenaran kepada pemahamannya."
Di antara kelembutandankasih sayang Nabi صلى ا لله عليه وسلم kepada umatnya, bahwa baginda صلى ا لله عليه وسلم melarang menyambung puasa karena bimbang diwajibkan kepada manusia.
Di antara kelembutan Nabi صلى ا لله عليه وسلم kepada umatnya, bahwa dia صلى ا لله عليه وسلم melaksanakan solat di malam bulan Ramadhandi masjid selama tiga malam atau lebih, hingga berkumpul di belakangnya jemaah yang banyak.
kemudian baginda صلى ا لله عليه وسلم tidak keluar kepada orang banyak setelah itu kerana bimbang sholat ini diwajibkan kepada manusia.
Di antara bukti kasih Nabi صلى ا لله عليه وسلم kepada umatnya, bahwa bagindaصلى ا لله عليه وسلم
dan sahabatnya masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba ada tali yang diikat di
antara dua tiang. Baginda صلى ا لله عليه وسلم bertanya, 'Tali apa ini.' Mereka
menjawab, 'Ini adalah tali Zainab, apabila dia merasa letih,dia
bergantung dengannya.' Nabi صلى ا لله عليه وسلم bersabda: